
"Bim."
Suara lembut yang baru saja menyapaku sedikit membuat kaget. Aku spontan berbalik, mendapatinya sudah duduk di meja makan dengan matanya yang sedikit sembab memandangku. Rasanya ia sudah nyenyak ketika kutinggalkan tadi di kamar. Sementara aku tak juga bisa memejam, hingga kuputuskan untuk menyeduh segelas kopi arabika dan berharap bisa mengundang kantuk.
Aku dan Kinara tiba di Jambi siang tadi, dan ini adalah kali ketiga aku mengunjungi tempat tinggalnya, setelah yang perdana dulu saat aku menemuinya pertama kali, lalu yang kedua saat akad nikah kami.
"Kenapa nyusul keluar?" tanyaku sembari mencari saringan teh kecil yang mungkin bisa kupergunakan sebagai pengganti kertas-V yang lupa kubawa serta. Kinara bangkit dari duduknya untuk membantuku mencari benda yang sejak tadi tak juga kutemukan.
"Tiba-tiba terbangun," jawabnya singkat. "Kamu, kenapa nggak bisa tidur?"
Aku cuma menjawab dengan senyuman. Sejujurnya aku juga bingung, padahal badanku bisa dibilang cukup lelah dengan aktivitas kami hari ini. Apa karena terlalu letih hingga sulit untukku jatuh tertidur?
"Kamar Kin panas ya, Bim?" ia menebak dengan nada hati-hati.
Kinara memang sudah mewanti-wnati sejak awal bahwa kamar tidurnya tidak senyaman milikku di apartemen. Tidak ada Air-Conditioner, dan juga tak ada toilet di dalam kamar. Malah ia pernah menyarankan agar aku menginap saja di hotel jika rumahnya terasa kurang nyaman. Semua keresahannya itu hanya kutanggapi dengan tawa. Aku bukanlah jenis lelaki manja yang mempermasalahkan lokasi. Sialnya entah mengapa malam ini aku tidak juga bisa tidur, pastilah membuat Kinara merasa kekhawatirannya terbukti.
"Aku agak pusing, Kin," kuberi alasan seadanya. "Mungkin karena pagi tadi nggak sempat ngopi."
"Mau Kin bantu pijitin kepalanya?" ia menawarkan dengan nada tulus, yang entah mengapa membuatku jadi ingin menggodanya.
"Mau banget," jawabku sumringah. "Dipijitin di bagian lain juga mau," bisikku merayu.
Kinara buru-buru meletakkan telunjuknya di depan bibir, seolah kuatir perbincangan kami terdengar oleh ayah dan ibu dari dalam kamar. Sikapnya yang menggemaskan itu malah mengundang hasratku bangkit, terlebih Kinara berhasil membuatku 'puasa' dua hari ini demi mengikuti artikel program kehamilan yang dibacanya di salah satu situs online.
"Kita duduk di teras belakang aja yuk," ia menarik tanganku saat kopinya sudah selesai tersaring. "Di luar lebih sejuk."
Berada di teras belakang rumah Kinara menghadirkan perasaan khusus bagiku. Di sinilah pertama kali aku melihatnya, sekaligus memancing amarahnya tak sampai satu jam setelah kami bertemu. Tak terasa sekarang sudah hampir enam bulan berlalu sejak hari itu, dan ia sudah menjadi milikku sepenuhnya.
Kinara menoleh ke arahku seolah bisa membaca isi kepalaku. Ia tersenyum malu saat kusisipkan jemariku dalam genggamannya. Kilas balik itu pasti juga sedang merasuki pikirannya.
"Aku belum pernah bertanya padamu, Kin. Bagaimana perasaanmu saat pertama kali melihatku di sini?"
Kinara membawa pandangannya menerawang dengan senyuman tak lepas dari bibirnya.
"Jujur aku sangat tertarik ketika melihatmu. Kamu keren, aku bahkan masih ingat setiap detail pakaian yang kamu kenakan." Kinara melirikku sekilas sebelum melanjutkan. "Tapi sebenarnya, jika tidak memikirkan orang lain, saat itu ingin rasanya aku juga mengusirmu pulang."
Aku tertawa lucu mendengar pengakuannya. Aku sudah menduga ia berpendapat seperti itu. Kelancanganku memang sebenarnya tak termaafkan.
