The Surrender Of Love

The Surrender Of Love
Episode 7 - Kinara Says 'Yes'



Hawa dingin yang menusuk membuatku tersentak, mengerjap dan memaksa kepala untuk terangkat. Dengan pandangan yang sedikit buram, kulihat jam di meja kerja menampilkan petunjuk waktu, Monday - 02.35 A.M. Entah sudah berapa lama aku tertidur di depan laptop yang masih menyala, mengerjakan rendering akhir video iklan Pandana. Kutekan tombol off pada alat pengontrol pendingin ruangan yang masih bekerja di suhu 18 derajat, beranjak bangkit mengambil segelas air putih untuk membasahi tenggorokan yang kering.


Aku seketika teringat belum sempat mengerjakan sholat isya ketika terlelap. Kusambung dengan dua rakaat tahajud, untuk menenangkan hatiku yang didera gelisah. Sejak menemui Malia di bandara beberapa hari lalu, ia kerap hinggap di pikiranku. Terbersit gaya hidupnya yang semakin menjauh dari seorang Malia yang pernah aku kenal sebelumnya. Aku tak bisa membohongi diriku sendiri bahwa masih tersisa rasa sayang yang begitu besar padanya. Melihatnya seperti itu sama saja dengan menoreh segores luka di hatiku.


Hari ini adalah tenggat waktu yang kuajukan pada Kinara untuk meminta jawaban darinya tentang kami. Tekadku sudah bulat akan meminang gadis itu sejak terakhir ia melepasku dengan tatapan rindu. Kinara begitu polos dan bersahaja, sangat berbeda dengan Malia yang tak pernah bisa kugenggam hatinya. Satu hal yang membuatku yakin untuk menjalani hidup dengannya adalah sebuat ketulusan dan kepasrahannya untuk mematuhi orang tua, membuatku teringat akan almarhum papa. Saat ini hanya tersisa mama yang ada mendampingiku, tak ada alasan bagiku untuk tidak membahagiakan beliau. Dan tak ada alasan pula bagiku untuk menolak Kinara. Ia cantik, sholeha, dan juga cerdas. Yang perlu aku lakukan adalah membuang jauh rasaku pada Mal, dan mulai belajar mencintai Kinara.


Masih satu jam lagi hingga adzan subuh berkumandang. Tersedia cukup waktu untuk merangkai kalimat menanyakan kesediaan Kinara. Aku harus mengatur dengan baik agar ia tak mempunyai celah untuk menolak, karena segala kemungkinan masih bisa terjadi sebelum kudengar jawaban 'ya' dari dirinya.


Kin, bagaimana cara mengatakan padamu bahwa aku ingin menikah denganmu?


------


"Kin ...." Wajah ibu muncul dari pintu kamarku yang tak tertutup rapat. Kami baru selesai sahur, dan aku duduk di kamar sambil membaca beberapa lembar ayat Al-Qur'an seraya menunggu waktu subuh. Aku bergeser sedikit menyediakan tempat untuk ibu duduk di sisi ranjang.


"Bagaimana kabarnya Bima?" beliau bertanya dengan tatapan teduh. "Bang Khalif bilang pada Ibu, Kin ada berbincang dengan Bima sebelum kepulangannya."


Aku memang tidak menceritakan apapun pada ibu. Sengaja kutahan berjuta harapan yang berdesakan di dada sampai pada saat dia menghubungiku lagi. Memang tak bisa menyembunyikan apapun dari ibu, Bang Khalif pasti akan mengatakannya lebih dulu. Kadang terasa menyebalkan, namun seperti itulah bentuk rasa sayangnya padaku, adik bungsunya.


"Bima memberikan Kin waktu satu minggu untuk berpikir," ujarku. Dan itu adalah hari ini.


"Kin sudah memikirkannya?" ibu bertanya lagi, kali ini kutanggapi dengan anggukan malu.


"Semuanya Ibu serahkan pada Kin. Berdo'alah pada Allah agar Kin diberikan kemampuan untuk memutuskan dengan bijak." Kemudian ibu meninggalkanku duduk termangu.


