The Surrender Of Love

The Surrender Of Love
Episode 6 - I Think I Love You



Aku tiba di studio sepuluh menit lebih lambat dari jadwal briefing pagi kami. Enggar yang memimpin kali ini. Dengan bersemangat ia menyampaikan bahwa Pandana menyetujui konsep permotretan iklan yang kami tawarkan, dan proses pengambilan gambar akan dimulai hari Kamis. Enggar meminta seluruh tim agar mempersiapkan apa-apa saja yang dibutuhkan pada saat di lapangan nantinya. Pandana adalah produsen salah satu minuman instan besar dengan beberapa varian produk. Jika klien puas dengan hasil kerja tim kami, akan sangat membantu untuk referensi kerja selanjutnya.


"Lu ngilang nggak pake bilang ke gue, Bim," sungut Enggar saat kumampiri mejanya. "Untung gue nggak demam panggung pas presentasi," lanjutnya sambil menggaruk topinya. Gaya khas Enggar saat sedang gugup atau kesal selalu seperti itu.


"Sorry, Bro," ucapku dengan cengiran permohonan maaf. "Mendadak juga."


Kuserahkan pada Enggar tas kertas berisi kemeja batik yang kubeli di Sanggar Batik Jambi kemarin pagi. "Oleh-oleh buat elu."


Enggar membuka isi bungkusan dan tersenyum sumringah. "Tumben lu pinter milihin baju buat gue," ujarnya sambil berdiri mengepas kemeja batik itu di badannya. "Gita pasti ngiri, harusnya lu beliin buat dia juga."


Kali ini aku yang menggaruk kepala. Aku lupa membelikan kain batik untuk Gita. Wanita pasangan hidup Enggar itu sudah seperti saudara sendiri. Apa-apa yang aku belikan untuk Enggar, pastilah harus ada porsi untuk Gita. Akhir-akhir ini aku lebih sering memberi hadiah untuk Khalista saja, putri mereka yang berumur satu tahun. Jika untuk Khalista, mereka berdua tak punya celah untuk protes.


"By the way, lu ngapain sih pake pergi ke Jambi segala?" Enggar melipat kembali kemeja batiknya dan memasukkan ke dalam tas kertas.


"Gue nemenin mama." Singkat saja kujawab agar tidak banyak pertanyaan apapun lagi. Aku masih bingung harus memberitahunya atau tidak. Walaupun percuma saja menyembunyikan apapun darinya. Bukan Enggar namanya jika tak bisa mengorek informasi sedalam-dalamnya.


"Ngapain juga nyokap lu ke sono?" Enggar masih penasaran. Kubuka salah satu foto di galeri ponsel dan menunjukkan padanya.


"Buat ketemu dia," ujarku disambut tatapan Enggar yang tak berkedip pada foto itu.


"Cakep," komentarnya dengan nada jahil. "Siapanya nyokap lu?"


Aku menarik napas sejenak sebelum menjawab. "Mama ngejodohin gue sama dia."


Kuceritakan sedikit mengenai Kinara pada Enggar, tentang siapa dia, dan bahwa sebenarnya dulu kami adalah sepasang sahabat di masa kecil. Enggar menatapku lama. Kali ini dengan sorot mata serius.


"How about Mal, Bim?" Enggar bertanya persis seperti dugaanku. Dia lah yang sejak awal paling tahu mengenai perasaanku pada Malia yang tak kunjung ada kejelasan hingga sekarang.


"Aku sudah menanyakan pada Malia sebelum memutuskan untuk berangkat ke Jambi," jawabku.


"And?"


"She said no."


Enggar hanya diam mendengar jawabanku. Mungkin ikut merasakan betapa berat usahaku untuk memenangkan hati gadis itu. Aku juga diam, melayangkan pikiranku pada Malia. Entah sedang di negara mana dia sekarang. Menikmati indah karir yang terus membuainya sehingga lupa berlabuh.


"Bro." Enggar menepuk bahuku. "Go a head," ujarnya. "Just don't wait for Malia."


