The Surrender Of Love

The Surrender Of Love
Episode 23 - Overdose



Dia lagi.


Sudah kali kelima setiap aku di sini, dia selalu ada. Lelaki dengan rambut lurus sedikit mencapai bahu yang dikenalkan Tiwi padaku sebagai Andika, desainer interior yang dengan sukses menyulap kelab malam jadul milik ayahnya menjadi semenarik saat ini. Sempat kuberbincang beberapa kali dengannya, bahkan sempat juga terpikirkan ingin mengajaknya menemaniku hadir di resepsi Bima minggu lalu. Namun kejadian malam itu membuatku merasa harus lebih menjaga jarak darinya, sebelum ia mengupas isi hatiku lebih jauh lagi.


"At least gue boleh tahu di mana rumah lo," ujarnya setelah satu jam ia duduk di sampingku dan memaksa meminta alamat tempatku tinggal.


"Lo udah punya nomor hape gue. Cukuplah," kilahku sembari menuang lagi isi botol bir ke dalam gelas.


Ia tetap bersikeras , "Paling nggak kalo kejadian lagi kayak kemarin, gue bisa anterin lo pulang."


Sengaja kutatap ia lama dan menghadiahinya senyuman sinis. "Lo bukan baby sitter gue, bukan bodyguard gue juga."


Andika balas tertawa sama sinisnya. Terus kupandangi ia saat meneguk minumannya. Lelaki aneh menurutku, memilih duduk di tempat seperti ini tapi aku tak pernah melihatnya memesan apapun selain air mineral dingin.


"Gue pengen kenal lo lebih jauh." Ia menyulut rokok dan menghembuskan asap ke samping.


"Gue nggak jalan sama cowok perokok," balasku cepat dan ia langsung terbahak tanpa menghiraukan beberapa pasang mata yang menatap heran ke arah kami.


"Kalo gitu gue berenti." Andika mematikan rokok yang sedang dihisapnya, dan mengambil sebatang lagi yang sedang terselip di jariku, menekannya hingga padam pada asbak di depannya.


"Lo juga," sambungnya. "Biar fair."


Menyebalkan sekali laki-laki ini. Jika Tiwi tidak sibuk memberi kode sedari tadi, mungkin sudah kutinggal saja ia sendirian di meja bar ini.


"Jangan ngilang sebelum gue selesai."


Andika beranjak meninggalkanku saat ada seorang teman memanggilnya untuk bergabung di meja lain. Aku hanya menggedikkan bahu menunjukkan ketidakpedulianku. Mengambil sebatang rokok lain dan menyulut kembali.


Aku ingat saat pertama kali Tiwi mengenalkannya, dengan dalih aku akan membutuhkan seorang desainer interior handal untuk mempersiapkan studio di Bali. Perbincangan seputar pekerjaan itu lambat laun merambat, dan aku mulai kurang nyaman dengan cara pendekatannya yang terlalu terus terang. Meskipun tak tersangkal, hatiku memuji penampilannya yang tidak biasa.


"Andika itu cowok baik-baik," tutur Tiwi saat kuutarakan lagi mengenai pendapatku tentang Andika. "Gue udah kenal dia dari SMP. Tampangnya doang yang kayak gitu."


Kubawa pandanganku pada Andika yang sedang berbagi tawa dengan serombongan lelaki di sudut sana. Rambutnya yang panjang mencapai bahu hari ini diikat ke belakang. Baju kaus lengan pendek yang dikenakannya menampilkan jelas deretan tato yang terukir garang di sana. Tampan, dengan caranya sendiri. Tapi yang ini jelas bukan tipeku.


"Buat lo aja, Wi," tuntasku agar tak banyak perdebatan lagi tentang lelaki itu.


Tawa nyaringnya segera terdengar. "Gue ini nggak sebanding sama dia. Lo tau 'kan maksud gue."


Kugelengkan kepala agar Tiwi melanjutkan penjelasannya. Meski kucoba menghindar, namun terbersit juga rasa penasaran akan pribadi lelaki itu.


"Lo sama dia nggak jauh beda.Gaya lo doang yang sangar." Tiwi mengambil sebatang rokok dari kotak milikku. Hanya menyelipkan di jemarinya tanpa menyulut.


