The Surrender Of Love

The Surrender Of Love
Part 28 - The Theory



Semilir angin membawa aroma pegunungan yang sejuk mengisi paru. Pemandangan hijau mendominasi hampir merata di sekelilingku. Entah dari mana awalnya, aku mendapati diriku tengah bergayut dalam dekapnya. Deru napasnya yang hangat terasa membakar gairahku. Aku menunggu, sampai kecupan itu tiba. Sentuhan bibirnya yang selalu mampu menghanyutkan dan kerap membuatku menagih akan lebihnya.


Namun, entah mengapa kecupan itu tak kunjung sampai. Malah sesuatu yang asing seolah mengganggu, mengusap sisi wajahku. Kucoba menepis, namun tak membuat gangguan itu pergi. Sedikit berat kupaksa membuka mata, mencari tahu apa yang sebenarnya membuatnya menunda tak sebagaimana biasa.


Samar sebuah paras terpapar tepat di hadapanku. Sepasang mata teduh berpadu dengan raut wajah bersahabat, semakin jelas muncul menggantikan sosok yang tadinya sedang mengajakku bermesra. Meski sulit, kucoba menganalisa. Benarkah ia orang yang sama?


"Hi, Beautiful," sapanya lembut setelah meyakini bahwa kesadaranku telah terkumpul penuh. Butuh beberapa kerjapan untuk memanggilku kembali dari pengembaraan indah barusan.


"Mimpi apa?" ia lanjut bertanya.


Mimpi? Ah, benar. Aku tidak sedang berada di pegunungan. Hanya terbaring di sofa beserta seorang lelaki yang duduk rendah bersila di atas permadani, memandangiku dengan senyum dikulum.


Tapi, bagaimana ia bisa berada di sini?


"How did you get in?" kucoba mengalihkan agar ia tak membicarakan lagi tentang mimpiku. Tanyaku malah memancing gelaknya.


"This is my place, remember?" ia terkekeh. "Of course I have the key," ujarnya sembari jemarinya membenahi helai-helai rambutku yang sedikit berserakan. Tak terbayangkan betapa memalukannya saat ia menatapiku justru ketika aku sedang bermimpi bermesraan dengannya.


Lengannya menahanku yang mencoba bangkit dari berbaring. Sekejap tubuhnya pun ikut memenuhi sisi sofa yang menjadi kian sempit. Aku menukar posisi menyamping untuk memberinya ruang, namun justru membuat wajahku berhadapan langsung dengannya. Hingga detik ini pun aku tak juga mahir menyembunyikan debaran di dada saat ia merengkuhku begini.


"Lain kali jangan lupa memasang kunci rantainya saat sedang di dalam. Itu akan membuatku merasa lebih nyaman meninggalkanmu sendirian." Ia menarikku rapat hingga aku bisa bebas membaui tubuhnya. Aromanya, menandakan ia banyak beraktivitas di luar ruangan hari ini. Harum parfumnya yang sedemikian rupa telah bercampur dengan sedikit tetesan keringat, justru membuatku semakin tenggelam dalam kecanduan akan dirinya.


Terdengar beberapa kali helaan napasnya saat aku bergerak dalam peluknya. Rasa lucu bercampur iba menyambangiku. Ia selalu seperti ini di setiap tanggal 'cuti' selama beberapa bulan kami bersama.


"Kamu belum menjawab," ia masih berusaha mencecar. "Mimpi apa tadi?"


Aku menggeleng sambil tersenyum. Tak akan kubiarkan ia menelaah mimpiku dan mendapati betapa aku pun tak sabar menanti hingga kami bebas kembali memadu cinta seperti biasa. Entahlah jika semburat merah di pipiku telah lebih dulu bicara jujur mendahului bibirku.


"Mau jawab, atau aku cium?" ia menarikku kian rapat hingga bibir kami tak berjarak.


