
Dering telepon yang berulang memaksaku terjaga. Aku tak meminta wake-up call pada resepsionis hotel. Siapa yang meneleponku pagi buta seperti ini?
“Good morning, Groom to be.”
Ah, rupanya Mentari. Aku bangkit melirik smartphone-ku, mencari tahu sudah pukul berapa saat ini. Baru teringat jika aku mematikannya malam tadi sebelum tidur. Kutekan tombol On agar menyala.
“Jam berapa sekarang?” tanyaku pada Mentari yang masih berada dalam panggilan.
“Pukul 04.45 WIB, Mas. Buruan salat subuh dulu,” pesannya. “Sarapan sudah tersedia di resto mulai jam enam.”
Kututup telepon dan beranjak untuk wudhu. Dzikir pagi paling khusuk yang pernah kubaca selepas subuh. Kuucapkan beberapa do’a agar diberi kelancaran pada saat proses ijab kabul nantinya. Aku tidak meragu, hanya butuh memperkuat tekadku. Bahwa menikahi Kinara adalah keputusan terbaik untuk hidupku.
Enggar, Arifin dan Giras menerobos masuk saat kubukakan pintu kamar. Mereka bertiga sudah terlihat rapi ketika aku sendiri bahkan belum sempat mandi.
“Buruan, Bro. Akad lu jam delapan teng.”
Enggar mengambil foto setiap tahapan aktivitas persiapanku. Mulai dari mengenakan pakaian, merapikan rambut, hingga memasang arloji di pergelangan tangan. Sebenarnya aku bukan pribadi yang senang difoto. Untuk kali ini kubiarkan saja mereka mengabadikan setiap detailnya. Pikiranku lebih terfokus pada prosesi sakral yang akan kuhadapi dua jam ke depan. Sebuah akad yang akan menghalalkan aku untuk Kinara.
“Handphone lu jangan lupa, Bro.” Enggar mengingatkan saat akan turun sarapan. Aku berbalik dan meraih benda itu, hendak memasukkan ke dalam saku. Namun tiba-tiba terpikir bahwa aku butuh konsentrasi tinggi hari ini. Smartphone hanya akan membuatku hilang fokus dan teralihkan. Segera kutitipkan pada Enggar.
“Gue off-in aja ya. Biar nggak ada yang nelpon lu.”
Di lobby sesaat seusai sarapan, kupeluk mama sambil membisikkan ucapan sayang dan meminta doanya untuk kelancaran segala sesuatunya hari ini. Beliau menangis terharu kala membalas erat pelukanku.
“Kamu mirip sekali sama Papa sewaktu akan menikahi Mama.” Jemarinya yang menua merapikan kostum Teluk Belanga yang kukenakan. Mentari menyerahkan sebuah kain songket berwarna emas dan mama membantuku memakainya.
Mobil yang membawa kami menuju lokasi akad nikah melaju kencang, sekencang debaran jantungku yang tak kunjung mereda. Bibirku terasa bergetar saat mecoba menyebutkan satu persatu urutan lafal ijab kabul itu. Kugumamkan terus namanya yang akan terucap lantang.
Kinara Humaira. Dalam beberapa jam lagi kamu akan resmi menjadi istriku.
-------
Andita kembali membenahi kerudung putih yang melapisi hijabku. Sahabatku itu kuminta menginap tadi malam, agar tidak terasa begitu resah sendirian menanti pagi. Ia yang mendandaniku sejak aku mulai mengenakan baju pengantin. Sebuah gamis putih dengan beberapa kombinasi renda yang tidak mencolok. Andita juga memoles tipis beberapa bagian wajahku agar tidak terlihat pucat.
Sejak jauh hari ayah sudah memberi pengertian bahwa prosesi akad nikah adalah yang utama dibandingkan acara syukuran setelahnya. Semua diatur secara sederhana. Hanya ada sebuah dekorasi ruang akad tanpa pelaminan. Tidak ada hiburan musik, dan tidak ada meja penerima tamu. Ibu dan para tetangga mempersiapkan hidangan sedapat mungkin untuk menjamu para kerabat yang datang.
Tak percaya rasanya hari ini datang juga padaku. Kupandangi jemariku yang tampak indah terlukisi inai berwarna kemerahan. Beberapa jam mendatang aku akan menjadi seorang istri dari lelaki yang baru kukenal kembali. Ia yang tiba-tiba datang, bertemu dan kemudian melamarku hanya dalam kurun waktu sebulan.
“Rombongan sudah datang.” Kak Fania berbisik saat wajahnya muncul dari balik pintu kamar. Mendengar itu membuat jantungku kian berdetak kencang. Andita menoleh padaku dengan senyuman gembira. Aku tahu ia pun sebahagia diriku sekarang.
