
Jakarta cukup terik siang ini. Terlihat dari kaca ruko beberapa pengendara ojek daring memilih berteduh di bawah pepohonan. Kuputuskan tetap hadir, meskipun minggu keempat harusnya menjadi jatah liburku. Sebagian pekerjaan harus kuselesaikan lebih dulu sebelum tenggat waktu, mengingat dua minggu lagi aku harus kembali terbang ke Jambi untuk melamar Kinara.
Om Syamsul memutuskan untuk menyegerakan sesuai pedoman agama. Lagi pula tak ada hal apapun yang menjadi alasan untuk menunda. Akad nikah direncanakan satu hari setelah proses lamaran, dilanjutkan dengan acara syukuran kecil yang bertempat di rumah Kinara. Beliau hanya mengundang tetangga, kerabat dekat, serta beberapa rekan kerja yang akrab. Tawaran mama untuk memakai sebuah gedung pertemuan di Jambi beliau tolak secara halus. Sesuai pemahaman mereka, acara pernikahan sebaiknya dilaksanakan sewajarnya, tanpa harus membebani.
Aku bertanya pada Kinara mahar apa yang ia inginkan untuk pernikahan kami. Gadis itu sepenuhnya menyerahkan padaku. Ia mengutarakan agar mengenai mahar jangan sampai memberatkan, dan akan dengan senang hati menerima apa saja yang aku pilihkan untuknya kelak. Kuminta pada mama agar menanyakan ukuran jemari Kinara untuk memesan cincin pernikahan kami. Untuk pernak-pernik hantaran, Mentari dengan sangat antusias telah mempersiapkannya sejak mama memberitahunya tentang rencana pernikahanku.
Telepon genggamku berdering dan nama Mentari muncul di layarnya. Sering sekali seperti itu, saat terlintas pikiran tentangnya, entah bagaimana beberapa saat kemudian biasanya datang telepon darinya.
“Buruan Mas, kita udah di bawah,” suara nyaringnya terdengar.
“Kamu mau ngapain ke studio?” tanyaku bingung sambil mengatur langkah menuruni anak tangga.
“Ih, dasar pelupa. ‘Kan udah janjian mau beli cincin.” Mentari terus berceloteh hingga aku sampai ke lantai dasar. Ia sudah duduk menunggu bersama Fariz dan mama di ruang resepsionis. Kutitipkan kamera yang masih tergantung di leher pada Enggar yang sejak tadi mengobrol dengan mama.
“Berapa shot lagi, Bro?” tanyanya sambil melihat foto produk sepatu olahraga dari menu display. Hasil karya salah satu merek ternama yang sudah bertahun menjadi klien kami.
“Tinggal yang highkey. Yang low udah gue beresin,“ jelasku disambut anggukannya.
Kualihkan pandangan pada tiga orang yang telah menungguku sejak tadi. Sebuah senyum riang terbit di wajah Mentari.
“Kita berangkat sekarang?”
-----
Aku menghempaskan diri di sebuah sofa di sudut ruangan ini. Beragam kesal menghampiriku. Sudah tiga jam berkutat dengan sesi pemotretan ini, akan tetapi tak juga kutemukan rasa dari berpuluh jepretan yang kuambil. Berkali kuminta Michael merombak susunan lampu soft-box, namun tetap tidak membuatku puas dengan hasilnya. Sebenarnya ini adalah pemotretan biasa, dan klien juga tidak meminta konsep baru. Harusnya bisa kuselesaikan dalam waktu empat puluh lima menit.
“What’s wrong?” Celine si pengarah gaya menghampiriku dengan raut wajah bingung. Kulempar tatapan padanya, juga pada dua orang model yang berdiri menunggu di tengah studio. Aku mengangkat bahuku, mengirim isyarat pada Celine. Ia langsung mengerti dan membuat tanda huruf T dengan dua telapak tangannya pada seluruh tim yang bekerja.
“Break, thirty minutes,” ujarnya meminta semua orang keluar dari ruangan, meninggalkan kami berdua. Gadis chinesse itu berdiri menatapku dengan sorot khawatir.
“Are you okay, Mal?”
Aku menjawabnya dengan senyum sambil terus melihat hasil foto dari kamera.
“Can I get you some coffee?” ia bertanya lagi saat tak mendengar sepatah katapun dariku. Kali ini kujawab dengan anggukan. Mungkin secangkir kopi bisa memperbaiki suasana hatiku.
