
"Ready now?"
Tatapan teduh itu meminta persetujuanku. Jemariku telah berpegang pada lengan kirinya, dan ia tinggal menunggu aba-aba dariku untuk melangkah. Kuatur sebuah tarikan nafas diselingi doa agar segala sesuatu yang direncanakan hari ini semua berjalan lancar.
Ternyata seperti ini rasanya berjalan dengan gaun panjang menjuntai yang dihiasi beragam hiasan di bawahnya. Kakiku berkali hampir menginjak ujung gaunku sendiri saat Bima membimbingku melewati koridor. Ia sendiri harus memperlambat langkahnya agar sejajar denganku.
Pandanganku segera bertemu dengan ratusan pasang mata yang sudah menantiku dan Bima. Hampir saja aku terserang gugup jika lelakiku itu tidak menenangkan hatiku dengan senyumnya. Mentari segera datang menghampiri saat langkahku tiba di karpet berkelopak mawar yang akan menjadi jalur kami menuju gazebo. Di depan telah berbaris gadis-gadis kecil bergaun renda berwarna hijau senada, masing-masing memegang setangkai bunga di tangannya.
Untunglah, tingkah polah para pengiring pengantin cilik itu membuat keteganganku mereda. Saat iringan mulai bergerak, seorang balita yang harusnya berjalan paling depan terlihat bingung dan malah melangkah mundur serta melekatkan jemari mungilnya pada genggaman Bima. Ulahnya itu memancing gelak tawa, sebelum akhirnya sang ibu menggangkatnya dan meletakkannya kembali ke barisan semula.
Dari jauh aku melihat ayah dan ibu telah duduk di kursi terdepan di dalam gazebo, begitu juga mama dan beberapa kerabat tetua lain yang kemarin sempat dikenalkan Bima padaku. Kak Fania dan Bang Khalif ikut berdiri di kerumunan tamu, dan begitu juga Enggar dan anak-anak studio yang berpencar untuk mengabadikan momen ini.
Nuansa dekorasi yang dipilih Mentari sungguh menawan. Mewah namun tidak berlebihan. Aneka bunga segar berwarna putih berbeda jenis tampak menghiasi area pelaminan, dipadukan dengan beragam sentuhan rustic di setiap sudutnya. Yang paling aku suka adalah kombinasi dedaunan dan ranting kayu yang didesain menggantung di langit-langit gazebo, menghadirkan suasana hutan nan sejuk.
Bima membantuku duduk saat kami tiba di kursi pengantin. Begitu ramai kerabat yang memenuhi area tetamu di kiri kanan, dan senyum ibu adalah yang pertama langsung tertangkap pandanganku. Seorang pembawa acara mulai menyapa melalui pengeras suara, yang dilanjutkan oleh para tetua yang satu per satu memberikan wejangan pernikahan. Ada beberapa yang menyampaikannya secara kocak, sehingga membuat Bima tertawa malu saat bertukar pandang denganku. Di akhir kata sambutan itu, ayah didaulat untuk mengucapkan doa. Aku hanya mampu menunduk saat kata demi kata yang terucap dari bibir ayah satu per satu meresap ke dalam hatiku. Bima menggenggam jemariku erat, menandakan ia juga sangat tersentuh akan perkataan ayah. Bisa terlihat sudut mata ayah berkaca-kaca saat Bima menghampiri dan memeluknya di akhir doa beliau.
Ayah, jangan kuatirkan Kin. Bima telah menjaga Kin dengan baik. Kin bahagia, Ayah. Terima kasih telah memilih Bima dan menjodohkan Kin dengannya.
--------
Sesi foto dan perkenalan keluarga telah selesai. Acara dilanjutkan dengan silaturahim antar kerabat. Sebuah piano akustik mengalun lembut tanpa penyanyi di sudut ruangan, melantunkan melodi tembang-tembang cinta. Aku baru akan mengajak Kinara berkeliling saat Mentari datang menghampiri.
"Kalian berdua harus lihat ini," ucapnya sembari menarik lengan Kinara untuk mengikutinya menuju salah satu sudut gazebo. Pasti ini hal yang disembunyikannya sejak kemarin, hingga aku dan Kinara tak boleh melihat hasil kerjanya yang memang khusus ia simpan untuk hari ini.
