
Sudah jelas aku salah pilih waktu untuk berkeliaran sore ini. Kemacetan memenuhi hampir seluruh ruas jalan. Suara klakson seperti berlomba berdengung keras, membuatku gamang dan berkali-kali berpikir untuk kembali saja. Aku tidak menyukai suasana ini, namun tak memungkiri juga merindukannya. Masa-masa di saat ia dengan sabar mengantarku ke mana pun, tanpa mengeluh meski kadang harus pulang sampai jauh malam.
Siang tadi aku seakan merindukan seduhan Kopi Toraja di sebuah coffee shop tempat ia biasa mengajakku. Entah kopinya atau kenangannya yang membuat semuanya membuncah. Biarlah, terkadang hati ini butuh perasaan melankolis agar tidak melupakan kodrat wanitanya. Aku sudah terlalu lama membiarkannya terlampau tegar.
Beruntung petugas parkir langsung menyediakan tempat untukku sehingga tak perlu lama berkeliling. Padahal pusat perbelanjaan ini selalu terkenal ramai dan tumpah ruah. Sejenak aku ragu untuk turun, meskipun aku lahir dan besar di kota ini, namun baru sekarang kusambangi hanya seorang diri. Dengan sangat perih kusadari betapa aku sangat bergantung dengannya selama ini. Dia yang dengan sadar kusia-siakan dan sekarang telah menjadi milik yang lain.
"Mal ...,"
Seseorang menyebut namaku dan segera menyadarkan khayalanku yang mengembara. Sontak aku berbalik dan mencari arah datangnya. Pijakanku terasa melemah saat mataku beradu pandang dengan pemilik suara itu. Ia berdiri di sana, terlihat sama seperti terakhir aku bertemu dengannya. Tidak tersenyum, hanya menatapku lama dan tidak berkata-kata.
"Bim ...," aku hanya mampu membalas dengan memanggil namanya, dan beringsut menjauh saat ia melangkah mendekat.
"Where have you been?"
Masih sama, selalu mendesak dan tanpa berbasa-basi. Ia pasti mempertanyakan sekian pesan dan panggilannya yang tak kunjung kujawab. Kucari cara agar tak harus menantang tatapannya yang mengejar. Aku seketika kehilangan percaya diri. Hei, Malia tidak pernah seperti ini.
"Kenapa tidak pernah membalas pesanku, Mal?"
"Well, aku ...,"
"Enggar and I are so worry about you."
Aku hanya mampu menunduk dan berucap maaf. Lelaki yang begitu aku rindukan saat ini bahkan sedang berdiri di hadapan. Aku sudah berusaha keras untuk menghindar darinya, namun mengapa harus bertemu di sini.
Perhatianku beralih saat mendengar suara pintu mobil terbuka. Seorang perempuan turun dan melangkah menghampiri. Dia begitu menawan, bahkan jauh lebih cantik dari fotonya yang pernah aku lihat di status whatsapp Enggar. Tubuhnya terbalut anggun dengan gaun panjang berwarna lembut dan kerudung senada, membuatku merasa sungkan dengan rok di atas lutut dan kemeja tanpa lengan yang kukenakan.
"This is Malia, yang pernah aku ceritakan dulu."
Bima memperkenalkanku padanya. Perempuan itu tersenyum sopan dan mengulurkan tangannya.
"Saya Kinara."
Hei, Kinara. Harusnya aku yang berdiri di sampingnya, bukan dirimu. Hanya aku terlalu bodoh saat itu untuk menyadari rasa yang kumiliki untuknya.
"Sept 14, Mal. I want you to be there." Bima kembali menatapku dengan sorot mata penuh harap.
"For?"
Sengaja aku berpura tidak tahu, berharap tersedia celah untuk menghindar. Namun tidak pernah semudah itu bila dengan Bima.
"My Wedding Party. I want you to take the pictures of her."
Bima memandang perempuan itu begitu mesranya dengan cara menatap yang tak pernah aku lihat sebelumya. Tidak pula seperti ia padaku. Membuatku merasa kecil dan ingin bumi menelanku saat itu juga.
"Enggar?"
