The Surrender Of Love

The Surrender Of Love
Episode 19 - I Will Wait For You



Ia tampak begitu bersemangat pagi ini. Mungkin karena malam tadi kami tidur lebih cepat, setelah ia redakan gelisahku dan kudapati diriku terlelap dalam peluknya hingga waktu subuh. Sisa tangisan itu masih meninggalkan sembab di mata, membuatku sedikit tidak percaya diri setiap kali beradu tatap dengannya.


"Kita akan kemana?"


Sekali lagi aku bertanya di sela aktivitasnya mempersiapkan beragam peralatan kamera. Semalam aku sudah menanyakannya, saat menjelang tidur ia membisikkan rencana ini. Namun hanya dijawab dengan senyuman. Ia cuma memintaku bersiap lebih pagi agar tidak terjebak arus kemacetan. Membuatku sungguh penasaran apa yang sedang ia sembunyikan dariku.


"Aku ingin menunaikan janji padamu," tuturnya saat menggandeng tanganku menuju lift. Entah janji apa, aku juga tidak tahu. Seingatku Bima tidak pernah menjanjikan apapun sebelum kami menikah. Karena ia tetap diam, aku juga tidak bertanya lagi hingga sampai ke basement.


Beberapa barang berukuran besar tersusun di jok belakang mobilnya. Masih terbungkus rapi, sepertinya baru diambil dari jasa pengiriman. Ia kembali tersenyum saat kutanyakan benda apa saja itu.


"Properti untuk photoshoot," jawabnya singkat. Aku hanya membalasnya dengan anggukan.


Bima membantuku naik, kemudian mulai menghidupkan mesin mobil. Membiarkannya sejenak sambil meletakkan ranselnya di kursi tengah. Aku memperhatikan setiap gerak-gerik tubuhnya. Selalu jatuh cinta pada gayanya saat memasang bluetooth airphone di telinga, agar tak mengganggu konsentrasinya saat menyetir. Juga saat jemarinya menekan beberapa tombol, mencari saluran radio yang ia sukai. Ia mampu membuatku terpukau dengan caranya yang sederhana. Dan sudah yang kesekian kali, aku selalu tertangkap basah saat menikmati pesonanya.


"Seat belt on, Kin." Tangan kanannya meraih tali yang sejatinya ada di sisi kiri tempat dudukku. Membuatku menegakkan punggung ke arah sandaran. Aku menahan nafas sampai terdengar bunyi 'klik' tanda benda itu telah terpasang


"Mobil ini bisa lebih 'cerewet' ketimbang wanita manapun jika penumpangnya lupa memakai sabuk pengaman," candanya seraya melirikku.


Bisa kurasakan sedikit sentuhan wajahnya di hijabku saat ia melakukan itu. Mungkin disengaja, karena sebenarnya aku sendiri pun bisa mengerjakan tanpa bantuannya. Tak terhindari harum parfum maskulin bereaksi layaknya obat bius pada indra penciumanku. Memejamkan mata adalah cara terbaik agar ia tak sempat menyadari betapa aku tergoda dengan aroma tubuhnya.


Bima mengetik sesuatu pada ponselnya, kemudian merekatkan benda itu pada phone holder yang terpasang di dashboard mobil. Sebuah aplikasi penunjuk jalan terpampang di layarnya. Mataku mencuri tatap pada deretan kata di kolom 'tujuan'. Hatiku serasa ingin bersorak saat membacanya. Aku langsung teringat akan pembicaraan kami di atas pesawat dalam rute menuju Jakarta. Bima saat itu berjanji akan membawaku. Dan sungguh, ia tidak lupa.


Ada senandung di hatiku saat lengan kukuh itu mengarahkan stir mobilnya menuju jalan raya. Aku menyembunyikan senyum sambil memandang keluar jendela. Ya, kali ini aku akan ke sana.


"Happy, Dear?" ia menegaskan isi hatiku saat melihat binar di mataku.


Yes, Bima. I'm so happy. So happy to be your wife.


-------


Kinara turun lebih dulu saat tiba di tujuan. Ia begitu antusias melihat ke sekeliling dengan senyuman yang tak lepas dari paras indahnya. Aku memang pernah berjanji padanya. Di sela ketakutannya di saat terbang ke Jakarta, aku mengajaknya berbincang tentang beberapa lokasi yang belum pernah ia kunjungi. Tak kusangka tempat ini termasuk dalam daftar keinginan wanita cantikku itu. Ya, sederhana saja. Bukan tempat mewah dan mahal seperti impian perempuan lain. Ia hanya ingin dibawa ke Pelabuhan Sunda Kelapa, tempat berlabuhnya beragam kapal Phinisi yang terkenal pada jamannya.


"This is so beautiful, Bim ...," ia sejenak menghampiri dan bergayut padaku. Bila tidak sedang di ruang publik, mungkin sudah kucuri sebuah kecupan di pipinya yang merona.


