The Surrender Of Love

The Surrender Of Love
Episode 22 - My Sexy Barista



Tembusan sinar matahari yang masuk dari sela-sela tirai membuatku terjaga. Kugerakkan lengan kiri yang terasa sedikit kebas, dan baru menyadari ia masih merebahkan kepalanya di sana. Bima berbaring separuh menelungkup dengan berat tubuhnya yang menimpaku. Dari nafasnya yang berhembus teratur, kuyakin ia masih terlelap.


Sudah seminggu berlalu sejak malam terindah itu, Bima kerap merayuku kapan pun ia mau. Seperti subuh tadi sepulang dari masjid, ia mengabaikan jadwalnya menonton berita, dan memilih menggiringku ke atas ranjang.


Kuraih ponsel yang terletak di meja kecil di sisi tempat tidur untuk melihat waktu. Ternyata sudah pukul delapan pagi, dan aku belum sempat mempersiapkan apapun untuk sarapan. Untunglah ini hari Minggu dan Bima tak harus buru-buru berangkat ke studio.


"Mau kemana?" Suara rendahnya sejenak terdengar saat kucoba melepaskan diri dari peluknya.


"Mandi dan bikin sarapan," jawabku, masih berusaha lolos dari jemarinya yang mendekap erat tubuhku.


"Can't we just stay in bed for today?"


Ia menggeliat, namun tetap tidak membiarkanku beranjak. Sepasang kakinya dengan cekatan mengait hingga membuatku kembali terpenjara.


"With no breakfast?" protesku.


"You are my breakfast," bisiknya pelan, diikuti gerak bibirnya yang mulai tak patuh.


Beginilah Bima seminggu ini, bagai singa laut kasmaran yang hampir tak pernah menjauh dariku. Ia tertawa hebat saat kuberi julukan itu.


"Kamu di sini saja," titahnya. "Aku ambilkan sesuatu dari kulkas."


Cepat kujulurkan selembar kain jumputan yang sengaja kusiapkan di samping ranjang. Mengingat tiga hari lalu, dengan santainya ia menarik selimut yang kami pakai bersama untuk melilit tubuhnya yang hendak beranjak keluar kamar, sementara aku belum sempat mengenakan apapun.


Kubenahi rambutku dengan menyugar perlahan. Aku kerap menggelung, namun Bima selalu melepaskannya saat akan mencumbuku. Satu per satu kesukaan dan kebiasaannya yang mulai kuhapal. Termasuk sifatnya yang mendadak manja setiap kami selesai memadu kasih.


Bima kembali ke kamar dengan semangkuk makanan dan segelas air putih. Sereal gandum yang direndam susu serta ditaburi kismis di atasnya.


"Cuma ini yang bisa cepat." Ia mulai menyuapiku bergantian dengannya.


Aku dan Bima menyantapnya tanpa suara, mengisyaratkan kondisi perut yang memang lapar. Saat isi mangkok itu tak menuntaskan, ia kembali ke dapur mencari sesuatu yang bisa dijadikan santapan lanjutan. Aku tersenyum melihatnya datang membawa sepiring roti.


"Harusnya biar Kin saja," tuturku sambil ikut melahap roti bakar buatannya. Rasanya lumayan.


"Kalau kamu yang ke dapur nanti nggak balik lagi," kilahnya. "Aku mau seharian ini cuma di kamar sama kamu."


Oh, come on. Apa aku tidak salah dengar. Apa yang akan dilakukannya padaku jika memang benar begitu?


"Aku boleh mandi 'kan?" masih kucoba mencari celah agar bisa beranjak dari tempat tidur ini.


"Bareng?" sambutnya cepat, dan langsung tertawa lepas saat buru-buru kugelengkan kepala.


Walaupun telah berkali-kali melebur dengannya, namun masih terasa sungkan jika ia harus memandangku tanpa pembatas. Pun di dalam kamar seperti ini tanpa lampu yang menyala dan tirai yang masih tertutup,wajahku masih menghangat saat beradu tatap dengannya.


