
Aku tak memungkiri Bima adalah lelaki yang cukup menarik. Dari potongan rambut dan kondisi kulit wajahnya, ia termasuk jenis yang suka merawat diri. Cara berpakaiannya terlihat santai. Ia mengenakan kaus berkerah dan celana jeans berwarna gelap. Beberapa kali ia menatapku dan kusimpulkan dari sorot matanya ia adalah lelaki yang sopan pada perempuan.
Aku mencuri dengar obrolannya dengan seseorang. Ia memasang ear-phone di telinga saat menerima panggilan itu. Meletakkan begitu saja telepon genggamnya di atas meja, hingga aku dengan jelas bisa membaca nama yang tertera di sana. Sesekali ia menanggapinya dengan Bahasa Inggris, dan sepertinya pembicaraan itu sedikit serius. Ia mengalihkan pandangannya ke arah pondok kecil di sudut halaman, memberiku keleluasaan menatap wajahnya.
Tak sadar berapa lama mataku terjebak menikmati paras itu, sampai kusadari perhatiannya beralih padaku. Kuberanikan terus memandangnya sampai akhirnya jengah itu hadir saat ia justru tak putus menatapku sambil berbincang dengan penelepon. Kuremas jemari yang tersembunyi di bawah meja, berharap bisa segera terlepas dari situasi ini.
“Maaf.” Kelihatannya ia sudah selesai menelepon. “Sampai di mana tadi obrolannya?”
Pertanyaan klise yang membuatku ingin tertawa. Membuka balutan perasaannya bahwa ia juga segugup diriku.
“Sampai aku menjawab, dan kita diam. Lalu ada telepon masuk.”
Ia tertawa mendengar ucapanku. Tawa itu mengingatkanku pada sosok lelaki kecil di dalam foto, yang menyodorkan es krim untuk meredakan tangis seorang gadis cilik. Tawa yang sama, yang menyakinkanku bahwa itu memang dia.
“Sekarang gantian kamu yang bertanya tentang aku,” ujarnya kemudian.
Apa yang harus aku tanyakan? Terlalu banyak sebenarnya, namun aku tak mau justru terlihat menggebu. Aku harus memilih pertanyaan yang tepat, dan juga cermat. Apakah kira-kira terlalu cepat jika langsung aku tanyakan mengapa ia memutuskan untuk menemuiku?
“Kalau kamu tidak ada pertanyaan, aku masih punya satu.” Ia tersenyum padaku. “Mengapa kamu setuju bertemu lagi denganku?”
Akh, harusnya itu pertanyaanku untuknya. Mengapa ia mencurinya seperti ia mampu membaca isi kepalaku. Ini sulit untuk dijawab, karena sungguh menentukan langkah yang akan diambil selanjutnya. Aku menyesal mengapa terlambat mengajukan pertanyaan itu padanya.
“Kin,” Suara Ibu terdengar, menyelamatkanku dari desakan merangkai jawaban. Ibu muncul dari dalam rumah bersama Tante Arini, menghampiriku dan Bima.
“Tante Arini ada bawa sesuatu buat kamu.” Ibu meletakkan jemarinya di pundakku. Tante Arini memandangku ramah dan mengajakku bangkit meninggalkan Bima.
“Ini urusan perempuan, anak laki nggak boleh nimbrung.” Beliau tersenyum jenaka pada Bima. Sang anak menanggapi ucapan ibunya dengan mengangkat bahu dan balas tersenyum.
“All right,” sahutnya singkat lalu beralih pada layar telepon genggamnya.
Aku mengikuti langkah dua perempuan yang tetap kelihatan cantik meskipun tak lagi muda itu. Aura persahabatan keduanya sangat terasa, membuatku yakin dulunya mereka pernah melalui suka dan duka bersama. Walaupun berpuluh tahun tak berjumpa, kasih sayang antara Ibu dan Tante Arini bak saudara yang terlahir sekandung. Wajar terbersit keinginan dari keduanya untuk melanjutkan hubungan baik ini melalui perjodohan aku dan Bima.
