
Hyeon merasa begitu lega saat mendengar kabar dari Yesung bahwa istrinya baik-baik saja. Pria tersebut pun kembali menuju kamp pengungsian yang ada di pingiran kota untuk melihat kondisi warga-warga nya yang terjangkit wabah ulat darah. Rupanya saat sampai di sana Hyeon sudah melihat Jae Hwan. Jae Hwan tengah memberikan ramuan kepada seluruh warga yang terjangkit dibantu para tabib.
Kemarin saat hyeon membuat pengumuman mengenai perekrutan tabib, memang tidak banyak yang datang untuk mendaftar tapi jumlah yang datang Hyeon rasa cukup untuk membantu Jae Hwan.
" Dimana Gege Hyeon? Aku membutuhkan air matanya sekarang."
" Dia sedang pergi ke Desa Namngoel. Aku sendiri tidak tahu kapan dia pergi."
Jae Hwan langsung mengehentikan kegiatannya memberi ramuan kepada salah satu warga. Ia lalu memanggil seorang tabib untuk menggantikannya. Jae Hwan kemudian bangkit dari duduknya dan langsung menarik tangan Hyeon membawa sang raja keluar dari dalam kamp.
" Hyeon kau gila apa membiarkan Gege ketempat itu sendirian!"
Hyeon tentu bingung dengan apa yang diucapkan oleh kakak dari ratunya tersebut. Mengapa sepertinya Jae Han begeitu khawatir Wool berada di sana. Bukankah desa itu juga sama seperti desa-desa lainnya.
" Memangnya kenapa sih Hwan, kamu terlihat begitu khawatir."
Bukannya menjawab Jae Hwan kembali menarik tangan Hyeon menjauh dari tempat itu ke sebuah tempat yang lumayn sepi. Jae Hwan pun sebelum berbicara melihat ke segala arah memastikan tidak ada orang yang melihat dan mendengar apa yang akan ia sampaikan.
" Dengarkan aku Yang Mulia Raja Negara Mae. Desa Namgoel adalah desa yang dikutuk. Di dalam desa itu orang yang ada di sana memang terlihat seperti orang normal tapi saat malam hari desa itu tak ubahnya seperti desa mati.'
Hyeon menelan saliva nya dengan susah payah. Mengapa bisa dia tidak tahu tentang desa itu sedangkan ia bertemu Da Eun di desa tersebut. Tapi setelah diingat-ingat ia sendiri tidak tahu mengapa dia bisa sampai di desa Namngoel.
Pertemuan pertama Hyeon dan Da Eun adalah disebuah hutan lalu setelahnya Hyeon kembali mencari Da Eun langsung ke desa itu. Ia bahkan mengarahkan kudanya sendiri untuk datang ke sana.
" Tapi Hwan, Da Eun selir ku itu berasal dari sana. Dan aku merasa di sana baik-baik saja. Orangnya pun ramah-ramah. Tidak ada sesuatu yang aneh."
Jae Hwan mengusap wajahnya dengan sangat kasar. Ia benar-bnar bingung saat ini. Jae Hwan hendak meminta Hyeon menyusul Wool tapi tentu tidak bisa. Keadaan darurat yang ada di ibu kota tidak bisa ditinggalkan oleh Hyeon. Terlebih saat ini sang kakak Kyung Sam tengah menjaga perbatasan.
Keadaan yang begitu buruk di ibu kota rupanya kabar itu pun telah menyebar ke negara lain. Jika negara sekutu merasa simpati tapi tentu tidak dengan negara lawan. Mereka merasa inilah kesempatan untuk bisa menyerang. Maka dari itu Kyung Sam tengah menjaga perbatasan agar negara lain yang hendak menyerang Negara Mae bisa ia hadang.
" Haaah sudahlah. Semoga Gege baik-baik saja. Tapi dengan kemampuannya aku yakin dia akan baik-baik saja."
Ucapan Jae Hwan lagi-lagi membuat Hyeon bingung. Tapi satu hal yang pasti adalah ia menemukan fakta lain yang tidak ia tahu selama ini mengenai asal usul Da Eun. Rupanya Hyeon harus menanyakan kepada Da Eun mengenai hal tersebut. Tapi tentu saja tidak sekarang. Masih banyak hal yang harus ia lakukan di sini.
