The Surrender Of Love

The Surrender Of Love
Part 24 - Paint My Love



Dahaga, teramat sangat seperti sedang membakar tenggorokanku. Aku hanya ingin setetes air, untuk membasahi rasa haus ini. Namun mengapa tangan ini begitu sulit untuk digerakkan, dan kelopak mataku hampir tak dapat terbuka. Kepala ini, seperti ada ribuan benda runcing yang menusuk bergantian hingga ke titik saraf.


Di mana aku? Hanya terlihat cahaya terang dan dinding putih yang pertama beradaptasi dengan pupil. Simpul otak belum mampu menerjemahkan, hanya ada rasa sakit yang perlahan menghinggapi sekujur tubuh. Selaksa meremukkan tulang dan setiap sendi yang menyambungnya.


Segaris jarum tipis yang menusuk nadi meyakinkan bahwa nyawaku masih melekat, dan ini bukan dunia lain yang kusinggahi. Satu persatu ingatanku terkumpul akan rentetan kejadian sebelum berakhir di tempat ini. Kucoba menyatukan beberapa kolase yang tercabik, setidaknya sedikit memberi gambaran mengapa aku terbaring di sini.


Dan lelaki itu, mengapa ia yang duduk di sana?


Ia sepertinya tertidur, meskipun niatnya mungkin tidak begitu. Gawainya bahkan masih berada dalam genggaman jemarinya. Wajahnya tertunduk, tertutupi oleh tudung hoodie yang ia kenakan. Bahunya naik turun teratur menandakan sungguh nyenyak lelapnya itu.


Kucoba menanggilnya, namun telingaku justru tak mendengar suara apapun. Pita suaraku telalu lemah bahkan untuk menyebutkan namanya. Jemariku berusaha meraih sesuatu di sekitar. Upaya terbesarku hanya bisa mejatuhkan sebuah benda yang berdenting nyaring saat menyentuh lantai.


Ia terjaga. Memandangiku sesaat, lalu bergegas berdiri menekan salah satu tombol yang menempel di dinding kamar. Mata itu memancarkan resah yang teramat sangat meski bibirnya tak mengatakan apapun. Padahal aku sungguh butuh penjelasan mengapa ia yang ada di sini bersamaku.


Kuamati ia yang terus memperhatikanku saat petugas datang untuk mememeriksa tekanan darah dan mengatur tetes cairan infus. Ia tetap berdiri di sisi ranjang saat hanya tinggal kami berdua berada di ruangan. Ia menghadiahiku sebuah senyuman yang dipaksakan lengkungnya. Senyum itu pun tak mengusir sorot kuatir yang terbungkus dalam tatapannya.


Ia menarik sebuah kursi dan duduk di sisi ranjang, bersikap sedikit bingung harus berbuat apa denganku, atau mungkin menungguku menyapa terlebih dulu.


"Mana yang lain?" tanyaku sekedar untuk memecah sunyi yang menyelimuti kami.


"Tiwi lagi nganterin pembantu lo balik ke rumah," jelasnya. "Beliau mau ambil baju bersih buat ganti."


Aku menghela nafas. Mengapa aku juga melibatkan sahabatku itu dalam tindakan bodohku. Sudah cukup laki-laki ini saja. Aku pun sudah tak lagi tahu harus di mana meletakkan harga diriku di hadapannya. Ini kali kedua ia mendampingiku melewati kondisi yang amat sulit.


"Bokap lu tadi seharian di sini," lanjutnya saat aku hanya diam. "Sudah pulang tadi sama pak supir."


Papa. Hatiku terasa teriris saat mengingat papa. Kepulanganku ke Jakarta ternyata malah menambah beban hidupnya. Anak macam aku ini?


"Lo, kenapa ada di sini?" kutanyakan penasaranku dengan hati-hati.


Ia membuka penutup kepala dari hoodie yang dikenakan, memperlihatkan padaku rambut panjangnya yang kali ini tak terikat.


"Gue udah lebih 24 jam di rumah sakit," jelasnya. "Sejak Tiwi ngabarin gue tentang kondisi lo."


