
Suasana sarapan paling tidak menyenangkan yang pernah kulalui sejak menikah. Dan menunya, entah apa yang Kin campur dalam nasi goreng ini. Rasanya tidak karuan. Memang benar, suasana hati sangat mempengaruhi hasil racikan. Atau memang gerah di dalam dadaku yang membuat lidahku tak mampu mencecap rasa.
Ia masih diam sejak kutinggalkan sore itu. Aku sudah mengajaknya serta, namun ia terlanjur marah saat mendengar perkataan Enggar dan memilih untuk tidak menemaniku. Saat pulang, kutemukan ia sudah tertidur menghadap sisi luar, dengan bantal yang basah karena air mata. Tangisan kedua sejak kami bersama, dan murni karena cemburu. Ah, wanita. Mengapa begitu rumit memahami hati kalian?
Kuputuskan untuk tidak pergi ke studio hingga masalah ini selesai. Aku pun tak bisa bekerja dengan nyaman jika pikiranku masih mengambang. Sudah kukirim pesan pada Enggar subuh tadi. Ia membalas dengan emoji lidah terjulur seolah mengejek penderitaanku. Ya, ini adalah sebuah derita yang berat saat harus berhadapan dengan mahluk yang tiba-tiba membisu seperti ini.
"Kin," ucapku karena hanya denting sendok garpu yang menemani sarapan kami. "Please say something."
Ia menengadah dari piring yang sejak tadi ia pandangi. Menatapku dengan berani. Ini kemarahan kedua pula sejak aku mengenalnya. Tatapan itu sama persis ketika dulu gawainya kucuri pinjam untuk memotret dirinya. Seketika aku sadar sedang berada dalam masalah besar dengan perempuan cantik ini.
"Apa yang harus aku bicarakan?" jawabnya ketus. "Bukannya kamu yang harusnya bicara."
Kutahan lengannya yang akan bangkit, mencari sorot matanya untuk mencerna isi hatinya. Ia hanya memalingkan wajah, dan bersikeras meninggalkanku yang sedang berusaha menghabiskan nasi goreng dengan cita rasa yang kacau ini. Jika tidak dihabiskan, dapat dipastikan akan timbul masalah baru lagi.
Bunyi keras dari piring yang bersenggolan terdengar dari arah dapur. Istri cantikku sepertinya memang sedang marah besar. Betapa tidak nyamannya berada dalam situasi ini. Jika bisa diputar ulang pasti tak akan kulakukan tindakan bodoh kemarin.
Ia melangkah melewatiku menuju kamar tidur tanpa menyapa apapun. Kutekan pelipis yang terasa berdenyut. Aku butuh segelas kopi untuk membuatku tetap waras. Setidaknya bisa menerbitkan inspirasi bagaimana cara jitu untuk membujuk si perajuk itu.
Terus terang bukan hanya karena amarah Kinara yang membuatku begini sengsara. Tapi apa yang terjadi dengan Malia juga amat menyita perhatianku. Enggar telah menceritakan semuanya malam tadi. Jelas aku tak menyangka bahwa itu yang sebenarnya terjadi. Satu per satu potongan memori seolah berlomba untuk terangkai. Saat ia menolak lamaranku, lalu pesan-pesan yang ia hapus di hari akad nikahku, bagaimana ia menghindariku, hingga kebiasaan buruk yang menghinggapinya belakangan ini. Semua itu ternyata karena perasaan cintanya padaku yang sudah terlambat.
"Dia pria baik-baik," bela Enggar saat itu, ketika kujatuhkan tuduhan bahwa Andika lah yang menyebabkan Mal terlibat masalah ini. "Dia juga yang nelpon gue untuk jemput Mal sewaktu mabuk di kelabnya Tiwi."
Aku hanya diam sambil terus mendengarkan penjelasan Enggar. Benar memang. Jika Andika berniat jahat, pasti ia telah menggiring Mal ke suatu tempat.
"Kejadian itu tepat di malam hari resepsi lo di Sentul," lanjut Enggar. "Mal meracau sepanjang jalan tentang perasaan cintanya ke lo."