"Don't go anywhere without me," kuucapkan agak keras saat ia kembali berjalan menjauh.


Angin bertiup sedikit kencang, membuat ujung hijab dan gamisnya berkibar. Kinara mengeluarkan ponselnya dan terlihat akan memotret. Kuperhatikan ia sesaat. Berharap luka hati dan cemburunya semalam bisa terobati hari ini. Jelas aku merasa sangat bersalah saat melihatnya menangis. Rasa bersalah yang perlahan berganti gairah saat terlontar pengakuan cinta yang sangat tulus dari bibirnya. Kurasakan semakin hari rasa itu kian tak tertahan dan berharap ia segera membuka hatinya untukku masuk dan menjelajah.


Satu per satu kuturunkan barang yang dibawa. Merobek kertas bungkusnya yang cukup tebal ternyata juga memakan waktu. Ini adalah janjiku yang lain padanya, itupun jika ia masih ingat. Untunglah Kinara masih asyik dengan warna-warni yang terlukis apik dari deretan kapal-kapal Phinisi itu, sehingga ia tak memperhatikanku sama sekali. Aku sudah bertanya banyak hal pada Alexander sebelum membeli semua ini, dan berharap Kinara akan sangat senang menerimanya.


Dari kejauhan terlihat ia berlari kecil menuju ke arahku. Namun sesaat langkah itu berubah pelan, dan saat jaraknya begitu dekat, matanya berkali memandangku dan rangkaian benda itu bergantian.


"Bim ...," suaranya terdengar sangat antusias dengan sedikit rasa tak percaya.


"I promised you, remember?"


"But, this is too much ...."


Naluri wanitanya pasti yang sedang memprotes, namun kuyakin naluri seninya akan berkata sebaliknya. Kuraih tangannya dan mengarahkannya untuk duduk.


"Never too much if it's for you."


"Tapi ini semua bukan barang murah, Bim." Kinara menyentuh plat besi kecil yang mencetak sebuah merek, melekat kuat di bahan kayu itu.


"Memang bukan. Mengapa harus beli yang murah?" kutanya balik sembari ikut duduk di sampingnya.


Kinara menaikkan alisnya dan terlihat kehabisan kata menghadapi kalimatku. Hei, Wanitaku. Terima saja lah, bukankah aku bekerja keras juga untukmu?


"Tapi, Bim ...." Kinara masih berusaha mengutarakan kesungkanannya atas pemberianku itu.


"No more arguing, Dear. Or I'll kiss you." Kurapatkan tubuhku padanya. "Right here, right now."


Semburat merah muda langsung terbit di wajahnya. Seketika ia diam dan menunduk. Aku terpaksa harus menyembunyikan tawa. Jika semudah ini membuatnya merona, boleh juga aku sering-sering mengancamnya begini. Kinara mengangkat wajahnya saat kuraih jemarinya.


"Just thank me, okay."


Senyum malu yang merekah perlahan sudah mewakili isi hatinya saat ini. Ia menyambut erat genggamanku, seraya berbisik lembut.


"Thank you ...."


---------


Kupandangi satu set canvas dan easel yang telah terangkai di depanku. Benda yang ia katakan properti untuk photoshoot tadi, ternyata telah menjelma menjadi sebuah playground untuk jiwa lukisku yang sudah sangat lama tidak tersentuh. Aku sampai menahan napas saat melihat brand yang dipilihnya. Ini berlebihan menurutku, karena aku hanyalah pelukis amatir yang sudah hampir enam tahun tidak lagi menyentuh kuas dan cat apapun.


"Bagaimana kamu bisa memahami sedetail ini?" kutanyakan padanya sambil melihat satu per satu aneka kuas, cat minyak, dan pisau palet yang dibelinya.


"Alexander told me," ujarnya. "Salah satu sahabatku dulu di semester awal yang memutuskan pindah ke jurusan lukis."


"Pindah dari Photography?" tanyaku ingin tahu. " Why?"


"Lebih menantang menurutnya. Imajinasinya bisa lebih liar." Bima tertawa saat membicarakan sahabatnya itu.


"Kamu sendiri kapan mulai cinta melukis?"


"Sejak SD aku sudah mulai suka corat-coret. Kebanyakan mirip sketsa. " Aku ingat jelas dulu teman-teman sekelas sering sekali minta digambarkan tokoh-tokoh kartun olehku.


"Kemudian ayah mulai melarangku melukis wajah, dan ibu mulai mengalihkan pada objek bunga dan pemandangan alam. "


Bima memutar duduknya menghadapku, menunjukkan pembicaraan ini mungkin menarik perhatiannya.