Kuletakkan kamera dan berdiri menghadap dinding kaca. Hujan yang sejak pagi turun membasahi Raffles Place menyisakan pemandangan sejuk. Tampak beberapa orang yang lalu lalang masih menggunakan payung. Aku selalu menyukai keramaian yang kutemui di kota ini, tetapi saat ini aku benar-benar merasa sepi. Sebentuk sepi yang hadir sejak meninggalkan Jakarta dua minggu lalu. Sebuah kekosongan yang aku tak tahu harus mengisinya dengan apa.
Bayangannya terus mengikuti dengan rasa rindu yang sangat menyiksa. Aku merindukannya. Rasa yang selama ini tak pernah hadir, atau lebih tepatnya tak pernah kusadari hadirnya.
Mengapa baru sekarang, Mal? Setelah berkali-kali pria itu menyatakan cintanya, mengapa baru sekarang kau menyadari bahwa kau juga memiliki rasa yang sama, justru di saat ia telah menetapkan pilihannya pada wanita lain?
Apakah aku harus berterus terang padanya akan cinta dan rindu yang saat ini menggebu menyerang hatiku? Sungguh, kini kurasakan sakit menahannya, seperti semua cinta dan rindu yang dulu ia simpan bertahun untukku. Dan aku dengan bodoh hanya menganggap itu sebuah lelucon.
Bima, masih sempatkah aku menyatakan padamu tentang cinta dan rindu yang sungguh membunuhku?
-----
Kilau berlian selalu mampu menghipnotis wanita. Seperti sekarang, sudah satu jam aku dan Fariz duduk menunggu Mentari dan mama memilihkan cincin pernikahan yang cocok untukku. Beruntung Fariz termasuk tipe lelaki penyayang istri. Ia tidak mengeluh sedikit pun menanti adikku itu menemukan cincin yang menarik hatinya. Aku sendiri sebenarnya sudah tidak sabar, bila ini tidak menyangkut urusanku mungkin aku sudah menggerutu sejak tadi.
Kutoleh Fariz yang sedang memandangi Mentari. Caranya menatap mengingatkanku pada cara almarhum papa setiap kali beliau memandang mama. Ada cinta yang tak dapat dijelaskan dalam sorot matanya. Menghadirkan rasa penasaran dan memancingku bertanya.
“Apa yang kamu rasakan saat pertama kali bertemu Mentari?” tanyaku pada Fariz di sela waktu kami menunggu. Adik iparku itu tampak sedikit bingung, mengapa tiba-tiba aku menanyakan hal itu padanya.
“Sejujurnya biasa saja, Mas,” jawabnya. “Seperti saat aku melihat wanita pada umumnya.”
“Yang membuat kamu akhirnya memilih Mentari?”
Fariz menerawang sambil memutar-mutar smartphone yang sejak tadi berada dalam genggamannya, seperti berusaha mengingat detail kisahnya dengan Mentari.
“Waktu itu kantor mengirimku pelatihan ke Jerman selama tiga bulan. Entah mengapa di antara wajah-wajah gadis Eropa yang cantik, paras Mentari yang selalu terbayang. Aku bahkan tidak punya nomor kontak Mentari saat itu. Kuberanikan untuk menghubungi sahabatku yang mengenalkan kami, menitip pesan padanya bahwa aku akan melamar Mentari sepulang dari Jerman.”
Sebuah langkah yang berani bagi seorang laki-laki. Benar kata pepatah, jika sudah jodoh, dicari sampai ke belahan dunia manapun akan tetap tertaut dengan orang yang sama.
“Kalian langsung saling mencintai setelah menikah?” aku lanjut bertanya.
Fariz tertawa sejenak. “Tidak,” ujarnya. “Namun saat ini tak ada hari yang aku lalui tanpa jatuh cinta padanya.” Laki-laki itu menatap jauh ke arah Mentari yang saat itu sedang melambaikan tangannya padaku, mengisyaratkan agar aku mendekat untuk melihat hasil pilihannya.
“Thank you for sharing, Riz.” Kutepuk bahunya dan beranjak mendekati Mentari.
Sepasang cincin yang dipilihkan Mentari segera mencuri perhatianku. Bentuknya sederhana, dengan satu mata berlian yang terpasang di dalam. Unisex type, membuatnya serasi saat dipakai olehku ataupun Kinara.
“Aku tahu Mas pasti suka.” Mentari membanggakan kemampuannya dalam hal memilih sesuatu. Aku mencoba cincin itu dan memandanginya melingkar di jariku. Melintas dalam benak ekspresi malu-malu di wajah Kinara ketika nanti kusematkan pasangan cincin ini di jemarinya.