Cukup untuk menjelaskan bahwa selama itu pula aku tidak sadarkan diri sejak menelan enam butir pil tidur itu setelah dua malam tak mampu terpejam. Sungguh aku tidak berniat menyakiti diri sendiri. Aku hanya ingin sejenak tidur untuk menghilang dari beragam himpitan perasaan yang terus menghantuiku.


Kukembalikan perhatianku padanya. Sungguh aku terlihat seperti seorang pecundang di hadapannya. Ia hanya duduk memandangiku, tentunya dengan kelopak mata yang menebal karena tidurnya yang tak tuntas. Diamnya membuat situasi ini semakin sulit. Sikapnya yang sangat sopan membuatku bingung apakah berkewajiban menjelaskan padanya secara rinci atas apa yang terjadi padaku.


"Dika, gue ...,"


Tatapan kami beradu sesaat, dan entah mengapa sorot mata teduh itu memicu bulir-bulir yang sejak tadi kutahan, menetes satu per satu. Hatiku terasa berat saat mengetahui lelaki yang bukan siapa-siapa bagiku, justru ia yang setia menungguku siuman dari tidur yang mungkin saja bisa merenggut nyawaku. Siapa lagi yang kuharapkan datang? Bukankah aku cuma punya papa, Bu Jati, dan Pak Ahmad. Sahabatku yang lain telah memiliki tanggung jawab masing-masing dengan keluarga kecil mereka. Tak bisa seenaknya meminta mereka berkumpul sebebas dulu. Lagi pula aku bukan sakit, ini adalah akibat dari ulahku sendiri.


"Istirahatlah, gue ngerti lo masih pusing," hiburnya. Goresan tato di lengannya terpampang jelas saat ia berdiri untuk membenahi posisi bantalku agar lebih nyaman. Tak ada sedikit pun ia mencuri kesempatan untuk menyentuhku meskipun hanya kami berdua yang ada di dalam ruangan ini.


"Gue haus," bisikku dengan suara yang serak karena isakan. Kuteguk perlahan segelas air yang ia bantu ambilkan. Ia cuma membalas dengan anggukan saat kuucapkan terima kasih. Bukan hanya untuk air minum itu, tapi lebih pada kesungguhannya menungguiku lebih dari sehari semalam.


"Lo jinak kalo lagi sakit," ucapnya saat aku hendak memejamkan mata, segera kuurungkan karena mendengar celetukannya barusan. "Lo jadi lebih patuh dan nggak banyak ngebantah gue."


Apa memang aku seketus itu selama ini padanya? Entahlah, hatiku seketika merasa sangat bersalah karena terlalu acuh akan perhatiannya. Tak kusangka ia justru perduli padaku sebesar ini.


"Jangan pulang."


Dua kata itu meluncur begitu saja mewakili suasana hatiku saat ini. Ingin kutarik kembali, namun terlambat saat melihat raut wajah cemasnya berubah lega saat mendengar perkataanku. Sejujurnya hatiku juga terkejut betapa berani bibirku menyuarakan itu. Tapi sungguh, aku memang ingin ia tetap menemaniku. Agar jiwa ini tidak gamang saat tak tahu kemana harus bersandar.


"Gue tetap di sini selama yang lo mau." Jemarinya menarik selimut agar menutupi tiga perempat tubuhku. Sebuah kehangatan menyalur lewat gerakannya, menghalau kebekuan yang dihembuskan dari pendingin ruangan di kamar rawat inap ini.


"Dika, gue ...." Masih ada satu hal yang ingin kutanyakan, namun helaan nafasnya membuatku berhenti bicara. Ia meletakkan tangannya di tungkai kakiku yang tertutup selimut, menepuk-nepuknya perlahan.


"Tidurlah, Mal. Gue akan jagain lo."


Suara berat itu, membawa ketenangan yang tidak biasa di hati ini. Kulepaskan semua gundah dan mencoba terus menatap wajahnya hingga mataku tak lagi mampu terbuka. Tatapan tajam itu adalah yang terakhir kuingat sebelum jiwaku kembali diambil alih sang mimpi.


Andika, entah mengapa kali ini aku begitu ingin kau menemaniku. Jangan menjauh. Aku hanya ingin kau dekat, menjagaku, menopangku. Agar aku kuat melalui saat-saat terberat ini.