"Jangan Enggar. You know him," ia tertawa, dengan suara khas yang bermalam-malam hadir di mimpiku. Aku ikut tersenyum, pahit. Terlebih saat kulihat Bima menyelipkan jemarinya menggenggam tangan perempuan itu, dan mereka beradu tatap sejenak. Oh, Mal. Dosa apa yang kau perbuat sehingga harus menghadapi situasi ini?
"I am sorry, Bim. Mungkin aku sedang berada di Bali pada tanggal itu." Kembali kucari alasan agar tak perlu hadir di sana dan membuat luka hatiku kembali meruyak.
"Please, Mal. Kinara akan lebih nyaman dengan female photographer," bujuk Bima dan disambut anggukan sang perempuan cantik. Aku membuang pandang kemana saja asal tidak ke arah mereka. Saat menunduk, mataku justru berantuk pada kilauan sebuah cincin yang melingkar di jari manis Bima. Ketika itu juga menyadarkanku agar mencari jalan sejauh mungkin meninggalkannya. Dia telah dimiliki, dan tak mungkin kupunyai.
"I can't promise you. We'll see," kukatakan itu dengan sebuah senyum yang dipaksakan, paling tidak untuk menyembunyikan suasana hatiku yang porak-poranda demi melihat kemesraan diantara mereka. Kupandangi keduanya hingga masuk kembali ke dalam mobil. Bima menurunkan kaca dan memandangiku lama. Sekuat hati kutahan agar tak terbaca seberkas rindu yang kusimpan untuknya dari sorot mata.
"Remember, Mal. Sept 14," sempat diucapkannya sebelum range rover putih itu membawanya pergi dari hadapanku.
Aku diam terpaku. Hilang sudah hasrat untuk sekedar mencium seduhan aroma kopi, berganti rasa pedih yang menghujam dan membuatku hilang arah. Mungkin seteguk alkohol bisa membuatku lupa akan sakit ini. Kucari sebuah nama di kontak telepon, langsung menekan tombol hijau dan berharap segera diangkat oleh pemilik nomor itu.
"Hei, Mal!" suara itu menyapa ramah.
"Lu di mana?" tanyaku cepat
"Biasa," jawabnya. "Lu udah di Indo?"
"Gue ke sana sekarang,"
"Buruan, gue punya someone yang mau gue kenalin. Mumpung dia lagi di sini."
Segera kupacu mobil meninggalkan area parkir. Biarlah, aku hanya ingin hilang ingatan untuk saat ini. Sehingga semua cinta dan rindu yang kurasakan untuknya terlupa walau hanya sekejap.
-------
Suasana terasa hening. Tak banyak kata terucap dari bibirnya sejak kami tiba kembali di apartemen. Hanya seutas senyum untuk menanggapi obrolanku, tidak lebih. Ia berusaha menyibukkan diri dengan membaca di dalam kamar setelah selesai makan malam. Meninggalkanku sendiri di ruang tengah dalam kebingungan akan sikapnya.
Begitu juga tadi ketika dalam perjalanan pulang, lebih banyak menatap keluar jendela, dan sesekali tersenyum saat mendengarku bicara. Pasti ada salahku pada hatinya. Apakah karena Malia?
Matanya yang sedang tekun membaca segera beralih padaku saat mendengar suara pintu kamar terbuka. Ia menutup lembar buku itu dan tersenyum.
"Sudah mau tidur?" sapanya lembut.
Ia sudah memakai gaun tidur yang tidak begitu panjang, memperlihatkan kaki indahnya yang terjulur lurus. Kusisihkan buku di genggamannya dan meletakkan kepalaku di pangkuannya. Lama ia memandang, baru kemudian jemarinya menyugar lembut rambutku.
"Suka potongan rambutku begini?" tanyaku saat sentuhan jemarinya semakin memacu desir di pembuluh darah. Ia cuma menggangguk sambil tersenyum. Padahal aku sengaja menanyakannya untuk memancingnya bicara.
"Kalau ini?" Kupindahkan tangannya untuk menyentuh rahang dan pipiku yang sudah beberapa hari tak tersentuh pisau cukur. Pasti sedikit geli, namun kutahan ketika ia hendak menarik jemarinya.
"Kin suka," ujarnya malu-malu.
"Tak usah dicukur?" kupastikan agar tidak salah mengartikan seleranya. Ia kembali menggangguk.
"Kata ayah adalah sunnah jika lelaki memelihara janggut."