"Gue yakin dia bisa jagain lo, Mal." Tiwi memandangku serius kali ini, menepuk bahuku dan beranjak menjauh.


Kupandangi perempuan cantik salah satu sahabat dekatku itu. Ia mulai berkeliling menyapa para pengunjung tetap kelab malam warisan ayahnya. Memeluk dan menempelkan pipinya pada satu per satu lelaki yang berpapasan dalam ruangan yang padat dan hinggar bingar ini.


Saat Tiwi menghilang dari pandangan, mataku mulai beredar tak berarah. Hingga tanpa kusadari tatapanku berakhir di meja tempat Andika duduk. Dadaku sedikit berdegup saat menyadari ia juga sedang memandang lurus ke arahku. Hanya memandang, tanpa tersenyum. Sebelum ia mendekat , segera kubenahi semua benda milikku di atas meja dan segera mencari jalan menuju pintu keluar.


Tidak. Aku belum siap untuk terlibat dengan lelaki manapun saat ini. Butuh ruang untuk menepikan perih hati setelah terkoyak dengan dasyatnya.


Andika, kurasa kamu harus menjauh agar tidak terjadi sesuatu yang salah di antara kita.


--------


Sudah hampir pukul tujuh pagi, namun lelaki ini dengan manjanya masih bergayut melingkari tubuhku, memelukku erat dari belakang sambil melekatkan wajahnya di antara helai-helai rambut. Tindakannya sungguh mengganggu gerak kedua tanganku yang sedang menyiapkan bekal untuk dibawanya berangkat bekerja. Meskipun sejak kemarin ia terus merengek padaku agar diperbolehkan libur.


Hari ini adalah ulang tahunnya, dan sejak awal kami sudah berdiskusi panjang mengenai perayaan hari lahir. Sejak kecil ayah tidak pernah membiasakanku merayakannya, karena sejatinya hari itu sama saja dengan hari-hari lainnya. Aku telah mengutarakannya kepada Bima dan ia berusaha memahami prinsip itu, meskipun sekarang masih dengan canda ia membujukku untuk sedikit mengistimewakan hari ini.


"Buruan mandi, it's almost seven." Kuurai tautan jemarinya yang melingkar di tubuhku, namun ia justru mengaitnya semakin erat.


"Badanku hangat, Kin," rengeknya seraya menempelkan dahi dan hidungnya di leherku, pastinya melanjutkan dengan ulah lainnya setelah itu. Ucapannya tak mampu membuatku menahan senyum. Ia persis seperti anak sekolah yang memohon untuk membolos karena pura-pura demam.


"Mana yang katanya hangat?" kuputar tubuh menghadapnya setelah menutup wadah bekal yang sudah selesai dipersiapkan, menempelkan tangan kananku di dahinya seakan sedang mengecek suhu tubuhnya.


"Kepalaku juga pusing," ia menyisihkan jemariku dan menumpukan dahinya di atas keningku. Tawaku tak tertahan, karena tak sedikitpun suhu panas menjalar dari sana. Bima langsung menghentikan sangkalan dariku dengan beberapa kecupan. Sesaat suasana berubah intim, namun segera kutarik wajahku menjauh agar situasi di sudut dapur ini tidak berpindah ke kamar tidur.


"If you don't feel good, we should see the doctor."


"Nggak butuh dokter," ia menarik tubuhku kembali merapat. "Aku cuma ingin hadiah ulang tahun."


Senyum kekanakannya kali ini langsung mengingatkanku pada lembaran foto masa kecil kami yang sekarang tersimpan apik di laci ruang tengah. Kurapikan helai-helai rambutnya sembari memikirkan cara untuk mengalihkan perhatiannya dari ide ulang tahun yang sejak minggu lalu kami perdebatkan.


"Bim, kita sudah membicarakan ini. Aku tidak pernah merayakan hari lahir," aku menjelaskan perlahan. "Aku mau nantinya keluarga kecil kita juga terbiasa dengan ini."


Ia masih memandangiku dengan senyuman usil. Kuyakin ia mengerti apa isi diskusi kami sebelum ini. Tentunya ia hanya ingin menggodaku seperti biasa.


"Baiklah," ujarnya kemudian. "Aku sepakat kita tidak merayakan hari lahir," Bima ganti memainkan rambutku kali ini. "Tapi boleh 'kan aku tetap minta hadiah?"