Ucapan-ucapan melalui pengeras suara terdengar jelas dari dalam kamarku. Beberapa pertanyaan dari penghulu nikah dijawab bergantian oleh ayah dan juga Bima. Sesekali gelak tawa tamu undangan meramaikan suasana. Beberapa gurauan kecil menjelang prosesi akad biasa terlontar untuk mencairkan ketegangan yang dirasakan oleh calon pengantin pria.
Lafal beberapa dzikir pendek tak putus kugemakan dalam hati. Sebuah foto yang dikirim Bang Khalif membuat jantungku kian berdegup. Bima duduk dengan gagah di belakang meja akad. Memakai teluk belanga serba putih dengan ikat kepala Lacak Jambi berwarna keemasan. Sebuah senyum yang menghiasi wajahnya tak dapat menyembunyikan raut gugup di sana. Aku yakin diriku pun seresah Bima saat ini.
Bima, aku akan berdoa untukmu. Agar Allah melancarkan lisanmu saat kamu sebut namaku di lafal ijab kabulmu.
---------
Ternyata rasanya seperti ini. Bukan pertama kalinya aku berada di lokasi akad nikah. Di awal merintis studio foto, hampir setiap akhir minggu kujalani untuk memotret momen pernikahan. Menjadi saksi berbagai cerita haru dan juga lucu dari beragam calon pengantin. Dua tahun lalu, aku bahkan duduk di meja akad. Menikahkan Mentari kepada Fariz, menggantikan peran papa yang tak sempat melepas putri semata wayangnya itu. Namun kali ini, berada di sini, berhadapan dengan ayah Kinara, aku tak punya cukup kata untuk menggambarkan betapa gugupnya aku.
Terlihat satu persatu wajah-wajah yang kukenal di antara padatnya isi ruangan. Enggar telah siap sedia dengan kamera di tangannya. Fariz duduk di sisi kanan. Giras juga dengan kamera berdiri di sudut pintu. Dan Khalif dengan smartphone-nya duduk di belakang ayah Kinara, siap merekam momen penting yang akan kulakoni sesaat lagi.
Genggaman erat tangan lelaki di depanku memaksa konsentrasiku kembali. Kubalas tatapan sepasang mata yang menua itu, ada sebuah pesan terbersit di sana. Sebaik apapun pria yang akan menikahi putrinya, pasti ada terbersit kuatir bila rasa sayangnya kelak tak bisa mengimbangi sang ayah. Keraguan yang sama dulu kurasakan juga saat akan menikahkan Mentari. Aku kuatir Fariz tak bisa menjaganya sebaik aku menjaga adik tersayangku itu.
Kubalas tatapan beliau sambil mencermati perkataan yang diucapkannya. Kuucapkan pula bagianku tanpa ragu. Saat para saksi dan seisi ruangan menggemakan kata ‘sah’, aku sadar saat itu sebuah tanggung jawab sebesar gunung telah berpindah ke pundakku. Tanggung jawab untuk menjaga seorang Kinara Humaira Binti Syamsul Bahri, yang baru saja kuucapkan namanya dalam lafal ijab kabul.
Kin, tak percaya rasanya bahwa ternyata kamu lah tulang rusukku yang hilang, dan sekarang aku telah halal untukmu.
-------
Andita memelukku erat, membisikkan sebuah ucapan syukur.
“Kin, sekarang kau sudah menjadi seorang istri,” ucapnya saat kami berpandangan. Kubalas pelukannya dengan haru. Telah bertahun aku dan Andita selalu bersama. Menikahi Bima berarti juga aku akan meninggalkan Andita dalam waktu dekat. Aku dan sahabatku itu akan segera berpisah kota.
“Semoga kamu segera nyusul, Dit.” Kuselipkan sebuah doa untuknya saat ia menggandengku keluar kamar untuk menemui lelaki yang baru saja meresmikan dirinya sebagai suamiku.
Kak Fania menyediakan sebuah tempat kosong di antara ibu dan mama Bima agar aku bisa ikut duduk di sana. Ruangan akad hanya diisi oleh tamu pria, sedangkan tamu wanita ditempatkan di ruangan samping. Aku langsung menunduk saat melihat ternyata begitu ramai isi ruangan, dan menengadah kembali ketika menyadari ada langkah yang mendekat. Bang Khalif membawa Bima bertemu denganku, untuk pertama kalinya setelah kami resmi menjadi sepasang suami istri.
Betapa dadaku berdebar saat ia benar-benar berada di depanku. Ia tersenyum sambil mengulurkan tangannya dan kusambut dengan menyalami dengan santun. Aku sangat malu karena jemariku sungguh dingin saat bersentuhan dengan genggaman hangatnya. Ia tidak melepaskan pegangannya, hanya memindahkan ke sebelah kiri. Lalu tangan kanannya menyematkan sebuah cincin yang sangat indah pada jari manisku, mengusapnya lembut satu kali sebelum melepaskannya. Kulakukan hal yang sama padanya. Saat kedua cincin telah terpasang, ia menatapku lama sebelum Bang Khalif membawanya kembali ke ruangan awal.
