The Surrender Of Love

The Surrender Of Love
Part 25 - I'm Blind



Suara klakson yang cukup keras membuyarkan lamunanku. Bergegas kuinjak pedal gas dan mengikuti laju mobil yang berada di depan. Kondisi jalan macet dan emosi yang meradang merupakan perpaduan tepat untuk membangkitkan kesalku. Tak berhenti ku merutuk dalam hati karena harus terjebak dalam situasi menyebalkan ini. Jika semuanya berlangsung mulus, harusnya saat ini aku sedang berada dalam dekapan Kinara, berbagi gairah yang kami rangkai bersama.


Jika bukan karena Mal, akh ... entah mengapa hati ini masih saja terpanggil jika menyangkut dirinya. Aku sudah tidak lagi mencintainya, namun rasa peduli ini tidak bisa begitu saja terabaikan. Aku, Mal, dan Enggar sudah seperti saudara. Jika salah satu dari kami mendapatkan masalah, yang lainnya pasti akan langsung membantu. Terus terang ada perasaan sedih saat melihat Mal masih betah menyendiri. Sementara aku dan Enggar lambat laun pasti akan teralihkan pada keluarga kecil kami masing-masing.


Akhirnya kutemukan juga sebuah lokasi parkir yang kosong setelah lama berkeliling. Rumah sakit yang sama tempat papa dirawat dulu. Setiap harus mampir kemari, perasaan kehilangan itu kembali hadir. Teringat akan hari-hari yang kulalui di masa-masa akhir umur beliau. Syukurlah aku masih diberi kesempatan untuk mengurusnya di saat terakhirnya.


Enggar langsung melambaikan tangan saat melihatku muncul di area lobi. Kuikuti langkahnya yang sedikit terburu-buru menuju lift. Hanya perlu menunggu sebentar, karena tak lama pintu lift terbuka untuk mengangkut kami ke lantai atas.


"Lama bener lo," sungutnya sambil melirik arloji di pergelangan lengan kirinya. "Jam besuknya hampir habis."


Aku balas mendengus. "Gue berantem sama Kin," ujarku tak kalah suntuknya. "Gara-gara lo."


"Gue?" Enggar membelalakkan matanya yang bulat. "Apa salah gue?"


"Salah lo kenapa harus ngomongin Mal pas ada Kinara," tudingku, yang malah disambut cengiran oleh sahabat dekatku itu.


"Emangnya Kin denger?" ia bertanya ingin meyakinkan.


"Gue nyalain speaker-phone," jawabku, sekaligus menyesali tindakan bodoh itu yang memicu amarah Kinara.


"Bukan gaya lo banget. Setahu gue lo seringnya pakai ear-phone." Enggar sepertinya masih penasaran. "Emang lo lagi ngapain sama Kin?"


"Bukan urusan lo," tukasku. "Yang pasti kepala gue sekarang berdenyut. Atas bawah."


Enggar tak dapat menahan tawa terbahaknya. "Sorry, Bro. Gue juga pernah ngerasain hal yang sama."


"Kin nggak sama dengan Gita," gumamku, sejenak telintas raut wajah sedihnya saat tadi aku berpamitan untuk pergi ke rumah sakit. "Kalo wanita yang jarang marah, sekali merajuk pasti susah dibujuk."


"Kalo masih sama-sama wanita, cukup lo peluk pasti hilang ngambeknya," Enggar memberi saran.


Untuk yang ini aku harus percaya perkataan Enggar. Ia telah lebih dulu merasakan lika-liku berumah tangga. Apalagi dengan jumlah mantan pacar yang tak terhitung, bisa dipastikan ia punya segudang cara untuk mengatasi kecemburuan sang istri.


Sebuah suara denting terdengar bersamaan dengan pintu lift yang terbuka. Kuikuti kembali langkah Enggar menyusuri lorong kamar rawat inap. Sepertinya ruang yang kami tuju agak jauh dari selasar utama.


"Mal kenapa?" kutanyakan hal yang tadi sempat terlupa. Pertengkaran dengan Kinara benar-benar mengalihkan fokusku. Enggar berhenti melangkah dan memandangku. Kami sudah sampai di depan pintu kamar yang dituju.


