The Surrender Of Love

The Surrender Of Love
Part 29 - Jealousy



"Tak apa, kalian berdua berangkatlah."


Mentari menatapku dan Kinara bergantian. Sudah hampir seminggu adik bungsuku itu mengungsi ke rumah mama, berjaga-jaga andai tiba-tiba saja si jabang bayi mendesak untuk keluar di waktu yang tak terduga. Fariz, suaminya, sudah empat hari terakhir ditugaskan ke Kalimantan. Hari ini sudah lewat dua puluh empat jam sejak tanggal yang diperkirakan, dan belum ada tanda-tanda sedikit pun yang menunjukkan bayinya akan lahir, meskipun kondisi janin dan ibunya sama-sama sehat.


"Ada Pak Karya yang selalu stand by andaikan Kak Fariz belum kembali." Kali ini pandangannya beralih pada Kinara. "Berangkatlah, biar segera menyusulku membuncit seperti ini." Mentari mengatakan itu seolah bisa membaca maksudku hendak mengajak Kinara berbulan madu.


"Kan ada si Mbok juga yang akan menjaga Mentari," sambung Mbok Yun menimpali dari tempat duduknya.


"Sebenarnya aku belum pesan tiket," gumamku ragu. "Menunggu kepastian dari kalian."


"Berangkatlah," desak Mentari lagi sambil tersenyum. "I'll be okay," kali ini ia mengangguk untuk memastikan pada Kinara yang masih meletakkan jemarinya di perut Mentari.


"Baiklah," putusku. "Apa yang bisa aku bantu sebelum kami ke Jambi?"


"Semua sudah dipersiapkan. Tinggal meluncur ke rumah sakit bila saatnya tiba," kali ini mama yang menjawab. Beliau terlihat sungguh antusias menyambut kelahiran bayi kecil Mentari.


"Ada, Mas. Aku mau minta bantuanmu," ujar Mentari tiba-tiba. "Boleh tolong hubungi Mal? Aku ingin ia memotret semua prosesnya hingga bayiku lahir."


Mal. Mengapa harus terucap lagi nama itu hari ini di depan Kinara. Kulihat raut mukanya spontan berubah. Mentari tidak salah. Ia tak tahu menahu tentang apa yang terjadi antara aku, Kinara, dan Malia. Aku harus bersikap sangat bijaksana. Jangan sampai hal ini malah membuat hubunganku dan Kinara kembali merenggang dan menggagalkan program yang sudah kupersiapkan dengan matang.


"Nanti aku minta Enggar untuk mengontaknya," dalihku cepat. "Atau jika ia berhalangan, akan kucari fotografer perempuan lain."


"Jangan yang lain, Mas," Mentari malah menolak. "Aku sudah nyaman dengan Mal."


Tari, please. Stop saying that name. Kinara malah sudah menunduk untuk menyembunyikan rasa tidak senangnya. Sebaiknya aku mencari cara untuk mengalihkan pembicaraan ini.


"Dan jangan nunggu Enggar, nanti dia lupa," rengek Mentari lagi. "Telepon saja sekarang."


Menelepon Mal di depan Kinara? Atau mengabaikan saja permintaan Mentari? Damn, what am I supposed to do with this?


---------


Mal lagi.


Seakrab itukah ia dengan keluarga ini, hingga Mentari pun bahkan memilih Mal. Atau mungkin kuminta saja Bima menunda keberangkatan kami, agar Mentari tak harus memakai jasa Mal untuk mengabadikan momen kelahiran bayinya?


Kulihat Bima menekan beberapa kali pada layar telepon genggamnya, dan sesaat kemudian terdengar nada memanggil dari pengeras suara yang sepertinya sengaja ia nyalakan. Bima meletakkan gawainya hampir mencapai tengah meja, seolah memberi kesempatan pada Mentari untuk ikut berbincang dengan orang yang dituju. Cukup jelas bagiku untuk membaca nama yang tertera di layarnya, dan saat mataku beralih menatap Bima, ia sedang memandangiku tanpa terlepas.


Panggilan itu berakhir tanpa jawaban. Bima mencoba untuk mengulangnya walaupun dengan hasil yang sama. Aku bersyukur Malia tidak mengangkat. Karena pasti aku tak akan mampu menyembunyikan galau itu bila melihat Bima berinteraksi dengannya seperti dulu.


"Kamu telepon sendiri saja ya," Bima meraih ponsel itu, menekuninya beberapa saat sebelum meletakkannya kembali. "Sudah aku kirimkan nomornya ke handphone-mu."


Mentari mengangguk sambil memandangi layar smartphone-nya. "Aku akan kabari Mas Bim perkembangan selanjutnya."


