
Mama dan Mentari telah menunggu di teras depan saat aku dan Kinara tiba. Keduanya menyambut dengan hangat kedatangan Kin untuk pertama kalinya di rumah ini, dan tentunya dengan sedikit mengabaikanku. Mama yang sedang menggamit lengan Kinara menuju ke dalam, sekilas menoleh saat mendengarku berdehem.
"Aku dilupain nih," candaku. "Padahal aku bawa cemilan kesukaan Mama." Kuperlihatkan bungkusan siomay favorit beliau yang selalu kubeli sembari lewat.
Mama mengangkat alisnya sambil tersenyum. "Maaf, Bim. Mama senang sekali Kinara datang ke sini," dalih beliau.
"Buat aku aja deh, Mas." Mentari mengambil bungkusan itu dari tanganku. "Udah sejak minggu lalu aku ngidam siomay Mang Oni," ujarnya dengan nada manja.
Dulunya Mang Oni adalah penjual siomay langganan papa yang kerap menjajakan dagangannya dengan berkeliling. Karena semangatnya yang tinggi, papa kemudian memodali beliau dengan sebuah kios kecil di pinggir jalan. Tak sampai setahun, Mang Oni mampu mengembalikan modal yang dipinjamkan papa dan terus mengembangkan usahanya. Jika berbelanja di kiosnya, lelaki yang kira-kira lima tahun lebih muda dari papa itu selalu memberikan porsi lebih. Kata-kata yang selalu beliau ucapkan padaku adalah, betapa kian hari aku semakin mirip papa saat dipandang.
Aku mengikuti langkah mama dan Kinara masuk ke dalam rumah. Wajah Mbok Yun terlihat menyembul dari balik pintu, dengan raut penasaran ingin bertemu dengan istriku yang cantik. Sejak mengabarkan bahwa aku akan menikah, Mbok Yun lah yang paling antusias. Namun ia langsung menolak saat akan diajak ikut ke Jambi meski sudah kubujuk berulang kali. Alasannya sederhana. Mbok Yun takut naik pesawat.
Wanita tua itu tersenyum saat Kinara mencium tangannya. Pandangannya kemudian beralih padaku yang berdiri tepat di belakang Kinara.
"Mas Bima pinter milih istri,"puji beliau malu-malu. "Si Mbak nya cantik banget."
"Mama yang pinter milih menantu," sahutku seraya melirik mama. "Kalau mama tidak mengajak ke Jambi, aku nggak akan pernah bertemu lagi dengan Kinara."
Mama tertawa lepas, "Kalau sudah jodoh, ada saja jalannya untuk bersatu. Pertemuan kalian kembali adalah salah satu yang kerap Mama sebut dalam doa di setiap sholat." Mama memandangku dan Kinara bergantian.
"Karenanya Bima harus jaga Kinara baik-baik. Kasih tahu Mama ya kalau Bima nakal sama kamu," ujar mama pada Kin seolah kami berdua adalah teman bermain di masa kecil. Kinara tersenyum padaku saat mendengar ucapan mama.
Mama kemudian mengajak Kinara duduk di ruang tengah. Di sana Mentari telah menyiapkan tiga piring siomay dan seteko air putih dingin.
"Kalian sepiring berdua aja, biar mesra," canda Mentari. "Lagian Mas Bim, kenapa juga belinya cuma tiga bungkus."
"Aku kan nggak tahu kamu nginep di Mama," kilahku.
"Kak Fariz masih tugas di Surabaya. Dua hari lagi baru balik ke Jakarta."
Kucomot dua bulatan siomay dari piring yang dipegang Kinara, dan segera berhenti saat merasa perutku belum terlalu lapar. Porsinya tidak terlalu besar, aku yakin Kinara bisa menghabiskannya sendirian.
"Aku tinggal bentar ya, mau ngecek editan Arifin. Besok deadline-nya," ucapku pada Kin sembari menunjuk ke kursi besi berukir di luar area rumah. Namun Mentari segera mencegah.