Aku mengangguk menganggapi semangat yang diberikan Enggar padaku. Jika Enggar pun sudah tak melihat kemungkinan itu dengan Mal, apa lagi yang harus aku perjuangkan.


"Thank you, Nggar," sahutku dan beranjak bangkit dari mejanya. Aku harus memusatkan pikiran untuk persiapan pembuatan iklan Pandana. Proyek ini akan menjadi salah satu karya besar tim kami.


"Anyway, Bim," ucap Enggar sebelum aku melangkah ke lantai atas. "She is really really beautiful."


Aku tertawa atas ucapan Enggar. Berarti mataku tidak salah. Kinara laksana bidadari cantik yang tiba-tiba jatuh di depanku. Aku seketika merindukan tatapan malu-malu dan senyum sipunya.


Sedang apa kamu sekarang, Kin? Apakah kamu juga merindukanku?


-----


Andita sudah lebih dulu sampai di rumah kursus ketika aku tiba. Sengaja aku datang meskipun tidak ada jadwal mengajar pagi ini. Aku harus berbincang dengannya, tentang Bima. Harus ada satu orang yang berpikir logis mengimbangi hati dan pikiranku yang sedang berbunga-bunga.


"Let's do some stalking." Andita meraih ponselku dan mulai mengetik sebuah nama akun pada menu pencarian di aplikasi Instagram. Akun itu aku temukan dari status WhatsApp Bima saat sedang mempromosikan salah satu foto produk hasil karya studio foto nya.


"Do we have to, Dit?" Aku agak ragu apakah harus mencari tahu sejauh itu.


"Dia anak Jakarta, 'kan." Andita mengingatkanku. "Jangan asal percaya. Lagi pula baru kemarin kau bertemu dia."


Aku membiarkan Andita menyelidiki sesuai nalarnya. Sepanjang ia memainkan jemari di layar handphone-ku, pikiranku mengembara tak tentu arah. Teringat akan perkataan Bima bahwa ia akan menghubungiku seminggu lagi. Bahkan hari ini saja sudah berlalu begitu lambat, aku tak tahu bagaimana harus mengisi hariku tetap realistis untuk tujuh hari ke depan.


Profil sebuah akun terpampang di aplikasi berlogo bulatan lensa kamera itu. Andita merapatkan duduknya denganku, agar kami bisa berbagi pandang isi layar ponsel tersebut. Kuamati setiap foto yang terlihat di sana, tak satupun yang menampilkan sosok Bima. Padahal ditelusuri dari tanggal postingnya, akun ini termasuk aktif.


"Nggak salah akun, Dit?" kupandangi Andita yang tetap menggeser permukaan layar. Sahabatku itu tetap diam sambil terus terfokus pada profil tersebut. Sejenak kupikirkan mungkin Andita lebih cocok menjadi seorang detektif ketimbang guru Bahasa Inggris.


"Yang ini orangnya?" Andita memperbesar sebuah foto yang ditemukannya setelah lama mencari. Benar, itu foto Bima. Foto yang sama dengan yang dikirimkan Bang Khalif ke ponselku saat akan mempertemukan kami.


"Fotonya cuma satu, Kin. Fotografer biasanya memang nggak suka difoto." Andita mengembalikan ponselku. "Paling tidak kita tahu bahwa dia bukan pria yang suka selfie," ujarnya seraya tertawa.


"Dia akan meminta jawaban dariku seminggu lagi," gumamku pelan.


"Dan menurut hatimu?"


Aku hanya mengangkat bahu menanggapi pertanyaan Andita. Entahlah, yang jelas aku merindukannya saat ini, meskipun masih tersisa keraguan tentang latar belakangnya yang sejauh ini hanya aku percayakan pada rekomendasi Ibu dan Bang Khalif.