Selesai berpamitan pada seisi rumah, Bima mengajakku pulang. Sebelum kami beranjak, Mentari sempat menitip pesan untuk dibawakan beberapa makanan yang ia sukai saat dulu berkunjung ke Jambi. Aku berusaha menganggapi seceria mungkin walau separuh dadaku masih perih karena cemburu.


Bima sepertinya memahami perubahan suasana hatiku. Ia tak berbincang apapun selama perjalanan pulang dan membiarkanku menatap kemacetan tanpa mengusik sama sekali. Bisa kurasakan beberapa kali ia mencoba memandang ke arahku, tapi entah mengapa mata ini seperti enggan membalas tatapannya. Hingga akhirnya kurasakan tangan kirinya menyeberang untuk menggenggam jemariku.


Mengapa perih ini masih saja membekas saat mendengar nama itu? Aku benci rasa ini. Aku benci harus berprasangka apapun tentang Mal. Bima telah berkali-kali meyakinkanku, dan aku percaya ia telah melepaskan semuanya.


Menjauhlah, Mal. Berhentilah menghantui rasaku akan Bima. Aku ingin ia hanya milikku, selamanya hanya milikku.


----------


"Masih ngambek?" kuusap lembut pipinya saat menjelang tidur ia menyerah dalam pelukku. Sudah terpatri di luar kepala urutan sikapnya saat merajuk. Kinara biasanya akan diam sepanjang waktu, namun justru berubah manja saat kami hendak beranjak tidur. Ia menyembunyikan wajahnya di ceruk leherku pertanda masih membekas sisa kesalnya padaku.


Gelengan kepalanya membuatku sedikit lega. Aku paling benci jika harus terlelap dengan ganjalan yang belum terselesaikan antara perasaanku dan hatinya. Baiknya dituntaskan hingga tak harus berlarut hingga esok hari.


"Beneran udah nggak ngambek lagi?" ulangku, namun hanya dijawab dengan anggukan tanpa suara. Tak dapat kutahan senyum melihat sikapnya yang kadang kekanakan. Bukankah disini letak seninya suatu hubungan, hanya perlu salah satunya bergantian bersikap dewasa mengimbangi yang lain.


Kubelai pelan rambutnya yang tergerai, membiarkannya diam sesaat. Dalam situasi serba salah seperti ini, aku harus lihai memilih langkah. Jika salah menebak, bisa jadi malam ini akan berakhir semakin dingin.


"Mengapa harus menelepon Mal lagi?" akhirnya suara itu terdengar juga, matanya menatap sendu seolah menyayangkan sikapku siang tadi di rumah mama.


"Aku hanya ingin menyenangkan Mentari," jelasku. "Aku juga melakukannya di depan kalian semua."


Kinara menggigit bibir, kebiasannya yang aku hapal. Artinya masih banyak isi kepalanya yang siap ditumpahkan, namun ia sungkan menanyakan. Bila sudah begini, harus aku yang lebih dulu memulai mengurai isi hatinya.


"Jangan cemburu," bisikku. "Aku sengaja menelepon karena tahu Mal pasti tak akan mengangkat." Kutarik nafas sebentar sebelum menerangkan lebih jauh padanya.


"How could you be so sure?"


"Dulu aku juga tidak bertemu Mal di rumah sakit. Ia menolak menjumpaiku."


Kinara menyipitkan mata tanda kurang yakin atas ucapanku. "Bukankah ketika itu Mal mengatakan ia juga mencintaimu?"


"Aku tidak bilang begitu," sengaja aku berkelit agar Kinara semakin penasaran.


"Maksudnya?" ia mengangkat posisi tubuh agar wajahnya sejajar denganku.


"Suatu malam, Mal yang saat itu dalam kondisi mabuk, meracau tentang perasaannya saat Enggar menjemputnya paksa di sebuah kelab malam. Enggar menceritakannya saat aku dalam kebingungan mengapa Mal tidak mau aku jenguk. Akhirnya aku paham mengapa ia selalu menghindar. Sebenarnya ia sendiri pun sedang menghalau perasaannya."


Kinara membawa pandangannya menjauh. Sedikit demi sedikit ia terlihat berusaha mencerna situasi yang aku jabarkan. Sepertinya aman jika aku putuskan untuk melanjutkan.


"Aku kenal Malia. Ia bukanlah jenis perempuan yang akan mengusik hubungan orang lain. Ia hanya salah pilih langkah untuk berdamai dengan hatinya. Seharusnya tidak dengan menyakiti diri sendiri seperti itu."


