
Baru kali ini aku menumpang di penerbangan malam. Tak banyak yang bisa dilihat, hanya gelap yang tampak dari balik jendela. Bima mengajakku berbincang tentang apa saja selama 45 menit perjalanan dari Bandara Sultan Thaha menuju Soekarno Hatta. Hingga tak terasa kerlip lampu mulai terlihat di bawah sana, menandakan beberapa saat lagi pesawat akan segera mendarat.
Bima menggenggam tanganku saat lampu kabin dimatikan dan deru mesin mulai terdengar. Kupejamkan mata hingga roda pesawat menyentuh landasan, dan membuka mataku kembali saat merasakan kecepatannya melambat. Kutersadar bahwa kecemasan telah membuatku menggenggam tangannya terlalu kuat. Kucoba melonggarkan jemariku darinya, tapi ia tetap menahan.
“You hate flying.” Bima tengah memandangiku dibarengi senyuman, seolah mencari tahu ketakutanku. Aku menggangguk malu. Jujur memang bisa dihitung jari pengalamanku berpergian dengan pesawat. Ke Jakarta pun baru tiga kali termasuk ini.
“You’ll get used to,” ujarnya seraya mengusap punggung tanganku dengan jemari kirinya. Ia benar, aku memang harus terbiasa, mengingat akan sering menempuh perjalanan Jakarta – Jambi untuk ke depannya.
Roda pesawat mulai terasa berhenti, dibarengi suara pramugari yang mengucapkan salam dan terima kasih kepada para penumpang yang telah memilih penerbangan ini. Bima tetap duduk menunggu hingga penumpang lain lebih dulu turun, untuk kemudian mengambil sebuah ransel berisi kamera dan peralatannya dari laci kabin.
Mentari berjalan di depan sambil menggandeng mama. Terlihat wajah beliau sangat letih, namun dengan sorot mata bahagia. Aku melangkah di samping Bima, dengan jemariku tetap dalam genggamannya. Sisa goresan inai yang masih menempel, mengundang senyum bagi beberapa pasang mata yang menatap kami. Bahkan seorang ibu menghampiriku dan Bima sekedar untuk mengucapkan selamat.
Di luar sudah ada yang menjemput mama dan Mentari, sementara Bima memilih taksi untuk pulang ke apartemen. Kedua wanita itu memelukku erat saat akan berpisah.
“Jangan lupa weekend nanti ajak Kinara menginap di Bekasi.” Beliau mengingatkan Bima kembali.
Bima memilih duduk di depan saat taksi yang akan kami tumpangi datang. Supirnya seumur Bima, dan keduanya langsung berbincang ringan tentang kondisi kota Jakarta akhir-akhir ini. Aku menikmati sendiriku dengan menatap gedung-gedung tinggi berlampu yang demikian megah. Mulai esok, di sini lah aku akan tinggal, bersama dengan lelaki yang juga baru aku kenal. Jika dipikir ulang, betapa berani aku mengambil keputusan ini. Meninggalkan semua kenyamanan yang telah bertahun kunikmati di kota kelahiranku, untuk mengabdikan cinta padanya yang kini sedang menoleh ke belakang menatapku.
“Kin, tidurlah jika mengantuk. Di depan macet total.” Bima menunjuk pada aplikasi penunjuk jalan yang terlihat dari layar smartphone-nya.
Macet. Hal baru yang aku pun harus terbiasa dengannya. Kusandarkan kepala dan tetap menatap kemilau lampu yang masih menembus dari kaca taksi yang gelap. Perlahan kupejamkan mata untuk membalas kantuk yang sejak semalam tak kuhiraukan.
-------
Berkali kutoleh ke belakang memastikan bahwa Kinara tidur dengan nyaman. Ia menyandarkan kepalanya sedikit ke arah jendela dengan wajah agak tertunduk. Harusnya tadi aku memilih duduk bersamanya di jok belakang, agar saat ia mengantuk aku bisa menyediakan bahu dan pelukku untuk menampung tidurnya.
Masih satu jam lagi waktu tempuh untuk tiba di Kalibata, padahal jarak tersisa hanya tinggal sepuluh kilometer. Kemacetan yang rutin untuk kondisi hari Senin. Aku lupa membeli sesuatu untuk dimakan dalam perjalanan. Kuharap Kinara tidak terbangun karena lapar hingga kami tiba di apartemen.
Entah apa yang dimiliki wanita ini. Dia selalu kelihatan cantik. Aku sudah pernah melihatnya marah, dan kini untuk pertama kalinya aku melihatnya tertidur. Biasan cahaya lampu yang jatuh di sisi wajahnya memberikan nuansa tersendiri yang menimbulkan hasratku untuk memotretnya. Namun saat hasrat yang lain ikut berdesakan, cepat kualihkan pandangan menatap jalanan.