Kalimat-kalimat yang dilontarkan Enggar terasa bagai ribuan peluru yang menghujam jantung. Perih. Sakit. Bukan karena rasa cinta untuknya yang masih tersisa. Tapi rasa iba yang tak dapat diungkapkan dengan kata-kata. Jalan hidup ini, mengapa harus serumit ini?
"Gue nggak ngerti apakah bijak menceritakan semua ini ke lo, Bim." Enggar menatapku ragu-ragu kala itu. "Yang pasti karena kita bertiga bersahabat baik, gue rasa lo perlu tahu."
Aku tak menyalahkan Enggar membeberkan semua kisah Mal. Juga tak bisa menyalahkan Mal yang ternyata menyimpan rasa untukku. Pun tak bisa menyalahkan diriku yang saat itu memutuskan untuk menikahi Kinara. Tak ada yang bisa dipersalahkan dari hal ini.
"Itu alasan kenapa gue nggak mau lo ajak Kin kemari," Enggar melanjutkan. "Akan sulit bagi wanita untuk memisahkan antara rasa dan logika. Gue harap lo bisa menyikapi ini dengan baik."
Sisa kopi di gelas kuhabiskan dengan sekali teguk. Kupejamkan mata sesaat, mengusir semua bayangan perbincanganku dengan Enggar tadi malam. Kuputuskan untuk menemui Kinara agar keadaan ini tidak berlarut. Pengalaman percintaanku yang hampir tanpa pacar, membuatku bingung bagaimana harus berdamai dengan posisiku saat ini. Bukankah kata Enggar membujuk wanita cukup dengan pelukan?
Kin sedang membenahi beberapa helai baju di dalam lemari saat aku menyusul masuk. Ia melirikku sekilas, tapi langsung memalingkan wajah dinginnya. Segera kudekati dan memeluknya lembut dari belakang. Tubuhnya tidak membalas, namun juga tidak menolak. Kubimbing agar ia mau duduk bersamaku di sisi ranjang.
"We need to talk." Aku mengucapkannya dengan hati-hati. Kin telah menggantikan genggamanku dengan sebuah bantal yang ia dekap erat. Aku benci jika menghadapi respon tubuhnya yang seperti ini.. Jelas sebuah amarah masih menguasai hatinya. Amarah yang menuntut penjelasan tuntas dariku.
"Lidahku ingin sekali agar bisa berbohong padamu, Kin." Kucoba mulai menjelaskan dengan bijaksana. "Tapi hatiku memaksa untuk selalu jujur atas segala sesuatu yang terjadi dalam pernikahan kita."
Kinara memandangku sekali, namun segera menunduk. Ia meremas jarinya yang ku sangat ingin bisa menggenggamnya. Untuk mengurai resahnya, dan juga gugupku.
"Ceritakanlah," ujarnya singkat saja.
Terus terang aku lebih senang menghadapinya di saat ia begitu ceriwis akan sesuatu hal, dibandingkan berhadapan langsung dengan diamnya yang sedingin ini.
"Malia overdosis." Kuputuskan untuk langsung menuju inti permasalahan. "She's in a very deep depression."
Kinara terlihat sedikit terkejut, matanya menunjukkan sebuah kekhawatiran diantara kecemburuannya. Empatinya menunjukkan betapa besar rasa kasih yang ia miliki untuk sesama.
"For?" ia balas bertanya.
Ini bagian tersulit, kuhela nafas berat sebelum menjawab ke inti permasalahan.
"For falling love with me."
Kutunggu reaksinya, namun ia hanya menunduk, memandangi sendiri lentik jemarinya yang sejak tadi bertaut. Aku tak berani melanjutkan sebelum ia merespon sesuatu atas ungkapan jujurku barusan.
"Ia menolakmu dulu." Kinara mengingatkan pada apa yang pernah kami perbincangkan saat pertama kali ia menangis dalam pelukanku.
"The love came too late," kucoba menjawab apa adanya.
