The Surrender Of Love

The Surrender Of Love
Part 27 - Let Her Go



Harum aroma kopi yang menyebar di dalam kamar, menyambutku saat terjaga. Ketika mataku membuka sempurna, kudapati secangkir latte telah tersaji di atas nakas di samping ranjang. Sebuah tanda hati yang telah memendar terlukis di atas minuman itu. Seakan mengirimkan pesan permintaan maaf dari sang peracik.


Beberapa bagian tubuhku masih terasa sakit dan memerah. Ia menahanku terlampau keras saat aku berusaha memberi perlawanan. Hatiku ingin sekali menolak, namun segera timbul rasa takut bahwa tak sedikitpun hakku untuk menghindar jika ia telah meminta. Saat kucoba untuk pasrah dan mengikutinya, ternyata sensasi yang dihadirkan justru berkali lipat dari yang pernah kulalui sebelumnya. Benarkah seperti kata orang, pertengkaran akan menambah gairah untuk memadu cinta. Entahlah. Jika diminta memilih, aku lebih menyenangi dirinya yang lembut dan perayu.


Ia masuk menemuiku saat sedang kuseruput latte itu dari cangkirnya. Menatapku lembut sambil membelai bahuku yang terbuka. Sesekali ia mencium pucuk kepalaku, tanpa mengatakan apapun. Kucoba memandangnya. Ia sudah berganti menjadi seorang Bima dengan sorot mata teduh, bukan Bima si pemaksa yang sebelumnya menguasaiku di atas ranjang. Satu per satu karakter aslinya muncul, dan aku yang harus bijak bagaimana menyikapinya.


"Aku sudah menyiapkan air hangat di dalam bath tub," ujarnya sebelum kembali meninggalkanku. Ya, aku memang butuh melemaskan semua ketegangan. Berendam di air hangat sepertinya bisa menjadi pilihan. Aku ingin sejenak melupakan semua permasalahan ini dan mengosongkan pikiranku.


Bima telah menyiapkan bathrobe dan pakaian dalamku di kamar mandi. Bath tub juga telah terisi penuh. Kucelupkan siku untuk mengukur kadar panasnya. Cukup nyaman. Bima tidak mencampur bathfoam di dalamnya, hanya meneteskan sedikit aroma terapi yang kukira itu Lavender. Tanpa menunggu, segera kurendam sekujur tubuh dan merebahkan kepala di sandarannya.


Perlahan otot-otot tubuhku mulai melemas, begitu juga kericuhan dalam kepalaku mulai mereda. Walaupun sesekali kelebat pertengkaranku dengan Bima masih singgah dalam ingatan. Mungkin ini yang dinamakan romantika berumahtangga. Riak-riak kecil ini bisa menambah rasa cinta atau bahkan memperparah keadaan, terpulang ke masing-masing pasangan. Namun dari sikap yang ditunjukkan Bima padaku, jelas ia sedang menawarkan sebuah kata damai.


Suara pintu yang tiba-tiba terbuka mengejutkanku dan spontan mengubah posisi berbaringku. Bima masuk begitu saja tanpa mengetuk, menatapku sekilas sambil melepaskan kaus yang dikenakannya. Segera kurapatkan kaki ke arah dada seraya menyesali mengapa tidak mengunci saja pintunya atau mungkin menambahkan busa-busa sabun dalam air ini sehingga aku tak terpapar sempurna di hadapannya. Kututup mata karena rasa malu dengan lengan memeluk erat lututku. Dadaku berdebar saat mendengar langkahnya mendekat, yang kemudian berpadu dengan suara air yang tertumpah saat menampung berat badannya. Aku hanya bisa menahan napas. Seharusnya skenarionya tidak seperti ini.


"Relax, Kin."


Bima melepaskan perlahan tautan jemariku yang memeluk lutut, menarikku rapat dalam peluknya. Begitu lembut ia membuat kepalaku bersandar di dadanya, dengan kedua lengannya melingkari tubuhku. Hanya memeluk, tanpa menyentuh apapun, tanpa bicara apapun.


Sesekali ia mendaratkan kecupan pada ceruk leherku. Bukan dengan gairah, tapi lebih pada permintaan maaf. Ibu jarinya tak berhenti bergerak, mengusap bagian lenganku yang bersentuhan dengannya. Ia pasti sedang diliputi rasa bersalah. Padahal aku pun sudah memaafkannya, tanpa ia harus berbuat seperti ini. Hal tersulit justru untuk melupakan.


