The Surrender Of Love

The Surrender Of Love
Episode 3 - The First Meeting



Bandara Soekarno Hatta cukup lenggang siang ini. Hanya terlihat calon penumpang dengan ransel-ransel kecil yang sedang menunggu panggilan boarding.  Sudah satu jam aku dan Mama duduk disini, sejak ada pemberitahuan penundaan penerbangan yang masuk melalui sebuah pesan singkat. Biasanya aku kerap menggerutu jika kondisi flight-delay ini berlangsung, namun kali ini aku malah merasa sedikit lega. Paling tidak bisa memberikanku jeda waktu sebelum pertemuanku nanti dengan Kinara.


Kutoleh Mama yang sedari tadi tekun dengan sebuah benang rajut berwarna peach di pangkuannya. Sebuah pemandangan unik yang menggelitik naluriku. Momen yang tidak setiap hari kudapati apalagi di lokasi ini.  Matanya melempar tanya saat melihatku bangki


“Sebentar kesitu,” ujarku. Beliau menggangguk saat kukatakan ingin menanyakan informasi keberangkatan ke petugas.


“Sekalian belikan Mama permen sugar-free ya, Bim.”


Aku sengaja singgah ke meja petugas meskipun tidak berniat bertanya. Mungkin saja dari sudut itu akan lebih menarik. Fenomena yang tak dapat dipungkiri, meskipun sebenarnya aku sendiri melakukan hal yang sama saat terjebak dalam sebuah proses yang disebut menunggu.


Mama mengucapkan terima kasih saat kuserahkan pesanannya yang sebenarnya sudah kusiapkan sebelum kami berangkat.


“Raspberry kan?”


“As usual,” jawabku disambut anggukan Mama.


Sebuah notifikasi pesan mengalihkan perhatian beliau. Mama membuka kunci layar ponselnya, serius sejenak, kemudian memandangku dengan ekspresi khasnya.


“Selalu ada cara buat motretin Mama,” Aku balik memandangnya sambil tertawa. Sudah hafal bila beliau tidak pernah percaya diri jika mengetahui akan dibidik. Padahal ia sendiri senang sekali memotret orang lain.


“Mama jadi jadul banget ya di sini,” ujar beliau sambil menunjukkan kembali foto yang kukirim ke ponselnya.  Terlihat Mama duduk merajut di antara beberapa orang yang sama-sama menunduk mengamati layar telepon genggamnya masing-masing. Sebuah kegiatan yang berbanding terbalik dengan melesatnya perkembangan teknologi. Venue Bandara yang serba modern ditambah pemandangan beberapa pesawat di latar belakang membuat foto itu terlihat sangat menarik.


“Mama bikin ini untuk Kinara,” bisik beliau seolah kuatir terdengar orang yang duduk di sebelahnya. “Bentuk akhirnya masih rahasia.”


Mendengar nama itu, gelisahku yang tadi terlupakan mulai kembali datang. Pikiranku dihantui kecemasan yang terus berulang, Hatiku mencoba pasrah, namun otakku masih berkecamuk dengan segala kemungkinan.


Panggilan memasuki pesawat terdengar nyaring dari pengeras suara di ruang tunggu. Mama bergegas berbenah, menolak halus tawaranku saat hendak membantu membawakan tas beliau. Kuikuti Mama yang tidak sabar beranjak masuk ke antrian. Begitu bersemangatnya beliau, hingga tak sedikitpun sempat bertanya bagaimana perasaanku saat ini. Di antara keyakinan Mama yang menggebu, beberapa ragu justru menyelinap di relung hatiku.


Kinara, apakah ketika kita bertemu nanti aku bisa menyukaimu seperti aku mencintai Malia?


------


Sudah hampir setengah jam aku duduk berhadapan dengannya, dengan refleksiku sendiri di dalam cermin. Mungkin benda kaca itu pun bingung, mengapa hari ini aku betah memandanginya yang kadang hampir tak terlirik olehku. Berkali kumendekat untuk memastikan, namun memang ia ada di sana. Gerutuku pun tidak mempan untuk membuatnya menghilang.


Duh, mengapa ia harus muncul sekarang? Besok juga tidak apa, asal jangan sekarang.