Kusaksikan sendiri saat raut wajah itu perlahan-lahan meredup seiring dengan luka itu merambat mengisi hatinya. Aku seketika merasa bersalah telah terlalu jujur padanya.
"Excuse me?" suaraku sedikit meninggi. Kinara mencoba memandang ke arah lain di sudut kamar. Kuikuti terus arah tatapannya. Sekali-kali aku juga harus tahu isi hatinya.
"Kamu bisa menikahinya," ia kembali mengulangi.
Aku memandangnya tak percaya. "Dan melepaskanmu?"
"Tidak perlu," sambungnya dengan suara sedikit parau. "Agama memperbolehkan."
Entah mengapa aku merasa seperti sedang ditantang akan suatu hal yang mungkin merupakan dambaan setiap lelaki manapun di dunia ini. Berani sekali ia mengucapkannya. Apakah ia tidak memperdulikan perasaannya sendiri. Aku tidak berharap sejauh itu, cukup kecemburuan telah menjelaskan betapa rasanya untukku bersemi begitu indah.
"Dan kamu mengijinkan?"
Terbersit untuk menantang balik umpan yang baru saja ia lemparkan. Terdengar begitu egois. Mungkin Kinara berharap aku akan berusaha mempertahankannya, membela perasaanku hanya untuknya. Justru aku sengaja memanfaatkan situasi ini untuk memastikan, apakah ia bersedia membagi cinta yang kumiliki untuknya dengan wanita lain.
"Answer me, Kin," kuulang bertanya padanya. Ia tetap menunduk, walau wajahnya mengangguk dengan raut pedih yang tak dapat kuungkapkan.
"Ya. Aku mengijinkan." Ia menjawab dengan bisikan yang hampir tak terdengar.
Mengapa harus membohongi perasaannya sendiri ? Ia perempuan. Kutahu tak mudah berbagi cinta. Entah apakah ia sanggup. Karena aku sendiri tidak.
Aku tidak sanggup jika harus berbagi cinta yang aku miliki untuknya.
Kutangkup dagunya tidak selembut biasa. Sedikit emosi menyelimuti hatiku. Apa salahnya bersikeras mempertahankanku, Kin. Bukan malah melepasku begitu saja untuk berbagi diriku dengan wanita lain.
"Kamu tak pintar berbohong." Kubisikkan itu begitu dekat di wajahnya, berakhir dengan mengecupnya sedikit kasar, hingga ia berpaling dan melepaskan pagutan itu.
Kecupan itu untuk menjelaskan padanya betapa cinta dan gairah yang kumiliki saat ini hanya untuknya. Betapa beraninya ia. Penolakannya malah mengundang rasaku.
Kuraih lagi wajah itu dalam tangkup jemari, hingga ia tak bisa menghindar. Menghujaninya dengan ciuman bertubi agar meyakinkannya, atau lebih tepatnya untuk membuktikan padanya bahwa sebesar ini rasa yang aku punya untuknya
"Don't fight me, Kin." Kutangkap lengannya yang mulai mendorongku menjauh. "Aku sudah menahan ini sejak kemarin."
"I can't," ia tetap menolak. "I just can't!"
Aku mengerti maksudnya. Hatinya tidak siap untuk memadu kasih saat pikirannya terlalu kalut. Tapi aku lelaki, Kin. Hanya ada satu cara untuk memastikan bahwa tidak ada sesuatu yang lain yang akan merusak ikatan cinta ini. Bicara tak selalu menuntaskan inti masalah. Hanya ini caranya.
"Just surrender," bisikku tegas.
Aku tahu ia terkejut saat kuhempaskan tubuhnya hingga terbaring di atas ranjang. Ia terus melawan, dan aku sungguh benci dengan respon tubuhnya yang tak seperti biasanya. Keadaan ini memancing egoku untuk membuktikan kepemilikanku atas dirinya.