"Bagian mana yang masih sakit?" jemarinya menelurusi pergelangan tanganku yang terlihat memerah. Mungkin sebenarnya tidak separah itu, warna kulitku yang terlalu terang membuat bekasnya tetap tertinggal. Aku ingin menjawab, namun entah mengapa bibir ini masih enggan untuk berbincang. Biarlah seperti ini saja. Sikapku padanya sudah mewakili kata maafku.


"I'm so sorry," bisiknya lembut kali ini. "Would you please forgive me?" Ia kembali memelukku, sangat erat hingga membuatku terharu dan ikut menggenggam lengannya. Aku mengangguk berkali-kali saat ia terus mengulang kata-kata itu. Tak sanggup kutahan air mata yang kembali jatuh.


Lalu saat kucoba memandangnya, ia tanpa menunggu membubuhkan sebuah kecupan di bibirku. Kecupan tanpa nafsu dan rayu. Lama melekat seolah tak cukup anggukanku menjadi jawaban atas permohonan maafnya.


"Aku mandi lebih dulu," ucapnya saat melepas pagutan itu. Ia bangkit perlahan sambil menghidupkan keran untuk mengisi kembali separuh air yang telah tertumpah saat ia ikut berendam.


"Makan siang kita sudah aku pesan. Take your time with no hurry." Ia sempatkan mengecup sisi telingaku sebelum beranjak ke arah shower.


Ujung mataku sempat melihat ia menunduk saat air mengguyur tubuhnya. Lama ia berdiri pada posisi itu tanpa melakukan apapun. Aku tahu hatinya juga segalau isi kepalaku.


I don't know, Bim. Aku hanya ingin melupakan sejenak prahara ini. Menyingkirkan luka hati ini. Mencintaimu seperti dulu, tanpa takut rasamu padaku akan terbagi.


Karena aku sesungguhnya pun tak ingin berbagi.


----------


Aku butuh air dingin.


Salah besar jika awalnya aku mengira bisa menahan gejolak gairah jika berdekatan dengannya. Kecupan terakhir tadi tiba-tiba menggoda hasratku untuk melangkah lebih jauh. Cepat kuhalau dengan beranjak dan memilih berdiri di bawah guyuran air ini untuk menetralkan respon tubuhku. Biasanya aku cukup meminta. Namun kali ini situasinya tidak seperti biasa, dan hatinya masih terluka.


Sesungguhnya hatiku pun terluka. Saat ia membiarkanku begitu mudahnya untuk berbagi diri ini dengan wanita lain. Aku mengira ia akan memohon dan mempertahankanku. Ternyata tidak. Malah dengan tenangnya ia mengatakan tidak berkeberatan. Memancing prasangka dan emosiku bahwa mungkin ia tidak mencintaiku sebanyak itu. Padahal, aku sendiri kadang tak dapat memahami betapa besar rasa cinta yang kumiliki untuknya. Aku takut kehilangannya. Kehilangan seorang Kinara yang telah menjelma bagai bidadari dalam hidupku. Aku takut rasa cintanya berpaling pada yang lain dan lambat laun ia akan meninggalkanku.


Meskipun maaf itu telah berkali-kali kuungkapkan, belum kurasa yakin ia tulus menjawabnya. Mungkin benar ia memaafkan, tapi untuk melupakan? Bukankah ingatan wanita sangat tajam terutama untuk hal-hal yang menyangkut soal hati. Aku harus tuntas membicarakan ini dengannya agar tidak ada dinding pembatas yang menghalangiku darinya. Diamnya mampu mematikan seluruh logikaku untuk berpikir apapun.


Aku harus membawanya pergi hari ini. Hanya satu tempat yang sejak tadi terpikir, di mana kami berdua dapat bicara dari hati ke hati. Tanpa ada gangguan apapun, tanpa terusik apapun. Kupercepat membersihkan tubuhku dan segera mengeringkannya.


Saat aku hendak menghampiri, Kinara telah memasang rapat tirai penghalang pada sisi bath tub, seakan tak ingin terlihat. Kubiarkan ia menikmati sendirinya. Aku juga butuh waktu untuk menyiapkan perlengkapan kami untuk dibawa nanti.


Ikutlah denganku, Kin. Akan kubawa kau menghilang dari kerumitan hidup ini. Terkadang hati dan jiwa kita butuh istirahat sejenak dari segala permasalahan. Berharap saat pulang nanti, kita akan kembali seperti semula. Dengan cinta dan sayang seperti sedia kala.


