The Unloved Queen's Revenge

The Unloved Queen's Revenge
Queen 57. Cintamu Bencana Bagi Rakyatku



Yesung dan Du Ho yang mulai kelelahan akhirnya bisa bernafas lega saat para mayat hidup itu satu per satu jatuh ke tanah dan tak bergerak lagi. Kedua orang itu langsung menjatuhkan tubuhnya dan berbaring sambil menatap langit berbintang.


" Haaah, sungguh aku lebih suka berada di medan perang. Musuh ditebas langsung mati. Lha ini bolak balik di tebas dia bukannya mati tapi malah kembali berdiri dengan tegap."


" Aku setuju denganmu Du Ho. Ini adalah satu hal besar yang terjadi dalam hidupku. Melawan orang mati. Sungguh tidak pernah terbesit sedikitpun dalam pikiranku akan mengalami hal ini."


Yesung dan Du Ho, keduanya lalu bangkit. Mereka harus mencari tuan mereka. Mungkin saja raja dan ratu nya saat ini membutuhkan bantuan keduanya.


" Baiklah, istirahat cukup. Mari cari keberadaan yang mulia."


Du Ho mengangguk, keduanya kemudian berlari melompat dari dahan yang satu kedahan yang lain menyidir gelapnya malam mencari kedua tuan mereka.


*


*


*


" Eomma. Ibu."


Sebuah panggilan dapat Ae Ran dengan melalui telinganya. Meskipun tubuhnya saat ini begitu lemah tapi ia tentu masih bisa mengenali suara sang putri.


" Han Byeol, apa itu kau."


Lamat-lamat Ae Ran melihat tubuh Han Byeol alias Da Eun di depannya. Namun ia sungguh terkejut pasalnya tubuh Da Eun hanya sebuah tubuh transparan. Bahkan Ae Ran pun tak bisa menyentuhnya sama sekali. Setiap Ae Ran menyentuh sang putri, hanya sebuah udara hampa saja yang berhasil ia pegang.


" Kau, mengapa kau begini. A-apa yang terjadi."


" Aku tidak tahu eomma. Tiba-tiba aku sudah berjalan kesini."


Ae Ran menangis tersedu. Ia tentu tahu bahwa jiwa putrinya itu keluar dari raganya dan tidak akan mungkin bisa kembali. Kecuali dengan satu cara. Yakni menukar jiwa sang ratu. Da Eun bisa kembali ke raganya kalau Gyeo Wool meninggal.


" Aku akan membunuh wanita itu agar kau bisa kembali ke tubuhnmu."


" Heh dasar wanita jahat. Bisa-bisanya kau berkata seperti itu. Aku tidak akan membiarkan kau melukai Gege barang sedikitpun."


Hyeon bersiap akan menyerang. Tapi ia dihentikan oleh Wool. Wool menggeleng ke arah sang suami sebagai tanda bahwa ia tidak boleh melajukan apapun.


Jiwa Da Eun terlihat begitu sedih melihat pria yang dicintainya itu begitu membela Gyeo Wool. Bagaimanapun 2 tahun ini adalah waktu yang indah bagi Da Eun saat bersama dengan Hyeon.


" Yang mulia, apa yang mulia tidak merindukanku."


Hyeon membuang mukanya saat Da Eun menanyakan hal itu. Sungguh ia sama sekali tidak memiliki rasa apapun terhadap Da Eun. Bahkan seujung kuku pun tidak.


" Apa kebersamaan kita selama ini tidak berarti untuk Anda?"


" Seharusnya kau lebih tahu jawabannya Da Eun atau aku harus memanggilmu Han Byeol. Kau mengikatku dengan cara tidak wajar. Kau membelengguku dengan ilmu hitam ibumu yang jahat itu. Jadi kau tahu persis apa yang aku rasakan kepadamu bukan?"


Tatapan benci Hyeon membuat Hati Da Eun semakin sakit. Memang benar ia menggunakan mantra pemikat tapi ia benar-benar mencintai Hyeon.


" Tapi hamba benar-benar mencintai Anda yang mulia."


" Cinta mu racun bagiku. Cintamu bencana bagi negaraku."