"Overdosis," ujarnya pelan. "Panjang ceritanya. Makanya gue nggak mau lo bawa serta Kinara."


Mal, overdose? Bagaimana mungkin hal itu bisa terjadi. Malia yang kukenal tidak seperti itu. Apakah ada masalah besar yang sedang ia hadapi? Harusnya ia menceritakan itu padaku.


"Lo nggak usah banyak nanya pas di dalam ruangan. Ntar selesai ini gue kasih tau detailnya." Enggar memberikan instruksi seraya tangannya mengetuk beberapa kali.


Sebuah senyuman hangat menyambut dari balik pintu. Bu Jati, wanita paruh baya yang sejak dulu kami kenal sebagai pengganti ibu bagi Malia. Beliau juga yang selalu mengurus semua keperluan kami saat menginap di rumah Malia sewaktu SMA dulu.


"Hanya boleh dua orang di dalam ruangan," beliau menjelaskan. "Masih ada satu orang teman Malia yang menjenguk, Ibu minta ia keluar dulu ya."


Enggar dan aku saling berpandangan. Sorot matanya memberi isyarat agar ia yang masuk lebih dulu dan aku bersedia menunggu. Pintu kembali terbuka. Seorang lelaki tinggi besar dengan rambut yang panjang beradu tatap denganku saat berpapasan dengan Enggar yang menggantikannya masuk. Aku mencoba tersenyum sambil menunjuk deretan kursi di sudut lorong, siapa tahu ia juga mau menunggu di sana.


"Gue Bima." Kusodorkan tangan untuk sekedar berkenalan. Ia menyambut dengan lengannya yang penuh dengan goresan tato.


"Andika." Ia menjawab sekedarnya. "Gue pacarnya Mal."


Pacar? Kuamati lagi penampilannya dari atas ke bawah. Jelas ia bukan dari kalanganku dan Enggar. Bagaimana bisa Malia mengenal bahkan dekat dengannya? Sudah sejauh apa pergaulan itu menjerumuskannya? Pasti lelaki ba*ingan ini yang telah membuat Mal hilang arah.


"Gue dan Mal satu sekolah dari SMA. Sekarang sama-sama bekerja sebagai fotografer." Aku berusaha memancing agar ia juga bercerita tentang dirinya.


"Gue Interior Designer," balasnya acuh.


"Kenal Mal sudah lama?" Sebenarnya ini bukan pertanyaan sopan, lebih tepatnya terasa penuh selidik. Kulihat ia juga kurang nyaman mendengarnya.


"Gue ketemu Mal di salah satu club. Paristo. Gue ngedesain di situ."


Emosiku mulai menanjak. Jika tidak mengingat sedang berada di rumah sakit, mungkin sudah kuusir kasar pria ini untuk menjauh dari Mal. Bagaimanapun aku tak rela Mal harus berhubungan dengan pecandu seperti Andika. Mal dulunya tidak seperti ini. Dan aku yakin ia bisa kembali. Tak kusadari jari kananku mengepal. Seburuk-buruknya Mal, ia tidak pernah begitu bodoh. Aku harus cari tahu apa peran lelaki ini dalam hidup Mal.


Suara pintu yang terbuka dan sosok Enggar yang muncul mengalihkan sejenak amarahku. Aku segera beranjak mendekat, diikuti oleh lelaki itu dari belakang. Sekarang giliranku menjenguk, aku harus bertemu Mal dan memastikan ia dalam keadaan baik. Sekaligus meyakinkannya untuk segera menjauh dari pria ini.


"Bim," tahan Enggar saat aku hendak berjalan menuju pintu. "Mal nggak mau ketemu lo."


Bergantian mataku memandang Enggar dan Bu Jati. Keduanya membalas dengan tatapan serba salah. Juga pria itu, hanya melirikku sekilas sambil menyelinap ke dalam ruangan. Kenapa Mal tak mau menemuiku?


Mal, ada apa dengan kita?


-------


Ia sedang terpejam saat kuhampiri. Aku tahu bukan tertidur. Kutarik sebuah kursi untuk duduk menemaninya. Dahinya sedikit berkerut, menandakan ada sesuatu yang berkecamuk di kepalanya. Jika kedatangan temannya barusan malah membuat tekanan semakin berat, sebaiknya untuk sementara ini tidak ada pengunjung yang diperbolehkan menjenguk.