“Nggak sabaran lihat kalian berdua memakainya nanti. Ya kan, Ma?” ucap Mentari disambut anggukan mama. Dua wanita yang sangat berarti di hidupku, dan akan bertambah satu lagi empat belas hari mendatang.
“Thank you so much,” kuucapkan terima kasih pada keduanya.
“Jangan thank you doang, buruan gih bayar ke kasir.” Mentari menyodorkan sebuah nota dengan nominal yang mampu menguras saldo debit card-ku.
“Buat dipakai seumur hidup, jangan pelit,” ia tertawa saat kumendelik padanya.
Untuk sekali seumur hidup . Ya, aku menginginkan pernikahanku dengan Kinara adalah untuk sepanjang hidup. Semoga keputusan yang kuambil adalah yang terbaik untuk jalanku selanjutnya. Bukankah tadi Fariz mengatakan bahwa cinta bisa tumbuh seiring jalan. Dan aku sangat yakin cintaku dengan Kinara juga akan bersemi setelah akad nikah kami.
Kin, masih dua minggu lagi bagiku berjuang untuk menjaga hati ini, hingga kusebut namamu dalam ijab kabul. Doakan aku, Kin. Agar tak lagi hadir sebuah rasa yang membuatku meragu. Agar hatiku berlabuh hanya padamu.
-------
Bima sudah tiba di Jambi sejak kemarin. Ayah memintanya datang lebih cepat guna menyelesaikan beberapa urusan administrasi untuk kebutuhan data yang akan dicantumkan di buku nikah. Kami baru diberi ijin bertemu setelah selesai akad, dan sungguh memancing penasaranku saat melihat status WhatsApp-nya di beberapa tempat di Jambi yang ia kunjungi. Jarak diantara begitu dekat dan aku masih harus menunggu dua hari lagi untuk berjumpa dengannya.
“Deg-degan, Kin?” goda Kak Fania yang sedang menebalkan motif inai yang kulukis sendiri. Kujawab dengan anggukan dan dibalas senyuman olehnya.
“Dulu, Kakak juga begitu. Sampai nggak bisa tidur,” lanjut Kak Fania tersipu. Ia menceritakan beberapa momen canggungnya saat akan menikah dengan Bang Khalif.
“Kin malu saat berhadapan dengan Bima,” gumamku pelan. Bila dihitung dari frekuensi bertemu, kami baru bertatap muka dua kali.
“Itu wajar, Kin. Nanti semua akan mencair dengan sendirinya.”
Kupandangi jemari Kak Fania yang bergerak mengikuti motif di punggung tanganku. Mendengarnya bercerita tentang perasaannya di awal menikah dengan Bang Khalif membuat gugup di hatiku sedikit mereda.
“Apakah Kak Fania pernah merasa ragu saat akan menikah dengan Bang Khalif?”
Kak Fania memandangku kali ini. “Pasti. Namun Kakak pasrahkah seluruhnya pada Allah.”
“Pernahkah Kak Fania menanyakan tentang masa lalu Bang Khalif?”
Kutanyakan itu untuk menjawab resah hatiku akan sebuah foto yang kutemukan di sosial media Bima tentang seorang perempuan cantik bernama Malia.
Ia diam sesaat, lalu menggeleng. “Masa lalunya adalah miliknya, Kin. Selama tidak mengganggu rumah tangga kami, Kakak tidak akan mempermasalahkan itu.”
Aku beruntung memiliki Kak Fania, ia menyayangiku bagai adik kandung sendiri. Kisah kami yang hampir sama, membuatku lega bisa berbagi keresahanku padanya. Satu per satu keraguan yang datang mulai berganti dengan keyakinan.
Bima, aku siap menerimamu, dengan seluruh kekurangan dan kelebihanmu serta berjanji untuk tidak mempermasalahkan apapun yang pernah terjadi di cerita yang lalu.
------
“Lu yakin nggak perlu dijemput?” kutanyakan sekali lagi pada Enggar. Ia menelepon mengabarkan telah mendarat di Bandara Sultan Thaha, bersama Arifin dan Giras.
“Gue dijemput temen grup fotografer Facebook yang juga anak Jambi,” jelasnya. “Kita mau langsung city hunting. Lu mau ikutan?”
Kulirik sekilas arloji di pergelangan tangan kiri, sudah pukul delapan malam. Dan besok adalah hari akad nikahku. Aku menolak ajakan Enggar dan memilih tetap di hotel untuk tidur lebih cepat.