"Follow your heart, she never lies," bisik Andita di telingaku karena saat ini para murid sudah mulai datang, dan ruangan depan mulai hiruk pikuk dengan aktivitas mereka. Andita lalu beranjak ke kelas meninggalkanku duduk sendiri memandangi layar telepon genggam yang masih menampilkan profil Bima. Tadinya aku berharap bisa melihat satu atau dua fotonya yang berbeda untuk mengobati rinduku. Namun benar yang dikatakan Andita, Bima bukan jenis lelaki yang gemar difoto. Galerinya hanya berisi foto-foto pemandangan alam, siluet, dan beberapa benda-benda yang mungkin merupakan koleksi pribadinya.


Aku menyukai hasil jepretannya, sederhana namun memiliki makna yang mendalam. Kutemukan juga beberapa foto burung-burung dan hewan-hewan kecil yang diabadikan secara makro. Goresan sayap kupu-kupu, tekstur daun, bahkan sampai motif-motif yang tercipta natural di alam semesta turut menjadi objek fotonya. Sejatinya kami berdua adalah pelukis. Bedanya aku melukis memakai kuas dan cat, ia melukis dengan memanfaatkan cahaya. Betapa menyenangkan bila mendiskusikan tentang hal ini padanya. Aku rindu berbicara dengannya.


Terus kutelusuri foto-foto itu sampai jemariku berhenti pada salah satu yang membuat dadaku berdebar. Foto kedua yang menampilkan sosoknya sebagai Bima. Namun dalam foto itu ia tidak sendirian. Bima berdiri berdampingan bersama seorang perempuan, bersandar pada deretan pagar kayu yang dibelakangnya membentang padang rumput yang luas. Mereka saling berpandangan dan tersenyum. Aku memperbesar foto itu dan melihat betapa cantik perempuan dengan rambut ikal sebatas telinga tersebut. Sebuah kamera tergantung di lehernya, menandakan bahwa ia juga seorang fotografer seperti Bima. Menilik jaket yang dikenakan perempuan itu dan topi yang dipakai Bima, lokasi foto itu berada di sebuah negara dengan suhu di bawah sepuluh derajat.


Bima menandai sebuah akun, dan saat kutekan tandanya muncul sebuah nama yang membuatku teringat akan sesuatu.


@malia.prasvita


Aku ingat betul. Itu nama yang sama dengan seseorang yang menelepon Bima saat kunjungannya ke Jambi minggu lalu. Kucoba mengunjungi profil akunnya untuk mencari tahu lebih lanjut, tapi ternyata diatur secara 'private' dan hanya dapat dilihat jika meminta persetujuan. Seketika sebentuk cemburu menyeruak di ruang hatiku. Mengapa hanya dia yang ditampilkan Bima dalam galerinya?


Aku membaca caption yang tercantum di bawah foto. Hanya ada tiga kata. 'One fine day'.


Malia ... siapakah dia sebenarnya?


-----


Hari kedua proses pengambilan gambar untuk proyek iklan Pandana. Semua berjalan sesuai rencana, hanya ada beberapa kendala kecil yang bisa langsung dicarikan solusinya saat itu juga. Hanya tersisa dua hari hingga tenggat waktu yang kuajukan pada Kinara untuk memikirkan segala hal tentang kami. Aku bertahan untuk tidak menghubunginya dengan sengaja, agar ruang rindu di antara kami semakin membentang. Kudapati ia selalu mengikuti aktivitasku melalui status WhatsApp yang kupasang. Berkali-kali jemariku tergoda untuk sekedar mengiriminya pesan berisi sapaan selamat pagi atau malam, namun hatiku mengatakan agar mampu menunggu.


Masih ada satu hal yang harus kulakukan sebelum menghubungi Kinara. Menjumpai Mal. Ia meneleponku sore tadi sebelum boarding dari Changi Airport, mengabarkan ia hanya transit kurang lebih satu jam sebelum melanjutkan penerbangan ke Denpasar. Di sinilah aku sekarang, duduk menunggunya di salah satu sudut coffee shop ditemani secangkir French Press yang sudah hampir habis.


[Aku sudah mendarat.]