Rambut ikalnya sudah tersisir rapi, dan aroma parfum yang ringan tercium dari arah ia berbaring. Kutunggu hingga ia membuka mata dan mengajakku bicara.


"Mereka sudah pulang?" Suaranya masih terdengar lemah. Kuanggukkan kepala untuk menjawabnya.


"Lo juga mau pulang?" Ada sebuah kepedihan saat mendengar tanya itu. Di sela-sela tidur nyenyaknya, aku dan Bu Jati berbincang banyak tentang kondisi keluarga Mal. Tak kusangka begitu tegar ia melalui jalan hidupnya. Dan mengapa hanya karena sebuah cinta, ia rela menyakiti dirinya separah ini?


"Gue ada janji ketemu orang. Abis itu gue balik ke sini," jelasku. "Kalo lo mau gue balik."


Anggukannya membuatku sedikit lega. Ternyata fungsiku masih dibutuhkan di sisinya. Meskipun kami tak pernah bicara panjang. Suaranya cuma terdengar bila meminta bantuan untuk mengambilkan minum, atau membawakan tiang infus saat Bu Jati tak di ruangan.


"Gue pengen pulang." Kali ini suaranya bercampur isakan. "Gue nggak pengen ketemu siapa-siapa di sini."


Aku menghela nafas berat. Jadi benar. Pria bernama Bima itulah yang telah menghancurkan hati Mal. Aku sempat melihat sebuah cincin melingkar di jarinya. Artinya ia sudah menikah.


"Dia orangnya?" Aku juga tak dapat menahan rasa ingin tahuku. "Yang bikin lo jadi kayak gini?"


Mal menatapku sedikit terkejut. Mungkin ia tak sadar terlalu sering nama itu terucap dalam umpatannya saat ia mabuk. Perlahan mata indahnya basah dengan air mata. Kubiarkan begitu, hingga isak itu berubah menjadi tangis yang cukup deras.


"Dia nggak salah." Bisikannya terdengar lemah di sela tangisan. "Gue yang salah."


"Nggak usah cerita kalo lo belum sanggup." Aku berusaha menghiburnya. Bukan hal yang mudah menyuarakan isi hati pada orang lain, apalagi di bagian paling sedih.


"Dia udah ngajak gue nikah." Sebuah penyesalan yang sangat dalam terlihat di sorot matanya yang menerawang. "Gue yang buta."


Jadi dulunya Bima juga mencintai Malia? Tak kusangka kisahnya serumit ini. Dan mengapa pula aku harus memaksa masuk ke dalamnya. Sudah terlanjur basah. Dan rasaku untuk wanita ini semakin menggebu kian hari.


"Gue buta kalo gue juga cinta sama dia."


"Mal ...."


"Gue emang bodoh, Dik." Jemarinya meremas seprai sedemikian keras. "Sekarang dia udah jadi milik wanita lain."


Kupalingkan wajah dari raut sedih yang tergambar di paras cantiknya. Aku tahu rasanya. Pedihnya. Mencintai seseorang yang tak dapat dimilki. Tapi bukan berarti itu akhir dari segalanya.


"Lo mau gue bawain apa?" kucoba mengalihkan arah pembicaraan. "Gue ke arah Senayan."


Mal menggeleng sambil terpejam. Sisa air mata masih mengalir di pipinya. Saat ia memandangku, sebuah senyum terbentuk di bibir indah itu. Meskipun masih bercampur pedih, raut lega sekilas terlihat. Mungkin ia hanya perlu seseorang untuk berbagi luka.


"Makasih, Dik." Ia memegang lenganku dengan jemari kirinya. "Lo udah mau jagain gue."


Sebuah desir mengalir saat kulit lembut itu bersentuhan dengan tanganku. Aku membalas senyumnya. Mengucapkan beberapa kalimat canda untuk menghiburnya. Kutinggalkan ruangan itu setelah menatapnya lama.


Aku bisa merasakan perihmu, Mal. Tapi percayalah, kita bisa melaluinya. Asalkan kita bersama. Cukup buka hatimu. Dan biarkan aku mengobati luka itu.