
Perjalanan Wool dan ketiga orangnya berjalan dnegan lancar tanpa suatu hambatan. Mereka sudah sampai di desa Namngoel. Desa tersebut sungguh sepi. Rumah-rumah yang berdiri di sana pun bisa dihitung dengan jari. Tapi yang membuat nyaman adalah di sana banyak terdapat kebun dan pepohonan.
Suasananya tampak begitu tenang dan damai. Sejenak Wool meminta Du Ho berhenti di depan pintu masuk desa tersebut. Wool pun keluar dari kereta dan mengamati keadaan sekita.
" Apa kalian tidak merasa bahwa desa ini terlalu tenang?"
Ketiga orangnya mengangguk. Terlebih Du Ho, dia yang biasa mendampingi Kyung Sam bersama dengan Ryung sudah banyak mengunjungi tempat-tempat asing. Tapi yang dikatakan sang ratu memang benar adanya. Tempat ini terlalu sunyi.
" Sudahlah jangan dipikirkan. Sebaiknya kita mundur beberapa kaki. Kita buat tenda saja. Besok pagi batu kita masuk. Sangat tidak sopan bukan bertamu pagi-pagi begini."
Du Ho tentu paham maksud Ratunya. Wool kemudian masuk ke kereta lagi, lalu Du Ho membalikkan keretanya. Mereka mundur dari pintu masuk desa dan memilih mendirikan tenda.
" Kita buat tenda satu saja. Dan kita berada di satu tenda."
" Tapi yang mulia~"
Du Ho hendak protes namun Wool meletakkan jarinya telunjuknya dibibir sebagai tanda untuk Du Ho agar tidak membantah perintahnya. Sungguh Du Ho tidak tahu apa yang sedang dipikirkan dan direncnakan oleh sang ratu. Ia pun hanya bisa patuh dan menjalankan perintah ratu.
Setelah beberapa saat akhirnya tenda tersebutpun jadi. Wool meminta semuanya untuk masuk dengan segera.
Dasom, Kasim Ho dan Du Ho mengangguk. Wool pun langsung menutup tenda dan mengajak semuanya untuk duduk.
" Yang mulia sebenarnya ada apa. Kenapa yang mulia begitu aneh?"
Wool masih diam dan masih belum menjawab pertanyaan Du Ho. Dasom yang sedari tadi diam saja tiba-tiba merasa sedikit takut. Ia mendekatkan tubuhnya kepada Wool. Wool yang paham pun langsung merengkuh tubuh dayang nya tersebut dan menepuknya pelan.
" Tidak apa-apa, jangan takut."
Rupanya apa yang dirasakan Dasom juga dirasakan oleh Kasim Ho. Hawa malam yang begitu mencekam itu membuat bulu kuduk Kasim Ho berdiri. Malam disitu benar-benar tidak seperti malam di daerah lain. Sangat sunyi bahkan suara binatang malam pun sama sekali tidak terdengar. Hanya hembusan angin yang sedikit membuat tenda mereka bergerak.
" Aku merasa desa ini menyimpan sesuatu. Mereka benar-benar berdiam diri saat malam hari. Terkesan takut akan sebuah hal. Tapi apa itu aku pun juga tidak tahu. Maka dari itu aku meminta Du Ho untuk tidak menyalakan lilin. Jika aku tidak salah. Setelah fajar menyingsing suasana desa akan kembali ramai. Kita buktikan besok. Sekarang kita sebaiknya istirahat."
" Baik yang mulia, yang mulia istirahatlah. Hamba dan Kasim Ho akan berjaga."
Wool mengajak Dasom untuk membaringkan tubuh. Dasom masih memegang erat tangan Wool. Gadis itu benar-benar sangat takut. Dasom juga berasal dari desa. Tapi desanya tidak semencekam desa ini.
" Mama, apakah selir Da Eun benar berasal dari sini?"
" Aku juga tidak terlalu yakin. Tapi kita akan tahu besok. Apa kau sungguh merasa takut?"
Dasom mengangguk. Meskipun dalam tenda tersebut gelap, tapi Wool dapat merasakan ketakutan dalam diri dayang nya itu. Entah apa yang Wool lakukan tapi lambat laun Dasom tertidur dengan ketakutan yang sudah menguap.
