The Unloved Queen's Revenge

The Unloved Queen's Revenge
Queen 46. Kelicikan Sung Won



Sung Won, orang yang saat ini tengah dicurigai oleh Dae Jung dan Hyeon tengah menikmati teh hijau di rumah miliknya. Dia tidak sendiri di sana karena ada sang adik juga.


Myung Ki tampaknya sedang sangat kesal. Hal tersebut disebabkan karena perkembangan ulat darah berhasil ditahan oleh Jae Hwan. Meskipun belum pasti bahwa Jae Hwan bisa mengalahkan ulat-ulat darah yang ditanam oleh nya, namun apa yang dilakukan Jae Hwan tentu sudah membuat Myung Ki kesal bukan main.


" Sudahlah, percuma kamu marah-marah begitu Myung Ki. Tidak akan mengubah apapun. Sebaiknya kau melakukan hal lain yang bisa bermanfaat kedepannya nanti."


Myung Ki membuang nafasnya kasar ia pun bangkit dari duduknya dan melangkah pergi ke luar rumah. Sung Won hanya menghembuskan nafasnya dengan pelan saat melihat kelakuan sang adik. Si jenius itu memang sangat tidak bisa mengontrol perasaannya.


" Baiklah, sepetinya aku juga harus pergi. Aku harus melaksanakan rencana ku selanjutnya."


Sung Won meletakan gelas teh nya di atas meja lalu pergi dari rumah tersebut. Ia kemudian mengambil kudanya dan memacunya dengan begitu cepat agar ia segera sampai di tempat tujuan.


Tuplak ... Tuplak ... Tuplak ...


Suara sepatu kuda beradu dnegan tanah membuatnya begitu menggema saat mulai memasuki lembah Gwisin. Ya, Sung Won memutuskan untuk menemui Jin Sang. Ia harus membuat Jin Sang menyerang istana saat ini. Ia pun memacu kudanya lebih cepat lagi agar ia tidak terlaku malam sampai di lembah Gwisin.


" Huh, jika bukan karena untuk tujuanlu sendiri, aku sungguh tidak ingin menemui orang itu di tempat terpencil seperti ini."


Sung Won sungguh merasa kesal saat ia harus turun dari kuda dan menuntun kudanya tersebut melewati jalan setapak. Lembah Gwisin merupakan sebuah lembah yang jarang disinggahi orang. Tempat tersebut berada di sebuah wilayah yang lumayan terpencil di pinggiran negara Mae. Sung Won harus masuk ke hutan terlebih dahulu lalu menuruni lembah melewati sebuah sungai baru dia sampai di tempat dimana Jin Sang berada.


" Benar-benar pangeran yang terbuang. Semua adalah karena ayahmu. Hansoe, pria itu adalah simbol dari kerusakan yang sebenarnya. Beruntung putranya itu tidak mengikuti sifat ayahnya. Tapi paling tidak dia masih bisa dimanfaatkan untuk menghancurkan adik sepupunya sendiri. Hahaha aku memang cerdas. Haish bedebah."


Sung Won bermonolog, ia kembali mengumpat saat dirinya kesusahan dalam perjalanannya tersebut.


Rumah-rumah semi permanen mulai dia lihat. Terdengar juga pasukan Jin Sang yang sedang berlatih di sana. Sung Im, anak buah setia Jin Sang melihat Sung Won berjalan mendekat dengan menuntun kudanya tentu merasa aneh. Ia pun menghampiri pria tersebut untuk menanyakan ada keperluan apa. Selama ini tidak ada seorng pun yang datang ke Lembah Gwisin.


" Ada keperluan apa tuan datang kemari?"


" Jin Sang, aku ingin bertemu dengannya."


Sung Im memicingkan matanya. Ingin bertanya lebih jauh tapi dia urung. Ia pun membawa Sung Won menuju ke tempat dimana Jin Snag berada.


Terlihat gurat tidak suka di wajah Sung Won saat melewati rumah-rumah itu. Miskin dan sangat tidak nyaman, itulah yang Sung Won rasakan. Bagaimanapun di adalah pria yang terlahir dengan sendok emas di mulutnya. Mana pernah dia merasakan kehidupan yang susah.


