
“Aku baik, Kinara juga.”
Penggalan kalimat itu yang sempat terdengar olehku saat Bima berbicara dengan seseorang melalui bluetooth-earphone miliknya. Ia sedang berdiri di belakang mini bar, mengerjakan sesuatu dengan mesin kopi, membuat sebuah aroma yang khas memenuhi ruang tengah. Matanya beralih ke arahku saat mendengar suara pintu kamar yang membuka. Pandangannya tetap mengikuti hingga kadang membuatku salah tingkah. Selalu begitu dan sepertinya aku harus terbiasa dengan caranya yang satu itu.
Sejujurnya aku masih merasa seperti tamu di pagi pertamaku berada di apartemen Bima, atau lebih tepatnya teman sekamar yang berbagi tempat tinggal. Aku menunggunya selesai dengan pembicaraannya di telepon, dan juga gerak-gerik tangannya yang begitu mahir bekerja dengan aneka peralatan di atas meja. Duduk di depan televisi mungkin akan lebih nyaman. Beberapa majalah yang menganggur di dalam rak bisa menjadi pengalih untukku. Kulihat beberapa, ternyata semuanya berbahasa Inggris. Kupilih satu dengan judul depan tentang perjalanan wisata.
Bima terlihat serius, walau sesekali ia tertawa lepas. Ia lebih sering menjawab ‘iya’ atau ‘okay’ untuk merespon pembicaraan itu. Kulirik ia sesekali, dan untuk kesekian kali harus jujur bahwa aku mengagumi pesonanya yang memikat. Sekilas terlihat biasa, namun ada sesuatu di setiap gerak tubuhnya yang ternyata aku sangat suka. Dengan kaus tanpa kerah dan celana jeans santai, aku tak memungkiri bahwa ia berhasil membuatku jatuh cinta dengan apapun tampilannya.
“Allright. Besok kita berdua ke sana.”
Masih berbicara dengan penelepon, Bima membawa langkahnya menuju arahku. Cepat aku beralih pada majalah di genggaman, agar tidak terlalu kelihatan bahwa sedang memandanginya. Meskipun ia telah menjadi suami untukku, perasaanku hampir mirip seperti ungkapan para teman perempuan sewaktu di SMA, saat mereka baru jadian dengan sang pacar. Berdebar, berbunga-bunga, semuanya berpadu dalam hatiku yang mendadak bingung, tiba-tiba harus tinggal serumah bersama mahluk berjenis kelamin lelaki yang baru aku kenal kembali.
“Tadi itu mama,” ucap Bima sambil duduk di sampingku.
Tangannya membawa dua cangkir kopi yang isinya berbeda warna. Satu hitam kemerahan, satunya lagi berwarna coklat muda.
“Mama ingin mengadakan resepsi kecil. Besok kita diminta datang untuk membicarakan itu,” lanjutnya. “Kamu ingin konsep acara yang seperti apa?”
“Aku ngikut kamu aja,” jawabku. Seperti saat ia dengan patuh mengikuti konsep akad nikah dan syukuran yang ayah gelar untuk kami berdua, sekarang saatnya aku pun patuh pada keinginan keluarga besar Bima.
“Hanya aku nggak mau kalau terlalu ramai, aku malu harus duduk dan dipandang sekian banyak orang,” kuutarakan pendapatku.
Bagaimana pun juga aku berhak untuk menyampaikan keyakinanku tentang ini. Bahwa cantiknya wanita sesungguhnya hanya boleh dinikmati oleh pasangan halalnya. Ayah dan Bang Khalif kerap mengingatkanku akan hal itu saat usiaku menjelang remaja. Aku bisa bernapas lega saat Bima terlihat mengangguk menandakan ia sepaham.
“Mama bilang hanya keluarga dekat. Kamu bisa diskusi dengan Mentari tentang konsep acaranya. Dia lebih mengerti ketimbang aku,” tuturnya.
Bima lalu minum dari cangkir kopi yang isinya berwarna pekat, menyodorkan padaku yang isinya bernuansa coklat muda. Ia memandangku dengan tatapan menunggu agar aku ikut mencoba kopi racikannya.