“Sudah cantik. Tunggu apalagi? Keluarlah.” Wajah usil Bang Khalif muncul dari balik pintu kamarku yang terbuka sedikit. Kuberi isyarat padanya, dan ia pun masuk.


“Ini.” Kutunjuk sebuah bintik merah di pipi kananku. Bang Khalif memfokuskan bola matanya, lalu memandangku bingung.


“Maksudnya? Bedaknya udah rata kok,” ujarnya.


“Bukan bedak,” sungutku kesal. “Ini Bang, ada jerawat di pipi Kin.”


Bang Khalif tertawa jahil melihat raut mukaku yang tidak percaya diri. Masih teringat dulu ia juga pernah menertawai di hari aku diwisuda hanya karena topi yang kukenakan tidak bisa tegak seperti yang lainnya. Ia memng gemar menggoda, namun entah mengapa aku justru selalu nyaman berbincang dengannya.


“Kemarin katanya nggak mau dijodohin. Sekarang malah grogi mau ketemu calon.” Bang Khalif duduk di ranjang di belakang kursi riasku. Kami bertukar padangan lewat pantulan cermin.


“Kalau dia nggak suka dengan Kin gimana dong, Bang?” ungkapku sedikit ragu.


Ini adalah kali pertama aku dikenalkan secara formil dengan seorang lelaki. Jika aku tidak tertarik padanya akan lebih mudah untuk menolak. Namun jika ia yang tidak suka, aku kuatir akan membuat percaya diriku hancur untuk selanjutnya.


“Artinya dia bukan jodohmu.” Ringan sekali Bang Khalif mengatakannya. Meski merasa tidak puas dengan jawaban itu, namun segera kutepis beragam dugaan yang datang silih berganti di dalam kepala.


Bima, apakah kamu seramah senyum yang terlihat di galeri telepon genggamku itu?


------


Akhirnya ku menapak juga di tanah Jambi. Penerbangan paling meresahkan sepanjang hidup, padahal waktu tempuhnya hanya empat puluh lima menit. Tidak ada turbulensi sama sekali, langit pun terlihat sangat cerah. Mama bahkan sempat menunjukkan Sungai Batang Hari yang meliuk panjang dari atas pesawat menjelang mendarat di Bandara Sultan Thaha.


Cuaca di hatiku yang sepertinya tidak menentu. Kucoba menyalakan bluetooth air-phone dan memutar beberapa lagu yang ada di play-list. Berharap mungkin bisa meredakan gugup yang sejak tadi tak kunjung pergi.


Mataku berhenti pada seseorang yang memegang selembar kertas bertuliskan ‘Ibu Arini’ di kerumunan penjemput. Mama rupanya sudah lebih dulu menyadari dan bergegas menghampiri. Penjemput itu menyalami mama dan mengenalkan dirinya.


“Kalian masih tinggal di rumah yang dulu?”


Lelaki berumur 30-an itu mengangguk menanggapi pertanyaan mama. Ia adalah salah satu anak Om Syamsul yang tak lain juga abangnya Kinara. Namanya Khatab kalau aku tidak salah dengar. Pembawaannya ramah namun tak banyak bicara.


Kota Jambi tidak begitu ramai. Tak terlihat banyak kendaraan umum, dan lalu lintasnya juga lenggang. Mama mengobrol akrab sepanjang perjalanan menuju rumah Kinara.


Aku memilih memperhatikan arsitektur bangunan yang cukup beragam dan menarik beberapa kesimpulan tentang filosofi kotanya. Kental dengan budaya Melayu, ada beberapa rumah masih memiliki desain ukiran dan berbentuk panggung. Meskipun begitu di pusat kota sudah banyak tumbuh bangunan tinggi yang didominasi dengan hotel berbintang dan pusat perbelanjaan.


“Ini Bima,” mama mengenalkanku pada mereka.


“Gagah sekali kau sekarang,” sang suami yang kuduga adalah ayah Kinara, menepuk bahuku saat kusalami.


“Mari masuk. Ayuk sudah menyiapkan pempek lenggang dan tekwan hangat untuk Tamu Jauh ini,” ajak sang istri sambil menggandeng lengan mama ke dalam rumah.