“Jangan kemaleman, awas nggak bisa bangun pagi,” kuingatkan kembali mengingat pukul tujuh besok pagi aku sudah harus berada di rumah Kinara.
“Siap, Bos.” Enggar menjawab dengan yakin sebelum mengakhiri panggilan.
Kurebahkan kepala di atas bantal yang empuk, menatap langit-langit, membiarkan pikiranku menerawang tak tentu arah. Ternyata begini rasanya keresahan menjelang pernikahan. Mungkin jika saat ini papa masih ada, aku bisa bercerita dengan beliau tentang banyak hal. Perbincangan antar lelaki yang dahulu sering kami lakukan, saat di mana beliau bersikap layaknya sahabat ketimbang seorang ayah.
Baju akad nikahku tergantung rapi di dalam lemari. Bukan baju yang khusus dijahit baru. Itu adalah Teluk Belanga milik papa yang beberapa kali beliau pakai saat dahulu bertugas di Jambi. Khalif mengantarkan kain songketnya sore tadi, dan aku mengganti peci hitam dengan ikat kepala Lacak Jambi yang dulu aku beli di sanggar batik.
Kubuka aplikasi sosial media untuk memancing kantuk. Beberapa aktivitas teman dekat muncul di beranda. Tak terkecuali Malia. Sebuah postingan foto dirinya sedang berdiri di tepi laut menampakkan kibaran helai rambutnya yang tertiup angin. In a very deeply doubt. Begitu yang tertera di keterangan foto. Aku tak ingin memikirkan apa yang tersirat di dalamnya. Dalam hitungan jam, Malia bukan lagi seseorang yang harus diperhitungkan dalam hidupku. Aku telah memilih Kinara dan berjanji akan menetapkan hatiku hanya padanya. Kutekan tombol ‘unfollow’ pada akun Malia sesaat sebelum kupadamkan telepon genggamku. Aku ingin tidur nyenyak malam ini tanpa gangguan apapun. Kubawa khayalanku pada Kinara hingga tak sadar kapan aku jatuh terlelap.
------
Aku sudah memikirkan ini berulang kali, dan hatiku tetap memberikan jawaban yang sama. Kuputuskan untuk menghubungi Bima dan menyatakan perasaanku pada lelaki itu. Apakah ia mau menerimaku atau menolak, paling tidak aku sudah berusaha jujur. Apapun yang akan terjadi setelahnya akan kupasrahkan pada Tuhan.
Tapi nomor kontaknya tidak aktif. Tidak pernah seperti ini. Bahkan di tengah malam sekalipun setiap aku meneleponnya dari belahan dunia dengan perbedaan waktu yang jauh, ia tetap mengangkat. Aku sungguh kuatir. Ada apa dengannya?
Kucoba menghubungi Enggar. Sama saja. Masuk, tapi tidak diangkat. Kucoba terus hingga akhirnya ia menyapa diselingi suara berisik di belakangnya. Kemungkinan ia sedang berada di tepi jalan yang ramai.
“Hi, Mal.” Suara Enggar terdengar samar.
“Where are you? Can I speak to Bima, his phone is off.”
“Bima is not here, Mal,” ujarnya. Jawaban Enggar semakin membuatku resah. Dimana dia?
“He’s at the hotel,” lanjut Enggar masih dengan suara yang bercampur berisik.
“so where are you?” kubertanya lagi.
“Kita lagi di Jambi, Mal. Besok acara akadnya Bima.”
Genggaman tanganku melemah, dan hampir membuat smartphone-ku terjatuh. Perkataan Enggar barusan bagaikan berjuta pecahan kaca yang mengiris jantungku hingga ke dalam. Sudah sangat terlambat, Mal. Tidak, ini belum terlambat. Sebelum akad itu berlangsung, aku masih punya kesempatan. Bima harus tahu perasaanku, isi hatiku. Bahwa aku punya rasa yang sama dengannya. Dan ia tak perlu menggadaikan hidupnya pada perempuan yang belum tentu dicintainya.
Kuletakkan telepon genggam di atas meja tanpa sempat memutuskan panggilan. Pikiranku berkecamuk. Beragam bayangan kebersamaanku dengan Bima bergantian berkelebat di kepala.Tak kuhiraukan suara Enggar memangil berulang kali.
“Mal, are you okay?”
“Mal, answer me, please.”
“Mal ….”
Hati ini begitu sakit. Teramat sakit hingga tidak bisa terurai hanya dengan tetesan air mata. Bima, please turn your phone on. Give me a chance to say I love you.
[Bim, call me. I need to talk to you.]