Aku bahkan bisa merasakan kepedihan saat menjelaskan perihal ini pada Kinara. Andai ada jalan untuk menyelamatkan Mal dari keterpurukan, andai ia bisa lebih mendekatkan diri pada Sang penggores takdir, pasti ia tak perlu sehancur itu.


"Mengapa kamu baru mengatakannya sekarang?" ucapannya terdengar bernada protes.


Ia tertegun sesaat. Mungkin berusaha mengingat kejadian yang sempat menimbulkan kesalahpahaman diantara kami. Aku tak akan pernah bisa melupakannya. Kuyakin di juga.


"Dan kita kemudian bertengkar," gumam Kinara sambil menerawang jauh.


"Dan diakhiri dengan bercinta," bisikku seraya memangkas jarak ke wajahnya. Kinara tersenyum malu memandangku. Kelebat percintaan ketika itu pasti juga sedang merasuki ingatannya. Namun sejujurnya, sehebat apapun rasa yang dihadirkan, aku tak ingin melakukannya lagi ketika dalam perdebatan seperti kemarin dulu.


"Maafkan aku yang selalu curiga padamu, Bim," Kinara membelai sisi wajahku dengan raut wajah penuh permohonan maaf. "Aku tak mampu menekan rasa cemburu."


"Tandanya kamu mencintaiku," tegasku dengan nada lembut.


"Tandanya aku mencintaimu," ulangnya, membiarkan sebuah senyum menghiasi bibir indahnya.


Sesaat cuma hening yang hadir mengisi diantara dua pasang mata yang saling menatap. Bola matanya bergerak pelan merinci wajahku. Bahkan seorang laki-laki sepertiku pun bisa berubah menjadi pemalu saat dipandangi wanita cantik sedekat ini. Getar dan debar berlomba hinggap bahkan hanya dengan melihat rona merah jambu yang terlihat samar di pipinya diantara redup lampu tidur.


"Jadi ...," kucoba melempar canda untuk memecah sunyi yang kian membius. "Apakah aku dapat jatah malam ini?"


Kinara langsung melepas dekapku, berusaha menggodaku dengan membungkus tubuhnya rapat dengan selimut. Bergegas kuikuti bergelung dan meraih pinggangnya kian erat.


"Menurut referensi yang aku baca, kamu harus 'puasa' beberapa hari supaya hasilnya berkualitas ketika kita berbulan madu nanti," ujarnya saat berbalik menghadapku.


"Seriously?" ucapku seakan tak percaya.


Ia mengangguk berkali-kali sambil tersenyum. Kupasang raut muka separuh kecewa untuk memancing tawanya. Ia sedang mengajakku bercanda, mungkin boleh juga kutanggapi dengan balas mencandainya.


"Baiklah," ujarku. "Kita tidur sekarang. Besok pagi kamu juga harus packing buat terbang ke Jambi." Kububuhkan sebuah kecupan di dahinya, meraih jemarinya untuk mengecupnya pula.


"Good night, Dear. Sweet dream," kuucapkan itu sebelum menutup mata dan mulai bersiap tidur. Tentu saja semuanya hanya pura-pura. Aku ingin melihat tanggapannya kali ini. Entah mengapa terasa lebih menantang jika ia yang meminta, seperti dulu saat kami menyepi dan bermalam di alam lepas.


Satu menit berlalu tanpa ada reaksi apapun. Sepertinya aku memang harus bersiap kecewa. Kuanggap ini sebagai cara halusnya untuk menolak karena mungkin ia terlalu lelah hari ini. Kubuka mata sebentar, ternyata Kinara malah masih memandangiku dengan senyum simpulnya.


"Kenapa matanya dibuka lagi?" ujarnya dengan tawa berderai.


"Siapa tahu bisa mengajukan banding untuk permintaan lain?" pancingku.


"Misalnya?"


Sengaja kusentuh bibirnya dengan jari telunjuk. "A good night kiss, maybe?"


"One kiss?" Ia mencoba mengajukan kesepakatan.


"One kiss," sambutku, berharap kemudian bisa mengambil sebuah celah dari titik awal ini.


Satu ciuman berakhir dengan suara nafasnya yang masih menderu. Aku lalu membiarkan, mencari tahu siapa diantara aku dan Kinara yang dapat menahan gairah ini lebih lama. Sepuluh detik kemudian aku harus mengaku kalah, kembali memagut manis bibirnya dan tak memberinya kesempatan untuk lepas dari dekapanku. Kinara menyambut, lebih hangat dari sebelumnya. Bahkan ia sendiri sudah melupakan kesepakatan yang terlontar dari bibirnya barusan.


