The Unloved Queen's Revenge

The Unloved Queen's Revenge
Queen 60. Membawamu Pergi



Gyeo wool masih menatap tajam kepad Hyeon saat mereka sudah sampai di halaman istana. Disana terlihat seluruh pasukan sudah berkumpul.


Hyeon kemudian memberikan kata sambutan terlebih dahulu kepada seluruh prajuritnya. Ia mengatakan Perang kali ini adalah perang menghadapi pemberontak yang berasal dari negeri sendiri. Hyeon juga menegaskan kepada semuanya bahwa jika ada yang tidak berkenan melawan pemberontak maka dipersilahkan untuk mundur.


Seanjutnya Kyung Sam yang berdiri di samping Hyeon dan Wool yang memberi arahan.


" Kalian akan dibagi menjadi 4 kelompok. Satu dibelakang, dua di sisi sayap kanan dan kiri dan yang ketiga di depan bersama ku dan juga raja. Disini Ratu Gyeo wool juga akan ikut turun ke medan perang. Kalian tidak perlu khawatir. Ratu Gyeo Wool adalah adikku, aku sangat tahu seberapa besar kemampuannya dalam menggunakan senjata. Mari kita pertahankan negara kita ini bersama-sama. Hidup Negara Mae!!!"


" Hidup Negara Mae!"


Hyeon yang sedari tadi ditatap oleh Wool akhirnya menyerah juga. Ia kemudian menjelaskan mengenai apa yang ia lakukan tadi.


" Iya aku sengaja, aku memang sengaja menakut-nakuti mereka agar mereka memilih pergi. Kau tahu sendiri aku tidak pernah menyentuh mereka. Jadi biarkan mereka bebas dan aku hanya akan bersamamu."


" Apakah benar begitu, lalu soal keturunan bagaimana?"


" Tentu kau yang akan memberikannya. Mari kita buat yang banyak."


" Jika aku tidak bisa memberimu keturunan, siapa yang akan mewarisi tahta ini?"


" Ehmm, kakakmu, kita berikan saja tahta ini kepada anak dari kakak mu nanti. Tapi aku yakin Dewa Langit akan memberikan kita banyak anak. Percaya padaku."


Hyeon menggenggam erat tangan Wool dan bergitu pula sebaliknya. mereka benar-benar bersiap untuk menghadapi peperangan ini.


Dae Jung terlihat berlari masuk ke halaman istana. Nafasnya terengah-engah.


" Yang mulia mereka, mereka menyerang ibu kota dan mengobrak-abrik ibu kota. Mereka berusaha menyakiti rakyat."


" Keparat, dasar tidak punya hati. Ayo kita bergerak. Ratu ku kau disini saja. Jaga istana untukku. Aku merasa ini hanya pengalihan, aku ingin kau tetap waspada. Jangan lengah sedikitpun. Kyung sam , kau juga di sini. Target mereka adalah aku. Jaga Gege untukku."


" Tapi~"


Wool yang hendak protes langsung ditahan oleh Kyung Sam. Hyeon berbalik sejenak, mencium kening sang istri dan langsung menunggang Si Hitam menuju ibu kota.


Hiyaaaa


Hyeon memacu kudanya bersama dengan Dae Jung. Ia harua segera ke sana agar Sung Won tidak semakin gila membuat kerusuhan. Tapi tanpa Sung Won tahu, pasukan rahasia Hyeon sudah menangkap antek-antek nya. Ketiga menteri yang berhubungan dengan Sung Won dan beberapa pejabat daerah yang lain sudah berhasil diamankan bahkan langsung dimasukkan ke penjara.


" Kakak pertama, akankah Pyeha baik-baik saja?"


" Jangan khawatir, Yang Mulia Raja Hyeon memiliki kemampuan tempur yang mumpuni. Aku bisa mengatakan ini karena aku bersamanya saat di medan perang. Kau tetap fokus disini. Jangan menjadikan dirimu khawatir, nanti malah membuat perasaannya dan konsentrasinya terganggu."


Tulplak tuplak tuplak


Suara kaki kuda bersahutan. Hyeon menggertak kan gigi nya marah saat melihat bagaimana ornag-ornag Sung Won berusaha mendobrak rumah-rumah warga.


" Bedebah kalian semua. Jika kalian tidak berhenti maka aku pastikan membumi hanguskan kalian."