Bima kembali membuka gelung rambutku dan membuatku berbaring. Kali ini hanya berbincang ringan tentang hal-hal kecil yang ia temui beberapa hari terakhir. Lalu bincang kecil itu berganti menjadi canda, dan canda berubah menjadi rayuan, dan ditutup dengan penyatuan cinta dengan gairah yang semakin menggelora.


Oh, Boy. This is truly Lazy Intimate Sunday.


------


Kadang hatiku masih bertanya-tanya, dari mana datangnya mahluk seindah ini. Mengapa ia tiba-tiba bisa berada di sisiku, dan aku dengan leluasa bisa menikmati pesonanya tanpa harus berbagi dengan siapa pun. Bibirku terus menerus mengucap syukur sejak ia hadir layaknya sebuah anugerah bagiku.


Kupuaskan hari ini dengan mendekapnya di kamar. Mengganti waktu yang terlewat saat tak bersamanya. Sejak malam indah itu, aku tak dapat menghalau keinginan untuk selalu berada di dekatnya. Ia selaksa candu yang terus-menerus memanggilku untuk terpuaskan. Gila memang, tapi hasrat ini jelas nyata.


Kinara menggerakkan kepala saat kumainkan helai rambutnya. Membuka matanya sebentar, namun kemudian menutup kembali. Kutunggu sesaat apakah ia akan terjaga, nyatanya tidak. Istri cantikku tetap melanjutkan tidurnya.


Tak puas kukagumi perpaduan keindahan yang menyatu dalam diri wanita ini. Ia nyaris sempurna. Bahkan desir darahku terasa menggebu hanya dengan memandang bahu ramping dan tulang selangkanya yang yang tak tertutupi apapun. I don't know, Kin. Apa yang sedang kau lakukan padaku?


Ponselku yang kuraih menunjukkan pukul setengah dua belas siang. Kupindahkan rebahan kepalanya dari lenganku, yang ternyata malah membangunkannya. Mata indahnya mengerjap perlahan, mengusir sisa kantuk dan cepat membulat saat kuberitahu sudah pukul berapa saat ini.


"Kin belum masak apapun, Bim," serunya saat mencoba lagi untuk melepaskan diri dari pelukku.


"Dapur melulu yang dipikirin," kusentil hidungnya seraya tertawa. "Hari ini giliran kasur."


Kutarik lagi ia merapat, sambil membuka aplikasi pemesanan makanan dari food court di lantai dasar. Jika memesan dari gerai ini, tak perlu repot-repot harus menjemput ke bawah. Petugas pengantarnya memiliki kartu akses khusus hingga ke lantai manapun.


"Kita beli aja. Kamu mau makan apa?"


Kinara mulai memilih beberapa menu yang menggugah seleranya. Makanan porsi besar. Sebanyak itukah kalori yang terbakar hingga membuatnya selapar ini. Tapi memang benar, aku juga merasakan perutku mulai protes sejak tadi.


Selesai makan siang, kupilih mengungsi ke kamar mandi luar untuk mengejar waktu zhuhur di masjid. Bila menunggu Kinara selesai akan lama. Ia betah berada di kamar mandi semenjak seminggu ini. Deretan botol krim dan lotion koleksinya juga bertambah banyak, dan aku tak mau ambil pusing apa saja fungsinya. Yang kutahu hanya harum tubuh dan kulit lembutnya yang semakin menggoda setiap disentuh.


Akh, Kin. Lama-lama aku bisa gila hanya karena memikirkanmu. Jika ternyata seindah ini, harusnya dari dulu aku menemukanmu.


-------


Bima disibukkan oleh beberapa panggilan telepon setelah kembali dari masjid. Mungkin dari Enggar atau klien, karena ia kemudian melanjutkan bekerja dengan laptopnya. Kumanfaatkan waktu bebas ini dengan memindahkan aneka tanaman mungil yang minggu lalu kuambil dari rumah mama. Sedikit sentuhan dedaunan hijau mungkin bisa membuat aura di lantai sepuluh ini terasa membumi.