-----------


Lukisan Kapal Phinisi di Pelabuhan Sunda Kelapa kemarin dulu sudah hampir rampung. Kulihat kembali untuk kesekian kali, rasanya ada sebuah sentuhan yang kurang di bagian sudut kanan. Seperti ada sesuatu yang kosong, padahal justru aku sudah menerapkan banyak warna di bagian itu. Mungkin aku salah menafsirkan arah cahayanya seperti yang dulu pernah dijelaskan Bima.


Bima.


Setiap pikiranku tak sengaja tertaut padanya, pipi ini selalu menghangat dan efeknya menjalar hingga aku harus menutup mata dengan perasaan jengah yang tak dapat terkendalikan. Terlebih jika saat sendiri di apartemen dan menunggunya pulang, terkadang khayalku melayang, menerbitkan senyum yang tiba-tiba saja hadir hanya karena mengingat hal-hal kecil tentangnya.


Tak terpungkiri, awalnya mungkin sentuhan yang membisa membangkitkan gairahku. Kini bahkan hanya gerak tubuhnya atau kata-katanya mampu membuat isi otakku mengembara pada saat-saat mesra yang kuhabiskan bersamanya. Sungguh aku tak menyangka imajinasi itu bisa hadir dalam pikiranku begitu dahsyatnya, yang mana sebelumnya aku percaya bahwa hal ini hanya hinggap di kepala seorang lelaki.


"Ngelamunin aku?"


Sentuhan jemarinya di pundakku membuyarkan semua. Tidak pernah nyaman bila tertangkap basah seperti ini. Sejak kapan ia terjaga dari tidur siangnya, padahal tadi aku masih meliriknya berbaring nyenyak dengan memeluk bantal kecil di sofa. Bukan kebiasaannya , hanya saja malam tadi ia tidur amat larut dengan beberapa deadline-nya minggu ini.


"Do you want some tea or coffee?" cepat kutawarkan agar berkesempatan terlepas dari jemarinya yang sudah turun memeluk pinggangku. Ini sudah menjelang adzan Ashar, alangkah baiknya bila menunggu sebentar sebelum berlanjut ke tahapan yang sudah terperkirakan.


"Jawab dulu," bisiknya separuh memaksa. "Kamu ngelamunin aku?"


Cepat-cepat kugelengkan kepala, walau ekspresi wajahku yang memerah pasti sudah lebih dulu berterus terang. Kupejamkan mata sesaat karena tak kuasa menahan godaan itu. Bima meletakkan dagunya di bahuku, dan hidungnya dengan leluasa bersentuhan dengan anak-anak rambut yang tak cukup panjang untuk ikut dalam gelungan.


"Aku bingung," kualihkan sejenak perhatiannya. "Lukisan ini sudah rampung. Tapi seperti ada yang tidak pas menurut penilaianku."


Ia membawa pandangan untuk fokus mengamati kanvas di hadapan kami. Cuma sebentar, sebelum kemudian kembali bermain-main dengan aktivitas kesukaannya.


"Bim, what do you think?" kurenggangkan sedikit tautan jemarinya untuk mencari raut wajahnya. Ia cuma tersenyum, dengan kelopak mata yang tertutup, dan gerakan kepala yang mulai menggoda titik-titik sarafku.


"I think I want you."


Kepasrahan itu sepertinya sudah melekat erat dalam benakku. Setiap ia mulai menyerangku dengan ciuman yang bertubi, entah mengapa hati ini tak mampu mengelak. Aku pasrah mengikuti alurnya, pelan di awal dan semakin liar hingga menuju tahapan selanjutnya. Sungguh aku merasa sudah diperbudak oleh gairah ini. Gairah halal yang semakin hari menumbangkan pilar-pilar pertahananku pada pesonanya.


Namun kali ini, ia justru menyudahi di saat aku sudah terpancing. Entah aku harus bersyukur atau malah kecewa. Bima tanpa basa-basi melepaskan pagutannya dan beralih pada lukisan yang kami obrolkan sebelumnya.


"Bagian mana yang kamu tidak suka?" ia melontar tanya.


