
Myung Ki benar-benar kesal dengan Sa Ron. Dia tidak habis pikir bagaimana wanita itu bisa menyebut pria lain saat mengerangg nikmat di bawah kungkungan nya. Myung Ki kemudian berpikir dan mengingat kembali mengenai saat pertama kali dia melakukan malam panas dengan Sa Ron. Sa Ron memang terlihat begitu profesional seakan-akan sudah sering melakukannya.
" Sebenarnya aku tidak peduli dengan apa yang dia lakukan diluar sana. Tapi aku sungguh tidak suka dengan orang yang membicarakan orang lain saat dia bersamaku. Sungguh tidak sopan."
Myung Ki mendengus kesal. Ia pun kembali lagi melihat perkembangan peliharaannya. Senyuman lebar menghiasi bibirnya saat telur-telur itu semakin banyak. Penyebaran tahap dua pun segera bisa dimulai. Myung Ki yakin bahwa ini akan jadi ledakan wabah yang menakutkan negara lain.
Disisi lain Jae Hwan tengah berusaha meracik ramuan untuk menggagalkan atau bahkan mematikan ulat-ulat darah tersebut. 4 orang tahanan yang masih hidup itu digunakan Jae Hwan untuk bahan percobaan obatnya.
Kedua mata Jae Hwan terlihat memiliki lingkaran hitam karena dalam sehari dia hanya tidur paling tidak 2 jam. Jae Hwan benar-benar berburu dengan waktu. Permasalahan ini harus segera menemukan titik terang dan jalam keluar. Jae Hwan merasa bahwa tak lama lagi akan ada sesuatu yang terjadi. Dan hingga saat itu tiba Jae Hwan harus sudah memiliki penangkalnya.
" Hormat kepada tabib Jae Hwan. Yang mulia raja dan ratu meminta Anda untuk datang ke istana tuan."
" Eeeh, ada apa mereka memintaku ke sana? Tumben sekali."
Jae Hwan menghentikan apa yang dia lakukan dan pergi menuju istana. Baru kali ini Jae Hwan secara resmi dipanggil ke istana dengan status tabib bukan sebagai seorang kakak kedua dari sang ratu.
Jae Hwan memasuki Istana dan hendak menuju ke aula. Tapi oleh Kasim Nam, ia diminta untuk ke kediaman pribadi sang raja.
" Eeh, ada apa ini kok tumben sekali Kasim Nam."
" Maaf tuan tabib, saya hanya diminta mengantar tuan. Yang mulia sudah menunggu, di sana juga ada yang mulia ratu."
Jae Hwan sungguh heran. Ada keperluan apa Hyeon dan Wool memintanya untuk kekediaman. Selama ini biasanya ia hanya akan bertemu Hyeon di aula atau di ruang baca.
Sampai di kediaman pribadi Hyeon, Kasim Nam terlebih dahulu masuk ke dalam dan memberi tahu bahwa Jae Hwan sudah datang. Setelahnya Kasim Nam mempersilahkan Jae Hwan untuk masuk.
Jae Hwan sedikit merasa aneh karena tidak menemukan satu orang pun di kediaman Hyeon. Tidak sekalipun dayang berada di sana. Hanya ada Hyeon dan Wool yang ada di kamar tersebut. Keduanya tampak duduk bersimpuh dan langsung memberi hormat kepada Jae Hwan. Semakin bingung saja Jae Hwan melihat kelakuan dua orang tersebut.
Namun sesaat kemudian Jae Hwan menarik satu sudut bibirnya. Ia ingat, hal tersebut adalah cara Wool saat meminta sesuatu kepadanya ataupun kepada Kying Sam.
" Apa yang kau mau Ge? Pertolongan apa yang kau inginkan hmm?"
Hyeon seketika memandang ke arah Wool. Arti tatapan Hyeon seakan-akan mengatakan bahwa, mengapa Jae Hwan tahu apa tujuan mereka memanggil tabib tersebut.
" Kak, ini soal Hyeon. Ada yang salah dengan dirinya."
Dengan sedikit malu Hyeon akhirnya mengatakan apa yang jadi masalahnya. Hwan mendengarkan dengan seksama, meskipun sedikit terkejut tapi Hwan berusaha untuk tetap terlihat biasa saja.
" Apa kalian sudah mencobanya?
Wool dan Hyeon mengangguk. Mereka sudah melakukan pemanasan tapi belum juga bisa membuat milik Hyeon bangun.
" Apakah sudah benar-benar mencobanya, Atau hanya sebatas ini?"
Hwan menguncupkan jari-jari tangannya dan dibuat bersentuhan. Itu adalah kode yang berarti sebuah ciuman. Hyeon dan Wool tentu mengangguk. Hwan pun kemudian membuang nafasnya kasar.