Aku sudah mengkhususkan do'a tentangnya satu minggu ini, juga mempersiapkan jawaban yang akan kuutarakan saat ia menanyakan hal tersebut. Yang kukhawatirkan adalah bagaimana jika ia tidak menghubungiku lagi, sementara aku sudah terlanjur berharap. Baiknya kupasrahkan saja segalanya pada Allah, hanya Dia lah sebaik-baiknya penentu atas seluruh jalan terbaik untukku dan Bima.


Bima, di manapun kamu berada saat ini, berdo'alah untuk kita, dan untuk sebuah keputusan besar yang akan kita ambil untuk hidup kita berdua.


------


"Mas, aku ke studio ya." Suara Mentari terdengar renyah menyapa di tengah aktivitasku siang ini.  Adik semata wayangku itu tengah hamil delapan minggu, namun justru ia terlihat lebih aktif dibandingkan sebelum mengandung. Tempat tinggalnya yang tak jauh dari lokasi studio membuatnya sering mampir untuk mengisi sepinya saat menunggu sang suami kembali berkerja.


"Kak Fariz dinas ke Bengkulu, Mas. Aku nggak ada temen di rumah," ujarnya kemudian. Aku sudah bisa menebak apa lanjutannya. Mentari akan membujukku untuk mengantarnya ke rumah mama dan menginap di sana.


"Kamu masak apa?" tanyaku. Menu catering hari ini terasa tidak menarik. Jatahku sudah melayang pada Arifin yang setia menunggu jika aku sedang tak berselera. Nafsu makannya sesuai dengan umurnya yang baru lulus SMA tahun lalu. Yang paling aku senang dari Arifin, porsi makannya selalu sesuai dengan kinerjanya di sini. Semangat belajarnya yang tinggi membuatnya rajin lembur untuk mencari referensi baru tentang fotografi.


"Masak gulai Ayam, lalapan dan sambal terasi." Mentari masih berceloteh dari seberang sana. "Aku sebenarnya ngidam gulai belut, Mas. Tapi nggak ada belut di pasar tadi pagi,"


"Jangan makan belut. Nanti yang di perut lasak kayak kamu," sahutku disambut gerutunya.


Sejak kecil kami biasa bercanda, bertengkar, berdebat, namun tetap akrab. Aku sedikit kehilangannya saat Mentari menikah dua tahun lalu selepas menamatkan sekolah menengah. Salah seorang teman di kajian yang diikuti Mentari mengenalkannya pada pria yang menjadi suaminya sekarang. Lelaki seumurku yang sangat sopan dan menghargai adikku, membuatku memberikan ijin saat ia melamar Mentari, bahkan aku juga yang duduk di sana menikahkan mereka. Aku tadinya meragukan apakah si bungsu itu mampu menjadi istri yang baik di umurnya yang begitu muda. Ternyata bila pernikahan dilandasi pemahaman agama yang benar serta dipimpin seorang imam yang taat, Insyaa Allah akan langgeng jalannya. Belakangan ini aku banyak belajar dari Fariz, dan ini juga yang membuatku tertarik pada Kinara. Sebaik-baiknya wanita adalah yang baik agamanya.


Mentari tiba di studio dua puluh menit kemudian dengan membawa beragam tas plastik di tangannya. Karyawan studio selalu senang jika ia mampir. Arifin yang biasanya pertama menghampiri, mencari keripik pedas favoritnya.


"Gue hari ini nggak bawa keripik, Fin," ucap Mentari tertawa melihat ekspresi kecewa Arifin saat memeriksa isi kantongan plastik. "Tapi gue bawain lu ini," Mentari menyodorkan sebuah wadah berisi tempe goreng panas disertai sausnya dengan aroma yang menggugah selera. Arifin segera mengamankan cemilannya itu dari tangan-tangan jahil teman lain yang ini merebut.


"Biarin aja itu buat dia," celetuk Mentari pada Giras yang menguntit di belakang Arifin. "Gue masih punya ini." Sebuah kantongan plastik berpindah ke tangan Giras, dan senyum kemenangan mengembang di wajah pemuda itu.


"Fin, lihat nih. Gue dapet keripik!" Sengaja ia berteriak agar seisi ruangan mendengar dan saling berebutan. Dasar Mentari. Setiap ia mampir, suasana studio pasti riuh. Keceriaan yang sempat hilang sejak Malia meninggalkan kami bertujuh di studio ini untuk merantau ke Singapura.