Kuharap Kinara akan menyukai tempat tinggalku. Telah kuubah beberapa posisi perabotan khusus untuk menyambut kedatangannya. Meja kerja yang tadinya berada di kamar, kugeser ke arah luar, menggantinya dengan sepasang cermin dan meja rias yang kubeli untuknya. Aku pun telah mengosongkan sebagian lemariku, memberikan tempat untuk Kin meletakkan pakaiannya. Alat-alat dapur yang kemungkinan dibutuhkan sudah kumintakan Mentari untuk membelinya dua minggu lalu. Juga sudah kukait sebuah gantungan pada kunci cadangan yang akan kuberikan padanya. Mulai malam ini ia akan jadi ‘teman sekamar’ ku.
Kinara tidur nyenyak sekali, dan sedikit tersentak saat kutepuk punggung tangannya untuk membangunkan. Mata indahnya menjadi agak sembab.
“Kita sudah sampai, Kin,” ujarku saat melihatnya sedikit bingung. Ia melihat ke sekeliling dan kemudian menyusulku turun.
“Kita beli makan dulu, setelah itu baru naik,” kuajak ia singgah ke salah satu ponjok penjual makanan. “Ruanganku di lantai sepuluh.”
Kinara lebih banyak diam, kemungkinan karena lelah akan jadwal kami yang begitu padat beberapa hari ini. Aku menjelaskan sedikit mengenai situasi di sekitar apartemen sambil menunggu pesanan selesai. Ia menanggapi dengan anggukan dan sesekali senyuman. Kupahami ia pasti bingung dengan situasi baru ini. Dengan keramaian yang berkali lipat dibandingkan tempat tinggalnya terdahulu.
Kukenalkan ia pada salah satu sekuriti yang berjaga di lobby menara, menjelaskan bahwa mulai saat ini Kinara akan tinggal bersamaku. Agar tidak timbul curiga bila nantinya bila mereka sering melihat Kinara di menara ini. Entahlah, mungkin aku yang dirasuk cemburu. Aku merasa semua lelaki yang bertemu dengan Kinara selalu memandangnya dengan penuh kagum. Diawali dengan si kecil Kevin di rumah kursus, lalu orang-orang yang berpapasan di bandara, kemudian petugas sekuriti ini.
Cepat kugandeng tangannya dan bergerak menuju lift. Kin, mulai malam ini kamu hanya milikku.
-------
Kuikuti langkah Bima saat pintu lift terbuka, ia menggandengku layaknya anak kecil yang dikuatirkan tersesat. Hanya ada aku dan Bima di dalam sini. Beberapa kali kami bertukar pandang lewat dinding yang berlapis kaca. Memberiku tatapan yang sungguh menghadirkan getar di hatiku.
Baru pertama kali aku masuk ke sebuah apartemen seperti ini. Lorongnya mirip deretan kamar di hotel, dan sangat sepi. Tak ada seorang pun yang tampak. Bima membuka pintu dan mempersilahkanku masuk. Sebuah ruangan berdinding putih segera terlihat. Tidak terlalu besar, namun cukup nyaman untuk ditempati keluarga kecil.
“Papa membeli unit ini saat aku masih kuliah di Perth,” ia menjelaskan tanpa kutanya. Pengakuan yang cukup jujur dari seorang lelaki. Sebenarnya untuk membuatku kagum, bisa saja ia mengatakan bahwa itu adalah hasil jerih payahnya. Harga sebuah apartemen di pusat kota Jakarta bukan sedikit.
“Aku sudah tinggal di sini selama tiga tahun,” lanjutnya.
Apartemen ini berisikan tiga buah kamar tidur, ruang tengah yang bersatu dengan ruang makan, sebuah dapur, dan balkon yang cukup luas. Seluruh perabotan tertata rapi. Rak-rak berdiri rapat di dinding, sesuai fungsinya. Ada sebuah meja bar kecil dengan sebuah mesin penggiling kopi di atasnya. Di sudut ke arah balkon, aku melihat beberapa bingkai foto tergantung, dan di bawahnya terletak rak kecil tempat koleksi beberapa buku miliknya.
Aku melangkah berkeliling melihat setiap sudut ruangan. Televisi yang terletak di ruang tengah membuatku kagum sekaligus bingung. Begitu lebar, tipis dan melengkung. Untuk apa televisi sebesar ini jika hanya untuk ditonton satu orang saja. Perhatianku berpindah pada bentuk meja kerjanya yang cukup unik. Sebuah meja yang terbuat dari batang kayu utuh tanpa dibentuk. Di atas nya terdapat sebuah laptop tipis berwarna putih dan sebuah head phone dengan model minimalis.