"Tapi aku masih sangat penasaran, hingga kupenuhi ajakan Bang Khalif untuk bertemu lagi denganmu esoknya," lanjut Kinara. "Dan aku benar-benar kesal karena sepanjang perjalanan, kamu tak berniat menegurku sama sekali. Hingga akhirnya kita berbincang di pinggir Sungai Batanghari."
Aku tersenyum mendengar penuturan Kinara. Aku sangat yakin ia juga menyimpan rasa yang sama, namun ketika itu masih malu-malu untuk menunjukkannya.
"Apa yang saat itu membuatmu tertarik padaku dan berniat melamar?"
Pertanyaan Kinara yang begitu lugas sedikit memancing jiwa lelakiku. Sekalian saja kuikuti permainannya, siapa tahu malam ini peruntungan berpihak padaku dan tak harus menunggu hingga kami berangkat ke Kerinci untuk berbulan madu.
"Kamu cantik," bisikku jenaka.
"Alasan lain?"
"Cerdas dan berprinsip," lanjutku.
"Hanya itu?"
"Hmm, sangat seksi ..." aku terkekeh saat melihat Kinara mendelik tak percaya ke arahku. "... seksi dengan caramu sendiri."
Sepasang alis indahnya terangkat seolah meminta penjelasan lebih lanjut dariku.
"Well, aku lelaki, Kin. Empat tahun dari hidupku pernah kulalui di luar negeri. Meski aku tetap memegang erat ajaran agama, namun sudut mataku tidak bisa berbohong jika tiap hari disuguhi pemandangan indah dari para wanita."
"Boys will be boys," tutur Kinara seraya memutar bola matanya dan memancing tawaku.
"Tapi kamu berbeda," sambungku tanpa memperdulikan gerutuannya. "Semua tentangmu terasa begitu menarik. Caramu berjalan, melirik menunduk, tertawa, aku tak bisa melupakannya sedikitpun."
Kinara memandangku dengan semburat yang tergambar di pipinya.
"Serasa menggila menunggu satu minggu terlewat, sekaligus menyesal mengapa tidak langsung melamarmu saja saat kita duduk berdua waktu itu. Bagaimana jika ada lelaki lain yang tiba-tiba membuatmu tertarik?"
"Mengapa tidak langsung melamarku?" Kinara menatap sendu seolah menyesalkan pilihanku dulu.
"Jika saat itu aku langsung melamarmu dan tidak memberimu waktu seminggu, kira-kira akan seperti apa jawabannya?" pancingku ingin tahu.
Kinara diam sejenak, memandangku sebentar, kemudian menunduk. "Mungkin aku akan jawab 'iya'," ujarnya pelan. "Entah mengapa saat bertemu denganmu hari itu, aku merasa seperti sudah sangat mengenalmu sebelumnya. Mungkin memori masa kanak-kanak kita masih membekas di alam bawah sadarku."
"Meskipun aku telah membuatmu marah?"
"Marahku seketika hilang saat melihat belasan fotoku yang kamu jepret dengan kamera ponselku. Tidak ada yang pernah memotretku sebaik itu."
"Objek fotonya yang indah," ucapku lembut sambil menyelipkan helai rambut yang tak tergelung di balik telinganya.
"Fotografernya yang hebat," Kinara balas merayu dengan membebaskan gerak jemarinya menelusuri rahangku.
Sesaat suasana berubah menghangat dan kuyakin Kinara pun tak mampu menahan hasrat yang terbit di dadanya saat menatapku. Ia tak menolak ketika kuputuskan untuk memagut bibirnya di teras ini. Bukankah hanya ada kami berdua di sini? Namun sesaat kemudian kesadarannya memanggil dan dengan tergesa ia melepas tautan bibirku dan memberi jarak.
"Kenapa?" protesku.
"Kin malu," ujarnya dengan wajah memerah. "Nanti ketahuan ibu."
Alasan polosnya memaksaku tertawa. Kinara menempatkan dirinya seperti kami sedang berpacaran dan mencuri-curi ingin berciuman. Salahku juga memang seenaknya menciumnya dan melupakan bahwa saat ini kami duduk di teras belakang rumahnya, bukan sebebas saat kami berada di apartemen.
"Ayah ibu 'kan sudah tidur," sengaja kutarik lagi tubuhnya merapat. Kedua orang tua Kinara sudah masuk ke kamar sejak jam sembilan malam tadi, pastilah sekarang sudah dalam kondisi yang sangat lelap.
"Bim ..., " Kinara seperti akan menolak, namun jemarinya justru menyusup di helai-helai rambutku.