Doa-doa dipanjatkan untuk kami agar dapat menjalani ikatan pernikahan ini hingga akhir hayat. Dekapan haru dari ibu dan ayah serta kerabat lain membuatku tak mampu menahan tangis. Bang Khalif memeluk Bima sambil membisikkan sesuatu, yang aku bisa menebak apa isi perkataannya. Mama Bima yang sekarang resmi menjadi ibu mertuaku mengucapkan terima kasih untuk kesediaanku menjadi pendamping hidup anak lelakinya. Aku dan Bima masih hanya saling memandang diantara ramainya kerabat yang mengucapkan selamat. Aku menyukai caranya yang ramah menanggapi obrolan para anggota keluarga dekat yang dikenalkan ayah padanya. Saat mataku masih terpesona menikmati setiap gerak-geriknya, lenganku ditarik lembut oleh serombongan kerabat wanita yang ingin memberikan selamat.
Ah, Bima. Benarkah ia telah menjadi pasangan hidupku? Hatiku terlalu bahagia untuk menyangkal kenyataan indah yang sungguh benar adanya.
------
“Ini adik sepupu Ayah, namanya Om Hamid.” Ayah Kinara memperkenalkan beberapa anggota keluarga dekat mereka padaku. Meskipun sulit, aku berusaha mengingat satu per satu. Dari jauh kulirik Kinara yang sedang berbincang ramai dengan serombongan perempuan. Salah satu dari mereka kemudian menarik lengannya ke ruangan lain. Dalam hati aku mengeluh. Mata lelakiku masih ingin menikmati indah penampilannya hari ini. Walaupun sebenarnya aku punya waktu seumur hidup untuk memilikinya, karena ia telah resmi menjadi istriku.
Istriku. Bidadariku. Sungguh hatiku tak mampu berbohong saat melihatnya berbalut dalam nuansa putih. Kuingat jelas senyumnya yang malu-malu ketika Khalid membawaku menemuinya, serta jemarinya yang dingin kala kusematkan cincin pernikahan kami. Aku sungguh jatuh hati pada keindahannya. Walau hanya riasan tipis yang menghiasi parasnya, tak membuat Kinara kalah cantik dibandingkan para pengantin perempuan yang pernah menjadi klien studio fotoku.
Menjelang siang Mentari berhasil menculik Kinara untuk pengambilan sesi foto keluarga. Saat pemotretan selesai, cepat kuraih lengannya agar ia tak berkesempatan menghilang.
“Jangan kemana-mana,” kuberbisik di telinganya. “Aku belum punya foto berdua denganmu.”
Kinara memasrahkan jemarinya tetap kugenggam sampai Enggar menemukan spot foto yang unik di sekitaran rumah. Sebuah pojok di halaman belakang yang asri menjadi pilihannya untuk lokasi foto. Kugiring Kinara ke sana melewati beberapa tetamu yang tersenyum memandang kami.
Enggar mengatur beberapa pose untuk kami. Seperti pesanku, ia tidak memaksakan sebuah kemesraan. Aku ingin apa yang terlukis di wajahku dan wajah Kinara mencerminkan suasana hati kami saat ini. Sebuah foto akan menampilkan kejujuran. Kuharap Enggar mampu mengupas seberapa besar rasa yang dimiliki Kinara untukku melalui jepretannya.
Setelah Enggar menyelesaikan seluruh sesi foto, aku meminta waktu untuk berbincang berdua dengan Kinara. Kami duduk berhadapan di kursi kayu di pojok halaman. Aku memandanginya, ia balas memandang tapi lebih banyak menunduk.
“Aku ingin memotretmu. Hanya jika kamu setuju. ” Kukatakan apa yang sejak tadi terus berkelebat di otakku. Melihatnya dengan pakaian indah seperti ini, sungguh memicu adrenalinku. Aku sudah beberapa kali memotretnya secara diam-diam. Untuk sekarang, kucoba meminta ijinnya terlebih dahulu, meskipun sebenarnya tidak perlu ijin apapun karena dia pengantinku hari ini.
Kinara mengangguk menanggapi permintaanku.
“Tapi Kin nggak bisa bergaya,” ucapnya polos.
“Kamu cukup jadi diri sendiri. Sisanya serahkan padaku,” ujarku meyakinkannya.