Kusembunyikan sedikit tawa di dalam hati. Alternatif pilihan macam apa itu? Sudah tentu aku akan tetap diam agar ia menciumku. Menyelesaikan apa yang tadi terputus karena ulahnya mengganggu mimpiku.


Sejenak kubiarkan ia mencumbuku, menghanyutkanku sesaat dalam buaian mesra. Hadir sedikit kecewa bahwa gairah ini tidak akan dapat dituntaskan sebagaimana biasa. Seperti saat ini, dari deru napasnya kutahu ia susah payah mengendalikan pertarungan yang ia mulai sendiri. Meski aku tak harus kuatir, ia selalu tahu kapan waktunya berhenti.


"Sudah hari ke berapa?" ia melepas kecupan dan memandangiku berharap.


"Empat," ujarku geli.


"Dua hari lagi," gumamnya seolah menghitung mundur. Ia bagaikan anak kecil yang dijanjikan akan sesuatu dan tak sabar menunggu hingga waktunya tiba.


Tak terasa sudah mendekati setengah tahun kujalani hidupku bersamanya, dan bisa dipastikan hampir tiada hari tanpa kami memadu kasih. Hingga saat ini, tamu itu tetap datang tepat waktu, menegaskan belum ada kesempatan hadirnya buah cinta di antara kami. Kutahu ia tak pernah mempermasalahkan itu, mungkin ia masih ingin memilikiku hanya untuk dirinya. Namun akhir-akhir ini sekelebat pikiran itu kerap hadir di saat-saat sendiriku.


"Ngelamun," bisiknya menyadarkanku, memancing senyum malu di bibir ini. Kulonggarkan peluk hingga bisa menatap matanya. Sejenak kami hanya berpandangan tanpa bicara.


"Mau dimasakin apa?" lanjutku. Aku biasa bertanya jika ia pulang lebih cepat, walaupun sajian lain sudah tersedia sebelumnya.


"Aku rindu Rosemary Roasted Potatoes. Sudah lama sekali tidak mencicip lagi."


"Aku nggak bisa masak itu," kuakui jujur. Terus terang kemampuanku di dapur hanya terbatas pada masakan tradisional. Nama menunya saja baru kali ini kudengar darinya.


"Aku yang masak. Kamu bantuin," ia menggangguk yakin. "Tadi aku mampir ke bawah untuk membeli beberapa bumbu tambahan."


"You sure?" kutanya untuk memastikan. Selama enam bulan ini belum pernah sekalipun kulihat ia berkutat di dapur. Hanya sebatas memanaskan makanan siap saji dari kulkas, atau mungkin sekedar membuat roti bakar ataupun mi instan.


"You underestimate me," ia menggunakan telunjuknya untuk menyentuh hidungku. "Your husband is a good cook."


"Prove me then," balasku, sengaja ingin membuatnya terpancing. Matanya membulat menantangku dengan sorot jenaka.


"I'll meet you in the kitchen after shower." Ia membubuhkan kecupan singkat sebelum melepas peluknya.


Kupandangi sosoknya yang telah bangkit meninggalkanku. Semuanya begitu indah saat bersamanya. Alangkah lebih sempurna jika hadir suara tangis bayi kecil yang akan memenuhi ruangan-ruangan di hunian kami ini. Tak mengapa, kunikmati saja dulu saat-saat berduaku dengannya. Bukankah pasangan lain malah pernah menunggu lebih lama. Kuyakin semua akan indah pada waktunya.


Bim, tak terbayangkan bagaimana rasanya saat sebuah kehidupan kecil hadir dan tumbuh di dalam tubuhku. Aku sangat menantikan saat itu. Semoga aku beruntung untuk bisa mengandung benihmu, dan kita akan membesarkannya bersama. Kumohon kau tetap rela bersabar hingga kita diberi kesempatan itu, dan tak menggantikanku dengan yang lain.