Ucapannya membuatku tertawa diikuti pandangan heran dari mata indahnya.
"Aku sudah coba, Kin. Tapi wajahku terlihat aneh," kuberikan alasan.
Sepulang dari Perth dan mulai aktif mengikuti group kajian di masjid apartemen, aku sempat membiarkan janggut menghiasi dagu dan pipiku. Berminggu kemudian kuputuskan untuk mencukur rapi demi mendengar ejekan Enggar dan anak-anak di studio yang menilai wajahku terlalu 'baik budi' untuk ditumbuhi bulu-bulu kasar itu.
"Panjangkan lagi biar Kin yang lihat," bujuknya dengan ibu jari yang mengusap lembut bagian bawah daguku. Sentuhan yang sedikit itu bahkan mampu memberikan reaksi ajaib di sekujur tubuh.
Baiklah, Kin. Jika wanitaku yang meminta, apapun akan aku lakukan. Melihatmu senang akan membuatku merasa sangat bahagia.
"Boleh aku tanya sesuatu, Bim?" ucapnya setelah sesaat hening. Suaranya terdengar ragu, ditambah pandangannya yang kembali menatap sendu. Ini adalah Kinara yang sama sejak kudapati ia cenderung diam setelah kami tiba di sini.
"Apa yang mau ditanyakan?"
Terbias keraguan di matanya, memandang sejenak ke sudut kamar, lalu kembali menatapku.
"Sebenarnya ...," Kinara tiba-tiba menarik jemarinya yang masih dalam genggamanku.
"Siapa sebenarnya Malia?"
Pertanyaan itu, membuatku bangkit dan duduk bersila di hadapannya. Kupandangi ia yang berusaha menyembunyikan pedih di balik paras cantiknya. Sungguh peka naluri seorang wanita. Serapat apapun kututupi kisahku dengan Malia, akhirnya juga terbaca olehnya. Aku masih ragu, apakah harus mengungkapkan semuanya, atau terus menyimpannya dari Kinara. Demi melihat sinar redup di matanya, kuputuskan untuk berterus terang walaupun akan terasa sakit di hatiku dan hatinya.
"Janji padaku, Kin," kuraih lagi jemarinya, "Jangan pernah merubah rasamu padaku setelah kuceritakan semuanya."
Kinara mengangguk pelan. Mungkin ia pun tak menyangka aku akan bicara jujur atas semuanya. Bagiku itu semua masa lalu, namun jika ia meminta penjelasan, aku akan berusaha untuk menjabarkannya dengan bijak.
"Malia ...," kutarik nafas sejenak sebelum melanjutkan. Mengapa sungguh berat untuk mengakui bahwa pernah ada rasa yang tumbuh untuk perempuan itu. Terlebih mengakuinya di hadapan seseorang yang kini telah memiliki segenap hati dan jiwaku.
"Aku ... pernah sangat mencintainya," ujarku akhirnya.
Jelas sebuah keterkejutan kutemui di raut wajahnya. Kuyakin ia sudah menduga, namun mendengar langsung dari bibirku tetap akan terasa berat baginya. Kinara menatapku lurus, menungguku melanjutkan. Namun kurasakan itu sebuah penjelasan yang cukup. Aku tak akan bercerita lebih panjang jika ia tidak lanjut bertanya. Keputusanku menikahi Kinara bagiku sudah menjelaskan bahwa rasaku pada Mal sudah sirna sejak aku bertemu dirinya.
"Why didn't you marry her?" suaranya kini terdengar sedikit serak, seperti sedang menahan tangisan.
Haruskan serinci ini? Kutakut justru akan menambah pedih di hatinya jika kuutarakan semuanya.
"I asked her, but she said no."
Kuharap pernyataan itu menjadi akhir dari perbincangan ini. Aku tidak tega melihat raut wajahnya yang kian sedih, meskipun aku lelaki yang tak biasa berbohong hanya untuk menyenangkan seseorang. Bahkan saat itu padamu, Kin. Jujur akan lebih baik.
"Kenapa kamu menikahiku jika mencintainya?"
Aku sudah menduga ini akan menjadi salah satu yang ditanyakannya. Enggar pernah bercerita. Cara paling ampuh menjawab pertanyaan seorang perempuan, adalah membalas dengan balik bertanya. Baiknya kucoba saran itu sekarang.