Di sudut itu telah tertata apik beragam bingkai kayu kecil yang disusun sembarang dan memuat beragam fotoku dan Kinara. Sebagian tergantung tanpa bingkai, hanya diberi penjepit berderetan di sela-sela dedaunan dan ranting yang merupakan bagian tema dekorasi. Foto-foto itu separuhnya diambil dari momen akad nikahku dengannya. Namun separuhnya lagi, Kinara sampai berkali kali mendekatkan wajahnya mengamati satu per satu foto itu hingga terasa puas.
"Sebanyak ini, Bim?" ungkapnya tak percaya saat Mentari telah meninggalkan kami berdua di sudut itu.
Aku sudah pernah melihat semua foto ini di album milik mama. Foto-foto masa kecil kami sewaktu di Jambi. Mentari pasti meminta Enggar untuk mencetak ulang dan membubuhkan penanda tahunnya di setiap foto. Namun Kin, kuyakin ia hanya punya selembar foto masa kecil itu, saat kugenggam tangannya yang mungil ketika kami bermain bersama.
Semua terpapar di sana. Foto di saat Kinara lahir dan mama mengijinkanku menggendongnya dengan bantuan ibu. Saat berbagi mainan di atas rumput halaman belakang rumahnya. Saat bermain selang air ketika ayah mencuci motor bebeknya. Dan saat kugantikan es krimnya yang terjatuh, di mana tangisnya berganti senyuman.
Kubiarkan Kinara menikmati kenangan lama yang baru ia temukan itu. Jemarinya menyentuh setiap lembar foto, seakan masih tak percaya bahwa itu memang aku dan dirinya yang terabadikan di sana.
"Mama punya albumnya di rumah bekasi."
"Aku tak mengira sebanyak ini." Ia masih terlihat antusias. "Mama yang memotret semuanya?"
"Hobi fotoku menurun dari beliau," jelasku padanya.
Kinara meraih tanganku dalam genggamannya, memandangku malu-malu terlihat seperti akan mengatakan sesuatu.
"Bim," ucapnya lembut. "Terima kasih telah menyayangi Kin sejak dulu."
Ucapan itu membuatku sangat terharu. Kin, aku juga baru mengetahui kisah ini sesaat sebelum bertemu lagi denganmu. Andai kutahu lebih awal, tak akan kusia-siakan bertahun mencintai orang lain jika memang akhirnya cinta itu berlabuh padamu.
Kubalas ungkapan cintanya dengan sebuah kecupan di dahi. Kinara mengangguk saat kuajak beranjak dari sudut galeri foto itu. Aku akan membawanya sedikit berkeliling, menjumpai beberapa saudara sepupu yang belum sempat ia kenal. Tetaplah di sisiku, Kin. Aku akan terus menjaga dan mencintaimu. Seperti dulu, saat kita bahkan belum tahu apa makna cinta itu.
---------
Derai dan gelak tawa saling bersahutan mengisi suasana makan malam. Meja makan panjang disusun rapi di dalam gazebo, yang seketika bernuansa sangat romantis dengan lampu-lampu kecil yang bertaburan di langit-langit. Hanya kerabat dekat Bima yang masih tinggal, sebagian lain sudah beranjak pulang. Aku sangat senang akan keakraban yang terjalin antara dua keluarga ini. Terlebih keluarga besar Bima sangat menghormati kehadiran ayah, ibu serta saudara kandungku.
Waktu belum begitu larut selepas makan malam, namun beberapa sudah memilih beristirahat untuk melepas penat seharian tadi. Bima mengajakku kembali ke villa, yang kuyakin arahnya berbeda dengan villa yang kami tempati semalam.
"Kita pindah ke villa khusus," jelasnya saat kutanya. "Aku ingin suasana tenang malam ini."
Aku hanya diam dan mengikutinya dengan debaran di dada. Cukup jelas ungkapannya barusan, dan aku tak cukup beralasan untuk menolak apapun. Sejujurnya, rasa ini pun sungguh tak tertahan lagi sejak beberapa hari terakhir ia mulai sering mencumbuku dengan gairah yang terlihat nyata.