Mentari kemudian menyiapkan makan siang yang ia bawakan untukku dan ikut makan bersamaku. Ia bercerita apa saja tentang kehamilannya yang sudah ditunggu 2 tahun lamanya. Sesuai nama yang diberikan papa padanya, Mentari selalu membawa kecerahan pada setiap orang yang berada dekat dengannya. Jarang sekali melihat Mentari bersedih atau menangis. Hanya saat papa meninggal ia terlihat sangat terpukul. Pernikahannya dengan Fariz lah yang akhirnya mengembalikan keceriaannya seperti semula.


"Mana oleh-oleh dari Jambi buat aku, Mas?" ia menagih dengan nada manja. Aku tahu sebenarnya bukan itu yang ingin ditanyakannya, pastilah mengenai Kinara. Mentari hanya memancingku untuk bercerita tentang Kin.


"Kapan aku bisa ketemu calon kakak iparku?" ia melirik jahil. "Lihat fotonya dong, Mas."


Kutunjukkan salah satu foto Kinara padanya. Mentari tersenyum menatap foto itu.


"Dia cantik banget,"gumam Mentari takjub. "Aku setuju, Mas. Dia juga kelihatan baik sekali."


"Do'akan ya semoga kami berjodoh nantinya." Aku ikut memandangi foto cantik itu dengan senyum simpul, lalu mematikan kembali layar ponselku.


"Oh ya, siapa namanya?" Mentari masih penasaran.


Namanya Kinara. Dan aku akan melamarnya hari ini.


---------


Tersisa waktu lima belas menit lagi menjelang berbuka puasa. Aku sudah mempersiapkan bekal tiga butir kurma, seporsi bubur biji salak dan satu cup teh hangat untuk dibawa ayah ke masjid di lingkungan rumah. Beliau selalu berbuka puasa di sana bersama dengan warga sekitar yang seumuran dengannya. Ayah termasuk salah satu kepala keluarga yang sudah menetap lama. Semampu memoriku mengingat, kami hanya tinggal di rumah ini dan tak pernah berpindah ke manapun.


Suara Bang Khalif dan Kak Fania yang terdengar mengucapkan salam membuatku gembira karena hari ini aku tak hanya berdua saja dengan ibu. Saat-saat seperti ini terkadang menghadirkan rindu betapa indah ketika kami bertiga masih kecil dan selalu duduk rapi di meja makan, menunggu adzan maghrib di setiap bulan Ramadhan. Setelah waktu berlalu dan kami beranjak dewasa, kenangan indah itu perlahan terlupa dengan aktivitas masing-masing. Bang Khalif dan Bang Khatab sekarang sudah menempati rumah sendiri. Tinggal aku yang masih di sini menemani ibu dan ayah. Begitu lah hidup, berputar bagaikan roda. Mungkin tahun-tahun mendatang akan ada suara bocah-bocah kecil yang kembali meramaikan.


Bang Khalif hanya menyapa sebentar, kemudian menyusul ayah ke masjid. Kak Fania duduk di ruang tengah bersama ibu. Beliau dengan penuh sayang membelai perut yang sudah terlihat membesar itu. Insyaa Allah bayi yang dikandung akan menjadi cucu pertama di keluarga ini. Kak Fania sangat bergantung pada ibu untuk merawatnya pasca melahirkan kelak. Kedua orang tuanya telah wafat sejak ia berumur lima tahun dan ia hanya tinggal beserta sang nenek hingga dewasa. Beruntung ia mempunyai mertua perempuan sebaik ibu. Sungguh aku pun berharap akan seberuntung dia saat menikah nanti.


Menikah? entahlah, bahkan belum ada kabar apapun darinya. Aku tetap berusaha berpikir positif, mungkin ia disibukkan oleh kesibukannya hari ini. Ritme hidup di Jakarta jauh lebih padat, aku harus bisa memahami itu. Lagi pula aku bukanlah siapa-siapa baginya. Hanya seorang gadis yang menunggu dilamar oleh seorang pemuda. Itu pun kalau ia masih ingat akan janjinya.