"Haruskah aku menunggunya? Sementara ada seorang wanita lain yang bisa membuatku berpaling di hari pertama aku menemuinya?"
Dan wanita itu adalah dirimu, Kin. Aku jatuh cinta padamu di hari itu.
Kinara menyembunyikan wajahnya dengan menunduk. Kini lengannya bahkan memeluk sebuah bantal. Aku hapal itu sama dengan cara Mentari jika ia sedang menyembunyikan tangisnya dulu.
"Do you still love her?" tanya nya hati-hati.
Ini pertanyaan gila. Aku bahkan tidak tahu harus menjawab apa. Sekilas terbersit kesal mengapa kuijinkan ia mengorek isi hatiku akan yang lalu. Namun aku terlalu mencintainya untuk mengabaikan rasa ingin tahunya. Meski aku yakin ia akan berhenti bertanya bila kuminta.
"Menurut kamu?" mungkin untuk bagian ini baiknya kulempar umpan kembali padanya.
Kinara terlihat menggelengkan kepalanya.
"I don't know," ucapnya sendu.
Kurasakan suasana berubah kelam dan aku tak mau Kinara terus menenggelamkan rasa ingin tahunya dalam kubangan kesedihan.
"You can feel it, Kin."
Kutarik dagunya dan kububuhkan kecupan singkat di bibir yang memerah itu. Matanya membuka saat kuberi jarak, dan menutup lagi ketika tak mampu kutahan desakan untuk mencumbunya lebih lama.
"Feel it," bisikku diantara nafasnya yang tersenggal.
Aku ingin Kinara memahami bahwa cinta dan gairahku saat ini hanya untuk dirinya. Kutangkup wajahnya, menahan agar dahinya tetap bersentuh. Perlahan sesuatu yang basah mengaliri telapak tanganku. Kinara menangis.
Kubiarkan dia melepaskan emosinya untuk sesaat. Bergantian kuusap dan kukecup wajah itu. Seperti pesan papa, jika wanita meneteskan air matanya biarkan saja jangan dicegah. Karena setelah air mata akan terbit senyuman yang sangat indah.
"What do you feel?" kutanyakan itu saat ia mulai berangsur tenang.
"You love me ...," suaranya terdengar menyerupai bisikan.
"And?"
"I'm jealous," ia mengakui seraya tersenyum malu.
Kepolosan yang membuat kadar cintaku bertambah untuknya. Begitu jujur ia mengungkapkan beragam rasanya untukku. Sebuah awal yang baik. Hubungan pernikahan tanpa berterus terang akan menimbulkan beragam masalah. Aku tak ingin muncul dugaan-dugaan apapun tentang masa laluku di hatinya.
Kutarik perlahan bantal yang masih dalam dekapannya, meletakkan di bawah kepalaku dan mengajaknya ikut berbaring. Kinara diam dalam pelukku dengan sisa tangisnya yang masih terdengar. Kuusap punggungnya lembut dan ia membenamkan wajahnya dibalik bahuku. Tanpa bicara, kuyakin rasa percaya diri yang tadi sempat hilang, telah kembali menerobos di relung hatinya.
"Bim,"
Kinara mengubah posisi wajahnya sejajar denganku, hingga pandangan kami beradu. Sisa-sisa air mata masih bergenang di pelupuknya. Pasti ia menangis lagi saat berada dalam pelukku.
"Ya?"
"I love you ...," Kinara mempererat pelukannya di tubuhku. "So much."
Pernyataan cinta yang pertama dari Kinara padaku justru terlontar di sela isaknya. Ah, Wanita. Haruskah kalian dirasuk cemburu terlebih dahulu untuk mengakui perasaan yang sejatinya ada di hati? Atau mungkin cinta itu mendadak muncul ketika rasa takut kehilangan datang begitu saja? Entahlah. Cukup kurasakan pelukan eratnya telah mewakili apa yang barusan terucap dari bibirnya.
Don't worry, Kin. Aku tak akan pernah bisa mencintai dua orang pada saat bersamaan. Bila kulabuhkan padamu, artinya aku telah melepaskan tali dari dermaga yang lain.
Percayalah, Kin. Hatiku kini hanya milikmu.