--------


Ia telah mengemas semuanya, dan hanya memintaku duduk tenang di sebelahnya. Aku tak tertarik bertanya akan dibawa ke mana, dan ia pun tak berniat menjelaskan. Aku hanya perlu berpikir positif. Setidaknya meninggalkan sejenak dinding apartemen dengan pemandangan puluhan gedung tinggi di sekitarnya bisa membawa suasana baru pada hatiku yang tergores.


Tidak seperti biasanya. Ia tidak melekatkan gawainya pada phone holder untuk mengaktifkan aplikasi penunjuk jalan, tidak juga memasang ear-phone seperti kebiasaannya saat hendak menyetir. Tidak menghidupkan radio. Juga tidak bicara apapun denganku, hingga mobil yang membawa kami mengarah pada jalur tol luar kota.


Aku tak bisa memastikan berapa lama kami menempuh perjalanan, hingga Bima menepuk punggung tanganku, lalu mengusap lembut sisi wajahku untuk memaksaku terjaga. Aku lagi-lagi tertidur. Cepat kulepas sabuk pengaman dan hendak membawa turun beberapa tas yang tadi telah dipersiapkan Bima.


"Tinggalkan saja, nanti aku yang akan menurunkan semuanya." Bima telah berdiri di sisi pintu dan meraih jemariku untuk mengikutinya.


Kami telah tiba di lokasi perbukitan yang sepi. Hanya terlihat deretan kebun buah dan sayur serta sebuah rumah kayu dengan desain sederhana. Angin yang bertiup agak dingin membuat Bima membuka jaketnya dan memasangkan pada bahuku.


Seorang lelaki paruh baya tampak berjalan dari kejauhan menyambut kedatangan kami. Ia mengenakan pakaian layaknya seorang petani dengan topi caping yang lebar. Senyum hangatnya mengembang saat menjabat tangan Bima dan memeluknya erat. Terlihat kesan rindu karena lama tak berjumpa.


"Ini istrimu?" sapa si bapak tua dengan ramah.


Bima mengangguk dan memperkenalkanku. Mereka berbincang sebentar saling bertanya kabar. Sesekali tertawa lepas saat Bima bercerita tentang beberapa hal. Aku memanfaatkan waktu dengan melihat sekeliling. Udara segar khas pegunungan sedikit mampu mengusir resah dan gundah yang sebelumnya terasa.


"Masuklah. Mbok De pasti senang bila tahu kalian datang."


Sambutan yang sama hangatnya terpancar dari raut wajah pasangan hidup si bapak tua. Sang ibu segera menarik tanganku, mengajak duduk dan menyuguhkan segelas minuman hangat beraroma jahe untukku dan Bima. Saling berbalas dengan Bima, mereka terus membuatku tersipu dengan beberapa pujian akan parasku. Bima sengaja memanfaatkan situasi itu untuk mencairkan apa yang membeku sepanjang perjalanan menuju tempat ini.


"Pak De masih menyimpan perlengkapanku dulu?" Bima bertanya sambil menyeruput dari cangkirnya. Jawaban si bapak tua membuat senyumnya merekah.


"Mau dipakai sekarang?"


Bima mengangguk seraya mengikuti beliau ke arah belakang. Meninggalkanku berdua dengan perempuan yang dipanggil Mbok De olehnya. Aku sebenarnya ingin bertanya apa hubungan Bima dengan sepasang suami istri ini. Namun sebaiknya aku tunggu saja hingga ia yang menjelaskan sendiri.


"Non sudah lama menikah dengan Mas Bima?" tanya si ibu tua sambil menyuguhkan sepiring cemilan yang dibungkus daun.


"Belum sampai enam bulan, Mbok."


"Masih manten baru." Tawa beliau berderai dengan hangatnya.


"Mbok sudah lama tinggal di sini?" aku mencoba berbincang ringan sekedar melepas canggung.


"Sudah lebih lima belas tahun." Beliau memandang ke atas seolah mengingat masa lampau. "Sejak berhenti bekerja, Pak De mulai berladang di sini."


Lalu obrolan pun mengalir seputar kehidupan pedesaan. Beliau tak lupa mengajakku berkeliling memetik beberapa tanaman sayur miliknya. Aku tak melihat ke arah mana Bima dan si bapak tua pergi. Biarlah begitu. Saat ini kumanjakan saja mataku melihat beragam tumbuhan hijau yang berderet rapi di sepanjang perbukitan.


Bima menghampiri setelah aku lelah berkeliling. Ia tersenyum lebar saat melihat keranjangku penuh dengan aneka sayuran yang aku petik sendiri.


