The Unloved Queen's Revenge

The Unloved Queen's Revenge
Queen 53. Kerusuhan Bertambah



Di kamar penginapan desa Namngoel, sepasang sejoli yang baru saja memadu kasih itu masih dalam posisi berbaring dengan saling berpelukan. Keduanya sungguh tidak tahu akibat dari penyatuan mereka membuat beberapa orang sakit bahkan melemahkan kekuatan yang dimiliki.


Senyum Hyeon sungguh sangat lebar saat mengetahui miliknya kini bisa bertugas sebagaimana mestinya. Ia menciumi wajah sang istri berulang kali.


" Apakah sesenang itu?"


" Tentu, aku akhirnya bisa mencetak pewaris kerajaan."


" Kalau jadinya perempuan?"


" Kita cetak lagi sampai jadi laki-laki."


" Jika tidak bisa?"


" Tidak masalah. Tidak ada salahnya juga negara dipimpin oleh seorang ratu."


Jawaban Hyeon membuat hati Wool menghangat ia pun mengeratkan pelukannya kepada snag suami. Wool kemudian kembali menanyakan alasan sebenarnya Hyeon datang kemari.


Hyeon lalu menceritakan mimpinya kepada Wool hingga membuat Wool bangkit dari posisi tidurnya. Ia menatap wajah Hyeon dengan lekat.


" Yang mulia, apa kau tahu siapa Da Eun yang sebenarnya dan apa yang mereka lihat saat Anda membawanya ke istana?"


Hyeon menggeleng. Ia sungguh tidak mengerti dengan apa yang Wool bicarakan.


Mereka pun kembali berpakaian setelah membersihkan diri. Kini keduanya sudah duduk berhadapan. Wool kemudian menceritakan semua penemuannya di desa tersebut. Mulai dari keadaan desa, Da Eun yang memiliki nama lain, Da Eun yang seorang gisaeng, Da Eun yang pergi keluar desa dengan pria tua hingga peristiwa tadi malam. Semua tidak ada yang terlewat oleh Wool.


Hyeon mendengarkan dengan seksama. Sedikit terkejut tapi ia teringat kata-kata Jae Hwan bahwa desa ini adalah desa yang dikutuk. Kini giliran Hyeon menceritakan mengenai apa yang terjadi di ibu kota.


Hyeon juga menceritakan mengenai ramuan yang sedang dibuat oleh Jae Hwan dimana air mata Wool dibutuhkan. Tadinya Hyeon tidak mau mengatakan bahwa calon bayi mereka bisa jadi obat juga. Tapi Hyeon rasa tidak ada hal yang harus disembunyikan keduanya sekarang.


Betapa terkejutnya Wool mendengar hak tersebut. Rahang sang ratu langsung mengeras karena saking marahnya.


" Sungguh keji. Bagaimana bisa ada orang yang melakukan perbuatan keji seperti itu."


" Satu cara yang paling ampuh adalah membunuh dalang utamanya. Tapi sampai saat ini kita masih belum tahu siapa penyebab semua ini terjadi."


" Baiklah, mari selesaikan urusan di sini lalu pulang ke ibu kota. Yang mulia, pakah masih ingat dimana rumah Da Eun."


Hyeon menggeleng, dia sama sekali tidak tahu dimana rumah Da Eun. Waktu itu dia tidak diizinkan untuk mendatangi rumah Da Eun. Da Eun beralasan ayahnya memiliki penyakit menular sehingga tidak baik bagi Hyeon untuk datang memberi salam.


" Baiklah itu bisa lain kali kita cari. Yang terpenting saat ini adalah malam ini kita harus bisa mengalahkan wanita itu."


" Apakah yang kau maksud adalah wanita yang kau yakini mengendalikan mayat-mayat hidup itu?"


Wool mengangguk mendengar pertanyaan sang suami. Awalnya Hyeon ragu tapi ia memiliki keyakinan selama mereka bersama maka semua akan baik-baik saja.


Tok ... Tok ... Tok ...


Pintu kamar Wool diketuk. Wool yang hendak bangkit dihalang oleh Hyeon. Hyeon lah yang akhirnya berdiri dan berjalan ke arah pintu.


Sreek


" Salam yang mulia, hamba membawakan makan pagi untuk Pyeha dan Mama."