“Tante sudah menyimpan ini sejak lama.” Tante Arini mengeluarkan sebuah kotak kecil dari tas tangan beliau, menyerahkan padaku dan memintaku membukanya. Sebuah kalung perak dengan bandul senada yang desainnya sangat indah, mengintip dari balik kotak. Melihat sekilas bentuk batu permata yang menghiasi bandulnya, aku mengira pasti harganya tidak sedikit. Kutoleh Ibu yang juga ternyata juga sedang menatapku.
“Terima kasih, Tante. Tapi Kin nggak bisa …,”
“Terimalah.” Tante Arini menutup kotak itu dan membungkusnya dalam genggamanku.
“Sengaja Tante beli dua buah. Satunya untuk Mentari, satunya buat kamu. Tante selalu menunggu saat akan berjumpa lagi denganmu,” beliau menjelaskan dengan lembut. “Kalung itu tidak ada kaitannya dengan pertemuan hari ini.”
Aku mengangguk mendengar penjelasan beliau.
“Sekali lagi terima kasih, Tante. Kalungnya indah. Kin suka,” ucapku yang disambut senyuman Ibu dan Tante Arini.
“Ngobrol apa tadi sama Bima?” Tante Arini mencoba mencari tahu. “Dia nggak jahil kan?”
Dari tempat kami duduk, aku bisa melihat Bima masih tekun dengan telepon genggamnya. Aku tak bisa membohongi hatiku. Sebagai wanita normal, dengan kemasannya yang begitu rupa, Bima berhasil mencuri perhatianku.
“Bima sangat sopan pada Kin,” ungkapku pada beliau.
“Kin, Tante tidak pernah memaksakan perihal hati. Semua kembali padamu. Begitupun juga Bima. Meskipun sejujurnya Tante sangat berharap Kin lah yang bisa mendampingi Bima.”
Mendengar penuturan itu membuat wajahku menghangat. Aku membalas ucapan Tante Arini dengan anggukan malu. Masih terasa aneh membayangkan aku dan Bima akan bersatu dalam ikatan pernikahan.
“Setidaknya hari ini kalian sudah saling bertemu dan berbincang.” Ibu menimpali dengan bijak. “Setelah ini, Kin dan Bima masih punya cukup waktu untuk memutuskan. Sebagai orang tua, Ibu dan Tante Arini tidak akan memaksakan apapun pada kalian berdua.”
“Kin paham, Bu. Doakan yang terbaik agar Kin dan Bima bisa memutuskan dengan tepat.”
Tante Arini dan Ibu memelukku bergantian. Sungguh beruntungnya aku mengenal mereka berdua. Para wanita berhati emas yang sangat memikirkan kebahagiaan anak-anaknya. Aku sungguh berharap apapun keputusanku tentang Bima tidak akan mengecewakan keduanya.
Kupandangi lagi kotak di genggamanku, lalu berganti pada Bima. Haruskah aku kembali duduk bersamanya dan menjawab apa yang tadi ia tanyakan? Dalam bingung kusimpan kotak perhiasan itu ke dalam saku gamis yang kukenakan. Tapi ada yang aneh, aku tak menemukan telepon genggamku tersimpan di saku. Seingatku tadi ada di dalam. Apakah tertinggal di meja saat aku dan Bima berbincang tadi?
Aku melangkah mendekat di bawah tatapannya yang tiba-tiba beralih padaku. Bima memandangiku tak putus sampai aku berdiri tepat di depannya. Sebuah senyum terbit di bibirnya, membuat jantungku berdebar. Kin, please don’t fall too fast, gumamku pada diriku sendiri. You just met him less then two hours.
“Pasti nyariin ini,” ucapnya sebelum aku sempat bertanya apapun, sambil menyodorkan padaku sebuah telepon genggam yang sedang diutak-atiknya. Telepon genggamku. Ternyata tadi itu telepon genggamku yang ada padanya selama aku berbincang dengan Ibu dan Tante Arini.