"Kalian menginap kan? Mau Mbok De masakin apa untuk makan malam?"


Bima melirikku meminta pendapat, tapi aku memang sedang tidak punya keinginan untuk mencicipi menu spesial apapun saat ini.


"Mbok De masak apa aja pasti kami habiskan." Bima berkelakar. Wanita tua itu kemudian meninggalkanku berdua saja dengan Bima di teras rumah.


Ia lalu menuntunku berjalan di sisinya sambil bercerita. Bima menjelaskan bahwa lelaki tua itu dulunya adalah seorang supir yang diputuskan kontrak kerjanya dari perusahaan tempat ayahnya mengabdi. Lahan luas ini sejatinya adalah milik ayah Bima yang sengaja diserahkan pada sepasang suami istri tersebut agar dikelola. Sudah setahun belakangan Bima hampir tak punya waktu untuk mengunjungi mereka. Terlebih sejak kesibukan di studio semakin bertambah kian hari.


Sebuah tenda berwarna biru laut terlihat mencolok dari kejauhan. Dari arah langkah kami, memang kesanalah jalur yang dituju. Bima mengajakku duduk di bawah sebuah pohon rindang saat kami tiba.


"Di sini rumah kita malam ini," ujar Bima sambil menunjuk ke arah tenda. "Kamu tidak keberatan kan? Aku hanya ingin membawamu jauh dari hiruk pikuk kota."


Aku tertegun sejenak. Bukannya aku tidak mau, namun tidur di alam terbuka seperti ini adalah pengalaman pertama bagiku. Jangan sampai nantinya aku malah menyusahkan karena harus terjaga semalaman.


Menyadari rasa khawatirku, Bima meraih jemariku dan menggenggamnya. "Takut?"


Kuanggukan kepala perlahan. "Takut gelap dan binatang liar," jawabku apa adanya. Bima tertawa sesaat lalu menatapku lama.


"Jangan takut. Ada aku."


Ya, ada Bima. Aku tak perlu takut ataupun khawatir. Ia telah menjadi tempat bersandar yang menenangkan bagiku beberapa bulan ini. Aku hanya takut akan satu hal, saat hatinya mulai berubah haluan dan jangkar itu tidak lagi tertambat pada hatiku.


Aku takut jika ia mencintai yang lain selain diriku.


--------


"Ponsel dan kameramu tertinggal?" ia bertanya ingin tahu.


Memang kali ini tidak seperti biasanya, kami bepergian tanpa kamera, dan mungkin sejak tadi ia memperhatikan mengapa aku tidak sedetik pun memegang gawai saat bersamanya.


"Sengaja aku tinggalkan di rumah Pak De," sahutku sembari menambah kayu pada api unggun kecil yang menyala di depan tenda kami.


"Bagaimana jika ada yang menghubungi?" Kinara masih bertanya sambil tangannya menyusun kembali rantang kaleng sisa makan malam yang Mbok De antar sebelum matahari terbenam.


"Di sini tidak ada sinyal," ujarku mengurai tawa. "Tidak ada yang akan mengganggu kita."


Kinara meraih ponselnya sendiri dari saku gamisnya untuk memastikan bahwa memang tidak ada jaringan yang tersedia di bukit ini.


"Kamu tidak ingin memotret apapun?" ia seperti ingin memastikan lagi bahwa waktu yang kami habiskan kali ini murni hanya untuk menikmati alam.


"Masih banyak waktu lain, Kin." Kuhampiri ia dan duduk di sisinya. "Malam ini aku hanya ingin berdua denganmu."


Kinara terlihat canggung dan memberi jarak. Lagi-lagi aku merasakan bahwa diriku belum sepenuhnya dimaafkan dan dinding pemisah itu masih jelas terasa. Matanya memandang lurus ke arah api, dengan tatapan kosong seolah sedang terbebani akan sesuatu yang rumit.


"Kamu masih marah padaku."


Ia menoleh saat mendengar gumamku itu. Sengaja aku tak menatapnya agar ia punya waktu untuk menjawab jujur isi hatinya. Namun Kinara hanya diam tak menjawab. Membuatku semakin penasaran untuk mengutarakan tanda tanya yang sejak kemarin bersarang di kepalaku.


"Why did you let me to marry her?" Kuabaikan reaksi wajahnya yang sedikit terkejut saat pertanyaan itu aku ungkapkan. Aku bukan berniat untuk mengingatkan kembali akan luka hatinya. Lebih baik tuntas malam ini dibandingkan terus mengambang berhari-hari.