Villa ini lebih besar dari sebelumnya. Dengan hiasan layaknya kamar pengantin, dipenuhi rangkaian bunga segar dengan aroma memikat. Seolah mengerti, Bima memberiku ruang untuk bersiap diri. Ia duduk sesaat di balkon villa melihat beberapa jepretan sewaktu makan malam tadi yang diambil dengan kameranya.
Saat Bima masuk ia tidak berkata apapun, hanya meletakkan kameranya dan tersenyum sekilas padaku. Aku menunggunya selesai, mendengar suaranya menyikat gigi, hingga ia keluar dari kamar mandi dengan baju kaus tipis dan celana panjang untuk tidur yang kusediakan. Kupilih duduk di kursi karena seprai yang terpasang begitu indah dengan hiasan kelopak bunga mawar, membuatku bingung harus berbuat apa.
"Mengapa duduk di situ?" Bima meraih tanganku, menuntun ke arah ranjang, hingga kami duduk berdampingan.
"Takut seprainya kusut," jawabku jujur dan Bima langsung tertawa mendengarnya.
"Nanti juga bakal kita bikin kusut," tuturnya dengan canda.
Bima menarik tubuhku merapat dan mencium rambutku lama. Saat ia lepaskan, kedua tangannya menangkup wajahku dan memaksaku menatap langsung ke matanya.
"Kamu sudah membuatku sangat jatuh cinta hari ini." Ia mengatakan itu dengan balutan gairah.
Perlahan bibirnya mulai menyapu lembut, dan untuk pertama kalinya kuberanikan diri untuk membalas kecupannya. Reaksiku semakin menambah desakannya. Jemarinya yang tadi menyentuh pipiku kini menjelajah ke beberapa tempat yang membuatku tak kuasa menahan desah. Aku sudah memperhitungkan semuanya sejak awal memasuki kamar ini. Aku tak mau membuatnya menunggu lebih lama lagi.
Kecupan itu terus berpindah memperkenalkan padaku beragam rasa baru yang selama ini tak kuketahui. Terus bergelora dan membuat kewarasanku semakin menipis. Aku mulai hanyut akan bujuk rayu bibirnya, namun ia menghentikan tepat saat aku mulai tergoda.
"Ask me, Kin," kudengar bisiknya.
Sungguh aku tidak bisa berpikir jernih untuk mencerna perkataannya. Oh, Bim. Lakukan sajalah apapun itu. Aku sudah memasrahkan diriku untukmu.
"Ask me," ulangnya kali ini.
Aku mengerti sekarang. Lelaki ini, suamiku, sedang menunggu persetujuanku untuk bercinta dengannya.
"I want you to make love to me." Kuputuskan untuk memintanya,
"Say it again, Kin."
"Please, Bim," hanya berupa bisikan namun kuyakin terdengar olehnya. "Make love to me ...."
Tak menunggu lama ia mulai membaringkanku. Terus mencumbu hingga kurasakan bukan lagi helai baju, namun hangat kulitnya yang terasa bersentuhan dengan tubuhku. Tak berani kubuka mata, tak kuasa harus bertatapan dengannya dalam situasi seperti ini.
Ia menyelipkan beberapa ucapan sayang di sela cumbuan itu, sesekali juga menyebut namaku. Kemudian rasa malu itu datang saat kuyakin saat ini hanya selimut yang membalut tubuhku darinya. Bima pasti bisa melihat semuanya dalam keadaan seterang ini. Dan ini membuat rasa malu merasuki tiba-tiba saja.
"Bim," kudorong dadanya pelan. "Kin malu. Lampunya masih hidup."
Bima menarik tubuhnya, matanya menatapku dengan keinginan membuncah yang selama ini tertunda.
"You want me to turn it off?"
Aku mengangguk, membiarkan Bima bangkit dan mematikan lampu. Cepat kubergelung dalam selimut saat menyadari baju yang kukenakan telah terletak di lantai. Bima masih mengenakan celana panjangnya, namun baju kausnya juga sudah melayang entah kemana.