Kulirik ia sebentar, kelihatan masih tetap tekun dengan head-phone dan mouse di tangan kanannya. Bima memang seperti itu. Jika sedang bekerja, kepribadiannya seakan berubah seratus persen. Sangat serius dan hampir tanpa bicara. Biasanya ia yang akan menyapaku lebih dulu jika sudah selesai.


Satu jam berlalu sejak aku mulai asyik menata beberapa pot yang cocok di setiap sudut ruangan. Benar sesuai perkiraanku, terasa lebih asri dan menenangkan. Setidaknya bisa menebus rinduku akan halaman belakang yang selalu hijau dengan aneka tanaman milik ibu.


Suara mesin penggiling kopi dan aromanya yang memenuhi ruangan segera mengalihkan perhatianku. Bima sudah berpindah dari meja kerja ke belakang Coffee Bar-nya. Entah mengapa, salah satu gayanya yang paling aku suka adalah ketika bermain dengan aneka peralatan kopi miliknya. Terkesan menggoda dan sedikit misterius. Mungkin pengaruh harum seduhan yang memicu adrenalinku bereaksi.


Kuhampiri saja ia saat tatapanku justru tertangkap basah seperti biasa. Bima tersenyum saat melihatku memilih duduk di depan meja layaknya pelanggan yang hendak memesan.


"What would you like to order, Dear?" sapanya ramah. "Aku akan jadi baristamu hari ini."


"Hmm, something sweet." Kupilih kopi manis saja untuk menemani waktu sore.


"Coming right up," ujarnya sambil memasang dan mengikat barista apron di belakang tubuhnya.


Aku belum pernah melihatnya mengenakan itu. Bima kelihatan sungguh maskulin dengan perpaduan baju kaus tipis berwarna putih dan celemek kopi berbahan kulit yang melapisinya. Setiap detail gerakannya bagai sebuah tontonan menarik bagiku.


"Kasih tahu aku lebih banyak tentang kopi," ujarku saat masih menunggu air seduhan menetes dari coffee dripper.


Ia mengangkat wajah dan meletakkan ketel pemanas air yang sedang dipegang.


"Beneran serius?"


"Why not, siapa tahu lain kali aku bisa bikinin kopi buat kamu," ujarku dengan nada sedikit menantang.


Bima mengganguk sambil tersenyum. "Boleh juga, jarang-jarang ada barista wanita yang cantiknya kayak kamu." Ia kembali menggodaku.


Kuikuti gerakan tangannya yang sedang membuka dua buah toples kaca berisi biji kopi.


"Ada dua jenis kopi di dunia." Bima memulai penjelasannya. "Robusta dan Arabica."


Bima mengulurkan tangannya yang masing-masing telah menggenggam biji kopi yang berbeda. Aku terus mendengarkan dengan seksama.


"Ini Robusta,ciri khasnya bijinya terlihat bulat. Sedangkan yang disebelahnya Arabica, lebih pipih dan melengkung."


"Beda antara keduanya?"


"Robusta tumbuh di ketinggian 400 – 800 meter di atas permukaan laut, sedangkan Arabica lebih tinggi lagi di atasnya," lanjut Bima. "Kadar kafeinnya juga beda."


Bima memintaku mengulurkan jemari dan segera memindahkan biji kopi dalam genggamannya ke permukaan telapak tanganku. Kucoba mengamatinya satu per satu.


"Robusta kadar kafeinnya lebih tinggi, sebaliknya Arabica kadar asamnya yang lebih tinggi."


Masih terus kuamati gerak tangannya yang begitu cekatan memindahkan dan memadatkan bubuk kopi yang telah selesai digiling ke dalam sebuah mesin yang kelihatan cukup canggih.


"Itu mesin apa?" tanyaku ingin tahu.


"Espresso Machine," jawabnya. "Espresso adalah ekstrak kopi yang kental."


Kudengarkan mesin itu bekerja dan segera melihat hasilnya. Sebuah cangkir kecil yang berisi kopi berwarna pekat.