Aku dan mama dipersilahkan duduk di ruang tamu dengan perabotan bernuansa kayu. Mataku sejenak berkeliling . Tidak mewah. Pernak-pernik yang dipajang hampir mendekati klasik.. Dinding ruangan tampak kosong. Tidak ada satupun foto keluarga yang terpajang di sana. Hanya sebuah lukisan bunga krisan putih tergantung di salah satu sudut, ukurannya juga tidak besar. Beberapa pot bunga khusus dalam ruangan mengisi bagian yang kosong. Aku sesaat menyimpulkan keluarga ini adalah penyuka tanaman.


“Rumahnya unik,” gumamku. Mama sepertinya memahami naluri fotografiku yang selalu terbiasa mengamati jika berkenalan dengan suatu tempat yang baru.


“Semuanya masih seperti dulu,” bisik beliau. “Kita dulu sering berkunjung ke sini. Mama kerap mengambil fotomu dan Kinara saat bermain di halaman belakang.”


Mungkin aku masih terlalu kecil saat papa membawa kami pindah dari Jambi. Tak satu pun ingatanku membekas mengenai rumah ini.  Bahkan raut penghuninya pun tidak ada yang melekat di kepalaku. Semua terlihat baru.


“Hei, ini dia si Bimbim. Sudah besar sekali kau sekarang.” Sapaan seseorang yang menghampiri kami di ruang tamu seketika membuatku bingung. Aku yakin masih hapal wajahnya. Bukankah tadi kami sudah bertemu saat di bandara?


“Ini Khalif, kembarannya Khatab.” Mama membantu mengurai pikiranku yang bertaut. Sekaligus menjawab tanyaku mengapa mereka terlihat sama. Ia menjabat tanganku dengan genggaman yang terasa sangat akrab.


“Dulu Abang yang mengajarimu mendayung sepeda roda dua,” ungkapnya sambil mengingat kenangan lampau.


“Dan saat Mama dan Ibunya Kinara pergi arisan, Khalif lah yang ditugasi menjaga kalian,” sambung Mama sambil tertawa. Aku ikut tertawa, membayangkan pasti sama repotnya seperti saat mama memintaku menjaga Mentari ketika beliau ada keperluan. Meskipun selalu ada Mbok Yun di rumah, namun mama tetap memberi instruksi begitu.


“Mana Kinara? Kok belum muncul?” Mama lanjut bertanya pada Khalif.


“Masih di dalam kamarnya. Ditemani Fania, istri saya,” jawab Khalif. “Kinara sejak tadi malu-malu akan bertemu Bima.” Pandangan Khalif mengarah padaku yang mendadak juga terserang gugup.


Bisa kupastikan gadis itu juga sama bingungnya denganku. Terlebih pertemuan ini juga dihadiri anggota keluarga lain. Akan lebih mudah andai hanya dilakoni kami berdua, aku dan Kinara. Sampai detik ini pun hatiku masih tak percaya bagaimana mungkin aku bisa begitu nekat mengambil keputusan ini.


“Kita makan dulu yuk, Ibu sudah menyiapkan semuanya di halaman belakang.”


Sebuah halaman yang ditumbuhi rumput hijau dan aneka tanaman yang ditata rapi, pantas saja mama sangat berkesan dengan tempat ini. Hidangan sudah tersedia di atas meja kayu dengan enam buah kursi. Om Syamsul dan Khatab sudah lebih dulu duduk di sana. Khalif menarik kursi untuk ibunya dan juga mama, lalu mengarahkanku untuk duduk disampingnya. Aku tadinya menduga Kinara akan ikut makan bersama, namun melihat semua kursi telah terisi pastinya gadis itu masih akan berdiam di kamar sampai kami selesai makan.


Khalif bercerita banyak mengenai Jambi semenjak keluarga papa pindah ke Jakarta. Pemuda ini lebih rajin berbicara dibandingkan kembarannya yang hanya sering tersenyum menanggapi isi obrolan. Mama memuji pempek buatan ibu Kinara, aku sendiri menghabiskan semangkuk tekwan panas tanpa tahu apa rasanya. Khalif mengajakku dan mama agar menginap saja di rumahnya. Kutolak halus tawaran itu karena sudah terlanjur memesan kamar hotel di tengah kota. Kukatakan juga bahwa kesempatan berkunjung ke Jambi ini sekalian bisa dimanfaatkan untuk Photo-Hunting untuk sekedar mengingatkanku kembali bahwa aku pernah melalui awal hidupku di kota ini. Dengan sangat antusias Khalif menawarkan untuk menemaniku ke beberapa tempat sebelum aku kembali ke Jakarta.