“I don’t drink coffee, Bim,” kutolak tawarannya dengan halus. Ia tersenyum saat mendengarku berkata itu.
“It’s Latte. Try it,” ia meyakinkanku untuk mencicip sedikit.
Aku tidak pernah berkumpul di café atau kedai kopi manapun. Yang kutahu semua kopi adalah sama, dan tidak satu orang pun dulunya di rumahku adalah pengopi. Bahkan kopi hanya tersedia jika ada tamu yang datang. Sekarang malah Bima yang memintaku untuk meminumnya.
Sensasi pertama yang muncul saat minuman yang disebutnya Latte itu menyentuh lidahku adalah rasa manis susu yang samar, yang kemudian perlahan berganti pahit. Aku berhenti sejenak. Ternyata sedikit rasa pahit yang tertinggal di lidah mengajakku untuk mencoba seteguk lagi. Responku membuat sebuah senyum terbit di bibirnya.
“Aku tahu kamu pasti suka.” Ia lalu menyodorkanku cangkir miliknya saat melihatku menikmati Latte racikannya. Aku menerimanya sedikit ragu. Kuatir terlalu banyak kafein akan menyebabkan kepalaku berat.
“Try this one,” desaknya agar aku segera mencoba.
Ada rasa unik yang hadir di hatiku saat harus minum dari cangkir yang sama dengannya. Matanya tak lepas memandangku seolah tak ingin kehilangan ekpresi apapun dariku. Tegukan pertama langsung membuatku ingin memuntahkan minuman itu. Susah payah kutelan agar tidak membuatnya kecewa. Bima tertawa melihat raut wajahku yang mungkin tampak lucu. Aku hanya menunduk tanpa berani menatapnya, sementara lidahku berusaha menetralisir rasa pahit yang terus terang mengejutkan itu. Anehnya pahit tersebut kemudian berganti dengan rasa asam yang berpadu dengan manis yang tidak mencolok. Dan pastinya membuatku ingin mencoba seteguk lagi. Mungkin sensasi ini yang membuat para pecandu sulit beralih dari kopi. Pagi ini Bima berhasil mengenalkanku pada awal canduku akan kopi buatannya.
“It’s V60. Diberi nama begitu sesuai cara pembuatan dan alat yang digunakan,” jelas Bima. “Mana yang kamu paling suka?”
Aku lalu berpikir sejenak. Dua jenis minuman dari bahan dasar yang sama, namun justru menimbulkan sensasi berbeda. Aku sebenarnya penyuka rasa manis, namun entah mengapa aku lebih jatuh cinta pada kopi pahit yang baru saja kuteguk.
“Yang ini,” ucapku menunjuk pada cangkir yang masih kugenggam. Bima terlihat sangat senang. Seperti ada kepuasan tersendiri baginya melihatku takluk dengan isi cangkir-cangkir kopi itu.
“I’m gonna make you fall in love with my coffee, as much as you fall in love with the barista.”
Bima menanggapi pilihanku dengan sederetan kalimat ajaib. Aku tak tahu semerona apa wajahku saat mendengar ucapannya. Entah bagaimana ia selalu bisa menemukan rangkaian kata untuk menambah kadar pesonanya untukku. Cara menggombalnya selalu berkelas, apalagi untuk perempuan pemula seperti aku. Kadang hal ini menghadirkan resah untuk jatuh lebih dalam lagi padanya.
Bim, sungguh aku meragu. Sudah berapa wanita yang kamu taklukkan hatinya seperti diriku?
---------
Kinara.
Ada sesuatu dalam diri perempuan ini yang menggelitik hatiku untuk selalu membuatnya merona. Aku menyukai semburat merah yang muncul di wajahnya setiap kali mendengar kata-kata ataupun sikap mesra yang kulakukan padanya. Ini hal baru bagiku. Aku bukan seperti ini dulu, tidak pernah seromantis ini pada wanita manapun, termasuk pada Malia yang padanya hatiku melekat bertahun. Namun pada Kinara, entahlah. There’s something in her that makes me wanna try everything.