"Beberapa kali aku juga ikut lomba desain batik. Pernah juga satu kali ikut kelas melukis gratis sewaktu SMA." Dan dari kursus itulah aku tahu bahwa segala peralatan yang dibelikan Bima adalah termasuk salah satu yang termahal di kelasnya.


Lelaki tampan ini sesekali mengangguk saat mendengarku bercerita. Entah ia mendengarkan isi ceritaku atau lebih memperhatikan bibir dan parasku, yang pasti seberkas senyum usil di wajahnya membuat pikiranku menduga hal-hal yang tidak semestinya.


"Nothing," balasnya sambil menatapku lekat, menegakkan posisi duduknya menghadap ke kanvas.


"Ingat dulu saat kita berbincang di tepi Sungai Batanghari, aku pernah bilang kalau foto dan lukisan sejatinya bermain dengan dasar yang sama." Bima kali ini berbicara dengan nada serius.


"Ya," sambutku. "Tentang pencahayaan."


Asal kamu tahu Bim, aku bahkan mengingat setiap detil isi percakapan kita di hari itu.


"Dalam fotografi ada tiga jenis arah cahaya dasar," lanjutnya. "Front Light, Back Light, and Side Light. Masing-masing arah cahaya mempunyai fungsi tertentu."


Aku mendengarkan Bima dengan seksama. Yang sedang bicara di sampingku sekarang adalah Bima dalam jelmaan berbeda dari yang pernah aku kenal. Bukan Bima yang romantis, ataupun usil, namun Bima yang super serius seperti seorang dosen saat mengajar.


"Alex said, aturan terpenting saat melukis adalah memastikan bahwa hanya cahaya satu-satunya hal yang dapat kita lihat, bukan objek, bukan warna, dan bukan pula bentuk."


"Artinya di saat mulai melukis, kita sudah harus memikirkan arah cahaya yang akan dipantulkan oleh objeknya?"


Aku mengernyit saat melihat Bima mengangguk. Berarti caraku selama ini ternyata salah. Aku hanya mengamati benda, menirunya, dan menambahkan cahaya di akhir lukisan.


"Front Light akan membuat objek terlihat terang tanpa bayangan,kebalikannya Back Light akan membuat objek terlihat gelap dengan bentuk yang tegas."


Aku tetap mendengarkan tanpa menyela. Meskipun kadang sulit untuk memisahkan perhatianku antara isi pembicaraannya dengan ekspresi wajah seriusnya yang entah mengapa terlihat sungguh menggoda.


"Side Light atau pencahayaan dari samping adalah arah yang terbaik, dan paling ampuh untuk memberi efek dimensi. Contohnya seperti sekarang, arah cahaya matahari pada pukul delapan pagi jatuh pada sudut kurang dari empat puluh lima derajat."


Bima mengeluarkan kamera dari ranselnya, menjepret sebentar ke arah deretan kapal Phinisi tanpa bangkit dari duduknya. Lalu dengan antusias ia memperlihatkan foto itu padaku sambil menjelaskan beberapa aturan garis yang harus aku perhatikan saat akan melukis. Jemarinya begitu handal menggenggam benda hitam itu sekaligus memindahkan tombol dari berbagai menu digital. Sembari ia terus berbicara, ingatanku kembali saat malam tadi genggaman yang sama begitu lembut menangkup wajahku dan membelai penuh sayang diantara basahnya air mata.


"Are you still with me?" celetuknya membuyarkan khayalku.


"Ya." Aku menjawab sambil mengangguk cepat. Kuatir ia lebih dulu mendapati aku justru sedang melamunkan dirinya.


"Am I too fast?"


"No. I got the point." Kusuguhkan sebuah senyuman agar ia tidak curiga.


"Allright. Take your time, Kin." Bima bangkit seraya menyandang kamera dan mengantongi sebuah lensa dalam saku jaketnya. "Aku akan kembali setelah selesai memotret."


Tak kuasa kulepaskan pandang darinya. Lelakiku, yang kian hari semakin membuat rasa ingin tahuku tentangnya membuncah. Is this too fast? Yes it is, dan terkadang tak masuk akal bagaimana rasa cinta ini tumbuh begitu cepat di hatiku untuknya. Namun tetap hal itu masih mengganjal, benarkah juga cintanya hanya untukku? Benarkah sudah tidak membekas rasa yang dulu?


Bim, are you completely with me?


-------


Aku tahu ia letih, setelah seharian berada di luar dan baru kembali ke apartemen setelah maghrib. Namun raut di gembira di wajahnya mengalahkan rasa letih itu. Aku mengetahui itu dari obrolannya yang masih tetap mengenai lukisan bahkan hingga kami berbaring berdua seperti ini.


"Aku akan mengajakmu ke tempat-tempat yang lebih menarik setelah acara resepsi kita." Janjiku padanya. "Dan kamu bisa bebas melukis tanpa harus bosan menungguku saat memotret."