-----------


Cuma terdengar suara pisau yang beradu dengan alas kayu, hingga bulatan kentang yang terakhir selesai diiris. Ia ikut mempersiapkan beberapa bahan, sambil kedua matanya tak henti memandangku jenaka. Mungkin ini pemandangan asing baginya, melihatku berkutat dengan bumbu dapur seperti ini. Ia mungkin lupa aku juga pernah bertahun merasakan hidup mandiri di negeri kangguru sana, dan memasak bukan hal baru bagiku.


"Percayalah," ujarku saat menyerahkan padanya setumpuk bumbu masakan untuk digiling. "Aku sudah pintar menggoreng telur sejak kelas tiga SD."


Ia malah tertawa. Beranjak sejenak dan kemudian kembali dengan sewadah bumbu yang telah tergiling halus. Dengan tekun ia memperhatikan setiap caraku mengolah bahan masakan itu secara bertahap. Gemas sekali rasanya melihat sepasang mata indahnya berputar cepat mengikuti gerak tanganku. Jemari kirinya bertumpu menopang dagu sambil sesekali menyembunyikan senyum simpul saat mata kami beradu pandang.


"Kamu boleh nyalakan ovennya sekarang," aku memberinya instruksi. Kinara bangkit dan menuruti. Lalu kembali duduk untuk memperhatikanku seperti semula.


"I like to see you cook," ujarnya saat kububuhkan daun rosemary kering di atas kentang yang telah berbalur bumbu. Semuanya sudah selesai dan siang dipanggang. Kutinggalkan ia sejenak untuk memasukkan wadah ke dalam oven.


"Really?" tanyaku memastikan perkataannya barusan saat sudah duduk kembali di kursi dapur bersamanya.


"Ya," ia menjawab pelan.


"Why?"


Kinara membuang pandangnya sejenak ke arah lain sebelum memberi jawaban. "You just look so attractive while cooking," ujarnya perlahan sembari menyembunyikan ekspresi malu-malu di wajahnya.


"Dan memancing gairahmu?" tebakku tanpa berbasa basi.


Rasanya ingin tertawa hebat kala mendengar pendapatnya tentang diriku. Setelah semua aktivitas maskulin yang kupamerkan saat bersamanya, ia malah menilaiku terlihat menarik hati saat sedang memasak. Ternyata hanya sesimpel itu untuk mencuri perhatiannya.


Suara ponsel yang berdering dari atas meja membuyarkan beragam ide yang muncul di kepalaku untuk semakin menggoda Kinara. Ia menunjukkan padaku sebuah video-call dari sang ibu pada layar gawainya, sembari meminta ijin untuk menerima panggilan itu. Kinara tersenyum pada anggukanku, serta beranjak menuju ruang tengah untuk kemudian berdiri di sisi dinding kaca yang separuhnya tertutup tirai. Sudah menjadi kebiasaannya untuk diam di sudut itu bila menerima telepon dari siapapun. Terutama bila panggilan itu datang dari keluarga di Jambi. Akan habis bermenit-menit sampai Kinara menuntaskan rindunya.


Kucuri dengar isi percakapannya sembari memandangi sosoknya yang berdiri membelakangiku. Pastilah ia sedang bersenda gurau dengan buah hati Khalif yang sudah mulai bisa tertawa. Mereka kerap menelepon Kinara jika sedang berkumpul di rumah ibu. Anggota keluarga besarku juga sebentar lagi akan bertambah dengan kehadiran cucu pertama, bayi kecil Mentari yang diprediksi lahir pekan depan. Kadang aku mempertanyakan mengapa kami belum juga diberi titipan itu. Namun melihat Mentari yang sabar menunggu hingga tahun kedua, penantianku dan Kinara belum terhitung apa-apa. Lagi pula aku sangat menikmati saat-saat berduaku bersamanya, seakan tak pernah puas merengguk nikmat percintaanku dengannya.