Seketika sebuah amarah menguasai hatiku. How dare you, Bima!
-------
“Sorry,” ujarku saat melihat wajahnya berubah kesal ketika kuserahkan telepon genggamnya. Wajar jika ia marah. Aku pun akan bertindak serupa. Salah dia mengapa tidak memakai kunci layar, dan pastinya salahku juga yang tak bisa menghilangkan keusilanku.
“Smartphone kita sama.” Kutunjukkan benda di tangan kiriku. Persis, merek, tipe dan bahkan warnanya. Memberi kesan padanya bahwa benda itu tidak sengaja tertukar meskipun alasan yang kupilih sangat tidak masuk akal. Tak ada seorang pun yang mengijinkan isi telepon genggamnya dilihat oleh seorang yang baru dikenalnya.
“Mungkin pertanda jodoh,” lanjutku. Kinara melirikku sekilas.
“Siapa?” cetusnya dingin. Hilang sudah si pemalu berwajah indah tadi. Berganti dengan wanita dengan sebuah amarah yang ditahan.
“Telepon genggamnya yang berjodoh,” ucapku berusaha membuatnya mencair, namun ia malah membuang pandang ke arah lain.
“Kamu belum menjawab pertanyaanku tadi,” kualihkan pembicaraan agar ia melupakan kekesalannya. Kupandangi ia terus sampai ia mau berbicara. Ia balas memandangku, kali ini dengan tatapan berani. Aku suka perempuan ini. Meskipun terlihat lemah lembut, tapi ia mampu bereaksi jika merasa dicurangi.
“Bima,” suaranya terdengar ketus. “Aku setuju untuk bertemu lagi denganmu, hanya karena Ayah yang memintaku. Untuk menghormati almarhum Papamu.”
Pengakuan yang jujur dan lugas.
“Jangan berharap banyak padaku. Mungkin aku bukan wanita yang tepat untukmu.” Kinara bangkit meninggalkanku. Untunglah tinggal kami berdua dan tidak ada seorang pun yang menyaksikan insiden barusan. Kuikuti langkahnya masuk ke dalam rumah saat mendengar adzan Ashar berkumandang.
Kinara, bahkan saat sedang marah kamu tetap kelihatan cantik. Andai kamu tahu bukan tanpa alasan aku melakukan tindakan bodoh tadi. Reaksimu adalah seperti yang aku harapkan.
--------
Betapa beraninya dia. Melihat isi smartphone-ku, bahkan berjumpa denganku pun baru dalam hitungan jam. Keusilannya itu membuat semua perasaan indahku padanya sekejap sirna. Aku tidak menyangka dibalik tampilannya yang begitu cerdas, sifatnya sungguh tidak terpuji.
Tapi semua orang terlihat menyukainya, bahkan Bang Khalif pun bisa mengobrol akrab dengannya. Aku sesekali mengintip mereka lewat tirai jendela kamar yang menghadap ke halaman belakang.
“Sepertinya Bima lelaki yang baik.” Kak Fania memergokiku yang masih berdiri di samping jendela. Aku tersenyum kecut. Andai Kak Fania tahu apa yang telah diperbuat Bima barusan, kubertaruh ia juga pasti marah besar.
“Kakak setuju kalau kalian menikah,” lanjutnya mendekatiku. Kami diam sesaat memandangi dua lelaki yang sedang bertukar tawa di pondok kecil tempat kami dulu biasa bermain.
“Kin ragu bisa mencintainya, Kak.”
“Cinta akan tumbuh seiring jalan,” tuturnya dalam senyuman. Aku mengerti betul kisah itu. Mereka hanya bertemu dalam kurun waktu dua bulan sampai Bang Khalif memutuskan untuk melamar Kak Fania.
“Ikuti kata hatimu. Sisanya pasrahkan dalam doa,” ucap Kak Fania sebelum meninggalkanku.
Jika aku ikuti kata hatiku saat ini, ingin rasanya kuusir pulang saja dia. Mungkin aku harus memikirkan sesuatu untuk membalasnya.