Bagian mana yang aku tidak suka? Aku tidak suka saat kamu seenaknya memutuskan aliran gairah yang sudah tersambung begitu rupa. Getar-getar indah itu masih terasa merambat, dan kamu berhenti begitu saja?


Susah payah kubenahi raut wajahku yang baru saja terobrak-abrik dengan kecupan bibirnya. Membuka mata dan memandang lukisanku sendiri. Aku bahkan sudah melupakan bagian mana yang kupersoalkan sebelumnya.


"Kamu lupa menambahkan bayangannya," ucap Bima saat aku tak kunjung bicara.


Denyutan yang membekas dan gerak jemari kirinya yang masih leluasa menyusuri lekuk tubuhku, tak mampu mengembalikan konsentrasiku.


"Dan di sisi ini, warnanya terlampau terang." Bima mengarahkan telunjuknya ke bagian bawah kanvas. "Seharusnya area yang tak terjamah cahaya akan tampak gelap dan samar-samar."


Kucoba untuk mencerna satu persatu analisa darinya. Bima benar, aku melupakan bagian itu. Spontan kuraih sebuah kuas, hendak mencampur warna merah yang terlihat menyala dengan paduan hitam agar tampak lebih redup. Namun lengan kukuhnya dengan cekatan menangkap jemariku.


"This can wait," ujarnya sambil meloloskan kuas itu dari jemariku, mengembalikannya di atas palet. "But this one can not."


Ia awali dengan menangkup wajahku, diikuti dengan gerakan kepalanya yang mulai merayu. Seolah sengaja, ia tidak berusaha mencari arah bibirku. Hanya menyapu tipis setiap bagian, mempermainkan rasa penasaranku yang telah berhasil terpancing dari ulahnya beberapa saat yang lalu.


"Bim," kugumamkan namanya berusaha memprotes. Aku tidak sedang ingin bercanda. Aku ingin ia menuntaskan apa yang sudah dimulainya barusan. Tapi lelaki ini rupanya gemar sekali bermain-main denganku.


"Say you want me," ia kembali berbisik.


"I want you," jawabku tanpa berpikir panjang.


Ya, Bima. Aku menginginkanmu. Khayalanku tentangmu sepanjang melukis tadi, serta ulahmu yang begitu berani menggodaku, bahkan mempermainkan gairahku, sepertinya aku harus menuntut pertanggungjawabanmu kali ini.


Ganti kubingkai wajah tampan itu dengan kedua belah tanganku yang masih lengket dengan sisa cat. Dalam sekejap aneka warna menempel di pipinya yang terasa kasar. Kucuri beberapa kecupan di sisi yang tak bernoda, dan melanjutkan dengan memagut bibirnya. Terserah ia akan beranggapan lain. Kali ini aku akan menjelma menjadi seorang Kinara yang lebih berani.


Tantanganku disambut baik olehnya, untuk sesaat ia berhasil menghanyutkanku lagi dan lagi. Dan aku sudah berada di tepi gairah saat ia kembali berhenti. Untuk berbincang. Aku memang benar-benar sedang berada dalam permainannya.


"Aku ingin kamu melukisku," ujarnya tiba-tiba. Menarik wajahnya menjauh untuk memberiku tatapan sungguh-sungguh.


Come on, Bim. What game are playing with me? Don't you see I can't hold this anymore. And now you're talking about paintings?


"Aku tidak melukis gambar manusia," jawabku. Rendah suaraku pasti mencerminkan gairah yang sejak tadi tertahan.


"Listen carefully, Kin. Aku tidak memintamu melukis gambarku," kilahnya membandel. "Aku ingin kamu melukisku."


Aku bergeming. Berusaha mencerna isi ucapannya barusan. Asupan oksigen yang terhambat akibat dari ulahnya tadi mungkin membuatku sedikit hilang fokus.


"Maksudnya, aku melukismu?" ulangku kurang yakin. "Your body, as canvas?"


"Yes, some kind like body painting, Darling," tegasnya dengan sedikit kerlingan.


"Oh, No. That's crazy." aku segera berkelit sebelum pikirannya menelurkan ide yang lebih aneh lagi.


"That's not crazy, Kin." Ia membantah sambil tersenyum menggoda. "That's sexy."


