
Tak ada yang lebih indah dibandingkan memandangi seorang bidadari berdiri anggun di dalam kamarku. Sinar mentari pagi jatuh di sisi kiri wajahnya, memberikan sedikit bias cahaya di helai-helai rambutnya yang tergerai. Entah apa yang membuatnya betah di sudut itu, karena aku menyandar di sini pun sudah hampir lima menit. Pastilah sesuatu telah menyita perhatiannya, hingga tak menyadari ada sepasang mata yang mengaguminya sejak tadi.
Sesekali tangannya menyentuh sisi dinding dengan wajah yang ia bawa mendekat, mencermati satu per satu lembar foto yang melekat di sana. Kadang keningnya berkerut, namun lebih sering ia tersenyum. Saat menunduk, rambutnya yang indah jatuh menutupi sisi kanan wajahnya. Dengan cekatan lentik jemarinya menyibak helai-helai hitam itu dan menggelungnya ke atas, memamerkan sedikit garis lehernya yang jenjang.
Semua gerakannya membuatku berjuang menahan denyut indah yang tiba-tiba muncul di pembuluh darah. Sama seperti tadi, di sepertiga malam saat kuterjaga, dan mendapati selimut yang kami pakai bersama sedikit tersingkap dan memperlihatkan padaku lekuk indah betisnya. Tak tahan, kucuri juga beberapa kecupan di wajahnya dan langsung berhenti saat ia menggeliat dan memberi tanda akan terbangun.
Aku tak lagi dapat tidur ketika menjelang subuh ia rapatkan tubuhnya dan menyembunyikan jemarinya di depan dadaku. Mungkin suhu pendingin ruangan terlampau rendah untuknya. Ia kembali terlelap saat kupeluk erat dan menyisakanku sendiri yang tersiksa dengan harum helai rambutnya hingga adzan berkumandang.
Apa yang sedang kamu lakukan padaku, Kin? Aku tak pernah mengira bisa sedahsyat ini. Bahkan hanya sedikit sentuhan kulitmu mampu membuat darahku bergejolak.
Ini jelas gila, dan kuakui diriku memang sedang tergila-gila padamu.
--------
"Breakfast, Kin?"
Sapaan itu membuat perhatianku beralih dan sontak mencari arah datangnya suara. Ia telah berdiri di sana, menyandar di sisi pintu dengan kedua tangan terlipat di dada. Sinar mentari yang begitu pekat menembus dari jendela kamar, membuat separuh wajahnya telihat menyerupai siluet. Entah sudah berapa lama ia memandangiku, membuatku seketika malu karena terlampau ingin tahu akan lembar-lembar foto nostalgia miliknya yang tertempel di dinding.
Kucuri pandang saat ia beranjak mendekat. Dengan sengaja ia berdiri begitu rapat hingga dadanya yang bidang terasa menyentuh di belakang punggung. Kuatur langkah sedikit menjauh, namun jemarinya dengan cepat meraih pundakku, membuatku tetap tertahan di sisi tubuhnya.
"Butuh penjelasan?"
Ia langsung bisa menebak isi kepalaku. Terlanjur malu kubalas tatapannya seraya mengangguk. Dengan sabar ia menceritakan kisah dibalik lembar demi lembar foto yang terpajang di depanku. Beberapa kali ia tertawa mengingat cerita yang melatarbelakangi lahirnya jepretan itu. Aku juga ikut tersenyum, lebih menikmati ekpresi yang hadir di wajahnya dari pada apa yang dikatakannya.
Sosok Bima saat remaja tak jauh beda dibandingkan dirinya yang sekarang. Hanya dulu ia tampak lebih kurus dengan rambut yang dipotong sangat pendek. Dari deretan foto itu, mataku tertuju pada seorang pemuda dengan wajah yang tidak asing.
"This must be Enggar," tebakku sambil menunjuk. Bima mengiyakan sekaligus memuji kejelian mataku saat mengamati.
"Enggar dulunya gemuk. Sejak mulai kuliah ia terpacu menurunkan berat badan hingga seperti sekarang."
Pandanganku terus menelusuri deretan foto di sebelahnya, hingga terpaut pada satu sosok gadis cantik berambut ikal sebatas telinga. Ia berdiri diantara Bima dan seorang lagi yang sama-sama memakai seragam SMA. Melihat goresan warna-warni yang mencoret baju putih mereka, pastilah foto itu diambil pada hari kelulusan.