Mungkin tak ada salahnya jika aku mengkhususkan waktu untuk hal yang satu ini. Bukankah setelah menikah aku bahkan belum sempat mengajaknya berbulan madu. Mencuri waktu satu minggu untuk membawanya berlibur sekaligus melepas rindu, bisa jadi akan memperbaiki kualitas hubungan kami yang kemarin sempat merenggang karena kesalahpahaman. Akan kuminta Enggar mengatur jadwal studio agar tidak berbenturan dengan rencanaku ini.


Bunyi denting dari oven terdengar bersamaan dengan harum rosemary yang memenuhi ruang dapur. Mencium aromanya membuatku mengagumi sendiri kemampuan memasakku yang tak berkurang. Kupastikan Kinara akan berdecak kagum melihat warna keemasan pada kentang panggang yang menggugah selera ini. Akan kubuat ia jatuh cinta saat mencicipinya, sebesar rasa cintanya pada si juru masak.


-----------


Air mata ini selalu menitik setiap mengakhiri panggilan telepon dari ibu. Tak kupungkiri rasa rindu untuk mengunjungi beliau semakin menebal kian hari. Ingin rasanya meminta ijin pada Bima, namun tak kuasa jika harus meninggalkannya sendirian, mengingat tak ada satu malam pun yang kulalui tanpa terlelap dalam pelukannya. Kami sudah menjadi candu satu sama lain.


Cepat kuseka pipi yang terasa basah saat mendengar langkahnya mendekat. Bima menghampiriku sambil memamerkan sepiring kentang panggang hasil olahannya. Kucoba melepas senyum, menanggapi pertanyaannya tentang cita rasa yang hadir di lidahku saat mencicip potongan pertama. Namun sepertinya aku bukan perempuan yang pandai menyembunyikan sesuatu. Ia langsung bisa menebak dari tatapan mataku.


"Kamu habis menangis," ucapnya dengan ibu jari yang terjulur mengusap pipiku. Caranya justru semakin memancing sisa bulir yang kutahan kembali menetes.


"Kin rindu Ibu," bisikku seraya menenggelamkan wajahku dalam rengkuhannya.


Bima membelai lembut kepalaku sambil sesekali mengecup dahiku yang tak tertutup rambut. Kutumpahkan sejenak tangis rinduku, hingga kurasa cukup dan mulai menengadah menatapnya. Kudapati ia juga memandangku dengan sorot kuatir.


"Kita pulang?" ujarnya seolah meminta persetujuan.


"Kita?" ulangku sedikit bingung.


"Kamu mau pulang sendirian dan membiarkanku kesepian di sini?"


Cepat kugelengkan kepala. Tentu saja aku akan sangat bersuka cita jika Bima mau menemaniku mengunjungi ibu di Jambi, tapi bagaimana dengan pekerjaannya?


"Aku akan minta Enggar untuk mengijinkanku cuti sekitar minggu depan. Kita berangkat setelah Mentari melahirkan."


"Benarkah?" gumamku tak percaya.


"Sekalian melunasi hutang bulan maduku padamu. Aku pernah berjanji untuk mengajakmu ke Kerinci."


Aku memandangnya dengan rasa senang yang membuncah. Sebenarnya tak perlu harus membawaku berlibur jauh. Kehidupan seperti ini saja sudah membuatku sangat bahagia. Lelaki ini paling tahu cara memenangkan hati wanitanya.


"Happy?" ia bertanya sambil kembali menyuapiku sepotong kentang panggang.


Kuanggukkan kepala dengan senyum terkulum. Baru kurasakan betapa aroma Rosemary yang bertabur di atas kentang yang matang sempurna itu sungguh menggugah selera. Membuktikan bahwa ternyata suami tampanku ini juga pintar memasak.


"Actually, Kin. Aku sengaja mengatur jadwal bulan madu kita bertepatan dengan masa suburmu."