Bola matanya bergerak berpindah seakan merinci permukaan wajahku, dengan sengaja membawanya begitu dekat hingga hangat nafasnya terasa berhembus di pipi.


"Anything?" Bima mengulang potongan kata yang baru saja keluar dari bibirku.


Sesaat aku menyesali mengatakan itu tanpa berpikir ulang. Demi melihat senyumnya semakin mengembang, aku yakin di balik wajahnya yang menggemaskan itu ia sedang merencanakan sesuatu untuk membuatku tak berkutik.


"Yes," gumamku ragu, sembari berdoa dalam hati ia tidak akan meminta hal yang membuatku bersemu malu kali ini.


"Aku boleh pilih hadiahnya sekarang?"


"Actually, Bim ...." ucapanku terputus oleh gerakan tangannya yang berusaha melepaskan tali yang mengikat baju tidurku. Kutahan sebisa mungkin sambil separuh mendelik padanya.


"You said I can ask for anything." Ia mulai membandel.


"Yes, but ...," Aku masih berusaha untuk berkelit, namun gerak jemarinya yang tak bisa diatur membuatku gagal menguasai diriku sendiri. Ia sangat piawai memanduku masuk dalam permainannya.


"Take a shower with me," bisiknya lembut di telingaku. Pipinya yang kasar membawa rasa geli saat bersentuh, sekaligus menggoda pada saat bersamaan.


"Oh, please don't." Kucoba mendorong tubuhnya meskipun aku tahu usahaku hanya akan sia-sia. Bima malah semakin mempererat dekapannya.


"Keep your words, Kin."


"Itu tidak termasuk sebagai pilihan hadiah," protesku di sela-sela tawanya.


Aku tak menyangka akan berakhir seperti ini. Seakan terjebak dengan kata-kataku sendiri. Bima sudah berulang meminta sejak pertama kupasrahkan diriku untuknya. Ia hanya menunggu saatku lengah, dan tanpa sadar justru diriku sendiri yang membuka peluang itu.


Jelas sudah Bima menjadikanku mainan kesayangannya. Ia antusias mencoba apapun, walau terkadang harus kutolak secara halus. Aku tak mau ia terburu-buru dan menghabiskan semuanya dalam waktu singkat, untuk kemudian bosan padaku dan meninggalkanku.


Kusembunyikan wajah di balik kedua telapak tangan. Tak terbayangkan harus berada di kamar mandi berdua saja dengannya. Di pagi yang seterang ini, bahkan semuanya akan tampak jelas walau tanpa cahaya lampu. Apakah aku harus menutup mata sepanjang itu agar tidak harus merasa malu saat bertatapan dengannya?


"Mau jalan sendiri atau aku gendong kayak kemarin?" Kalimat itu memaksaku cepat-cepat melangkah mendahuluinya sebelum ia melanjutkan dengan tindakan yang lebih usil lagi.


Semakin aku terjebak dalam pesonanya, semakin muncul rasa takut itu. Aneh memang, seharusnya aku tak boleh punya pikiran sepicik itu. Ia telah mengungkapkan cintanya setulus hati. Namun bayangan wanita itu, kerap muncul di beberapa mimpiku, dan aku sangat takut bila nantinya Bima akan berpaling padanya.


Bim, jangan pernah jemu padaku. Biarkan aku yang memegang kunci hatimu, jangan berikan pada yang lain. Karena aku sangat takut kehilanganmu.


---------


Aku tahu ini gila. Duduk di sini, berharap ia datang dan aku bisa menuntaskan rinduku. Walau sebagian besar obrolanku dengannya hanya berakhir dengan perdebatan, namun aku justru menyukainya. Kagum dengan cara cerdasnya menghindariku, dan sungguh membuatku semakin tertantang untuk mendapatkan hatinya.


Ya, hatinya. Yang aku tahu sekarang sedang bersarang dalam jiwa seseorang yang namanya jelas ia sebutkan dalam keadaan separuh sadar seminggu lalu. Di bawah pengaruh minuman beralkohol yang sudah entah berapa teguk mengalir di kerongkongannya, ia mulai meracau akan perasaannya. Dan aku duduk di sampingnya sebagai pendengar setia. Jika tidak dalam keadaan mabuk kuyakin ia sudah mengusirku menjauh saat itu juga.