" Silahkan tuan sebelah sini."


" Pengeran Jin."


Jin Sang langsung berdiri mendengar suara Sung Won. Ia sedikit tidak percaya bahwa pria itu berhasil menemukannya. Sedikit merasa herna, biasanya hanya burung elang yang dikirimkan untuk memberikan kabar. Entah mengapa kali ini Sung Won datang langsung ke tempatnya.


" Apa yang membuat Tuan Sung datang ke tempat yang buruk ini."


" Yang Mulia Pangeran jangan bicara seperti itu. Hamba sungguh merasa bersalah karena belum bisa memberikan hal yang layak kepada pangeran. Hamba adalah orang yang buruk. Maafkan hamba pangeran."


Sungguh drama yang meyakinkan. Sung Won benar-benar menampilkan lakon anak buah yang begitu baik dan setia. Tanpa Jin Sang ketahui dia sudah memaki terus menerus di dalam hati nya.


" Baiklah, lalu apa yang membawamu kemari. biasanya kau atau Myung Ki hanya akan mengirimiku pesan melalui burung elang itu."


" Ini adalah hal yang begitu mendesak Pangeran. Ibu kota saat ini tengah diambang kekacauan. Raja bodoh itu sama sekali tidak bisa mengatasinya. jika seperti ini rakyat akan terus menderita. Negara Mae lambat laun akan hancur. Jadi hamba harap yang mulia segera bertindak. Memang kelihatannya seperti memanfaatkan siuasi. Akn tetapi bukankah ini adalah kesempatan yang bagus. dan biasanya kesempatan yang bagus tidaka akan datang dua kali."


Jin Sang terdiam, ia tidak boleh serta merta percaya dengan apa yang dikatakan oleh Sung Won. Memang benar kesempatan tidak datang dua kali tapi dia juga tidk boleh gegabah. Ia tidak mungkin serta merta mengirim pasukannya untuk menyerang dan mati konyol.


Meskipun pasukannya adalah ornag-orang yang terlatih, namun kekuatan prajurit negara Mae tidak bisa dianggap remeh. Terlbih mereka memliki panglima pernag yang tersohor kemampuannya.


Jin sang menampilkan raut wajah antusias di depan Sung Won. Ia tidak boleh menunjukkan keragu-raguan dalam bersikap. Jin Sang merasa orang yang tengah duduk di depannya ini bukanlah orang yang sederhana. Karena tidak mungkin seorang pemuda yang mungkin usianya lebih muda dari dirinya itu bisa menggerakkan orang-orang tua yang memiliki jabatan tinggi di kerajaan. Jin Sang merasa harus hati-hati dengan Sung Won.


" Baiklah Sung won, aku akan memikirkannya. secepatnya aku akan memberimu kabar mengenai keputusanku. Beri aku waktu dua hari untuk memikirkannya. Mengumpulkan pasukan bukanlah perkara yang mudah dan kau tahu itu."


" Baiklah Yang Mulia Pangeran Jin. hamba akan menunggu titah yang mulia. Apapun yang menjadi perintah yang mulia akan kami laksnakan. Anda jangan lupa bahwa Anda memiliki kelompok pendukung di ibu kota. kalau begitu hamba mohon pamit. Hamba sungguh menunggu kabar baik dari yang mulia."


Jin Sang mengangguk. Ia kemudian memanggil Sung Im dan meminta anak buahnya itu mengantar Sung Won.


Sung Won kembali ke ibu kota dnegan sentyum yang begitu cerah. ia yakin, jin sang tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini.


" Sebentar lagi, ya sebentar lagi tahta itu akan menjadi milikku. Negara ini akan ada di genggamanku. Aku sungguh tidak sabar menantikan hal tersebut. Raja bodoh dan pangeran yang bodoh. Hahaha, kalian benar-benar saudara sejati karena sama-sama bodohnya. Mari kita lihat bagaimana sesama saudara itu saling membunuh satu sama lain."


TBC