
Tuplak tuplak tuplak
Suara sepatu kuda saling bersahutan. Suara kokokan ayam terdengar begitu nyaring menandakan sebentar lagi fajar menyingsing. Kuda milik Hyeon mulai memasuki gerbang ibu kota. Tampak begitu banyak prajurit yang berjaga. Hyeon tentu sedikit merasa ada yang lain dari biasanya.
" Ada apa ini?"
" Hormat Yang Mulia Raja, kami diperintahkan oleh Panglima Kyung Sam untuk berjaga."
" Panglima Kyung Sam, dimana beliau sekarang berada?"
" Jawab yang mulia, beliau berada di Istana."
Hiaaaaa
Hyeon kembali memacu kudanya diikuti Du Ho dan Yesung dibelakang. Wool merasa sedikit aneh. Tidak ada satu warga pun yang beraktivitas. Biasanya meskipun masih sedikit gelap, mereka sudah berlalu lalang.
" Bukankah ini aneh yang mulia, tidak ada satu pun warga yang ada di luar rumah."
" Kau benar ratu ku. Mari kita segera ke istana. Kakak mu pasti mempunyai alasan tentang semua yang terjadi saat ini."
Hyeon, Wool dan yang lain akhirnya tiba di gerbang istana. Semua orang tampak lega melihat kedatangan raja dan ratunya. Pun dengan Kyung Sam dan Jae Hwan, keduanya langsung berlari menghampiri adik mereka dan memeluk Wool dengan begitu erat.
" Syukurlah, syukurlah tidak terjadi apa-apa dengan mu."
" Kakak pertama, kakak kedua, aku tidak apa-apa. Untung Pyeha datang membantu."
Jae Hwan dan Kyung Sam langsung melihat Hyeon bersamaan. Mereka mengucapkan terimakasih kepada Hyeon. Mereka pun langsung masuk ke dalam istana. Sebelum Hyeon bertanya Kyung Sam sudah menjelaskan terlebih dulu apa yang terjadi di ibu kota.
Hyeon bernafas lega saat mengetahui masalah ulat darah sudah beres. Tak lama Dae Jung dan In Jae datang bersamaan.
" Yang Mulia Raja."
" Yang Mulia Ratu."
Hyeon dan Wool saling pandang. Sepertinya kedua tangan kanan mereka masing-masing memiliki berita penting.
" Dae Jung ada apa?"
" Ini soal Sung Won yang mulia. Rupanya Sung Won memang merencanakan pemberontakan terhadap yang mulia. Dan dalang di balik wabah kemarin adalah Myung Ki adik dari Sung Won. Dia juga mengajak beberapa pejabat istana untuk membelot Anda."
Dug
Kyung Sam mengetukkan pedangnya di lantai Istana. Dia sungguh geram. Bagaimana bisa orang-orang yang sudah diberi kekuasaan dan jabatan itu malah membelot.
Hyeon membuang nafasnya kasar, ia tidak menduga jika ini akan terjadi di era kepemimpinannya. Ia menatap Dae Jung tajam, Dae Jung pun mengangguk paham dan segera pamit undur diri.
" Yang mulia ini soal selir Da Eun. Dia sudah meninggal."
Hyeon dan Wool tentu tidak terkejut, tapi yang lain sangat terkejut. Dengan tenang Wool mengajak semua yang ada di sana untuk melihat Da Eun untuk yang terakhir kali nya.
Di istana dingin terlihat Boram yang meringkuk ketakutan. Rupanya dia melihat tubuh Da Eun yang hangus. Gadis itu terlihat sangat menyedihkan. Sesaat Dasom menaruh iba terhadap rekannya itu.
Disebelah peti mati Da Eun ada Tabib Kwang. Tabib Kwang memberi salam hormat kepada raja dan ratunya. Ia lalu membuka peti Da Eun. Semua terkejut melihat jenasah Da Eun yang hangus. Bahkan bau busuk menyeruak dari tubuh tersebut.
" Tabib Kwang, tutup peti itu. Segera kuburkan. Jangan di pemakaman keluarga keluarga kerajaan, tapi kuburkan diluar saja."
" Baik yang mulia, sesuai permintaan Anda."
Meskipun Wool dan Hyeon melihat jiwa Da Eun yang terbakar dan melebur, tapi mereka tidak pernah menyangka bahwa tubuhnya pun akan ikut hangus.
" Ilmu sihir hitam. Sepertinya ada penukaran yang dilakukan seorang terhadap jiwa Da Eun."
Mendengar jawaban Jae Hwan dari pertanyaan Kyung Sam membuat Wool mengingat sesuatu. Ia mengingat kata-kata Ae Ran tadi saat bertarung.
