
Je Hwan terkejut dengan apa yang terjadi. Tiba-tiba semua orang yang terkena ulat darah itu pingsan. Namun sesaat kemudian mereka sadar dan seperti tidak merasakan apapun.
Jae Hwan pun memeriksa satu persatu warga dibantu dengan tabib yang lain.
" Tabib Jae Hwan ini~."
Jae Hwan mengangguk kepada para tabib sebagai tanda bahwa para warga yang terkena ulat darah itu sudah sembuh total. Bahkan tidak ada lagi makhluk itu di tubuh para warga yang terjangkit.
Ada rasa lega dalam diri Jae Hwan tapi dia juga heran. Bagaimana bisa ulat darah itu hilang dan bersih tak berbekas sama sekali. Namun ia mengesampingkan hal itu. Saat ini dia benar-benar harus memastikan bahwa semuanya sungguh aman.
" Terimakasih tabib, Anda telah merawat kami selama ini."
" Jangan berterimakasih kepada ku. Berterima kasihlah kepada Yang Mulia Raja Hyeon. Jika beliau tidak segera mengevakuasi kalian, maka nyawa kalian tidak akan pernah tertolong."
Semua orang mengangguk mengerti dengan ucapan Jae Hwan. Tidak dapat dipungkiri bahwa Hyeon adalah raja yang bijaksana. Bahkan Hyeon tidak pernah menarik pajak kepada para rakyat miskin. Hal tersebut tentu semakin menambah kecintaan rakyat kepada raja mereka.
Kyung Sam yang berada di ruangan lain langsung menemui sang adik saat mendengar kabar kesembuhan para warga. Ia tentu harus memastikannya sendiri.
" Apa benar Hwan?"
" Ya Hyung benar. Apa mungkin Hyeon berhasil membunuh si pengendali ulat darah itu ya?"
Sebuah pertanyaan yang tentu hanya mereka yang tahu jawabannya. Tapi melihat apa yang terjadi bisa dipastikan bahwa Hyeon berhasil mengalahkan si pembuat onar.
Jae Hwan bersama Kyung Sam pun langsung menuju ke danau. Mereka memeriksa apakah air danau sudah kembali normal atau belum. Dan sesuai dugaan Jae Hwan, air danau itu pun kembali seperti semula.
" Syukurlah, terimakasih Dewa wabah ini benar-benar berakhir. Tapi hyung, hyung jangan dulu kembali ke perbatasan. Aku merasa sesuatu yang besar akan terjadi setelah ini."
" Ya, kau benar. Aku pun merasa demikian. Tampaknya ini tidak akan menjadi hal yang sederhana."
Kakak dan adik itu memiliki pemikiran yang sama. Keduanya pun berjalan beriringan menuju kamp pengungsian.
Di sisi lain Sung Won berteriak histeris saat mengetahui bahwa ulat darah yang dibuat sang adik lenyap. Sung Won tentu tahu lenyapnya ulat darah itu berati tanda meninggalnya Myung Ki.
" Arggghhh!!! Bedebah, keparat kau Hyeon. Kau pasti yang membunuh adikku. Kau pasti yang melakukannya. Tidaak Myung Ki hu hu hu."
Sambil melempar benda-benda yang ia bisa raih ke lantai, Sung Won menangis tersedu. Ia benar-benar tidak bisa kehilangan satu-satunya dari keluarga yang tersisa.
" Aku tidak akan tinggal diam. Akan aku perlihatkan bagaimana aku menghabisi mu dan seluruh penghuni istana. Ya, kalian semua harus membayar apa yang telah kalian lakukan kepada keluargaku. Kau kemari, persiapkan semuanya. Besok kita akan menyerang istana."
" Baik tuan."
Sung Won memanggil orangnya dan memerintahkannya untuk mengumpulkan pasukan yang ia miliki. Ia tidak lagi mau menunggu Jin Sang. Ia bahkan tidak peduli terhadap orang itu. Saat ini obsesi dan ambisinya yang begitu kuat untuk melumpuhkan Istana membuat ia tak menginginkan sekutu seperti Jin Sang.
" Aku akan melakukannya sendiri. Aku tidak harus menunggu pria bodoh itu bergerak. Aku akan bergerak sesuai apa yang aku inginkan."
🌿🌿🌿
Hyeon berhasil membuat nyawa Myung Ki melayang. Pemuda itu tidak terlalu bagus dalam ilmu bela diri.