Hmm, Bima. Mari kita lihat apa yang bisa kulakukan padamu ….
---------
Kamar hotel yang kupesan persis menghadap ke arah Sungai Batang Hari. Masih terlalu dini untuk bergelung di balik selimut, aku juga bukan yang suka menonton televisi. Kuputuskan untuk membawa kamera dan tripodku bertandang ke luar, mencari apa saja yang bisa diabadikan dari suasana malam ini.
Mama sudah terlelap lebih dulu. Bisa kubayangkan penat tubuhnya hari ini. Namun dari raut wajah dan senyumnya sebelum tidur, aku tahu ia bahagia sekali.
Beruntung seorang petugas hotel yang ramah memberiku ijin untuk naik ke roof-top. Dari ini tampak jelas gambaran Kota Jambi yang cukup indah di kala malam. Liukan sungai dihiasi gemerlap lampu memancar dari Jembatan Gentala Arasy yang memang disediakan khusus untuk pejalan kaki. Langit tanpa awan memberi kesempatan milyaran bintang bermunculan memamerkan kerlipnya.
Aku duduk di samping tripodku yang sedang berduet dengan kamera pasangannya, mengambil beberapa gambar slow-speed. Butuh waktu bermenit-menit sampai mendapat momen yang tepat. Kegiatan yang membosankan mungkin untuk sebagian orang. Namun justru mengasyikan bagiku dan Malia. Kami biasa mengobrol apa saja sambil menunggu bunyi ‘cekrek’ dari kamera menandakan ia sudah menyelesaikan tugasnya.
Masih melekat jelas kenangan bersamanya di saat-saat akhir sebelum aku meninggalkan Perth. Hampir saban malam ia menemaniku mengejar tuntutan portfolio demi kelulusanku. Begitulah Malia. Mungkin aku yang salah mengartikan bentuk kepeduliannya sebagai sebuah cinta. Sikapnya membuatku bingung bagaimana harus mengurung hatiku, dan akhirnya kuputuskan untuk hanyut saja mengikutinya.
Siang tadi Mal menelepon mengabarkan ia akan transit di Jakarta minggu depan sebelum melanjutkan penerbangan ke Denpasar. Pekerjaannya sebagai Fashion Photographer memang menuntutnya untuk kerap bepergian kemana pun. Aku menyadari apa yang dikatakan Mal memang benar. Mungkin ia bukan perempuan yang tepat untuk peran seorang istri. Namun aku, masih sulit untuk menerima bahwa aku harus bisa beralih darinya. Ingin rasanya kuungkapkan rinduku pada Mal andai tak ada gadis bermata indah itu tadi di hadapanku.
Kinara. Mungkin ia masih marah padaku.
Terbayang wajah kesalnya yang tak mampu mengusir raut cantik parasnya. Aku hanya ingat pesan Papa. Dalam pernikahan mereka yang terlihat selalu akur, terkadang terselip juga beberapa pertengkaran yang memicu kemarahan. Saat umurku beranjak remaja dan mulai memahami, aku pernah menanyakan mengapa Papa dan Mama kadang bertengkar. Papa mengungkapkan bahwa hal itu adalah wajar terjadi di sebuah rumah tangga. Amarah, kesal, kecewa, benci, adalah bumbu dalam sebuah hubungan cinta.
“Mau Papa kasih saran?” ujar Papa saat itu. “Nikahilah wanita yang tetap cantik meskipun di saat marah.” Papa sengaja mengatakannya dengan suara keras, kuyakin bisa terdengar jelas oleh Mama yang ketika itu sedang duduk merajuk di ruang tengah. Begitulah mereka. Selalu penuh cinta dalam kondisi apapun. Andai Papa masih hidup, mungkin sekarang ini kami sedang tertawa berdua membicarakan keusilanku tadi pada Kinara.