"Easy," kupapas jarak untuk membuatnya berhenti bicara. "Aku ingin mencumbumu di sini, di tempat pertama kali kita bertemu."
"Genit," kurasakan cubitan kecil di pinggang saat Kinara mengucapkannya.
"Genitnya juga sama istri sendiri," kuberi beberapa kecupan ringan di sudut bibirnya hingga ia tak lagi bisa memprotes.
"Kita lanjutin di dalam," bisik Kinara sambil menuntunku menuju ke kamar.
Aku mengikuti sambil menyembunyikan senyum kemenangan. Akhirnya aku bisa 'buka puasa' malam ini dan tak perlu menunggu lusa hingga kami berangkat ke Kerinci.
Begitu mudahnya menggodamu, Kin. Sungguh aku suka saat kamu mudah tergoda. Dan kurasakan yang seperti ini hanya padamu. Karena hanya dirimu yang sanggup membuat seluruh hasratku bergejolak tak terpadamkan.
-------
Bima berbaring separuh menelungkup sesuai kebiasaannya sesaat setelah semua selesai. Napasnya masih berhembus kencang, dan dahinya basah oleh peluh. Aku mengira ia tidak terbiasa dengan suasana kamar ini yang membuatnya sedikit gerah. Bisa dikatakan kehidupan kami di Jakarta memang tidak pernah terlepas dari pendingin ruangan.
Aku merasa tidak sebebas seperti biasanya. Dinding kamarku yang berbatasan langsung dengan kamar ayah ibu membuatku kurang nyaman. Lain halnya dengan Bima yang terkesan tidak ambil pusing. Untunglah bunyi hujan yang semakin deras menyelamatkan semuanya.
"Kenapa, Kin?" bisiknya sambil menggeser tubuhnya yang masih menyelimutiku.
Aku menggeleng sambil tersenyum. "Nggak apa-apa."
Bima bertumpu pada sikunya dengan posisi masih menelungkup. "Nggak kayak biasanya."
"Rasanya lucu," ucapku balas memandangnya. "Ada kamu di kamarku dan kita bercumbu."
Bima tertawa kecil, memiringkan tubuhnya menghadapku. Ia menyingkap selimut tipis yang kami pakai hingga ke arah pinggang, spontan memaksaku berganti posisi untuk menyamarkan apapun agar tak tampak jelas.
"Kita juga pernah tidur di kamarku yang lama." Bima meraba punggungku yang terbuka dan ternyata juga dihinggapi titik-titik peluh.
"Tapi waktu itu kita cuma tidur," kilahku.
Aku ingat ketika itu kami baru saling mengenal dan pagi sebelumnya Bima mencuri ciuman pertamanya dariku. Lalu malam itu aku menunggunya untuk ciuman kedua, namun ia malah mengabaikanku dengan tertidur lebih dulu. Menganggurkanku yang kala itu berharap untuk diajarkan bercumbu.
Bima tersenyum dan berbaring telentang dengan memakai kedua lengannya sebagai alas kepala.
"Kamar kamu tidak seperti kamar anak perempuan," Bima menilai. "Maksudku, biasanya gadis remaja sering menghias kamarnya dengan pernak-pernik lucu, seperti kamar Mentari."
"Mungkin karena aku lebih sering bermain dengan Bang Khalif dan Khatab, atau mungkin juga karena aku lebih senang melukis sehingga tak sempat memikirkan hal-hal lain," aku memberi alasan.
Di kamarku memang tergantung beberapa hasil karya lukis yang aku menangkan di beberapa kejuaraan. Termasuk ketika menjuarai lomba desain Batik Jambi saat aku duduk di bangku SMA.
"Kamu punya koleksi foto lama?" celetuk Bima tiba-tiba.
Aku mengangguk.
"Boleh aku lihat?"
Kugerakkan tangan untuk mencapai laci kecil di sisi tempat tidur. Aku ingat pernah menyimpan beberapa helai foto nostalgia dari momen-momen penting di hidupku. Bima memandang lekat lembaran-lembaran foto yang tak beralbum itu saat kuserahkan padanya. Sesekali senyum kagum terbit di bibirnya.
"Ayo tebak aku yang mana?" tantangku saat mata kami berbagi sebuah lembar foto sederetan anak kecil berseragam Pramuka yang berjejer rapi. Bima menebak beberapa kali dan tetap salah pada pilihannya, akhirnya menyerah dan memintaku menunjukkan.