Aku berpindah ke arah dapur. Cukup bersih untuk kategori seorang lelaki lajang. Peralatannya juga lengkap. Ada sebuah mesin cuci satu tabung yang terletak di samping kamar mandi.
“Kamu mencuci sendiri?” tanyaku pada Bima yang sedari tadi mengikuti langkahku.
“Ada seorang ibu paruh baya yang membersihkan semua ruangan ini seminggu sekali. Juga termasuk mencuci.”
Pernyataan itu menjelaskan mengapa semua barang tersusun rapi di sini. Bima memandangku seolah ingin tahu apakah aku menyukai tempat tinggal yang baru ini. Aku membalasnya dengan tersenyum menandakan aku suka.
“Ini kamar kita.” Bima meraih tanganku dan mengajakku menuju sebuah ruangan di sudut kiri.
Aku merasa seperti masuk ke sebuah kamar di hotel berbintang. Tempat tidurnya sangat bagus dengan seprai yang terpasang rapi beserta selimut yang dilipat ke dalam. Terdapat lampu tidur dengan kap yang unik di atas dua buah meja kecil di sini kanan dan kiri. Ada sebuah kamar mandi yang cukup luas di dalam kamar yang dilengkapi bath-tub berbentuk petak. Dinding kamar berlapis wallpaper berwarna gading, dengan motif garis yang ringan. Dan juga sebuah meja rias berwarna senada dengan tempat tidurnya. Masih kosong tanpa ada barang apapun di atasnya.
“Tempat tidur dan meja riasnya aku beli baru. Khusus buat kamu,” ujar Bima saat aku menoleh penuh kagum akan kamar tidur ini.
“Kamu bisa letakin baju dan perlengkapan lain di sini. “ Bima menunjukkan padaku lemari tiga pintu yang ternyata telah kosong separuhnya. “Tak apa kan kita berbagi lemari dan berbagi tempat tidur,” ia menggodaku seakan kami adalah teman sekamar.
“Semua yang ada di tempat ini sekarang adalah milik kamu juga, Kin,” ucapnya pelan. “Kamu boleh mengubah apapun tanpa persetujuanku. Aku serahkan pengaturannya semua padamu.”
Betapa lembut dan baik hati laki-laki ini, beruntung sekali aku mengenalnya kembali. Ia memperlakukanku dengan sangat sopan. Perlahan sirna beberapa kekhawatiran yang sempat datang sebelum kepindahanku ke sini. Ini adalah rumahku sekarang, yang mulai hari ini akan kutempati bersama dengan Bima.
“Kita makan dulu yuk. I am so starving,” ia mengajakku keluar kamar.
Bima memilih duduk di balkon saat menikmati makan malam kami, dua kotak chicken katsu yang dipesannya tadi di lantai dasar. Ia mulai menjelaskan padaku tata cara naik dan turun dari ruangan, cara memesan air minum, membuang sampah, sampai melaporkan pada pengelola gedung jika terjadi sesuatu saat ia tidak ada.
Aku hanya mengamatinya berbicara tanpa mendengar jelas apa isi ucapannya. Perhatianku lebih kepada raut wajah dan ekspresinya. Sejak berangkat dari Jambi sore tadi, baru kali ini aku memiliki kesempatan untuk memperhatikannya secara leluasa dari dekat. Ia sangat tampan. Perasaan ini menghadirkan rasa malu dan membuatku bersemu.
Malam ini aku akan tidur di sampingnya. Hanya ada aku dan dia. Bima, yang bahkan hanya dengan genggamannya bisa membuatku berdebar-debar. Sungguh aku menyukai semua tentangnya meski ada rasa takut akan hal yang akan pertama kali aku lakukan. Siapkah aku untuk menyambutnya?
-------
Aku masih duduk di sini. Di depan laptop yang terbuka dengan software editing tertampil di layarnya. Kelihatan sedang bekerja, padahal sebenarnya tidak. Pikiranku melayang pada Kinara yang saat ini sedang menungguku di kamar. Sebelumnya ia menghampiriku setelah selesai mandi dan berganti pakaian. Menyediakan segelas air putih, dan meletakkan di mejaku. Dan saat itu aku menatapnya dengan separuh jantungku hampir berhenti berdetak.
Untuk pertama kalinya aku melihatnya tanpa hijab dan gamis panjang. Rambutnya tergerai indah melewati pundak. Kulit wajahnya yang bersih ternyata juga tercermin di bagian lengan, bahkan membuatku berdesir hanya dengan melihat jemari kakinya yang tak tertutup. Ia harum dengan aroma yang mampu menghilangkan akal sehatku.