Aku menutupi bibirku dengan punggung tangan yang tak terolesi cat. Tak percaya rasanya kekasihku ini semakin hari kian hadir dengan gagasan-gagasan percintaan yang tak pernah terpikirkan sebelumnya. Bagaimana aku bisa melakukannya, membayangkannya pun rasanya sudah membuat wajahku menghangat.


"Do we have a deal?" pancingnya. Dengan sekali gerakan ia telah menanggalkan kaus tipis yang ia kenakan, melemparnya sembarangan di samping easel di hadapanku.


"Bim ...."


"Barangkali kamu perlu mempelajari kanvas barunya," ia meraih jemari kananku dan melekatkannya di dadanya yang terbuka. Aku bisa melihat sendiri sisa cat itu menempel tak beraturan di kulitnya yang terang.


"This is 3D canvas, Kin. Dengan tingkat kesulitan yang lebih tinggi," lanjutnya tanpa menghiraukan deru nafasku yang mulai tak menentu. Untuk yang satu ini ia lebih piawai, tidak sepertiku yang saat ini begitu sensitif untuk tergoda hanya dengan sentuhan kecil darinya.


"Bim, I think we should ...," kucoba menarik tanganku, namun ia malah mengarahkannya semakin kebawah.


"Yes, we should." Ia langsung membungkamku dengan sebuah kecupan. Cukup lama. Dan tak tertahankan, hingga suara dering dari gawai Bima mengusik keintiman yang tercipta.


"Forget it," bisiknya saat aku mulai terusik. Ia masih menciumku, dengan jemarinya yang mulai menjelajah di deretan kancing depan gaun panjang yang kukenakan.


Sesaat hanya hening yang tercipta, dengan suara deru nafas yang berusaha kusembunyikan. Namun kemudian telepon itu berbunyi kembali.


"Angkatlah, mungkin penting." Kulepaskan pagutan dan membujuk untuk memeriksa gawainya.


Bima beranjak meraih ponselnya, meletakkan begitu saja di sisi kayu yang menyangga kanvas lukisan, untuk kemudian kembali duduk dan melanjutkan apa yang sudah ia mulai. Ia hanya berucap singkat untuk menjawab panggilan itu.


Sebuah sapaan familiar terdengar nyaring. Itu Enggar, dan Bima menyalakan pengeras suaranya.


"Lo di mana?"


Bima menjawab sekenanya sambil terus mencumbuku. Susah payah kutahan suara nafas yang berhembus agar tak terdengar oleh Enggar di seberang sana.


"Gue mau ketemu lo, Bim. Penting."


Kali ini Bima menanyakan di mana tempat mereka akan bertemu. Gelung rambutku sudah terurai oleh gerak jemarinya. Aku bahkan sudah tidak perduli dengan suara Enggar, cumbuan Bima sungguh telah membiusku.


"Setengah jam lagi gue nyampe."


Enggar melanjutkan setelah menyebutkan nama sebuah tempat. Aku mendengar seperti nama rumah sakit. Setengah jam lagi? Kupastikan tidak pernah bisa tuntas hanya dalam tiga puluh menit jika memulai dengan Bima.


"Oh satu lagi, Bro."


Kali ini Bima tak menyahut. Bibirnya sedang sibuk menginci setiap jengkal bahuku yang sudah tak tertutup gaun.


"Sendiri aja, jangan bawa Kinara."


Apa katanya barusan?


"Ini soal Mal."


Tentang Mal?


Kudorong pelan tubuhnya bersamaan dengan Enggar memutuskan panggilan itu. Desakan yang tadinya sudah membuncah, kini seolah buyar berserakan dalam satu hentakan. Bima mengangkat wajahnya, memandangku dengan sorot mata yang masih dipenuhi gairah. Kubalas tatapan itu tanpa bicara. Kuyakin ia tahu maksudnya.


Genggaman jemarinya yang melingkariku, kuurai perlahan. Aku bangkit dan meninggalkannya, tak mengindahkan suaranya yang beberapa kali memanggil namaku. Aku butuh tempat untuk menuntaskan perih hati ini, dan pastinya sendiri.


Bim, mengapa selalu ada Mal di antara kita?