The Unloved Queen's Revenge

The Unloved Queen's Revenge
Queen 55. Matimu Penyelamat Rakyatku



Malam datang dan semua orang di desa Namngoel berhenti melakukan aktivitasnya seperti malam sebelumnya. Di dalam sebuah kamar penginapan semua berkumpul menjadi satu. Wool, Hyeon, Yesung, Du Ho, Dasom dan Kasim Ho, mereka sedang mengatur rencana penyerangan terhadap wanita yang Wool sangat yakini sebagai pengendali mayat-mayat hidup itu.


Wool memutuskan untuk menyelesaikan malam ini juga karena mereka harus segera kembali ke ibu kota. Masalah ibu kota tak kalah peliknya dengan yang ada disini. Terlebih Hyeon tidak ada di sana.


" Dasom, kasim Ho, kalian tetap tinggal saja di dalam kamar penginapan ini. Apapun yang terjadi jangan keluar kamar. Mengerti!"


Dasom dan Kasim Ho mengangguk patuh. Mereka tentu tidak punya pilihan lain. Mereka cukup sadar diri karena keduanya tidak memiliki kemampuan bertarung.


Sedangkan yang lainnya bersiap untuk melakukan penyerangan. Wool yang merasa bahwa orang itu memang sudah menanti kedatangannya pun langsung membuka jendela dan keluar dari sana diikuti Hyeon ,Du Ho dan juga Yesung.


Akan tetapi sebelum pergi, Wool sudah menciptakan sebuah pelindung di kamar yang ditempati Dasom dan Kasim Ho agar kekuatan sihir ilmu hitam itu tak dapat masuk selama Wool tidak ada di sana.


Wuuuus


Mereka berempat melesat dari satu atap rumah ke atap rumah yang lain. Awal mula semuanya terasa aman dan lancar tanpa sebuah gangguan. Tapi tak lama kemudian beberapa mayat hidup mulai bermunculan dan mulai menyerang.


" Rupanya dia sudah tidak sabar."


Wool memberi tanda pada Hyeon dan kedua pengawalnya untuk bersiap. Ia mengarahkan tangannya ke bawah dengan maksud bahwa mereka harus turun dan melawan para mayat hidup itu di atas tanah.


Hyeon dan yang lainnya mengangguk paham. Mereka pun langsung turun dan bersiap melawan.


Tap ... Tap ... Tap


Wool di susul yang lain mendaratkan tubuhnya di tanah. Mereka mengambil kuda-kuda dengan pedang ditangan kanan mereka. Dimana pedang mereka tadi sebelumnya sudah di mantrai oleh Wool semuanya.


Hiyaaaa


Sreeeet ... Sreeet ...


Bugh


Mereka mulai mengayunkan pedang mereka melawan para mayat hidup itu. Satu persatu mayat hidup itu tumbang. Namun ada hal yang aneh, mereka kembali lagi bangkit. Yesung dan Du Ho pun terus menjatuhkannya, tapi lagi-lagi mereka bangkit kembali.


Yesung dan Du Ho nampak kelelahan karena hal tersebut selalu berulang. Setiap kali menebaskan pedang, para mayat hidup itu akan tumbang tapi tak lama kemudian mereka sudah kembali berdiri tegak.


" Hah ... Hah ... Yang mulia, ini sungguh melelahkan."


Wool dan Hyeon saling tatap. Bagi Hyeon ini merupakan hal yang belum pernah ia temui selama ia berada di medan perang. Sedangkan Wool, wanita itu tengah menganalisa apa yang terjadi dan mencari kelemahan dari musuh-musuhnya.


" Satu-satunya cara adalah mengalahkan dalangnya."


Ucapan Wool mendapat anggukan dari ketiga orang yang ada di sana. Namun sebelum itu mereka berempat masih terus melawan para mayat hidup itu dengan sisa tenaga mereka.


" Du Ho, Yesung, apa kalian bisa bertahan sedikit lebih lama lagi! Aku dan yang mulia raja akan menuju ke tempat dimana dalang itu berada."


" Baik yang mulia. Serahkan yang ada di sini kepada kami," ucap Yesung dengan tetap fokus melawan para mayat hidup itu.


Wool diikuti oleh Hyeon langsung berlari menuju ke tempat dimana si dalang itu berada.


Di sisi lain Ae Ran dan Myung Ki tengah tertawa puas. Guru dan murid itu yakin bahwa ratu dan pengawalnya pasti sedang kelelahan melawan boneka-boneka yang mereka ciptakan.