Hyeon mengangguk tanpa berkata apapun. Wool menghembuskan nafasnya dengan perlahan, rupanya suaminya itu tetap saja masih bersikap dingin kepada orang lain.


Dasom yang tidak ingin mengganggu pasangan suami istri itu akhirnya memilih keluar setelah menaruh semua makanan yang ia bawa di meja. Wool dan Hyeon menikmati makanan mereka dengan hikmat.


🌿🌿🌿


" Tabib ... Tabib ... Korban bertambah. Semakin banyak orang yang jatuh pingsan di kota."


" Apa??"


Jae Hwan yang baru saja ingin merebahkan tubuhnya langsung berdiri dan berlari. Ia mengikuti prajurit yang memberinya kabar mengenai kondisi ibu kota terkini.


Jae Hwan sungguh terkejut melihat banyaknya warga yang berjatuhan. Namun ia sedikit lega saat meliht sang kakak di sana.


" Hwan sebenarnya ada apa. Mengapa betambah semakin banyak saja," tanya Kyung sam saat Jae Hwan mendekat.


" Entahlah Hyung, aku masih belum tahu," jawan Jae Hwan lesu.


Tapi sekilas ia melihat sebuah asap hitam di atas danau. Jae Hwan pun mendekat dan mengambil sedikit air itu untuk ia lihat.


" Bedebah, rupanya ia menebar telur ulat darah ini di danau."


Jae Hwan menggertakkan gigi-giginya. Ia sungguh sangat marah dengan ulah orang tersebut. Beruntung seluruh prajurit tidak ada yang boleh makan dan minum selain yang disediakan istana sehigga mereka tetap terjaga tubuhnya. Jae Hwan pasti akan kehilangan akal sehatnya jika ulat darah itu sampai menjangkiti prajurit.


Hyeon sungguh pandai memprediksi hal tersebut. Jae Hwan yakin, Hyeon pasti sudah menyadari akan adanya serangan susulan di ibu kota.


" Semua dengarkan aku! Jangan lagi ada yang menggunakan air danau ini untuk keperluan makan,minum, atau apapun jangan. Kalian harus menghindari bersentuhan dengan air danau ini."


Semua orang tentu tidak paham apa yang dikatakan oleh Jae Hwan. Kyung Sam yang mengerti isi pikiran para warga pun akhirnya maju ke depan mencari tempat yang lebih tinggi dan berbicara dengan lantang.


" Aku Panglima Perang Kyung Sam. Aku perintahkan kalian menjauh dari danau. Jika ada yang berani mendekat maka aku tidak segan untuk menghabisi nyawa kalian. Ini perintah langsung dari Yang Mulia Raja Hyeon. Dalam danau tersebut terdapat binatang berbahaya yang bisa membunuh kalian dalam hitungan jam. Jika kalian tidak percaya maka cobalah sendiri dan aku tidak akan bertanggung jawab dengan apa yang akan terjadi dengan kalian."


Semua orang tampak diam saat Kyung Sam mengatakan hal tersebut. Kyung Sam adalah panglima perang yang disegani. Namanya tersohor di penjuru negeri. Semua begitu mengagumi Kyung Sam. Maka dari itu Kyung Sam langsung mengambil alih apa yang dikatakan Jae Hwan agar para rakyat itu menurut. Kyung Sam juga menyuruh mereka membawa sanak saudara yang saat ini sakit ke kamp pengungsian.


" Hyungnim, aku harap Hyeon dan Gege baik-baik saja."


" Ya, aku juga berharap seperti itu. Negara kita ini sedang dalam titik yang mengkhawatirkan. Keamanan negara juga sedang goyah. Kita harus bersiap dengan kemungkinan terburuk."


" Apa itu?"


" Perang."


Jae Hwan menelan saliva nya dengan sudah payah. Perang, satu kata yang ia sangat benci. Karena kata itu menimbulkan masalah yang tidak sedikit. Mayat berhamburan, darah tercecer dimana-mana, kesakitan, tangis, kesedihan, kehilangan dan lain sebagainya.


" Aku harap itu tidak terjadi hyung. Dan kalian bedua, Gege, Hyeon, aku harap kalian segera kembali."


TBC