Hyeon kembali berjalan mengelilingi kamp ia melihat perkembangan warganya satu per satu. Hyeon sedikit merasa lega saat melihat mereka tampak lebih baik dari sebelumnya. Wajah membiru itu sudah tidak tampak. Meskipun begitu kata Jae Hwan itu bukanlah keberhasilan karena ulat darah akan terus menggerogoti tubuh inangnya hingga inangnya mati.
" Sejauh ini masih aman yang mulia. Tidak ada huru hara. Mereka hanya menyampaikan pendapat serta kekecewaannya terhadap yang mulia."
" Apa aku harus menemui mereka sekarang. Oh iya Dimana Sung Won?"
Dae Jung terdiam sesaat. Entah saat ini merupakan saat yang tepat atau tidak untuk memberitahu rajanya mengenai Sung Won atau tidak. Tapi yang jelas ini merupakan waktu terbaik.
" Yang Mulia, ada yang ingin hamba katakan mengenai Sung Won."
Dae Jung lalu menceritakan semua hal yang ia ketahui. Mengenai Sung Won yang tidak pernah berpatroli. Sung Won juga jarang muncul saat ada kejadian penting. Yang terbaru ya saat ini. Sung Woon seakan acuh dengan wabah ini. Hal yang membuat Dae Jung semakin curiga dengan Sung Won adalah rekannya itu sering sekali ke rumah bordil dan datang ke sana terkesan sembunyi-sembunyi.
Pernah suatu ketika Dae Jung mengikuti Sung Won hingga masuk ke dalam rumah Bordil tersebut tapi saat sampai di sana Dae Jung tidak menemukan Sung Won sama sekali. Bahkan saat ia bertanya kepada orang yang ada di salma tak satupun mengetahuinya.
" Apakah benar-benar begitu?"
Hyeon seakan tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Dar Jung. Bagaimanapun Sung Won sudah lama mengabdi padanya. Tapi perkataan Dae Jung juga tidak bisa ia acuhkan.
" Baiklah, mungkin kita harus mengawasinya. Jika terbukti ia melakukan pembelotan maka aku pun harus menghukumnya dengan hukuman yang setimpal."
Dae Jung mengangguk. Meskipun mereka adalah rekan tapi jika memang Sung Won melakukan pembelotan maka harus ditindak secepatnya sebelum meluas.
Ia kemudian menuju ke sebuah tempat. Dimana tempat itu dinamakan Bimil Jangso yang berarti tempat rahasia. Terletak di pinggiran kota, Bimil Jangso merupakan tempat dimana sekelompok pasukan dibentuk oleh Hyeon. Pasukan tersebut adalah orang-orang yang memiliki kemapuan tempur yang sangat baik. Mereka juga memiliki keahlian bela diri yang mumpuni.
Dogsuli Budae atau pasukan elang adalah kelompok yang dibentuk oleh Hyeon. Mereka juga bertugas sebagai mata-mata. 50 orang mereka setara dengan 500 prajurit biasa. Sungguh sangat istimewa.
" Aku membawa perintah Yang Mulia Raja Hyeon,"
Dae Jung mengeluarkan sebuah token yang langsung dipahami oleh mereka semua. Meskipun Dae Jung juga kadang berlatih di Bimil Jangso tapi yang bisa memerintahkan mereka hanya Hyeon. Maka dari itu Dae Jung harus membawa token milik raja untuk menyampaikan perintah dari Hyeon.
" Raja memerintahkan satu dari kalian untuk mengawasi Sung Won. Laporkan apapun yang berkaitan dengan Sung Won."
Mereka saling melihat satu sama lain. Akan tetapi setelah itu merek mengangguk, paham dengan apa yang diperintahkan oleh Hyeon melalui Dae Jung. Mereka tidak akan membuang waktu untuk bertanya. Mereka hanya akan menerima perintah lalu melaksanakan tanpa harus tahu mengapa dan kenapa.
TBC