Saat jemari lentiknya muai bermain di pangkal leherku, aku tahu tak harus meminta ijinnya untuk menjelajah lebih lanjut. Terkadang aku ingin memuji sendiri kemampuanku untuk merayunya, namun tiba-tiba terbersit cemburu saat membayangkan andai ada lelaki lain yang bisa membuatnya jatuh cinta sehebat ini. Sekelebat pikiran buruk itu membuat dekapku di tubuhnya kian erat, menambah desakanku untuk menciumnya lebih dalam. Seolah aku ingin menguasainya hingga tak ada kesempatan baginya untuk melepaskan diri. Kinara sepertinya merasakan perubahan itu, ia menarik diri dari hangatnya cumbuanku dan memandangku demikian lekat.


"What's wrong?" ujarnya meminta penjelasan. Aku cepat menggeleng dan membelai wajahnya.


"You are mine," bisikku perlahan di sela-sela hembusan napas.


"I am," ia memberikan jawaban masih dengan tatapan bingung.


"Jangan jatuh cinta pada yang lain," entah mengapa tiba-tiba kalimat itu terlontar begitu saja saat menatap manik matanya.


"Aku belum pernah jatuh cinta pada siapapun," ucapnya malu-malu. "Cuma sama kamu."


"Betulah?"


"Apakah naksir bisa dihitung jatuh cinta?" ia malah balik bertanya.


"Jangan ceritakan," potongku cepat. Aku belum tentu sanggup mendengar penggalan kisahnya dulu sebelum bertemu lagi denganku. Sejauh ini saja sudah membuat darahku mendidih karena cemburu. Kinara tertawa mendengar celetukanku yang bernada emosi.


"Ternyata kamu juga pencemburu sepertiku," gelaknya terdengar lepas menertawai. Kinara meraih jemariku dan meletakkan di bawah pipinya. "Tapi tak apa, aku suka kamu yang seperti ini."


"Siapapun yang pernah mengisi hatimu sebelum aku, jangan pernah ceritakan. Aku tak akan pernah bisa membayangkan ada cinta yang lain pernah bersemi di sini," ucapku sambil meletakkan telapak tanganku di dadanya. Kinara menyambutnya dalam genggaman.


"Kalau begitu, jangan pernah bertanya." Kinara memandangku lekat. "Hal yang paling kusesali adalah bertanya mengenai Mal padamu, sehingga akhirnya bayangannya terus menghantuiku hingga kini. Semua itu membuat rasa curigaku semakin tumbuh, dan mulai meragukan cintamu."


"Aku hanya berusaha jujur mengenai apapun, tak kusangka justru hal itu menyakiti hatimu," aku berusaha menghiburnya.


"Kamu tidak salah, Bim. Aku yang terlalu berlebihan. Semua masa lalumu tidak berhak kucampuri bila hal itu tidak mengganggu hubungan kita," Kinara menghela napas sejenak. "Aku yang tidak dewasa menyikapinya. Aku minta maaf."


Kata-kata yang terlontar dari bibir Kinara sungguh sangat bijak. Tak kusangka ia berbesar hati menerimaku apa adanya dengan semua masa laluku. Mungkin jika aku berada di posisinya, hatiku pun tak akan setegar itu.


"Thank you, Dear," bisikku padanya. "Memahami adalah hal yang paling sulit dalam pernikahan. Terima kasih sudah bersedia mengerti aku dan ceritaku dulu."


"You are welcome, Honey. Aku juga senang kita berbincang seperti ini."


Kinara merapatkan wajahnya dan menciumku perlahan. Ciuman dengan pesan kasih sayang tanpa luapan gairah. Kupeluk tubuhnya erat seolah takut kehilangannya. Malam ini, apapun yang selama ini bergelung kusut diantara dua hati, telah terurai dan terlipat rapi.


Aku tak lagi berniat menagih jatahku. Melihatnya terlelap dalam dekapan seperti ini saja sudah lebih dari cukup. Dia Kinaraku, yang ternyata malam ini telah menjelma semakin dewasa. Bagaimana pun juga, sesempurna apapun Kinara di mataku, tetaplah seumpama tulang rusuk yang melengkung. Adalah tugasku untuk meluruskannya tanpa mematahkannya.


Kin, aku hanya perlu menuntunmu dengan lemah lembut, agar perlahan hati dan jiwa kita menyatu tak berbatas. Rasa yang semakin hari membuatku yakin telah memilihmu sebagai pendampingku dan kelak menjadi ibu dari anak-anak kita.


Thank you for everything, Kin. And thank you for being mine.


---------- Bersambung ----------