Ya, Kinara seperti mainan kesayangan bagiku. Yang tak pernah rela kupinjamkan pada siapapun. Cuma aku yang berhak bermain dengan apapun yang melekat dalam dirinya. Bermain dengan hatinya, cintanya, juga indah tampilannya, tentunya dalam arti yang positif. Pandangan malu-malu yang kerap terbit di bening matanya menimbulkan hasrat untuk mencoba apapun dengannya. Aku merasa memiliki kekuatan atas kepemilikanku akan Kinara. Membuatku merasa berkuasa dan bisa melakukan apapun padanya. Dan rasa itu sungguh tidak pernah hadir sebelumnya di hatiku. Tidak di saat hari-hariku terisi oleh Malia.
Aku ingin tertawa saat melihat ekspresinya mencicipi kopi pahit racikanku. Aku tadinya menduga ia akan memilih Latte ketika kutanyakan mana yang ia lebih suka. Jika ia ternyata menyenangi yang pahit, artinya aku akan punya teman ngopi yang sangat menarik di apartemenku sendiri. Tak perlu harus turun ke bawah hanya untuk mencari suasana kedai kopi yang asyik.
Kuberikan beberapa benda pada Kinara yang harus ia miliki sendiri agar bebas beraktivitas di lingkungan apartemen ini. Sebuah kartu akses untuk menentukan nomer lantai setiap ia menggunakan lift serta sebuah kunci utama untuk pintu depan unit kami. Aku sudah mempersiapkan gantungan kunci unik untuk duplikat yang akan kuberikan padanya, juga mengganti mainan kunciku agar berpasang dengannya. Sederhana saja. Aku memesan gantungan bertulisan KINKIN untuknya dan BIMBIM untukku, terinspirasi dari foto kecil kami yang dijepret mama dua puluh tahun lalu.
“Aku tak mau kita bertengkar hebat hanya karena urusan kunci apartemen,” ujarku yang disambut tawa renyahnya.
Kemudian kutanyakan nomor rekeningnya untuk memudahkanku mentransfer dana untuk berbelanja keperluan apapun saat aku tidak ada. Kinara masih terlihat segan saat membicarakan hal tersebut. Aku memahami ini, namun ia harus dipersiapkan untuk menjalani hari-harinya yang pasti akan banyak berbeda dengan yang bertahun dijalaninya di Jambi.
Aku mengingatkan agar tidak memesan air minum isi ulang, ataupun gas saat aku tidak di ada. Jika ia membeli barang secara daring, ia harus turun mengambilnya ke lantai dasar. Pasar tradisional berada tepat di seberang menara apartemen, namun aku tak menyarankannya ke sana karena supermarket menyediakan sayuran segar yang sangat lengkap walaupun dengan harga sedikit lebih mahal.
“Aku sudah menginstal beberapa aplikasi toko online di smartphone kamu. Dan juga telah mengisi saldonya.”
Seperti dugaanku, Kinara terlihat kaget. Kutunggu reaksinya seperti dulu, namun kali ini ia tidak marah walau wajah beningnya terlihat sedikit memerah. Mungkin ia teringat kejadian sebulan lalu saat kucuri pakai telepon genggamnya di awal pertemuan kami.
“Lain kali pilih pola kunci layar yang sedikit rumit, agar aku tak sempat mengintip,” ucapku menyambung canda.
Kegemaran baruku, mengamati ekspresi yang berubah-ubah dari perempuan cantik di hadapanku ini. Hanya saja sekarang Kinara jauh lebih mahir menguasai perasaannya untuk tidak ‘meledak’ seperti dulu. Mungkin karena statusku dan dirinya yang sudah menjadi suami istri.
Aku juga memberikannya kata kunci untuk jaringan Wi-Fi, mengajarinya mencari saluran di televisi, serta sedikit tutorial menggunakan pemutar DVD atas koleksi filmku yang tak terhitung.
“Mostly action and Sci-Fi. Jika ternyata kamu penggemar film horor, kita harus pinjam ke Enggar.”
Kutunjukkan beberapa pilihan padanya yang ikut duduk bersimpuh di samping rak televisi. Kinara terlihat antusias saat memilah beberapa judul yang mungkin belum pernah ia tonton.
“I am totally addicted to movie, besides coffee.”