"Bolehkah aku melukis mencontoh dari foto-foto yang kamu jepret, Bim?"


"Boleh saja," ucapku. "Tapi feel-nya akan berbeda,karena kamu tidak hadir di sana dan merasakan langsung atmosfernya."


Kutarik perlahan tubuhnya agar berpindah dari bantal dan berbaring pada lenganku. Harum helai rambutnya seketika menyeruak menggoda penciumanku.


"Lihat ini," Kutunjukkan padanya beberapa foto hasil jepretanku hari ini yang telah dipindah ke dalam ponsel.


"Sebelum berkunjung ke Pelabuhan Sunda Kelapa, pasti kamu hanya menilai ini foto yang indah," aku menjelaskan. "Namun hari ini, kamu akan bisa bercerita banyak hal saat melihat foto yang sama. Tentang hangatnya sinar matahari, aroma air laut, suara kapal, bahkan hembusan angin yang bertiup saat itu."


Kinara yang masih mendengarkan ceritaku perlahan mulai melingkarkan lengannya di dadaku. Tindakan itu membuat akal sehatku terganggu dan tiba-tiba kehilangan rangkaian kata untuk diucapkan. Ia malah menengadahkan wajahnya saat aku berhenti bicara. Mata indah dan bibirnya yang memerah serasa memanggil naluri lelakiku.


"Aku dapat foto yang sangat indah hari ini," ujarku agar ia membawa kembali matanya pada layar ponsel. Kutunjukkan padanya sebuah foto yang memuat dirinya sedang duduk dengan sangat anggun saat melukis. Jemari kirinya menggenggam palet, sementara yang kanan sedang menggoreskan kuas di atas kanvas. Aku harus berkali-kali menentukan komposisi dan arah garisnya agar terlihat serasi dengan aneka warna kapal Phinisi sebagai latar belakangnya.


"Tak perlu peralatan lukis yang demikian mahal jika memang untuk properti foto, Bim." Kinara menyindirku dengan sedikit canda saat melihat foto itu. Memaksaku tertawa saat mendengarnya.


"Tak apa. Agar sebanding dengan tarif modelnya," balasku dan ditanggapi dengan senyuman manis darinya.


"Nice shot, I really like it." Kinara mengarahkan jemarinya menekan menu 'share' dan mengirimkan foto itu ke ponsel pribadinya.


"Thank you for being my private model, Kin," kubisikkan lembut di telinganya. "I'm not gonna let any other guy take the pictures of you."


Ucapan itu membuatnya memandangku lama. Aku seketika memutar otak agar bisa mencuri kecupan darinya kali ini tanpa terlihat menggebu. Entah mengapa rasa letih di tubuh ini malah membuat rasaku padanya kian meradang.


Aku masih berpikir ulang saat menyadari Kinara telah meletakkan jemarinya di pipiku dan membubuhkan sebuah kecupan di sana.


"Terima kasih, Bim. Aku senang sekali hari ini."


Hatiku terasa hangat. Kecupan itu, benarkah itu pertanda ia telah membuka hatinya untukku? Aku tetap diam menunggu, sampai tiba kecupan kedua yang melekat begitu dekat dengan sudut bibirku. Kali ini aku tak bisa menolak rayuan indah darinya. Ia yang memulai, dan aku tidak memaksa.


Kusambut kecupan itu. Pelan di awal, dan semakin memanas hingga tak bisa kutahan jemariku untuk menjelajah. Aku hampir kehilangan penguasaan diri saat jemarinya mendorong pelan tubuhku untuk menjauh. Aku tersadar dan melepas tautan itu. Kinara belum siap, meskipun tubuhnya juga mengatakan ia sangat menginginkanku. Matanya memandangku memohon agar bersedia berdamai dengan gairahku malam ini.


"Don't worry Kin, I'll wait."


Kupeluk erat tubuhnya yang masih mengendalikan nafasnya sepertiku. Kepalanya ia benamkan dalam dadaku. Biarlah ia mendengar detak jantungku yang berdebar begitu keras, agar ia tahu betapa besar rasa yang kusimpan untuknya.


"Berbaringlah ke kanan," aku membantu tubuhnya berbalik. "Malam ini aku ingin tidur memelukmu dari belakang," kilahku. Jika Kinara terus mendekapku seperti ini, hangat nafasnya tidak menjamin aku mampu menahan gairah ini lebih lama lagi.


Kinara menurut, dan meletakkan kepalanya di atas lengan yang kusediakan untuknya. Perlahan nafasnya mulai berhembus teratur dan genggamannya pada lengan kiriku yang memeluknya kian merenggang. Aku pun mencoba memejamkan mata agar tertidur, meskipun mungkin tak semudah dirinya untuk terlelap.


Kin, tonight will be a very long night for me. But I have promised you. I will wait untill you ask me.


To make love to you.