Ia diam sejenak. Menarik nafas panjang, sebelum akhirnya bibir itu mulai bicara.


"You loved her so much," ucapnya pelan. "And she loves you now."


"Kin ...." Kucari jemarinya kali ini.


"I can't stand between you both." Isaknya mulai terdengar.


Kinara menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan sambil terus menyembunyikan tangisannya agar tidak meledak. Aku sungguh tidak tega melihatnya seperti ini.


"Kamu seharusnya menunggu, dan tak terburu-buru menikahiku." Ia menatapku dengan air mata yang satu persatu menetes di sisi wajahnya.


Perlahan aku mulai menyadari kesalahpahaman ini. Kinara mengartikan kepedulianku akan Mal sebagai sebuah cinta yang masih tertinggal. Padahal seluruhnya telah ia rebut di hari pertama mata indahnya bertemu dengan pandanganku.


"Menurutmu begitu?" Kubalas dengan menatapnya tanpa terlepas. "Do you think I still love her?"


"Don't you?" ia balik bertanya atau mungkin menegaskan.


"You're wrong, Kin." Kulepas jemarinya. "I've turned to you since the day I saw you."


"Bim ...."


"I love you, Kin. Can't you just feel it?" suaraku mulai meninggi.


Mengapa begitu sulit meyakinkannya bahwa hanya ia seorang yang saat ini menjadi pusat duniaku, sekarang dan selamanya. Kinara mendekat dan melekatkan telapak tangannya di pipiku, ikut merasakan emosiku. Ingin rasanya aku ikut menangis bersamamu, Kin. Agar kau pun mengerti betapa luka ini juga menggoresku sama dalamnya.


Biarlah kutelanjangi perasaanku sendiri di depannya. Tidak ada yang perlu ditutupi lagi. Aku tak perduli ia akan menganggapku apa atas kejujuranku ini. Semua ego dan keangkuhan diri kulepaskan agar ia dapat memahami diriku seutuhnya.


Kuciumi jemarinya berulang kali agar ia tahu betapa aku sungguh mencintainya. Kinara membawa wajahnya mendekat hingga dahi kami saling bersentuhan. Untuk sesaat kurasakan hanya isaknya dan deru nafasku yang terdengar di antara suara semilir angin yang menyentuh pepohonan.


"I love you so much." Kuutarakan sekali lagi untuk lebih meyakinkannya, berusaha menatap langsung ke matanya dengan jarak sedekat ini.


"Then let her go." Kinara berbisik. "Every little piece of her."


Tatapannya menuntut kesungguhanku. Kinara telah menyadarkanku bahwa sikapku selama ini salah terhadap Mal. Aku telah memutuskan menyerahkan cintaku pada Kinara, seharusnya aku pun bisa melepas Mal tanpa alasan apapun. Kinara tidak salah jika ia keliru mengartikan perasaanku, aku yang sebenarnya tidak tegas atas rasaku padanya. Aku menuntut kepastian, namun melupakan ia yang juga butuh penegasan bahwa tidak ada cinta lain yang hadir diantara kami berdua.


"Istirahatlah, Kin." Kubelai sisi wajahnya. "Kamu sudah terlalu banyak menangis sejak kemarin."


Kulonggarkan pelukku untuk memberinya ruang, namun Kinara justru menahanku tetap di dekatnya.


"Don't you want to make love to me? Under the stars like this?" Ia lanjut berbisik.


Naluri lelakiku mulai tergelitik. Ajakan bercinta barusan, Apa aku tidak salah dengar? Benarkah Kinara yang mengatakannya? Apakah itu artinya ia pun telah sepenuhnya memaafkanku?


"Maybe we can start with a kiss." Kinara tersenyum sambil mengerling padaku.


Ini kesempatan langka. Tidak setiap hari kudapatkan tawaran menggoda seperti ini. Kuputuskan untuk mencari lembut bibirnya dan mengecupnya lama. Kinara membalas, melampiaskan semua emosi di dadanya dengan menyambut pagutanku. Sejenak kami larut hanya dalam kecupan, tanpa melakukan yang lain. Melepas satu per satu semua gundah yang bertumpuk dan mengganjal selama ini.


I promise you, Kin. Di bawah milyaran bintang yang bertaburan, aku berjanji. Mulai saat ini, kupasrahkan cintaku hanya untukmu. Jangan pernah meragu lagi, jangan pernah bertanya lagi.


Because I'm yours, from now on and forever.