Entah bagaimana awalnya, ia sudah berada dalam rengkuhan gairahku. Semakin ia menolak, semakin keras juga usahaku untuk menaklukkannya. Sesaat aku harus menggunakan tenagaku untuk membuatnya tenang. Lalu si peronta ini kemudian melemah, seolah pasrah mengikuti apa yang sejatinya sedang bergejolak pula dalam dirinya.
Semua berubah melambat dan syahdu. Ia menyerah dengan semua cumbuanku. Mendekapku dengan sisa tenaganya, walau matanya masih menutup seolah enggan memandangku.
Kemudian desakan itu kembali menggoda lagi. Kupandu ia untuk mengikuti. Begitu indah, hingga sesaat apa yang tadinya kami perdebatkan seolah hilang lenyap di udara. Ia menyambut, melepaskan apa yang sejak semalam tertunda karena pertengkaran itu. Penyatuan ini, terasa berkali lipat dan tak pernah kurasakan sebelumnya. Begitu juga dirinya yang kini tengah memelukku demikian erat dalam ragam rasa yang sedang menyelimuti kami.
Kurenggangkan jarak hingga dapat kunikmati wajahnya yang masih berselimut asmara. Kusentuh helai-helai rambutnya yang terlihat tak beraturan setelah penyatuan yang begitu hebatnya. Titik itu telah menghapus semua gundahku. Aku mengira ia pun begitu. Hingga perlahan tetes demi tetes air mata mulai mengalir di pipinya. Ia memalingkan wajahnya seolah enggan untuk membuka matanya dan menatapku. Bibir indahnya bergetar menahan isakan. Saat itu juga aku mengerti bahwa aku telah menghancurkan separuh hatinya yang ia jaga untukku.
Rengkuhannya pun terlepas. Dan aku bisa melihat betapa aku telah begitu kasar mencumbunya sehingga meninggalkan bekas di kulitnya yang terang. Emosi ini begitu menguras rasaku. Yang saat ini berubah menjadi sebuah penyesalan bahwa aku telah menyakitinya dan memaksanya mengikuti gairahku. Meskipun tubuhnya ikut menyambut, namun hatinya tetap menangis. Dan aku sadar, bukan itu cara yang tepat untuk berdamai dengan wanitaku.
Kuputuskan untuk tidak menanyakan apapun saat menyeka beberapa bagian tubuhnya. Ia hanya diam tidak bergerak. Dengan air mata yang terus mengalir.
Kukecup kelopak matanya, semua bagian wajahnya, namun ia tetap terpejam. Mungkin ia hanya butuh sendiri. Aku tak bisa mendesaknya untuk mengabulkan permohonan maafku yang bahkan belum sempat terucap. Pun saat kututup tubuhnya dengan selimut, ia tetap bergeming. Semakin membuat rasa bersalah tumbuh merambat di hatiku.
"I'm so sorry," kubisikkan sesal itu telinganya. Kuyakin ia mendengar, meski aku tak yakin akan segera dimaafkan. Mungkin aku sudah melukainya cukup dalam. Kutinggalkan ia sejenak untuk berdamai dengan hatinya.
Perasaan tenang melintas saat melihat tangisannya berhenti. Aku kembali untuk mengantarkan secangkir latte yang kuseduh untuknya, dan mendapati pemilik mata indah itu telah lelap tertidur. Padahal ini masih pagi dan kami baru saja selesai sarapan. Pasti malam tadi istirahatnya tidak maksimal dengan pikiran yang berkecamuk.
Tidurlah, Kin. Semoga ada sebentuk maaf yang tercipta dalam mimpimu untukku. Dan saat kau terjaga nanti, ku berharap kita bisa melupakan semuanya. Tanpa ada setitik luka yang membekas di hatimu.
Ingat, Kin. Cintaku tak cukup banyak untuk dibagi dengan yang lain. Jangan pernah memintaku untuk itu. Rasa yang kita miliki terlalu berharga untuk dicampuradukkan dengan alasan apapun yang muncul. Dan aku telah memilih mencintaimu tanpa alasan-alasan itu.
Aku. Hanya ingin mencintaimu. Tanpa yang lain.