"And this girl is?"
Hatiku tak sanggup menahan rasa ingin tahu, karena hanya gadis itu satu-satunya perempuan yang fotonya tertempel di dinding ini. Aku menduga ia adalah orang yang sama dengan wanita yang kutemukan di instagram Bima. Kulihat Bima memandangku sejenak, menarik napas, untuk kemudian beralih kembali pada sosok yang kami bicarakan.
"She's Malia, one of our best friend," ujarnya setengah berbisik. "Sekarang dia tinggal di Singapura. Bekerja sebagai fashion photographer di sana."
Kusangkal sebuah cemburu yang jelas hadir di hatiku saat mendengar Bima mengucapkan nama itu. Ada yang asing dalam tatapannya, walau tak bisa kuartikan jelas. Cukup untuk membuatku memahami bahwa gadis itu pernah memiliki arti di hidup Bima.
"Malia fotografer handal. Aku berniat menghubunginya untuk datang pada hari resepsi kita. Agar ia bisa memotretmu, Kin." Bima memandangku, namun segera melempar jauh tatapannya keluar jendela. "Karena aku akan cemburu bila ada lelaki lain yang mengabadikan keindahanmu selain aku."
Entahlah. Aku tak kenal siapa gadis itu. Yang aku tahu ada kilatan rindu di mata Bima saat membicarakan tentangnya. Kusesali mengapa harus menanyakan hal itu padanya, karena sekarang malah aku sendiri yang terbakar api itu.
Malia, terlihat cantik dengan sorot mata yang cerdas. Jika ia memang bagian dari masa lalu Bima, haruskah aku bertemu dengannya? Karena aku merasa tak sebanding jika harus bersaing dengannya. Dengan wanita yang mungkin sebelum kehadiranku telah berperan di hidupnya.
Bim, siapa sebenarnya Malia di hatimu?
------
[Sept 14, my wedding party. Hope you can be there, Mal.]
Sudah sekian pesan yang kukirimkan untuknya, dan selalu tak berbalas. Enggar juga sama. Tak pernah sekalipun panggilan teleponnya diangkat oleh Mal. Dia seolah menghilang tanpa kabar. Enggar pun terlihat kuatir. Sesibuknya Mal,ia tak pernah seacuh ini.
"Ntar sore gue mampirin ke rumah bokapnya, 'kali aja bisa dapat kabar tentang Mal," tegas Enggar sambil tangannya memainkan bolpoin di mejaku. Aku hapal betul, gaya Enggar bila sedang resah dari dulu seperti itu.
Aku dan Enggar sudah layaknya saudara bagi Mal. Ia terlahir tunggal dengan kedua orang tuanya bercerai saat ia bahkan belum mengerti arti keutuhan keluarga. Sang ibunda memilih untuk meniti karir di Eropa meninggalkan Mal dan ayahnya. Saat ayahnya terlampau sibuk, Mal kadang hanya tinggal bersama sepasang suami istri yang ditugasi sebagai penjaga rumah. Di saat-saat ia kesepian, aku dan Enggar lah yang menemaninya menginap, mengisi kamar-kamar kosong di rumahnya yang sangat besar. Sebuah kondisi keluarga yang sungguh miris. Bahkan aku sebagai lelaki pun tak sanggup bila dihadapkan pada kenyataan itu. Tapi Mal, ia sudah ditempa sejak awal. Tak pernah sedikitpun ia menangisi nasibnya yang hampir tanpa keluarga. Ketegarannya itu yang membuatku kagum hingga akhirnya rasa itu berganti cinta.
"Langsung kontak gue begitu lu dapat kabar Mal."
"Allright," ujar Enggar sebelum menghilang di balik pintu. "Betewe, itu Kin kalo kelamaan lu tinggalin di ruang preview bisa jadi 'bonus' buat anak-anak," lanjutnya dengan tampang iseng.
Akh, aku hampir melupakan Kinara yang tadi juga kubawa serta. Dalam perjalanan pulang dari rumah mama, Enggar menelepon untuk singgah sebentar ke studio. Aku dan Kinara diminta untuk memilih foto-foto pernikahan untuk didesain dalam bentuk album.