Sedangkan di sisi lain, pertarungan alot tengah terjadi antara Wool dan Ae Ran. Wanita paruh baya itu masih terlihat lincah menerima serangan dari Wool dan membalasnya.
Tak jarang Wool juga kena serangan Ae Ran. Ae Ran merapalkan mantra. Sebuah cahaya hitam terbuat dengan kedua tangan wanita itu membentuk sebuah gumpalan. Ae Ran mengarahkan gumpalan hitam itu ke arah Wool. Dan Blaaam, sebuah suara ledakan menggelegar. Gumpalan hitam itu mengenai sebuah batu besar di belakang Wool.
" Bedebah, kalian sungguh membuatku sangat marah. Hei kau wanita sialan. Jika kau tidak datang maka putriku saat ini pasti akan menjadi ratu."
" Tapi sayangnya aku ada bukan."
Hiaaaat
2 lawan satu. Hyeon dan Wool bahu membahu melawan Ae Ran. Berkali-kali Ae Ran terkena pedang Wool tapi tidak ada luka sedikitpun di tubuh wanita itu. Ae Ran pun menyeringai saat mengetahui keheranan Wo dan Hyeon.
" Hahaha sampai kalian mati pun, kalian berdua tidak akan bisa melukaiku."
" Ini tentu tidak mungkin. Dia pasti punya kelemahan."
Hyeon berbicara kepada Wool. Setiap kekuatan pasti memiliki sisi lemahnya. Tidak ada makhluk yang sangat sempurna di dunia ini.
" Aku tahu yang mulia, tapi sekarang pertanyaannya dimana dan apa kelemahan wanita itu?"
Wool terlihat mengambil nafas. Tenaganya sudah banyak terkuras untuk melawan Ae Ran. Kini Hyeon yang merangsek maju sendiri. Ia membiarkan sang istri untuk istirahat sejenak.
" Benar apa yang dikatakan Hyeon, wanita itu pasti memiliki kelemahan. Tapi apa."
Sembari melihat Hyeon yang sedang melawan Ae Ran, Wool befpikir. Ia kemudian teringat sesuatu.
" Aaah iya, tusuk rambut phoenix. Bukankah saat itu aku bisa mengalahkan mayat hidup itu dengan menggunakan tusuk rambut ratu. Baiklah, mari kita mencobanya."
Wool tersenyum lebar saat menemukan sebuah cara. Meskipun ia belum tahu apakah akan berhasil atau tidak, tapi paling tidak dia bisa mencobanya terlebih dulu.
" Yeobo, mundurlah."
Sesaat Hyeon terpaku mendengar panggilan Wool. Panggilan sayang itu membuat Hyeon sungguh senang. Ia pun menarik tubuhnya mundur hingga ia berdiri di samping sang istri.
" Tadi kau memanggilku apa?"
" Kalau tidak dengar ya sudah."
Cup
Hyeon yang gemas sungguh tidak tahan untuk mengecup bibir Wool. Tanpa mereka sadari apa yang Hyeon lakukan terhadap Wool membuat Ae Ran jatuh tersungkur ke tanah.
Keduanya tentu sedikit heran. Mereka tidak melakukan apapun tapi Ae Ran terlihat begitu lemah. Hingga Hyeon menyadari sesuatu. Untuk memastikan hal tersebut Hyeon pun kembali melakukan hal yang tadi ia lakukan. Hyeon kembali mencium bibir istrinya. Kali ini Hyeon melummatnya lebih dalam.
" Arggghhhh!!"
Sebuah teriakan kesakitan dapat mereka berdua dengar dari Ae Ran. Heyon terus mencium Wool. Awalnya Wool menolak dengan berusaha mendorong dada Hyeon. Ia merasa ini bukan waktu yang tepat untuk melakukan hal tersebut. Tapi saat ia menyadari bahwa ciuman mereka menjadi sebuah kelemahan Ae Ran, Wool pun mulai membalas belitan lidah sang suami.
" Arghhh!! Keparat kalian berdua. Kalian manusia-manusia biadab. Arggghhh!!"
Ae Ran terus berteriak kesakitan. Akhirnya Wool dan Hyeon menghentikan aksi mereka. Lalu sebuah aura dingin datang kepada mereka. Lebih tepatnya mendatangi Ae Ran.
" Ibu."
TBC