Lupis gula merah yang dibawa Kak Fania hanya kusentuh sedikit, padahal itu favoritku. Segelas teh hangat yang biasanya mampu melepas seluruh dahaga pun terasa hambar. Selepas berbuka aku memilih berkumpul dengan Kak Fania dan ibu, mendengarkan mereka bercerita. Sesekali menimpali dengan tawa dan senyum meskipun sebenarnya pikiranku tidak di sini. Bang Khalif dan ayah kembali dari masjid lewat pukul delapan malam, berbincang sebentar untuk kemudian pamit pulang. Rumah kembali sepi. Kutinggalkan ayah dan ibu yang masih duduk menonton berita, aku ingin tidur lebih cepat malam ini.


Kucoba berbaring dan memejam, namun memang sulit jika masih ada sesuatu yang mengganjal dalam pikiran. Kupilih untuk mematikan lampu dan menutup mata dalam gelap. Saat hal itu juga tak membantu, kuraih telepon genggam yang sejak pagi tadi tidak ada dering panggilan apapun. Membaca situs menjadi pilihan terakhirku untuk memaksa mata ini mengantuk. Aku sebenarnya menghindari bersinggungan dengan telepon genggamku seharian ini. Aku hanya menunggunya berdering, namun hal itu tak kunjung terjadi.


Tapi hey, ada sebuah pesan pop up yang terlihat familiar, yang aku tahu hanya bisa dikirim oleh satu orang. Kulepas kunci layar sambil hatiku menggumamkan do'a. Aku takut membukanya, meskipun pilihan yang tersisa adalah membaca isinya. Mataku perlahan mencermati sebuah pesan dengan deretan kata yang cukup panjang, mencerna satu persatu agar aku tidak salah mengartikan.


[Kin, I know this sounds crazy. Aku menyadari belum dapat menyebut ini Cinta. Yang aku punya hanya sebuah keyakinan untuk menjalaninya bersamamu. Aku tak akan menunda lama, jika akhirnya memang kamu jodohku. Katakan padaku, Kin, bahwa kamu juga merasakan itu. Aku menunggu jawaban darimu hari ini juga. Katakan 'ya' untukku bila kamu mau berjuang denganku.]


Kubaca pesan itu berulang kali dengan hati berdebar. Sebuah rangkaian kata yang indah untuk melamar seorang perempuan. Romantis sekaligus realistis. Kehangatan yang tidak biasa hadir dalam dada, rasa yang sama persis ketika ia duduk di sampingku kala kami berbincang dulu. Aku sudah mempersiapkan jawabannya sejak seminggu lalu. Namun saat membaca kembali pesan lamarannya yang begitu puitis, aku harus berpikir kreatif agar tidak terkesan murahan.


Kukirim sebuah pesan. Jariku sudah bersedia untuk mengetik deretan kata indah yang ada di kepala. Namun lebih dulu masuk jawaban darinya.


[Orangnya sudah tidur]


Isi pesannya memaksaku tersenyum. Lelaki ini romantis sekaligus usil pada saat yang sama.


[And you are?] sedikit kuselidiki mengantisipasi jika itu bukan dia yang menjawab.


[Digital Assistant] balasnya sedetik kemudian.


Kali ini aku yakin sedang berurusan dengan Bima yang sama saat ia mencuri jepret foto-fotoku dan membuatku marah seharian.


[Your name is?] kuikuti saja sekalian alur permainannya. Lama ia tak membalas. Dugaanku ia pasti sedang mencari sebuah nama sekarang.


[Pilus ...?] balasnya diikuti beberapa emoticon tertawa lebar. Aku juga ikut tertawa membacanya. Bagaimana mungkin menetapkan nama makanan ringan untuk seorang asisten digital. Aku mengira akan terbit sebuah nama mendekati Jarvis, atau Friday seperti di sekuel Iron Man.


[Well, Pilus. Please tell Mr. Bima, Kinara say 'yes']


Aku menunggu dengan berdebar respon apa yang akan diberikan olehnya. Apakah di sana ia sama bahagia nya dengan diriku sekarang?


['Yes' for what matter, Miss Kinara?] sebuah pesan yang menurutku menuntut akan pengakuan.