Kuterima sebuah pesan darinya. Kubalas dengan menyebutkan nama kedai kopi tempat aku menunggu. Malia muncul lima belas menit kemudian. Beberapa pasang mata menoleh padanya saat ia berdiri sebentar di pintu masuk, mengedarkan pandang mencariku. Malia memang bagai magnet bagi lelaki manapun. Penampilannya selalu menarik dan unik.


Kulambaikan tangan agar ia melihat. Senyumnya mengembang saat ia berjalan menghampiriku. She looks so gorgeous, memakai terusan sebatas lutut dipadu dengan legging ketat dan sepatu boot rendah. Bahunya yang ramping menyandang sebuah ransel besar yang kuduga berisi kamera dan teman-temannya. Malia masih memakai jam tangan lama yang kupilihkan untuknya saat ia utarakan ingin memiliki sebuah arloji tahan air untuk menemaninya memotret di pantai.


"Aku membuatmu menunggu?" Mal bertanya padaku sesaat setelah menyebutkan pesanannya pada pelayan. Ia hanya memesan segelas lemon tea karena sudah terlalu banyak minum kopi sejak pagi. Wajah Mal terlihat letih, mungkin karena jam kerjanya yang tidak menentu, atau terlalu banyak hang-out dengan koleganya di Singapura. Dunia fashion memang kadang dekat dengan hal-hal tersebut. Aku sudah pernah menegurnya, tapi Malia sangat keras kepala.


"You don't look fine." Aku terbiasa menyampaikan apa yang ada di pikiranku pada Malia. Ia hanya tersenyum menanggapi ucapanku. Jemarinya mengeluarkan sekotak rokok dan sebuah pemantik berbentuk segitiga dari saku vest-nya, meletakkan di atas meja.


"Not allowed here, Mal." Kutunjukkan sebuah tanda dilarang merokok yang terpasang di dinding. Ia mengibaskan jemarinya di depan wajahku.


"Lain kali pilih yang bebas merokok," gerutunya seraya menyimpan kembali dua benda itu dalam saku. Mal mulai berteman dengan rokok sejak setahun lalu, sejak ia memilih pindah ke negeri singa tersebut.


"Dalam rangka apa kamu ke Denpasar?" tanyaku setelah kesalnya sedikit mereda.


"Aku diberikan kepercayaan untuk membuka cabang di Bali." Mal menjawab sambil menyeruput lemon tea-nya yang baru diantar. "Aku ke sana untuk survey lokasi."


"Kamu akan pindah ke Bali?"


"Akan ada yang handle Bali. Aku akan lebih banyak di Jakarta nantinya. Singapura tidak cocok untukku." Malia memandangku lama. Kubalas tatapannya tanpa beralih. Mengalirkan rindu yang enam bulan terakhir kutahan sendirian di dasar hati.


Malia mengalihkan matanya pada cangkir kopiku. Sesaat terasa hening. Aku kehilangan kata untuk diucapkan. Apakah Mal memutuskan untuk meninggalkan Singapura karena perkataanku, bahwa aku akan menunggunya?


"Mal," ucapku pelan. "I have met her." Meskipun berat tetap kuberitahu padanya. Masih tersisa penasaran yang besar mengapa Malia begitu sulit untuk menerimaku. Mungkinkah sedikit cemburu akan membuka mata hatinya untukku?


Malia memandangku bingung. "Whom are you talking about?"


Kuhela napas panjang. Begitulah Malia, yang ada dipikirannya hanya tentang pekerjaan. Mungkin percakapan kami minggu lalu hanya sebuah hembusan angin baginya.


"Aku telah bertemu dengan gadis yang dijodohkan Mama padaku," ujarku sambil menunggu reaksinya.


"And?"


"Aku berniat melamarnya minggu depan."


Kali ini kulihat Malia menunduk, memainkan cincin perak yang melingkar di jari kelingkingnya. Terlalu sulit untuk menebak Mal. Aku tak tahu apa yang sedang ia pikirkan sekarang.


"I'm so happy for you, Bim." Kudengar akhirnya Mal berbicara dengan sebuah senyum menghiasi wajahnya. "I hope you find what you're looking for."