" Aku akan membunuh wanita itu agar kau bisa kembali ke tubuh mu," Ae Ran jelas mengatakan hal tersebut tadi.
" Aku tahu, dia menukar jiwaku untuk Da Eun. Salah satu dari kita harus mati. Dan kebersamaan ku dan Hyeon merupakan kelemahan mereka. Ae Ran ibu Da Eun bersumpah untuk menghancurkan keluarga kerajaan. Dia menggunakan Da Eun sebagai alat penghancurnya dan kedatanganku mematahkan semua rencananya. Jika Da Eun menjadi ratu maka aku akan mati. Dan seperti begitupun sebaliknya."
Kyung Sam mengangguk paham, ia sendiri tak menyangka adik bungsunya sangat tenang menghadapi semuanya itu.
" Baiklah, saatnya menghadapi musuh yang nyata."
Semua setuju dengan ucapan Kyung Sam. Hyeon kembali ke dalam kamarnya. Di sana sudah ada Kasim Nam. Rupanya Kasim Nam sudah menyiapkan baju zirah yang akan digunakan oleh Hyeon. Bahkan pedang milik Hyeon juga sudah siap.
Pedang dengan gagang kepala burung elang itu tampak bersinar. Pedang itu adalah pedang yang khusus digunakan Hyeon untuk berada di medan perang.
" Anda siap yang mulia?"
" Lebih dari yang kau tahu Kasim Nam."
Kasim Nam tersenyum. Ia pun mengantar rajanya ke halaman istana. Tapi rupanya Hyeon ingin menemui Gyeo Wool dulu dikediamannya.
Ketika sampai di dalam, Hyeon terkejut melihat penampilan istrinya. Gyeo Wool berdiri gagah dengan baju zirah yang juga melekat di tubuhnya.
" Kau, kenapa kau berpakaian begitu."
Wool tersenyum, ia kemudian meminta Dasom dan Kasim Ho untuk keluar dari kamarnya. Setelah kedua orang itu keluar Wool memeluk Hyeon erat.
" Aku ingin bersamamu menjaga negara ini."
" Tapi~"
Belum selesai Hyeon menyelesaikan ucapannya, Wool sudah membungkam mulut Hyeon dengan ciuman. Mereka saling menyesap untuk sesaat hingga Wool melerai ciuman itu.
" Aku tidak mau menunggumu disini dengan penuh kekhawatiran. Aku ingin di sampingmu."
Hyeon kini yang memeluk Wool. Rasa senang bercampur khawatir menjadi satu. Tapi seperti apa nanti Hyeon melarang pasti Wool tetap akan ikut akhirnya ia menyetujui keinginan Wool untuk turun ke medan perang.
" Baiklah mari kita hadapi bersama."
Raja dan ratu keluar bersama dengan mengenakan baju zirah mereka dan membawa pedang mereka. Keduanya tampak gagah. Semua mata penghuni istana terpaku melihat sepasang suami istri tersebut.
Para selir kemudian keluar dari kediaman masing-masing dan menghadap raja dan ratu. Mereka memberi salam hormat mereka.
" Terimakasih, aku menerima salam kalian. Tapi ada hal yang harus aku sampaikan. Kalian melihat baju kami bukan? Aku yakin kalian sudah tahu bahka aku dan ratu akan berperang. Kami tidak tahu siapa yang akan menang. Pihak kami atau musuh. Satu hal aku tawarkan kepada kalian yakni kebebasan. Kalian boleh memilih akan tetap tinggal atau pergi. Tapi aku tidak bisa menjanjikan kemenangan. Kalian pasti tahu, jika kita kalah maka kalian akan jadi budak hasil rampasan perang jadi silahkan memilih."
Para selir saling pandang, mereka dilema saat ini. Tapi ada seorang yang berani angkat bicara ditengah kegalauan mereka.
" Maaf yang mulia raja dan ratu. Bukannya hamba tidak mencintai negara ini tapi hamba memilih pergi. Hamba berdoa supaya yang mulia raja dan ratu selamat dan sejahtera."
" Baiklah jika itu keputusanmu. Aku sangat menghargainya. Pergilah melalui pintu belakang, prajurit akan mengantarkan mu dengan selamat hingga tempat tujuanmu."
Rupanya apa yang diperbuat salah seorang selir itu diikuti oleh selir lainnya. Hyeon terlihat tersenyum puas saat melihat semua selirnya pergi. Wool tentu merasa heran dengan kelakuan Hyeon. Ia pun melihat ke arah suaminya dan berkata, " Aku mencium bau-bau kesengajaan."
TBC