"Cobalah," ujarnya seraya menyodorkan cangkir itu ke arahku.


Kusesap perlahan dan sedikit terkejut dengan cita rasanya yang amat sangat pekat. Jauh lebih pahit dari kopi yang dulu pernah ia seduh untukku. Come on, Bim. Bukankah tadi aku memesan untuk dibuatkan sesuatu yang manis?


Bima tertawa geli saat melihat reaksi kopi itu di lidahku.


"Wait here."


Ia lalu beranjak sebentar menuju dapur dan kembali dengan semangkuk es krim vanilla beserta sebuah sendok stainless kecil.


"You will love this."


Jemarinya menuang perlahan cangkir espresso tadi sehingga melumuri es krim vanilla dan menghasilkan warna campurannya yang begitu menggoda selera. Bima mendekatkan mangkuk itu ke arahku.


"It's called Affogato. Women's favorite," jelasnya. "Sentuhan espresso itu berfungsi untuk mengurangi sedikit rasa bersalah karena harus makan yang manis-manis."


Rasa dingin dan manis dari es krim vanilla yang berpadu dengan aroma kopi dan rasa pahit dari espresso buatan Bima langsung memberikan sensasi tersendiri di lidahku. Tak cukup sesendok, aku mulai menyuap beberapa kali. Baru teringat saat ia memandangiku dan segera berbagi suapan itu dengannya.


"Suka?"


Wajahnya terlihat puas saat aku menggangguk. Kuakui ini adalah racikan kopi terenak yang pernah aku cicip.


Bima lalu mengeluarkan sebuah gelas yang terlihat agak tinggi, dan sebuah benda mirip termos air panas dengan bentuk agak bulat.


"It's Coffee Shaker," jelasnya saat kutanyakan.


"Bagaimana cara kerjanya?"


"I'll show you."


Bima mengisi seduhan kopi yang dipersiapkannya di awal ke dalam wadah pengocok dan mencampur dengan susu segar dari dalam kotak. Mataku terus mengikuti ke arah mana jemarinya berpindah. Seketika suapan es krim ku melambat saat kedua tangan Bima mulai menggoyangkan benda berwarna silver itu. Aku pernah melihat aksi ini sekali di dalam film, dan tak menyangka lelaki di depanku sekarang begitu mahir mempraktekkannya. Entah bagaimana ia bisa membiusku dengan gerakan tubuhnya. He's just shaking the bottle,but for me he's so really damn sexy. Pemandangan ini bisa berbahaya. Kupilih untuk mengamati saja mangkuk es krim yang hampir mencair sampai ia selesai.


Bima mulai mengisi gelas tinggi yang ia persiapkan dengan busa kopi yang dihasilkan dari proses yang membuatku menahan nafas saat melihatnya. Lalu menuangkan sirup berwana putih cerah dari sebuah botol, kemudian melapisinya kembali dengan busa kopi. Begitu seterusnya hingga tercipta lapisan putih dan coklat hingga ke bibir gelas. Ia menambahkan sebuah sedotan berbahan stainless ke dalam gelas.


"Peppermint Cappucino," ujar Bima saat kutanyakan namanya.


"Cara minumnya?"


Kutanyakan begitu polos, karena jujur aku tidak mengerti apakah langsung diminum ataukah harus diaduk terlebih dahulu.


"Semua orang punya caranya sendiri, Kin," ucap Bima sambil tertawa. "Dan aku ingin melihat bagaimana caramu."


Kucoba langsung mencicipi minuman itu tanpa diaduk. Enak. Kemudian mencoba mencampur busa kopinya dengan lapisan sirup dan segera sensasi segar peppermint melekat di lidahku. Kuberi Bima tatapan terima kasih atas sajian-sajian terbaiknya untuk mengisi soreku hari ini.


"Kembali tentang kopi yang tadi," lanjutku. "Mengapa orang memilih kopi Arabica atau memilih Robusta?"