Sisa percakapan kami hanya berkisar tentang Bali. Aku cuma menganggapi dengan anggukan dan senyuman, sampai alarm di arlojinya memberi sinyal untuk segera masuk kembali ke ruang tunggu bandara. Aku memandanginya berjalan menuju jalur antrian. Aku hapal setiap tahapannya, biasanya Mal akan menoleh sekali lagi padaku sebelum ia masuk melalui pintu kaca. Namun tidak untuk kali ini. Memberiku isyarat bahwa aku harus rela melepasnya.


Mal, aku akan sangat merindukanmu.


-----


"Heading to Bali for holiday?" Sapaan seorang pria berkebangsaan asing membuyarkan lamunanku. Pesawat yang akan membawaku ke Bandara Ngurah Rai akan segera berangkat. Aku memilih kursi di samping jendela, dan pria itu duduk tepat di sisi lorong, menyisakan sebuah tempat kosong di antara kami. Aku bukan penyuka perjalanan dengan pesawat, meskipun orang lain melihatku sering melihatku terbang dari tempat yang satu ke tempat yang lain dengan mudahnya. Semua hanya semata-mata karena urusan kerja, tepatnya hobi yang menjelma menjadi pekerjaan.


Kusuguhkan sebuah anggukan beserta senyuman pada pria itu. Terkesan sombong memang, dan ini bukan diriku yang sebenarnya. Bagiku mengobrol dengan sesama penumpang akan membantu lebih rileks menghadapi saat take off dan landing. Namun entah mengapa saat ini hatiku sedang tidak ingin berbagi dengan siapapun


"You fly alone?" ia bertanya lagi. Kali ini kutanggapi singkat saja.


"Yes. I work at Bali."


Semoga jawabanku itu bisa membuatnya berhenti bertanya. Aku merasa kesal pada diriku karena tak pernah seperti ini sebelumnya. Bagiku siapa saja yang kutemui di manapun adalah teman. Aku jarang tidak menyukai seseorang hanya karena hal-hal sepele.


Perasaan ini muncul begitu saja, hadir saat ia mengatakan padaku akan melamar gadis yang dijodohkan oleh ibunya. Entah mengapa aku merasa seperti separuh jiwaku melayang tak tentu arah. Semangat yang menemaniku sejak berangkat dari Changi Airport menuju Bandara Soekarno Hatta menghilang entah kemana. Terbang bagi debu yang tertiup angin.


Seharusnya aku tak membiarkan kecewa itu hadir di hatiku. Dia telah bertanya padaku, memintaku, bahkan menungguku untuk sebuah ikatan yang dinamakan pernikahan. Namun aku menolaknya, bahkan menganjurkannya menemui perempuan pilihan ibunya. Aku tak mengira dia seserius itu, Bima tidak pernah seperti itu. Sepuluh tahun terakhir ini Bima laksana dermaga yang menyediakan tempatku bersandar, untuk selanjutnya berlayar kemana pun aku mau. Dia selalu ada untukku. Kapanpun itu.


Dan secepatnya dia akan menjadi milik perempuan lain, apakah aku harus kecewa akan hal itu? Setelah pernyataan cintanya yang berkali-kali aku tolak, pantaskah aku masih mendapat tempat di hatinya? Aku benci perasaan ini. Seperti sekelebat cemburu yang membakar dari dasar hatiku. Aku tak pernah merasakan cinta padanya, atau mungkin aku yang tak mengerti seperti apa bentuknya. Apakah yang selama ini kurasakan adalah cinta? Yang justru membuatku tersadar ketika harus kehilangannya?


Mal, what is happening to you? This is not you.


Berkali-kali kuikat lamunanku yang mengembara jauh tentangnya. Sampai sebutir air mata tanpa sadar jatuh membasahi jemariku . Aku menangisi perasaanku tentangnya yang datang sangat terlambat. Menyisakan kehampaan tak berbatas antara aku dan dirinya.


Bima, I think I love you ...