Wajar jika gadis itu marah padaku. Tapi kulakukan itu bukan tanpa alasan. Aku hanya ingin memberinya kejutan, walaupun sembari itu aku sempat melihat beberapa list chat-nya tanpa aku membuka isinya. Aku kagum padanya, dari percakapan sebanyak itu, tak ada satupun nama lelaki yang tertera di sana. Beberapa group yang sempat terlihat juga lebih banyak dari komunitas kajian.
Kin, jangan tidur dulu. Aku akan mengirim sesuatu untukmu.
-------
Tak terkatakan betapa lelah tubuhku saat akhirnya bertemu dengan ranjangku yang nyaman. Sungguh hari yang melelahkan. Harusnya bisa mejadi indah andai sikapnya tidak sembarangan seperti itu.
Mengapa sulit memejamkan mata ini. Apapun itu hanya terbayang wajahnya, senyum usilnya, suaranya, terlebih pandangannya yang membuatku bingung harus bagaimana. Tidak, ini bukan cinta. Hanya sebuah ketertarikan. Pada seseorang yang salah. Jelas-jelas ia tak seperti yang kubayangkan.
Smartphone-ku mengeluarkan sebuah nada yang tak biasa. Aku sudah memasang kunci layar sejak kejadian siang tadi. Kubiarkan saja, mungkin hanya notifikasi dari beberapa situs yang aku ikuti beritanya.
Nada itu berbunyi lagi. Kali ini aku putuskan untuk melihat. Seseorang mengirimkan pesan padaku, dengan menu pop-up yang langsung terbaca olehku. Bima?
Benar-benar usil lelaki satu ini. Ia bahkan telah menyimpan sendiri kontaknya dengan nama ‘My Bima’ dengan nada notifikasi yang berbeda serta setting pop up di layarku khusus untuk pesan darinya.
[Kin, sudah tidurkah?]
[Masih marah padaku?]
Baiknya kubalas atau tidak? Aku ragu harus mengetik apa. Mungkin begini saja.
[Belum tidur dan masih marah.] kubalas singkat seperti yang ditanyakannya.
[Maaf, Kin. Aku cuma mau bilang. That you are so beautiful.] pesan gombal itu masuk diiringi sebuah foto.
Kutekan tombol download untuk menerima. Bima mengirim foto diriku yang ia ambil saat Tante Arini memberikan kalung perak padaku siang tadi.
[Suka fotonya?]
[Masih banyak yang lain.]
[Please, look inside your phone gallery.]
Masuk lagi rentetan pesan darinya saat tak ada balasan apapun dariku. Apa maksudnya?
Dengan rasa penasaran aku buka isi galeri dan menemukan setidaknya 20 foto diriku yang ia jepret. Dengan memakai handphone-ku. Menjelaskan alasan mengapa begitu usil ia siang tadi sampai memicu amarahku. Kulihat satu persatu foto-foto itu. Aku terlihat sangat cantik. Pintar sekali ia memilih momen candid-nya. Tak pernah ada yang memotretku seperti itu.
Dan foto yang satu ini, sungguh bisa membuat wajahku merona menahan malu. Bima mengabadikanku saat aku mencuri pandang padanya. Terlihat jelas aku menatap lurus ke arah kamera, yang seolah menangkap basah diriku sedang memperhatikannya dari jauh. Ia melakukan semua itu hanya dalam hitungan menit saat aku berbincang dengan ibunya.
[Sleep tight, Beautiful.]
[See you tomorrow.]
Kubaca dua pesan itu sampai tanda online di bawah namanya menghilang berganti keterangan lain. Mungkin malam ini aku tak bisa tidur nyenyak seperti biasa. Rasa marah yang tadinya menguasai hatiku perlahan mereda. Bagaimana bisa ia mengaduk perasaanku begitu rupa. Aku tak tahu harus berkata apa saat harus bertemu dia lagi.
Boy, I know what you’re doing. Kamu sedang bermain dengan hatiku. Hati seorang Kinara yang entah mengapa kali ini begitu mudah untuk terpikat dengan lelaki bernama Bima.