Ah, Bima. Tidakkah jawaban itu cukup untukmu?


----------


Semilir angin berhembus pelan malam ini. Aku duduk sendiri di balkon apartemen, ditemani secangkir kopi dan beberapa makanan ringan yang aku temui di lemari dapur. Hampir pukul sembilan malam. Lalu lintas Jakarta seperti biasa masih padat dengan laju kendaraan. Beberapa pekerjaan yang aku bawa pulang tetap tak tersentuh. Pikiranku mengembara tak tentu arah.


Aku telah menunggu berjam-jam sejak mengirim pesan itu pukul lima sore tadi. Berstatus delivered, namun tidak dibaca sama sekali. Berulang kulihat menu percakapanku dengannya, namun tetap sama. Sampai ketika tiga puluh menit lalu tanda centang itu berubah warna dan masuk sebuah pesan darinya.


['Yes' for what matter, Miss Kinara?]


Terdengar menyebalkan pastinya. Namun aku harus memastikan benar-benar bahwa ia siap untuk menjalani semuanya denganku. Tak apa jika kau marah padaku, Kin. Karena kau tetap terlihat cantik, dan aku selalu punya cara untuk membujukmu.


['Yes' for being your wife, Bima.]


Balasan yang seketika membuat perasaanku berubah bahagia. Saat itu juga kutekan menu panggilan atas kontaknya. Kinara mengangkat di dering ketiga. Suara jernih yang seminggu ini tak terdengar, menyapa dengan ucapan salam.


"Kin," aku menyebut namanya dengan suara bergetar.


"Ya?"


"Thank you so much," ucapku.


"For?"


"For being so brave," kuungkapkan sebuah kekaguman padanya.


Aku sangat menghargai keberaniannya mengambil keputusan dalam jangka waktu sangat singkat. Pernikahan adalah sebuah langkah besar. Banyak pasangan bahkan berpikir ulang saat akan memasuki jenjang ini.


Aku menanyakan kabarnya saat kami tak bertemu. Ia menjawab dengan sangat sopan. Tawanya mengingatkanku saat kami duduk berdua dan bertukar canda di tepi Sungai Batang Hari. Aku mulai menyukai hal-hal kecil yang ia obrolkan, ringan namun tetap terselip kecerdasan di dalamnya.


"Kin, aku akan menghubungi ayah dan ibu besok pagi," ucapku di sela percakapan kami. "Menanyakan apa saja yang harus aku persiapkan untuk melamar kamu."


Kinara menyetujui rencanaku dan sepakat mengabarkan lebih dulu kepada mereka. Saat malam sudah hampir larut, aku memohon ijin untuk memutuskan sambungan. Ia menyelipkan sebuah rindu dengan sangat halus dalam ucapannya, membuatku tak sabar ingin segera terbang ke sana menemuinya.


Sebuah notifikasi pesan dari Kinara kembali terdengar saat aku hendak beranjak meninggalkan balkon.


[Bim,]


[Yes?]


[Just curious, Why Pilus?]


Isi pesannya memaksaku tertawa. Sebenarnya kata itu begitu saja saat melihat bungkusan makanan ringan di samping cangkir kopi. Kuambil satu foto kondisi meja dan mengirimkan padanya.


[Sudah habis sepuluh bungkus sambil nungguin jawaban kamu.] candaku


Kinara membalas dengan emoticon senyuman.


[Menunggu yang tak sia-sia bukan?] Ia menegaskan perasaannya padaku.


Kin benar. Sangat beruntung aku dipertemukan lagi dengannya. Seorang gadis yang pernah hadir di masa kecilku, dan kini akan menjadi istriku dalam waktu dekat. Sebuah proses menunggu yang tak sia-sia.


[Sweet dream, Beautiful.] Kututup obrolan dengannya melalui pesan itu.


Mimpi indah, Kin. Seindah kisah kita yang telah dipersiapkan untuk dijalani bersama. Aku akan menyerahkan hatiku hanya padamu. Meski kita sama tahu bahwa tidak akan mudah mewujudkannya. Berjanjilah padaku, Kin. Cintailah aku dengan segenap jiwamu, agar aku mampu mengubur seluruh rasa yang pernah hadir di masa lalu.