Aku yakin lensa kameraku juga merasa puas hari ini, diberi kesempatan membidik seorang wanita yang kecantikannya mampu menggetarkan jiwa. Matanya yang indah kadang memandang lurus, kadang beralih ke arah lain. Kubiarkan ia lepas dengan ekspresi jujur di wajahnya. Beberapa foto kubidik saat ia menunduk memandangi jemarinya yang terlukis cantik. Jari jemari lentik itu mulai menghangat saat kugenggam untuk memotret cincin pernikahan kami yang berpasangan.
“Kamu selalu cantik saat difoto.” Pujianku membuat wajah bersihnya seketika bersemu merah. Juga saat ia melihat sendiri hasil jepretanku dari layar display.
“Apa yang kamu rasakan hari ini?” tanyaku di sela-sela perhatiannya pada foto-foto kami di dalam kamera. Kinara mengalihkan pandangannya padaku dan kami bertatapan sejenak. Aku wajib menanyainya, memastikan ia juga merasakan bahagia yang memenuhi hatiku sejak pagi tadi. Kinara menghadiahiku sebuah senyuman sebagai jawaban. Senyuman terindah yang pernah aku lihat sejak mengenalnya kembali.
Mentari muncul menghampiri, kali ini untuk membawa Kinara ke dalam ruangan.
“Pinjem sebentar boleh ‘kan?” candanya sambil menggamit lengan Kinara dan membisikkan sesuatu. Kupandangi langkah gemulai itu bergerak menjauh. Bahkan ayunan tangannya saja mampu membuat darahku berdesir. Sebuah rasa cinta yang entah dari mana asalnya tiba-tiba hadir sesaat setelah lafal itu terucap. Dan aku yakin, kadar itu akan bertambah seiring hidup yang akan kujalani dengannya.
Kehadiran Enggar membuyarkan lamunanku tentang Kinara. Ia datang untuk menyerahkan padaku telepon genggam yang sejak pagi terlupakan.
“Siapa tahu lu pengen update status,” candanya seraya mengambil posisi duduk di sampingku. Kutepuk bahunya mengisyaratkan terima kasih.
“Doi cakep banget ya kalo udah in-frame,” ucap Enggar dengan senyum jahilnya. Tak dihiraukannya sepasang mataku yang melotot ke arahnya.
“Kesempatan lu motret Kinara cuma buat hari ini, Bro,” ucapku. “Mulai besok doi milik gue pribadi.”
Enggar tertawa terbahak. “Congrats ya Bro, akhirnya dimulai juga penderitaan lu jadi mahluk Mars.” Ia bangkit dan beranjak meninggalkanku, tetapi kemudian kembali menoleh ke arahku di sela langkahnya.
“Gue lupa bilang, tadi malem Mal nelpon ke gue nyariin lu.”
Mal?
Kunyalakan perlahan telepon genggam sambil mengira apa hal sampai Malia menghubungi Enggar untuk mencariku. Satu per satu isi percakapan yang tertunda mulai masuk ke dalam daftar chat. Pesan dari beberapa grup fotografi yang kuuikuti namun disenyapkan adalah yang masuk paling awal. Diikuti oleh beberapa pesan jawaban diskusi dari klien. Percakapan dari Malia masuk paling akhir, namun sedikit tidak wajar. Ia menghapus lima baris pesan yang dikirimkan padaku. Kucoba langsung menghubunginya berulang, namun tidak diangkat. Ada sedikit resah hadir di hatiku.
Mal, ada apa denganmu? Tolong angkat teleponku.
-------
Minuman alkohol yang kuteguk membuatku sedikit mabuk dan bangun terlalu siang. Benda yang kucari pertama setelah tersadar adalah telepon genggam, untuk memastikan Bima telah menerima pesan yang kukirim malam tadi. Tanda centang dua membuat rasa sedihku mereda. Segera kupanggil nomor kontaknya saat itu juga, tetapi mengapa ia masih mematikan ponselnya. Panik menyerangku. Kukirimkan empat baris kalimat yang mengungkapkan perasaan cintaku padanya, berharap belum terlambat.
Namun perih luka itu tak dapat kubendung ketika melihat status WhatsApp Enggar yang menampilkan foto Bima saat menyematkan sebuah cincin yang sangat indah di jemari perempuan itu. Detik itu juga aku sadar bahwa semuanya sudah terlambat. Aku tak lagi memiliki kesempatan untuk mengaku padanya, bahwa diriku memiliki rasa yang sama seperti yang ia simpan bertahun untukku. Bima kini telah menjadi milik yang lain. Aku tidak berhak untuk membuatnya melepaskan perempuan itu hanya karena kebodohanku.
Kupandangi layar smartphone yang terus menyala menampilkan namanya di sana. Bima menghubungiku, dan aku tak punya kekuatan untuk mendengar suaranya. Dada ini terlalu sakit untuk menerima kenyataan bahwa ia memang ditakdirkan bukan untukku.