Da Eun menangis pilu. Ae Ran tentu tidak terima putrinya diperlakukan seperti itu. Wanita paruh baya itu merangsek maju hendak menusuk Hyeon dengan pedangnya. Namun siapa sangka Wool bergerak lebih cepat. Ia menancapkan tusuk rambut phoenix miliknya tepat di jantung Ae Ran.


" Ka-kalian memang bedebah. Aku akan mengutuk kalian semua."


" Kutukan mu tidak lagi berarti. Aku membawa takdir burung phoenix akan mematahkan semua kutukan yang kau berikan itu. Aku akan melahirkan keturunan kerajaan dimana kau tidak akan pernah bisa menyentuhnya. Sekarang pergilah. Pergilah kemana seharusnya tempatmu tinggal yakni di neraka paling dalam. Aku yakin raja neraka sudah menunggumu di sana. Jangan lupa bawa serta putrimu."


"Arggggg!!!"


Ae Ran dan Da Eun menjerit kesakitan. Sebuah api membakar keduanya hingga mereka melebur dan hanya menyisakan kepulan asap hitam.


Klontang


Tusuk rambut phoenix yang tadi Wool tancapkan di jantung Ae Ran jatuh ke lantai. Wool dengan sigap mengambilnya lalu hendak menyimpannya. Namun tusuk rambut itu diraih oleh Hyeon. Pria itu kemudian memasangkan di rambut sang istri.


" Kau memang ratuku yang hebat. Aku benar-benar bangga kepadamu. Terimakasih, terimakasih telah menyelematkanku dan rakyatku."


Wool tidak menjawab, dia memilih memeluk sang suami dengan erat. Kedunaya bernafas lega. Satu permasalahan bisa berhasil mereka tuntaskan.


" Yang mulia, Anda berdua tidak apa-apa."


" Kami baik-baik saja Yesung. Mari segera kembali ke ibu kota sekarang juga."


" Apa tidak menunggu pagi yang mulia."


" Tidak bisa, kita harus segera sampai. Aku khawatir ibu kota semakin kacau karena ketidak beradaan ku."


Du Ho dan Yesung paham. Mereka pun segera berlari kembali ke desa untuk memanggil Dasom dan Kasim Ho. Mereka akan menggunakan kuda untuk kembali ke ibu kota agar lebih cepat sampai. Yesung akan membawa Kasim Ho dan Du Ho akan membawa Dasom. Sedangkan Hyeon akan bersama Wool. 3 kuda dirasa cukup untuk bisa membawa mereka kembali ke ibu kota sebelum fajar menyingsing.


Saat ini adalah tengah malam di desa Namngoel. Mereka benar-benar harus cepat.


" Apa mendapat firasat buruk?" tanya Wool kepada sang suami.


" Ya, firasat ku mengatakan akan ada kerusuhan besar di ibu kota dan istana. Aku sudah meminta Dae Jung untuk hati-hati. Aku juga sudah memberi wewenang kepadanya untuk menggunakan pasukan rahasiaku untuk menjaga istana."


Wool bernafas lega. Rupanya Hyeon sudah mempersiapkan sebelum ia datang menyusulnya.


🌿🌿🌿


Di Istana tabib kerajaan terkejut saat memeriksa Da Eun. Rupanya Da Eun sudah benar-benar tidak bernafas. Detak jantungnya tidak ada lagi.


" In Jae, Selir Da Eun sudah meninggal. Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang."


In Jae tentu saat ini tidak tahu harus melakukan apa. Ia tidak bisa memberi keputusan terhadap apa yang saat ini terjadi.


" Begini saja Tabib Kwang. Kita tunggu sampai pagi. Jika yang mulia ratu dan raja kembali ke istana maka biarkan mereka yang memutuskan. Tapi jika mereka belum juga kembali mari kita kuburkan selir Da Eun seperti tata cara istana."


Selesai mengatakan hal tersebut Tabin Kwang dan In Jae melihat ke arah Da Eun. Keduanya terkejut saat menjumpai tubuh Da Eun seperti hangus terbakar. Kedua orang itu bahkan sampai melompat mundur karena saking terkejutnya.


" I-ini, In Jae apa kau melihatnya. Ini apa?"


" Ya Tabin Kwang aku melihatnya. Sepertinya kita harus segera memasukkan tubuh Selir Da Eun kedalam peti. Kita tidak bisa membiarkan mereka melihat keadaan selir Da Eun."


TBC