Aku lelaki normal, dan ia wanita cantik. Bodoh jika aku tak memanfaatkan situasi itu dengan membawanya ke suatu tempat dan menuntaskan hasratku padanya. Tak akan ada yang perduli, karena satu jam duduk di sampingnya, orang-orang akan mengira kami adalah sepasang kekasih. Namun rasa peduliku padanya mengalahkan hasrat terlarang itu, dan membuatku ingin melindunginya.


Ada yang berbeda saat bersamanya. Sejak awal mengenalnya, aku tahu ia akan berarti sesuatu bagi hidupku. Wanita yang kelihatan tegar di luar, namun rapuh di dalam. Menggelitik naluri lelakiku untuk melindunginya. Dan aku tahu tak akan mudah untuk menaklukkan hatinya yang sedang terkoyak akan cinta yang tak berbalas.


Aku telah berjanji pada diriku sendiri untuk membantunya keluar dari segala macam tekanan yang ia hadapi, walaupun tanpa persetujuannya. Aku hanya perlu membuatnya bertekuk lutut, agar perlahan ia bisa terlepas dari ketergantungan alkohol dan rokok yang akan membuat tubuhnya semakin rapuh. Ia cermin diriku yang dulu dan tak akan kubiarkan ia semakin terpuruk dalam luka hati yang membuat kecanduannya semakin parah.


Tak bosan sepasang mataku memandangi foto cantik dirinya yang kuambil saat ia mabuk dan meletakkan kepalanya di atas meja. Gila memang, bahkan ia tetap terlihat cantik dalam keadaan yang sangat buruk sekalipun. Atau memang aku yang sudah tergila-gila padanya sejak pertama melihatnya, sehingga tak lagi bisa berpikir dengan akal sehat bila itu menyangkut dirinya.


Perhatianku teralihkan pada sebuah suara yang berteriak agak keras menyerukan namaku. Kuedarkan pandangan, dan mendapati Tiwi sedang berusaha menerobos kerumunan padat para pengunjung yang sedang berhentak riang memadati kelab malam ini. Tatapan cemas di matanya membuat perasaanku tak menentu. Tak pernah kulihat yang seperti ini selama lebih sepuluh tahun mengenalnya.


"Dika, kita ke rumah sakit sekarang," ia menghampiriku dengan tergesa, menarik tanganku agar segera mengikutinya keluar.


"Kenapa?" ujarku tanpa basa basi.


"Lo akan segera tau."


Aku paling tidak suka bila seseorang merahasiakan sesuatu dariku. Kutahan lengan Tiwi dan membuatnya berhenti melangkah.


"Ada apa ini?" desakku sangat penasaran.


Tiwi menatapku cemas, dan suara serak menahan tangisan akhirnya terdengar dari bibirnya.


"Mal ...," ia berhenti untuk mengusir sedikit air mata yang menitik "She's overdose."


"Apa?"


"She's overdose, Dika!" teriak Tiwi dengan penuh emosi, "Sleeping pills ...."


Kurasakan dadaku berdebar sangat keras seketika itu juga. Apa yang kutakutkan sejak minggu lalu terjadi sudah. Firasatku sudah bicara sejak ia menelanjangi lubuk hatinya malam itu. Sayang ia tidak memberiku ruang untuk sekedar berbagi, agar aku bisa perlahan mengobati luka yang menganga di dalam sana.


Hati ini bergetar hebat. Berharap dapat mengirim sinyal ini padanya, agar ia tidak menyerah dan bersedia memberikan satu lagi kesempatan bagi jiwa dan raganya untuk bertahan. Semoga aku tidak terlambat. Kubisikkan sebuah doa di dalam hati agar Tuhan tidak mengambilnya terlalu cepat, dan aku masih punya kesempatan untuk bisa memiliki arti bagi hidupnya.


Apapun itu, ijinkan aku untuk membantumu, Mal. Dirimu terlalu berharga untuk menyerah hanya karena luka hati. Percayalah, biarkan aku yang hadir di sana, menggantikannya dan menutup lubang besar yang bersarang di relung jiwa.


Mal, janji padaku. Bertahanlah. Karena aku akan terus berada di sisimu.