Cepat kususul langkah Enggar menuruni anak tangga menuju lantai bawah. Benar saja. Arifin, Vito, dan Adam sedang duduk manis di ruang depan sambil mencuri-curi pandang pada Kinara. Hanya tawa jahil yang mereka suguhkan saat kuusir pergi kembali ke meja masing-masing. Ternyata begini rasanya punya istri cantik. Hatiku tak pernah tenang saat ada mata lain yang ikut menikmati paras indahnya.
"Kin, are you done?" sapaku lalu ikut duduk di sampingnya.
"It's so confusing, Bim," helaan nafasnya terdengar disela senyuman. "Semua fotonya bagus. Aku jadi bingung."
"Kalau kamu bingung, biar anak-anak saja yang memilih," saranku pada Kin. "Jika tidak didesain dan cetak minggu ini, akan terlindas oleh pekerjaan lain dan anak-anak akan kehilangan momennya."
Kami memang membiasakan menyelesaikan setiap pekerjaan dengan jadwal yang teratur. Enggar termasuk rapi dalam menyusun dan memilah sesuai keahlian masing-masing. Bahkan ia tak segan menegurku jika konsep yang diminta klien belum terselesaikan. Hampir sepuluh tahun mengenal, kami sudah seperti saudara. Dan aku sangat beruntung kami bisa saling isi dalam kurun waktu yang tidak sebentar itu.
Kinara langsung menggeleng. "Cukup di album saja, Bim. Ayah berpesan begitu."
Kuhargai pilihan Kinara untuk tidak memajang foto pernikahan kami. Bagiku tak masalah, sepanjang wajah aslinya bisa kupandang setiap hari. Bukankah justru lebih indah menyaksikan langsung dibandingkan lewat foto?
"Whatever you wish, Princess," ujarku. "Semua fotonya sudah ada di dalam ini dan bisa kamu lihat kapanpun kamu mau." Kutunjukkan sebuah usb-disc padanya.
"Kalau memang mau dicetak untuk dipajang, aku suka foto yang ini." Kinara menunjukkan padaku sebuah foto yang memperlihatkan saat jemari kami bersatu dengan cincin yang masing-masing melingkar di jari manis. Komposisinya begitu rapi dan unik dengan background dedaunan hijau di halaman belakang rumah Kinara. Kuakui Enggar memang mahir untuk urusan memotret pernikahan. Hampir tak ada momen yang luput dari lensa kameranya.
"I knew you would like it, Kin," Enggar melirik ke arahku penuh kemenangan saat kutunjukkan kembali foto pilihan Kinara. Bergegas ia menuju mesin cetak dan beberapa saat kemudian foto berukuran 14R itu telah terbingkai dengan rapi. Kinara menerimanya dari tangan Enggar dengan senyum simpul.
"Wedding photographer can easily win woman's heart," Enggar sempat-sempatnya berkelakar. "Admit it, Bim."
Sengaja ia membalas sindirianku yang terkadang usil mengejeknya saat ia menolak ajakanku berburu foto landscape. Sudah menjadi bakat Enggar sejak SMA, ia mampu membuat objek fotonya jauh lebih menarik dibanding aslinya. Terutama wanita. Karenanya aku tak ingin Enggar memotret Kinara lagi untuk selanjutnya. Lebih baik cepat kuajak pulang Kinara dari sini, sebelum berpasang mata jahil penghuni studio semakin lapar menatapnya.
"Jika ada foto lain yang ingin dicetak, just let me know, Kin," Enggar mengingatkan saat kugamit lengan Kinara untuk pulang.
"Kasih tahu aku, nanti aku yang kasih tau Enggar." Kuralat cepat dan Enggar langsung menertawakan.
"Bye, Kin."
Masih kudengar tawa Enggar hingga pintu kaca tertutup. Kinara memandangiku dengan tanda tanya. Aku pura-pura tak menggubris dan mulai mengendarai mobil meninggalkan studio. Tak kuasa membalas tatapan Kinara, tepatnya tak ingin ia menguliti hatiku yang dipenuhi cemburu.
Maaf, Kin. Biarlah kau mengira ini konyol, bukankah sah-sah saja jika aku ingin memilikimu hanya untukku.