" Itu dia datang seraaaang!!!"


Salah seorang dari mereka membuat perintah untuk menyerang Hyeon yang baru tiba. Hyeon menyeringai, dia tentu sudah bisa membaca hal ini. Sung Won benar-benar menargetkan dirinya. Tapi tentu tidak semudah itu. Para prajurit langsung membuat benteng pertahanan di sekeliling Hyeon.


Meskipun begitu Hyeon tidak tinggal diam. Ia pun menarik pedang dari sarungnya dan memulai menebas pasukan Sung Won. Mata Hyeon memicing mencari keberadaan Sung Won. Tapi dia sama sekali tidak melihat pria itu.


" Baik yang mulia."


Hiyaaaa


Hyeon dan Dae Jung memutar kuda mereka kembali ke istana. Para prajurit dan pasukan khusus ynag dimilik Hyeon menahan pasukan Sung Won agar tidak mengejar raja mereka.


Trang


Trang


Bugh


Pedang dan tombak saling beradu, pasukan Sung won satu persatu tumbang jatuh ke tanah.


Di sisi lain Sung Won tersenyum lebar saat anak buahnya mengatakan bahwa pasukan Hyeon menuju ke ibu kota. Dia tidak pernah memprediksi bahwa di istana masih ada Kyung Sam dan Du Ho. Ia berpikir semua akan menuju ibu kota untuk menghentikan pasukan yang ia kirim.


Pria itu dengan congkak masuk ke gerbang istana bersama pasukannya. Dengan kepala terangkat ia berteriak meminta prajurit yang menjaga istana untuk mundur.


" Istana sudah ada dalam genggamanku. Sebaiknya kalian mundur. Atau~."


" Atau apa Tuan Sung Won yang terhormat."


Wool berteriak tidak kalah kerasnya dari Sung Won. Sesaat pria itu tertegun saat melihat Wool dengan baju zirah yang dikenakannya. Ratu negara ini terlihat begitu cantik. Sung Won bahkan tidak berkedip.


" Jaga matamu Sung Won, atau aku akan membuatnya tidak bisa melihat apapun saat ini juga."


Deg


Suara yang begitu ia kenal itu membuat Sung Won seperti tercekik lehernya. Panglima Perang Kyung Sam, ya itu adalah suara panglima yang dijuluki harimau gunung ketika di medan perang. Pria itu muncul dari belakang tubuh sang ratu. Sesaat Sung Won bergidik saat melihat Kyung Sam. Namun karena kecongkakkan dalam hatinya membuat pria itu kembali menegakkan kepalanya bahkan sekarang menarik pedang dan mengacungkannya ke arah Gyeo Wool.


" Ratu, sebaiknya Anda berjalan mendekat ke arah ku dan aku akan mengampuni mu. Aku akan membuat Ratu Gyeo Wool menjadi ratu ku yang paling bahagia."


" Cih, lebih baik aku mati dari pada harus berdampingan dengan mu."


" Dasar wanita tidak tahu diuntung, semuanya seraaaang!!!!


Sung Won bersama pasukannya yang ternyata lebih banyak meringsek maju dan mulai menyerang. Kyung sam pun lari ke depan untuk menghadapi Sung Won. Sedangkan Du Ho, ia berjaga di sebelah Wool. Dia mengambil sikap waspada untuk melindungi sang ratu.


Pun dengan Wool, dia tidak boleh lengah sedikit pun. Ia harus mengantisipasi adanya serangan tersembunyi. Baik Wool maupun Du Ho bahkan sampai melihat ke atas tembok istana. Memindai setiap tembok untuk memastikan tidak ada musuh di sana.


" Du Ho, waspadalah!"


" Baik Yang Mulia Ratu."


Sampai saat ini masih belum ada pasukan Sung Won yang berhasil meringsek masuk ke dalam Istana. Mereka semua masih bisa di tahan oleh prajurit negara ini serta tentara milik Kyung Sam. Musuh juga belum ada yang bisa mendekati ratu. Hingga sesuatu berhasil membuat Du Ho jatuh tak sadarkan diri. Wool tentu terkejut, saat ia hendak memeriksa pengawalnya itu sesuatu mengenai lehernya dan ia pun ikut jatuh tak sadarkan diri.


" Aku akan membawamu pergi dari medan peperangan ini."


TBC