" Kau memnag cerdas Ki. Memang layak menjadi murid ku. Menggunakan mayat sebagi pasukan, sungguh sebuah ide briliant."


Rupanya ide menggunakan mayat hidup itu datang dari Myung Ki. Pemuda itu mengatakan bahwa menggunakan mayat tentu lebih menguntungkan. Yakni mayat adalah manusia yang sudah mati. Jika terluka terkena senjata lawan maka mereka tidak akan merasakan apapun karena pada dasarnya mereka sudah mati.


Kesenangan kedua guru dan murid itu tampaknya membuat guru dan murid itu lengah. Mereka tidak menyadari ada orang yang mendekat ke arah mereka.


Brakkk


Pintu rumah Ae Ran di dobrak oleh seseorang. Tentu saja Ae Ran dan Myung Ki sangat terkejut. Terlebih saat melihat siapa yang berdiri di depan pintu rumah.


" Ya-yang mulia raja."


Myung Ki dan Ae Ran seperti kehilangan kata-katanya. Ae Ran kemudian mengepalkan tangannya. Wanita itu sangat marah. Kehadiran Hyeon di sini tentu akan menyulitkannya untuk membunuh Wool. Karena jika Wool dan Hyeon bersatu maka kekuatan mereka akan menjadi sangat besar.


Sedangkan Myung Ki dia sedikit khawatir akan dihabisi nyawanya saat itu juga. Rupanya keberanian pemuda itu yang berapi-api sebelumnya hanyalah sebuah tong kosong semata.


" Bagaimana, terkejut?" ucap Wool dengan nada mengejek. Wanita itu sungguh pandai memancing rasa kesal lawannya. Terbukti Ae Ran sudah melompat dan menyerang Wool. Sedangkan Myung Ki, jika ingin bertahan hidup maka dia harus bertarung juga. Persetan dengan siapa yang ia hadapi.


Wool dan Hyeon membawa musuh mereka ke luar rumah. Malam itu benar-benar suasananya sungguh ramai. Yesung dan Du Ho yang masih terus menghadapi para mayat hidup dan Hyeon serta Wool yang menghadapi kedua pengendali mayat hidup itu.


Wool dengan lincah menghadapi Ae Ran. Wanita tua itu juga mengeluarkan pedang miliknya untuk menghadapi Wool.


Cahaya hitam dan cahaya putih keemasan saling beradu. Sesaat Hyeon terpaku melihat kehebatan sang istri dalam bertarung namun kemudian ia kembali fokus kepada Myung Ki yang tampak menggebu saat menyerang Hyeon.


Dapat Hyeon lihat, pola serangan Myung Ki sebenarnya sangat bagus. Bahkan ia bisa dengan mudah menangkis pedang Hyeon. Tapi pemuda itu terlalu terburu-buru sehingga ia berkali-kali juga terkena pedang Hyeon.


" Hei yang mulia apa Anda tidak khawatir dengan negara Anda? Mengapa Anda masih sangat tenang berada di sini di saat kondisi ibu kota sekarang pasti sangat kacau."


Hyeon tentu tidak mengerti apa yang diucapkan Myung Ki. Myung Ki seakan-akan tahu apa yang terjadi di ibu kota.


" Mengapa kau sepertinya sangat tahu apa yang terjadi di kota."


" Hahaha dasar raja bodoh. Tentu saja aku tahu. Karena aku adalah pencipta mereka."


Sesaat Hyeon terdiam ketika Myung Ki mengatakna hal itu. Hingga ia menyadari sesuatu.


" Bedebah, kau lah yang membuat wabah ulat darah itu!"


Kini Hyeon semakin intens dalam menyerang. Ia terus membuat Myung Ki terpojok hingga pemuda itu tidak punya kesempatan sedikit pun dalam menangkis serangan Hyeon.


" Arghhh ... Kau!!!"


" Kau harus mati malam ini juga bedebah. Kau sudah membuat rakyatku sangat menderita karena ulahmu itu. Hiaaat."


Hyeon menebaskan pedangnya ke arah Myung Ki hingga Myung Ki mendapatkan banyak sekali goresan pedang. Pemuda itu bahkan sudah terjerembab ke tanah. Ia tidak ada tenaga lagi yntuk melawan. Beberapa darah merembes dari luka yang dibuat Hyeon.


" Ampun ... Yang Mulia Raja, aku mohon ampuni aku. A-aku tidak akan melakukannya lagi."


" Apakah begitu? Tapi sayang aku sudah tidak ada niat untuk melepaskan mu. Kematian mu adalah salah satu cara menyelamatkan semua rakyat-rakyat ku!"


Hiyaaaaa


TBC