"Well, tergantung kebutuhannya. Aku nggak bisa bercerita mewakili setiap orang, mungkin pengalaman pribadi bisa lebih dipercaya." Bima kembali menjelaskan sambil tangannya sesekali membenahi peralatan yang bertebaran di atas meja.


"Aku biasa memilih Arabica saat ingin santai, misalnya sepulang kerja, atau saat mengobrol dengan teman. Terkadang aku juga minum Arabica saat ingin tidur cepat. It's some kind of relaxing for me."


"Jadi tidak benar kalau orang bilang minum kopi bikin nggak bisa tidur?" Kutanyakan persepsi yang selama ini berkembang luas di opini awam.


"Jika Robusta memang benar. Karena kadar kafeinnya yang lebih tinggi. Aku pilih Robusta saat ingin tidur larut karena mengejar deadline, atau saat hendak menyetir malam di jalur yang panjang. Robusta lebih memacu adrenalin, sehingga menghilangkan kantuk."


Kembali aku mengangguk mendengar paparannya. Senang sekali berdiskusi dengan lelaki satu ini. Wawasannya begitu luas dan ia selalu bisa menjelaskan dengan cara sederhana yang mudah dimengerti. Bertambah lagi alasan mengapa aku harus jatuh cinta begitu dalam padanya.


Kami bertukar pandang sejenak saat Bima berhenti bicara. Ia kemudian menatapku dengan seutas senyum di wajahnya. Hatiku mulai menangkap gelagat asing bahwa ia akan segera berubah wujud kembali menjadi Bima yang usil.


"You know something, Kin. Ada satu hal tentang kopi yang masih membuatku penasaran." Bima mencondongkan tubuhnya mendekat dari seberang meja. "Dan aku belum pernah mencobanya sebelumnya ini."


"What is it?" tanyaku hati-hati, mulai curiga dengan nada bicaranya yang menjurus.


"Coffe for love making," ucapnya santai tak berbeban, namun langsung membuat wajahku menghangat dan tak berani menatapnya.


"Apakah Arabica atau Robusta yang paling tepat. Maybe we could try sometimes." Ia mulai berjalan memutari meja itu menuju ke arahku. "Or maybe now?"


Hilang sudah sosok Bima si cerdas yang barusan ada di depanku, berganti dengan Bima si singa laut kasmaran yang seharian tadi mengurungku di kamar. Ia mulai melepas ikatan apron di belakang tubuhnya dan meletakkannya sembarangan di atas meja. Posisi dudukku di atas kursi bar yang tinggi membuat wajahnya terpapar sejajar di depanku.


"Bim."


"Hmm."


Tangan kanannya meraih cangkir Espresso yang masih tersisa sedikit dan menelannya dengan sekali tegukan.


"What are you doing?" tanyaku saat lengan kirinya mulai melingkari tubuhku.


"Kissing you," gumamnya sambil menciumku tanpa menunggu.


Hanya sebentar, kemudian melepaskannya untuk mencari tatapanku.


"Apa rasanya?"


"Apanya?" tanyaku dengan suara sedikit serak. Sebentar atau lama, ciumannya selalu memberi efek memabukkan untukku.


"Rasa ciumannya?" ia bertanya dengan senyum dikulum.


"Pahit," jawabku jujur.


Sisa Espresso di bibirnya memang meninggalkan sensasi pahit pada ciuman itu. Jawabanku merubah senyumnya menjadi tawa. Lalu Bima menyuapkan sesendok Affogato yang telah separuh mencair ke mulutku, kemudian ke dalam mulutnya sendiri. Dan mulai menciumku seperti tadi.


Saat ia bertanya apa rasanya, aku tak lagi mampu menjawab. Hanya bisa memegang erat pundaknya saat merasakan berat tubuhku berpindah ke lengan kukuhnya. Aku tak tahu ia akan membawaku ke mana, yang pasti bujuk rayu kecupannya telah mematikan saraf sadarku dan rela melakukan apapun dengannya.


Do whatever you wanna do with me, Bim. I am yours. And I will spend my whole life to fall in love with you. My Sexy Barista.