Bima kemudian ikut bergelung denganku, mendekapku lama di dalam selimut. Punggungku yang terbuka melekat rapat dengan dadanya yang hangat. Perlahan ia membuatku berbaring menghadapnya. Kali ini tanpa cumbuan seperti tadi, hanya jemarinya yang bermain di helai-helai rambutku.
"Are you afraid, Kin?" ia bertanya lembut.
Aku mengangguk jujur. Ketakutan itu pasti ada. Takut akan rasa sakit saat pertama kali melakukannya, seperti selentingan yang sering terdengar di luar sana.
"I promise, I am not gonna hurt you." Bima menatapku seolah ingin meyakinkanku. "If you can't take it, please tell me to stop."
Lalu ia kembali membuatku melayang dengan segala cumbu rayunya. Hingga saat itu tiba, aku hanya bisa memeluk erat tubuhnya, merasakan rasa sakit itu datang perlahan, namun kemudian berganti dengan ledakan-ledakan yang tak pernah kurasakan sebelumnya. Semua ini terlalu indah, dan terasa ingin kuulangi. Bima telah membawaku ke sana dan aku tak ingin menghentikannya.
Kin, hari ini kau telah menjadi sepenuhnya seorang istri. Untuk Bima.
----------
Hanya deru nafasku dan nafasnya yang terdengar bersahutan. Ia masih menutup mata dengan tangannya yang menggenggam erat jemariku. Begitu erat, membuatku yakin ledakan itu terjadi sama hebatnya di dirinya.
Butir-butir kecil peluh masih terasa saat kusentuh punggungnya yang terbuka. Membuktikan betapa hangat penyatuan cinta yang baru saja terjadi. Membuatku tersenyum dan merasa telah berhasil menjadi suami seutuhnya bagi Kinara.
Kupandangi wajahnya hingga matanya membuka dan bibir itu menghadiahkanku sebuah senyuman yang sangat indah. Ia menatapku sembari menarik rapat selimut yang memisahkan tubuhku darinya.
"Did I hurt you, Kin?"
Ia menggeleng perlahan tanpa berucap apapun.
"Do you like it?"
Kali ini ia mengangguk malu.
"Do you want more?"
Kinara langsung menyembunyikan wajahnya dibalik bahuku saat kutanyakan itu. Kucari paras itu dan membubuhkan kecupan berkali-kali untuknya. Mewakili rasa terima kasihku untuk sikapnya yang berani menantang rasa sakit untuk menghadiahkan sebuah kenikmatan yang tak terkatakan untukku.
Kutarik kembali ia merapat di pelukku. Sesaat hanya hening sampai kemudian kurasakan jemarinya mulai menyentuh lembut sisi wajahku. Sentuhan itu membuat mataku membuka sekaligus menutup kembali sedetik kemudian. Kubiarkan ia menjelajah, agar jemarinya mengenal setiap jengkal tubuhku tanpa harus merasa malu.
"Kamu indah, Bim," bisiknya setelah beberapa saat dan jemarinya berhenti di dadaku. "Kin suka."
"Makin ke bawah akan lebih indah," aku sengaja memancing senyumnya, dan ia malah tertawa.
Kinara memberanikan diri untuk menciumku kali ini. Dan sekali lagi kubiarkan bibir lembut itu melakukan apa yang ia inginkan. Kecupan itu, jelas menggambarkan rasa sayang yang berlimpah darinya. Sungguh beruntung takdir mempertemukanku dengan wanita seindah ini. Malam ini menjadi saksi betapa berarti ia memintaku menunggu.
"Berwudhu lah dulu sebelum tidur." Kuingatkan sebelum ia jatuh terlelap dan melupakan tata cara yang harus dilakukan.
Kubantu melilit tubuhnya dengan selimut agar ia bisa melangkah ke kamar mandi. Sebercak noda merah terlihat membekas di atas seprai. Ada rasa kasihan melihatnya harus menahan perih itu, padahal aku sudah melakukannya selembut mungkin. Ah, Kin. Jika ada cara lain dan tak harus menyakitimu pasti akan aku lakukan itu.
Thank you, Kin. For everything. Untuk pengorbananmu, untuk pengabdianmu. Semoga malam ini menjadi awal yang baik untuk keluarga kecil kita kelak.
Ketahuilah, aku sungguh mencintaimu, Kinara.