-------
Ia terlihat aneh sejak kami tiba di apartemen. Sedikit dingin meski tetap bersikap manis. Hatiku menduga-duga apakah memang aku yang terlewat ramah pada Enggar dan anak-anak di studio, atau mungkinkah ia yang dirasuki cemburu.
Kuhampiri ia yang tekun dengan ponselnya di sofa depan televisi. Sepulang dari masjid selepas isya, ia langsung duduk di sana. Hanya bicara sepatah dua patah kata padaku.
"Aku lagi bikin instagram buat kita," ujarnya saat kutanyakan mengapa ia begitu serius.
"Khusus aku atur private, cuma aku dan kamu yang bisa lihat." Bima menunjukkan akun baru itu yang bernama profil Kin & Bim. Beberapa foto pernikahan kami sudah terposting di sana, dengan menandai akun pribadi aku dan dirinya. Juga beberapa foto yang dia ambil diam-diam selama beberapa hari kami bersama.
"Kamu juga boleh memposting foto apapun di sini." Bima memberikan kata sandi yang ia atur dan memintaku mencoba log in. Aku ingat punya satu foto dirinya yang juga aku curi jepret di pagi pertama kami bersama. Saat itu Bima sedang menungguku bersiap untuk berangkat meninggalkan Jambi. Ia duduk melamun sendiri di halaman belakang, dan entah mengapa sangat mencuri perhatianku.
Bima tersenyum malu saat foto itu tayang dalam beberapa detik. Lama ia pandangi dan sangat penasaran bagaimana aku bisa memotretnya.
"Ini untuk balasan yang kemarin," ujarku tertawa, mengingatkannya akan insiden curi-jepret fotoku di awal kami berjumpa.
"I like the idea, Kin," tuturnya. "Kita saling memotret tanpa diketahui yang lainnya. It's like a surprise for me."
Bima mendekatkan ponselnya padaku hingga kami berbagi pandangan pada layarnya. Beberapa caption yang tertulis sungguh membuatku merona, mewakili pesan cinta yang sengaja disisipkannya padaku tentang rasa hatinya. Sebuah foto membuatku tersanjung. Bima mengabadikan momen saat aku tersenyum menunduk, masih terbalut gaun putih di hari akad nikahku dengannya. Di bawahnya tertera caption sebuah tanya, 'Why are you so beautiful?'
Aku memandangnya setelah beralih dari foto itu. Bima balas tatapku dengan sorot matanya yang bisa kuterjemahkan bercampur baur. Ada cinta, gairah, dan sedikit rasa takut atau cemas. Hampir sama seperti yang aku rasakan padanya.
"You do drive me crazy, Kin," gumamnya dengan jemarinya menyibak helai rambutku, menyembunyikannya di belakang telinga.
"I'm sorry," Aku menunduk untuk menghindar. "I didn't mean to."
"No, Kin. I like it." Bima meraih daguku, membawa tatapanku kembali padanya. "
"I like being crazy because of you."
Bima meletakkan ponsel yang sedari tadi ia genggam, menggantikannya dengan jemariku. Situasi seperti ini sungguh membuatku serba salah. Aku hanya bisa memejamkan mata untuk menutupi semburat merah yang dipastikan saat ini telah menyelimuti wajahku. Menunggu kemungkinan yang akan terjadi selanjutnya.
"Kin ...," kali ini nada suaranya terdengar rendah. "I want you to kiss me."
Ini sungguh di luar dugaanku. Permintaannya membuatku benar-benar bersemu malu. Bagaimana mungkin aku tahu cara menciumnya, bila baru pagi tadi aku dikenalkan pada ciuman pertamaku dengannya. Bim, this is crazy.
"Kin,"
"I don't ...," kuatur nafas yang seolah berpacu secepat detak jantung. Ia masih memandangku, menunggu.
"I don't know how to kiss," pelan kukatakan itu. Entah bisa atau tidak tertangkap olehnya, tapi kulihat ia tersenyum mendengar pengakuanku yang begitu jujur.
"Just put your lips on mine, Kin," bisiknya. "I will do the rest."
Kalimat itu penuh penekanan sekaligus tersirat penguasaannya pada diriku. Ia memanduku mengenal gairah yang tumbuh perlahan hingga saat yang tepat untuk disandingkan. Aku menyukainya, membuatku benar-benar merasa dimiliki.
Bim, just lead me the way. I will follow to where ever you take me. Because from now on, I will put my trust on you.