Satu per satu minatku kuperkenalkan padanya dengan cara yang sederhana dan tidak terburu. Apapun yang berjalan perlahan kuyakin akan menjelma indah untuk mengimbangi pernikahan kami yang terkesan begitu cepat.
“Oh ya, ada beberapa genre romance juga yang menurutku menarik.” Kubuka laci satunya yang berisi koleksi film percintaan. Tadinya semua bercampur aduk, sengaja kupisah minggu lalu untuk menyambut kedatangan Kinara. Aku berpikir akan asyik jika semua itu bisa kutonton ulang bersamanya. Film cinta sederhana yang lebih banyak mengisyaratkan rasa lewat kata, akan lebih bermakna dibandingkan yang sarat dengan aktivitas fisik.
Salah besar jika beberapa orang beranggapan jika bersekolah ke luar negeri akan menjadikan gaya hidupku bebas, terlebih ketika berhubungan dengan wanita. Mungkin karena saat itu hatiku tertambat pada Malia, aku tak terpikir untuk mendekati gadis lain, terlebih yang berkebangsaan asing. Namun lebih tepatnya perkataan mama yang aku ingat benar sebelum keberangkatanku ke Perth. Mama berpesan agar aku tetap menjaga sholatku dan selalu berpegang pada ajaran agama di mana pun aku berada. Hal itu pula yang memaksaku untuk tetap bersikap sopan pada Malia, tidak pernah mencoba mencuri sebuah ciuman pun pada wajahnya yang menarik. Aku dan Mal hanya pernah berpelukan satu kali, di pertengahan musim dingin saat angin yang bercampur hujan es bertiup begitu kencang, dan aku melihatnya menggigil.
Cepat kualihkan perhatianku kembali pada Kinara dan jemari lentiknya yang masih sibuk memilah. Ia kembali merona saat melihat beberapa judul film. Bisa jadi salah satunya adalah favoritnya. Kubiarkan ia yang terlihat asyik, karena aku juga asyik mengamati setiap gerak-geriknya. Ia begitu sempurna, dan berkali-kali aku mengucap syukur dalam hati bahwa tidak ada lelaki lain yang sempat memikat hatinya sebelum kedatanganku. Ia menatapku lagi sambil tersenyum. Senyum yang kembali menghadirkan hasratku untuk melempar peruntunganku lagi kali ini.
“Kin,” ucapku, meletakkan tangan kananku di sisi wajahnya yang kini tertutup hijab. Kuputuskan tak meminta ijinnya, namun segera merapatkan bibirku padanya. Aroma kopi yang tersisa berpadu dalam hembusan nafasku dan nafasnya. Aku merasa sedikit tidak percaya diri, harusnya tadi pagi langsung kuselesaikan saja saat rasa peppermint masih bersarang di rongga mulutku. Kinara hanya diam tidak membalas, namun ia memberi kesempatan untukku menjelajah lebih dalam. Ciuman ini, membuatku berkali-kali memanggil kewarasanku agar jangan mengembara terlampau jauh. Saat tangan kiriku mulai ikut tergoda, aku menarik perlahan wajahku darinya.
“It’s a Coffee Kiss,” bisikku sambil mengendalikan deru nafas yang memburu dan mengusap sisa kecupan itu dari bibirnya. Lama ia terpejam, memberiku banyak waktu untuk memandangi dari dekat rautnya yang juga dipenuhi hasrat yang sama. Lalu saat ia membuka mata dan pandangan kami bertemu, perempuan itu langsung menunduk untuk menyembunyikan apa yang terpancar di wajahnya. Cepat kutahan dagu tirusnya agar ia tetap menatapku.
‘Thank you.” Kuucapkan itu sambil membelai sisi wajahnya.
Aku tahu ia begitu berdebar seperti derasnya detak jantungku. Ini yang pertama untukku, Kin. Kuyakin juga untukmu. Ciuman ini, meskipun bernuasa sedikit aroma kopi, akan tetap kuingat seumur hidup. Cinta yang begitu indah menantang kita untuk bereksplorasi bersama, dan pun kau telah halal untukku. Bersiaplah. There will be some other kisses I will present to you.
Just for you, my Lovely Kinara.