Ucapan itu membuatku mendadak berhenti mengunyah. Kupandang lurus padanya, tak ada sedikitpun ekspresi sungkan di wajahnya saat membincangkan perihal barusan. Kuputuskan untuk tidak menanggapi, karena bagiku masih terlalu intim untuk secara gamblang mendiskusikannya dengan Bima.


"Aku baca di salah satu situs kesehatan, masa subur wanita terhitung dua belas hari setelah haid terakhir," lanjutnya lagi. "Waktunya akan pas saat kita berbulan madu."


Aku memalingkan wajah menjauh dari pandangannya. Sungguh masih kurasakan pipiku menghangat hanya karena mendengarnya mengatakan itu. Apa cuma perihal bercinta yang ada dalam pikirannya?


"Kin," panggilnya saat aku hanya diam tak menanggapi. "Don't you want to talk about this?"


Aku hanya mengangkat bahu. "I have no idea, Bim," bisikku.


"Let me tell you." Bima merapatkan tubuhnya padaku. "Selama ini kita cuma mengandalkan praktek dan mengabaikan teorinya," lanjutnya.


Sebenarnya pembicaraan seperti ini wajar dilontarkan antara sesama pasangan menikah, namun mengapa masih terasa canggung saat mendengarnya mengucapkan kalimat itu. Ah, Bima. Sebaiknya kita bicarakan ini sewaktu di kamar menjelang tidur, hingga tak harus wajah memerahku ini terpapar sempurna di depan matamu. Aku sungguh malu.


"Mungkin ada baiknya mulai dua hari ke depan kita latihan dulu, agar pada saat waktunya tiba, ketika di Kerinci ...,"


"Bim," aku melotot padanya. "This is so embarassing."


Bima tertawa hampir terbahak melihat wajahku yang kian merona. Kupikir ia memang sengaja menggodaku hingga jengah seperti ini.


"No, My Dear. This is normal," ia berusaha menjelaskan setenang mungkin. "Tak ada salahnya kita mencoba yang terbaik. Aku hanya ingin bisa segera menghadirkan detak jantung kecil di dalam sini."


Bima mengusap lembut area sekitar perutku. Ada kehangatan tak biasa menjalar di dadaku saat ia mengucapkan itu. Apa yang akhir-akhir ini berkelebat di pikiranku ternyata juga menyesak di kepalanya. Rasa maluku tadi berganti menjadi haru saat kudapati kesungguhan terpancar dari sepasang mata yang kini sedang menatapku teduh.


"We'll try the best," kuucapkan itu sambil mengecup pipinya sekilas. Sebuah senyum lebar langsung terbit di bibirnya.


"Allright then," ucapnya antusias. "Karena malam ini kita tidak bisa praktek, bagaimana jika kita bahas beberapa teori."


Oh, boy. Kutatap ia hampir tak percaya. Ternyata perbincangan ini masih berlanjut. Aku mengira sudah tuntas dan kami bisa beristirahat.


"Aku sudah mencari beberapa referensi yang berkaitan dengan sex and pregnancy...,"


"Bim, please ...," kupasang wajah memohon agar ia mau berhenti. "Can we talk about something else?"


Ekspresi seriusnya berubah jenaka saat ia memangkas jarak diantara kami. Senyum usilnya berganti menghiasi wajahnya yang selalu kupuja.


"I just want to tease you, Beautiful," ucapan itu diikuti sebuah kecupan singkat dan padat sebelum si empunya beranjak meninggalkanku sendiri.


Tanpa sadar jemariku turut mengusap perut yang rata ini. Alangkah bahagianya saat semua ucapan Bima barusan dapat terwujud. Aku berjanji akan berusaha sebaik mungkin mendukung semua rencana yang ia persiapkan untukku.


Bimaku. Apapun akan kulakukan untukmu. Berjuanglah denganku. Demi detak jantung kecil yang akan kau titipkan, untuk kujaga penuh di rahimku.