Darah lelakiku sulit diajak berkompromi, namun hati ini memberi peringatan. Menyadari kami baru bertemu kurang lebih satu bulan, aku khawatir Kinara belum siap untuk sebuah hubungan yang demikian intim. Aku harus menanyakannya terlebih dahulu. Sebuah ketergesaan mungkin saja akan menghancurkan hubungan kami yang seharusnya indah. Aku tak keberatan menunggu jika itu bisa menambah gairahnya untukku.
“Tired, Kin?” tanyaku hati-hati dan dibalas anggukannya. Aku juga merasakan sangat lelah hari ini.
“Aku ingin bicara sesuatu padamu,” lanjutku. Kali ini ia membawa kedua matanya memperhatikanku dengan seksama.
“Kita baru berkenalan kembali satu bulan lalu. Dan sekarang aku telah menjadi suami untukmu.” Kutatap matanya saat mengatakan itu.
"For me, marriage is not just a relationship. It’s something more.”
Kutarik nafas sebentar, baru kemudian melanjutkan. “It’s not always about sex.”
Kinara menunduk saat kukatakan demikian. Aku meyakini ia memikirkan hal yang sama sepertiku sejak kami tiba di apartemen.
“Kin, aku ingin kita melakukannya karena memang menginginkannya. Bukan karena kewajiban atau alasan lain.”
Kali ini ia kembali menatapku, dengan semburat merah yang terbias di pipinya.
“Aku, amat menginginkanmu,” bisikku. “Tapi aku bersedia menunggu sampai kamu siap.”
Suasana semakin menebal di antara aku dan Kinara, dan ia juga belum mengucapkan sepatah kata pun. Aku memahami apa yang dirasakannya. Tidak akan mudah memutuskan hal seperti ini.
“You only have to say yes or no.” Kubelai jemarinya yang masih berada dalam genggamanku.
“Bim, aku …,”
“Don’t say terserah,” segaja kupotong ucapannya dengan tertawa kecil. “I will accept terserah as a yes.”
Kinara ikut tertawa malu. Menunduk sebentar kemudian memandangku.
“Aku ingin kita menunggu,” ucapnya. “Agar kita saling mengenal lebih dulu.”
Kuanggukkan kepala menanggapi perkataan Kinara. Meskipun saat ini ia begitu menarik perhatian, aku harus bisa menunggu hingga wanita cantik ini siap menyambutku.
“Baiknya kita tidur sekarang,” kulirik jam dinding yang menunjukkan angka sebelas. “Besok pagi aku antar kamu berkeliling apartemen, untuk mengenal lokasi tempat-tempat yang penting.”
Kutinggalkan kamar sebentar untuk mematikan laptop dan memeriksa kunci pintu. Kutuang dua gelas air putih untukku dan Kinara. Ia telah bergelung dalam selimut saat aku kembali ke kamar. Kutekan tombol lampu dan menggantinya dengan lampu tidur di sisi ranjang. Bias temaram jatuh begitu indah di wajahnya. Kucari jemarinya dan meraih dalam genggaman. Ia membuka mata, aku tahu ia belum terlelap. Ia memandangku, menutup matanya, kemudian membukanya lagi.
“Mimpi yang indah,” bisikku lembut.
Aku tahu pasti ia akan sulit tidur malam ini. Senyaman apa pun sebuah kamar, suasana baru akan membuat semuanya terasa berbeda. Apalagi tidur di samping seseorang yang terbilang masih asing.
Aku baru akan memejam saat ia memanggil pelan.
“Bim,”
“Ya?”
“Thank you,” ucapnya. “For being so kind to me.”
Aku sangat tersentuh oleh ungkapan hatinya yang begitu jujur. Menandakan ia telah menghela beberapa rasa kuatir untuk bersandar padaku.
“You’re my wife,” sahutku. “Tanggung jawabku adalah membuatmu bahagia.”
Kinara tersenyum indah sekali. “I am so happy,” ucapnya hampir tak terdengar.
Kupandangi wajahnya hingga terdengar suara napasnya yang halus berhembus teratur. Setiap menatapnya selalu terbersit rasa tidak percaya, bagaimana bisa seorang bidadari hadir di hidupku dengan keindahan yang begitu rupa. Dan dia milikku seutuhnya, seumur hidup.
You are so lucky, Bim. All you have to do is just to wait for her. Until she is ready for you.
Dan aku paling tahu bagaimana cara agar membuat Kinara siap untukku. Prepare your self, Kin. Because I can’t wait too long.
---------- Bersambung ---------