" Aku merasa ada yang tidak beres. Ayah dulu pernah mengajariku. Jika tidak salah maka ini ada kaitannya dengan praktek ilmu hitam. Aku harus waspada. Aku tidak boleh gegabah. Aku tidak boleh membahayakan mereka."
Dalam diamnya rupanya Wool tidak tidur. Ia sedang melakukan meditasi mencoba menembus desa Namngoel melalui kukuatan spiritualnya.
Ya tidak ada yang tahu selain keluarganya kalau Wool memang lahir dengan kekuatan spesial. Para leluhur mengatakan bahwa ada aura burung phoenix di tubuh Wool. Jika mereka jeli, saat tusuk rambut phoenix dipakaikan di rambut Wool lambang burung phoenix tersebut akan bersinar. Dan, kata sang ayah aura phoenix yang dimiliki Wool mampun untuk melawan kekuatan jahat seperti sihir ilmu hitam.
Wool mencoba menjelajah melalui kekuatan spiritualnya. Ia sedikit terkejut saat melihat apa yang terjadi di desa tersebut. Setiap rumah memiliki aura negatif. Bahkan ada asap hitam yang tertinggal di sana.
" Ini benar-benar hasil praktek ilmu hitam. Tapi siapa yang melakukannya?"
🍀🍀🍀
Lewat tengah malam akhirnya Hyeon kembali ke istana. Sebelum menuju ke kediamannya, Hyeon terlebih dulu menuju ke kediaman ratunya. Prajurit yang menjaga di depan kediaman ratu langsung pucat pasi. Padahal Hyeon belumlah bertanya apapun.
Tanpa curiga sama sekali Hyeon masuk ke kediaman ratunya. Hyeon hanya sedikit merasa ada yang aneh saat suasana kediaman Wool begitu sepi.
" Mungkin dia sudah tidur."
Hyeon bergumam pelan. Tapi ia gang merasa rindu dengan ratunya tetao ingin menemui. Pada akhirnya Hyeon masuk ke dalam kamar Wool. Dan betapa terkejutnya dia saat tidak menjumpai Wool di dalam.
Masih berpikir positif, Hyeon mencoba mencari keseluruh sudut bahkan ke pemandian. Akan tetapi tidka ada tanda-tanda Wool ada di sana.
Hyeon benar-benar khawatir. Ia kemudian duduk di meja milim Wool. Matanya menangkapa ada sebuah kertas dnegan tulisan tangan Wool. Hyeon pun membaca dengan seksama.
Yang mulia, maaf jika aku membuatmu khawatir. Aku pergi sejenak menuju Desa Namngoel. Aku merasa ada yang tidak beres dengan asal usul mantan selir kesayanganmu itu sehingga aku memutuskan untuk menyelidikinya. Yang mulia tidak perlu khawatir, aku membawa Dasom, Kasim Ho dan Pengawal Du Ho bersamaku. Ingat, jangan menyusul. Yang mulia fokus saja dengan permasalahan di ibu kota. Dan percaya padaku bahwa semua akan baik-baik saja.
Salam, Gege. Ratu mu.
Hyeon membuang nafasnya kasar. Bahkan dia mengusap wajahnya asal. Sungguh dia tidak tahu apa yang sedang dipikirkan dan dilakukan oleh ratunya itu. Ingin sekali rasanya Hyeon menyusul Wool saat itu juga tapi tentu dia tidak bisa melakukannya. Keadaan ibu kota sedang kacau, dan dia tidak bisa meninggalkan begitu saja.
" Huuft, apa yang harus ku lakukan saat ini Ge. Kau sungguh membuatku bingung. Semoga kau tidak kenapa-napa. Ya, aku harus mengirimkan sesorang untuk melindungi Gege. Du Ho tidak akan cukup melindungi Gege."
Hyeon segera bangkit dari duduknya dan berjalan keluar. Ia kemudian menuju ke kandang kuda istana.
" Aku mau kau menyusul ratu di Desa Namngoel malam ini juga."
" Siap yang mulia. Hamba akan berangkat sekarang."
Hyeon mengangguk dan melenggang pergi setelah memberi perintah kepada seseorang tersebut. Dia adalah Yesung, pengawal rahasia milik Hyeon yang selama ini berkamuflase sebagai pengurus kuda milik Hyeon.
Yesung langsung memacu kudanya dengan sangat cepat. Ia harus sampai lebih cepat dari waktu tempuh sebenarnya.
TBC