“Belum pesan tiket pulang kan?” tanya Om Syamsul padaku.


“Belum, Om,” jawabku. “Mama masih ingin melepas rindu dengan kota Jambi.”


Mama melirikku sambil tersenyum. “Sudah 20 tahun yang lalu, begitu banyak yang telah berubah,” sahut mama.


“Anak-anak semakin dewasa, tak terasa kita pun semakin tua,” sambut istri Om Syamsul seraya menoleh pada suaminya, seolah memberi isyarat. Lelaki itu kemudian mengangguk pada Khalif.


“Bilang pada Fania, ajak Kinara kemari.”


Tak kuasa kuatur degup di dada semenjak Khalif bangkit meninggalkan meja makan sampai ia kembali bersama dua orang wanita yang mengikutinya di belakang. Keduanya mengenakan hijab yang terurai menutupi gaun panjang yang dikenakan. Khalif menggamit lengan wanita yang berjalan di depan, membiarkan seorang lagi berdiri mematung dengan wajah menunduk. Ia melangkah mendekat saat sang ayah menyebut namanya.


“Kinara, Ini Bima.”


Gadis itu membawa tatapannya ke arahku dan memberi sebuah senyum sipu. Mata kami beradu saat aku berdiri dan membalas senyumannya. Sang ayah menyebutkan beberapa kalimat untuk memperkenalkan kami kembali, lalu menyuruhnya duduk. Dari raut wajahnya aku yakin ia pun sedang meredakan detak jantungnya sebagaimana aku.


Ia cantik. Jauh lebih cantik dari fotonya yang pernah aku lihat. Kulitnya putih bersih, meskipun ada setitik merah jerawat di pipi kanannya. Wajahnya polos tanpa riasan. Bulu matanya yang panjang ikut mengerjap saat ia mencuri pandang padaku. Alisnya hitam dan indah. Beberapa kali bibir mungilnya tersenyum menanggapi obrolan yang terus dibincangkan di antara kami.


Sisa hidangan di atas meja telah dirapikan. Khalif mengajak mama dan yang lainnya beranjak ke dalam untuk beristirahat, sengaja meninggalkan kami berdua duduk berhadapan di sini.  Sejujurnya ini bukan pertama kali aku harus berbincang dengan wanita yang baru kukenal. Hanya saja, karena sudah lebih dulu mengetahui latar belakang pertemuan ini, aku mendadak bingung bagaimana harus menyapanya. Ingatanku mengembara ke saat dimana pertama kali aku bertemu Malia.


“Hai, aku Bima.” Cuma itu yang terucap setelah keheningan mulai menerbitkan kecanggungan.


“Kinara,” balasnya malu-malu. “Terima kasih sudah berkunjung kemari.”


“Senang bisa ketemu lagi,” sahutku meski tak sebutir ingatan pun melekat tentangnya.


Aku bukan jenis lelaki yang pintar merayu, dan bisa menyimpulkan ia adalah gadis yang pemalu. Meski terlalu jauh untuk dinamakan cinta, namun kesan pertama saat aku memandangnya cukup menarik hati. Ada getaran, meski sedikit. Setidaknya hal ini mampu menepikan raguku apakah aku bisa menyukainya.


Aku lalu bertanya hal-hal sederhana tentang kegiatannya. Ia menjawab dengan singkat setiap pertanyaanku. Terasa aneh memang, kami seperti dua orang yang sedang melakukan wawancara kerja. Aku bertanya, Kinara menjawab. Terus seperti itu. Sampai akhirnya kami diam kehabisan kata.


Dering telepon genggamku memecah kebisuan yang hadir di antara aku dan Kinara. Sebuah nama muncul di layarnya. Apakah harus kuangkat atau kubiarkan saja?


Malia, mengapa ia meneleponku justru di saat seperti ini?