" Cobalah dengan benar, lepaskan baju kalian berdua dan mulai memancingnya dengan bear. bukan hanya sekedar berciuman, Hyeon kau ini kan bukan pertama kali ini melakukannya. kenapa jadi begitu bodoh."
Astaga, Hwan benar-benar frontal. Tidak ada yang berani memaki Hyeon selain dirinya. Entahlah, Kyung Sam saja yang berkali-kali oleh Hyeon diminta untuk bicara non formal tetap tidak mau. Sungguh berbeda dengan Hwan.
Hwan memang seperti itu. Dia sesukanya sendiri dalam bertindak. Tapi meskipun begitu dia tetap memiliki batasannya.
" Apakah begitu," tanya Hyeon.
Hwan benar-benar kesal dengan apa yang diucapkan Hyeon. Sedangkan Hyeon terdiam mengingat apa yang ia lakukan keada Da Eun dulu. Hyeon pun tahu, selama ini berhubungan dengan Da Eun Hyeon selalu melakukannya dengan cepat dan langsung pada intinya. Dia tidak pernah melakukan apa yang dikatakan oleh Hwan. Mentok pol Hyeon berciuman, tapi rabaan, sentuhan lembut dan sesapan di kulit tubuh pasangan Hyeon tidak pernah melakukan itu.
" Baiklah, sekarang begini saja.kalian praktek lah dulu. Jika apa yang aku sarankan tetap tidak bisa membuat adik kecilmu bangun, kau boleh mendatangiku kembali. Dan Ge, kau bantulah dia. Meskipun baru pertama tapi aku yakin insting mu akan keluar. Aku permisi."
Wool dan Hyeon saling menatap. bagaimana Hwan bisa berbicara sangat terang-terangan begitu. Tapi apa yang dikatakan Hwan ada benarnya juga. Keduanya mungkin harus benar-benar saling meragsangg agar bisa membuat Hyeon bangun.
" Apakah kita akan mencobanya sekarang?"
" Sekarang? Saat ini? siang-siang begini?"
" Kenapa tidak?"
Wool terkejut saat Hyeon menggendongnya ke tempat tidur. satu persatu Hyeon mulia melepaskan pakaian Wool. Dan saat ini wool sudah polos. Merasa malu, Wool menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.
Begitu juga Hyeon, ia juga melepaskan seluruh pakaiannya hingga tidak ada kain yang tersisa. Tatapan mata Hyeon begitu sayu ke arah Wool. Ia pun langsung menarik selimut yang menghalangi indahnya tubuh sang istri.
Glek
Hyeon menelan saliva nya dengan susah payah saat melihat dua buah benda kenyal yang sintal itu menggantung di sana degan indah. Ada dorongan dari diri Hyeon untuk mendekat dan mulai menyesapnya.
Ia kemudian melepaskan mulutnya dari sana dan beralih ke bibir Wool. Hyeon melummat bibir Wool dengan intens. Dengan gigitan lembut, Hyeon membuka mulut Wool hingga ia berhasil menerobos rongga mulut Wool dengan lidahnya. Tangan Hyeon masih bertengger di bulatan kenyal milik Wool. Ia memijiit, memiliin dan meremasnya hingga Wool mengeluarkan desahhan yang semakin membuat Hyeon bersemangat.
Muncul hasrat dalam diri Hyeon tapi belum seberapa. Wool dengan inisiatifnya memegang junior milik Hyeon. Ia membelai lembut sampai Wool merasa milik Hyeon itu sedikit lebih keras.
Hyeon kemudian membaringkan tubuh Wool. Ia membuka kedua paha Wool namun belum akan menghujamkan senjatanya karena masih belum tegak sempurna. Hyeon mengusap lembut tubuh indah Wool hingga tangannya bersarang di bawah sana. Wool kembali mendesiis saat jari-jari Hyeon bermain dimiliknya.
" Hyeon, lakukan."
" Akan ku coba."
Hyeon merasa miliknya sudah berdiri sempurna. Ada rasa senang dan lega dalam diri Hyeon. Ia pun berusaha pelan mengarahkan miliknya ke milik Wool kerena ini adalah pengalaman pertama untuk sang istri."
" Aku akan lembut. Ini sedikit sakit jadi tahan."
Wool mengangguk. Ia pun memejamkan matanya saat milik Hyeon menyentuh miliknya.
" Ini sungguh besar," gumam Wool dalam hati.
" Bersiaplah."
" Yang Mulia gawat!"
Teriakan Kasim Nam benar-benar membuyarkan konsentrasi Hyeon. Hyeon pun berusaha mengacuhkan panggilan Kasim Nam.
" Yang Mulia gawat, ada wabah yang terjadi di ibu kota."
Hyeon ambruk di atas tubuh Wool. Ia benar-benar kesal dengan apa yang Kasim Nam katakan.
" Jika bukan hal yang penting. Sungguh aku akan membunuhmu. Arggghhh!!!"
TBC