"Yang ini," kuarahkan telunjuk pada sosok seorang gadis yang mulai remaja, berhijab coklat dengan topi Pramuka lebar yang berdiri malu-malu di deretan paling pinggir. Bima membulatkan matanya jenaka, lalu memandangku dan foto itu bergantian.
"Kamu memang sudah cantik sejak dulu," tuturnya sambil terus membalik lembar demi lembar. "Sejak kapan kamu mulai berhijab?"
"Ketika masuk SD," aku berusaha mengingat. "Namun ibu mulai keras mengingatkanku semenjak aku akhil baliqh."
"Jadi belum ada yang pernah menikmati indah helai rambut ini selain aku?" Bima membelai lembut kepalaku. "How lucky I am."
Aku membalas ungkapan sayangnya dengan senyuman. Rasa hati ingin memeluk namun kuatir Bima masih kepanasan setelah aktivitas membakar kalori barusan. Ia juga tak berusaha menarikku dalam dekapannya, dan memilih menatapku dari jarak sehamparan bantal. Namun entah mengapa situasi ini justru membuatnya terlihat sangat menggoda di mataku.
Kujulurkan jemari untuk menyentuh sisi wajahnya, membuat matanya terpejam dan membuka sesaat kemudian. Sorot matanya mulai terasa gelap, dan seketika aku merasa bersalah sekaligus berkuasa di saat yang bersamaan.
"Jangan memulai," ia menepis jemariku lembut. "Ini sudah tengah malam."
Aku tetap mengikuti kemauan jemariku yang masih membandel. Bermain-main seperti ini dengannya terasa menyenangkan. Lagi-lagi ia menangkap dan mengurungnya dalam genggaman.
"Apa kata ibu jika anak menantunya bangun kesiangan di hari pertama pulang ke rumah?"
Aku kembali tertawa mendengar argumennya. Bima memilih beranjak menuruni ranjang menuju ke kamar mandi di luar ruangan. Disempatkannya menggigit ujung jariku sedikit keras sebelum meninggalkan kamar. Mungkin seperti hukuman karena telah berani menggodanya lagi menjelang tengah malam.
Bima terkadang bisa lembut dan sangat dewasa, namun tak jarang jika usilnya muncul ia bisa sekonyol remaja dengan teman sebayanya. Entah bagaimana untuk tidak jatuh cinta padanya jika saban hari disajikan sensasi yang memabukkan seperti ini.
------
"Masih ada koleksi foto lain selain ini?"
Kinara mengangguk dengan matanya yang sudah terpejam. Kantuk sudah hampir menguasainya dan aku juga belum bisa tertidur.
"Kamu yang menyimpannya?"
Kinara mengeleng.
"Ibu?"
Ia mengangguk lagi.
"Besok bantu mintakan pada ibu semua foto-foto itu, aku ingin memotretnya kembali."
Kali ini ia membuka sepasang matanya yang sudah separuh mengantuk, memandangku samar sambil berusaha tersenyum.
"Untuk apa?" tanyanya pelan.
"Untuk merekam ulang semua jejak setelah kita terpisah, hingga di saat kita bertemu kembali hari itu," kubalas tatapannya dengan sungguh-sungguh. "Nantinya bisa gabungkan dengan koleksi fotoku, sehingga ceritanya akan tersambung dan kisahnya bisa dikenang sampai anak cucu."
Kinara hanya mengangguk. Mungkin perbincangan ini terlampau berat untuknya yang sudah hampir singgah ke alam mimpi. Hujan yang semakin deras di luar membantu membawa udara sejuk di dalam kamar. Kuraih tubuhnya merapat dan mulai memeluknya. Ada yang terasa hilang jika ia tidak terlelap dalam dekapku. Bahkan saat kami bertengkar pun, ia selalu menyerah dalam pelukku sebelum tidur.
Kutatap langit-langit kamar sambil membayangkan bahwa bertahun lalu pernah kulalui masa kanak-kanak di rumah ini, bermain dengan bocah kecil yang sekarang sudah menjadi dewasa dan sedang terlelap di sampingku. Sayangnya tak sedikit pun ingatanku melekat pada masa itu, masa yang menjadi awal kisah cinta kami, hingga menjadi indah seperti saat ini.
Kin, andai waktu bisa diulang, aku ingin kita bertemu kembali lebih awal. Agar aku bisa mencintaimu lebih lama, dan menghabiskan waktu denganmu lebih panjang. Karena aku tidak ingin kehilangan sedetik hidupku lagi tanpa ada hadirmu.