"Mau ke mana, Mas?"
"Teras samping," jawabku.
"Duduk di sini dulu. Kita mau ngobrolin perihal resepsi kamu," mama menambahkan.
Aku sudah putuskan untuk mempercayakan saja pada mereka bertiga. Mentari adalah seorang pengonsep yang baik, dan Kinara dengan sifat penurutnya pasti tidak akan mendebat. Lagi pula aku akan kalah suara jika berdiskusi dengan tiga orang perempuan.
"Whatever you decide, Ladies. I'm in," ujarku mengalah. "Just don't make me wear anything pink." Kudengar Kinara dan Mentari tertawa geli saat kutinggalkan mereka bertiga mama.
Kubuka laptop dan memasang headphone untuk me-review video profil sebuah perusahaan penyedia makanan beku. Beberapa dari pekerjaan kuakui agak terbengkalai sejak mulai mengurus pernikahan dengan Kinara. Sengaja kupilih posisi duduk membelakangi dinding, agar tak terlihat olehku bayangan sosok Kinara yang indah menembus dari pintu kaca. Saatnya aku kembalikan konsentrasi sejenak dan mengosongkan pikiranku darinya.
I don't know, Kin. You are so unavoidable to me.
-------
"Mas Bim nggak jahil 'kan sama Kak Kin?" Itu hal pertama yang ditanyakan Mentari padaku saat Bima beranjak meninggalkan kami. "Soalnya do'i tuh iseng banget orangnya."
Dengan tersenyum kuceritakan sedikit ulah Bima dari awal pertemuan kami hingga tiba di apartemen malam tadi. Mentari membelalak tak percaya saat kuutarakan mengenai smartphone-ku yang dipinjam pakai oleh Bima di hari pertama ia berkunjung ke Jambi, untuk mengambil beberapa gambar diriku secara diam-diam. Lalu kuungkapkan pula bahwa aku tak pernah bisa marah padanya, karena meskipun sering usil Bima juga selalu romantis dan baik hati.
"Bima itu fotokopinya Papa," tutur mama. "Isengnya, lucunya, sifat penyayangnya ...," beliau menerawang seolah mengingat kenangan indahnya bersama sang suami tercinta. "Papa banget lah pokoknya," ujar mama sambil tertawa.
"Kami berdua senang sekali Mas Bima akhirnya menikah," lanjut Mentari. "Semoga Kak Kin bisa cepetan hamil juga, nyusul aku." Mentari mengelus perutnya yang masih terlihat rata.
Mama kemudian menjelaskan mengenai rencana pelaksanaan resepsi pernikahanku dan Bima yang dijadwalkan sepuluh hari mendatang. Hanya sebuah perayaan kecil, mengambil tempat di salah satu resort milik adik sepupu papa di kawasan Sentul. Tamu undangan pun hanya sekitar 200 orang. Mama dan Mentari sudah memilah nama-nama kerabat dekat yang akan dikabari nantinya.
"Tidak terlalu formal, Kin," tutur mama. "Hanya untuk mengenalkan kamu pada keluarga besar Bima."
"Konsepnya seperti pesta kebun," Mentari menimpali dengan bersemangat. "Ada sebuah gazebo besar di tengah resort."
Mentari kemudian menanyakan pilihan warnaku untuk desain dekorasi dan baju pengantin. Aku suka putih, namun juga menyenangi sedikit warna hijau yang agak pudar. Mentari lalu menelepon vendor dan berdiskusi langsung saat itu juga. Ia pun membuat janji untuk Bima dan aku datang ke galeri agar bisa mengepas gaun dan setelan yang akan digunakan pada hari resepsi nanti.
Selanjutnya mama dan Mentari berdiskusi mengenai hal lain menyangkut catering dan souvenir. Menanyakan beberapa hal padaku, namun segera kupastikan bahwa aku akan mengikuti rencana yang Mentari siapkan untukku dan Bima. Perhatianku lebih teralih padanya, yang untuk kedua kalinya hari ini duduk dengan memunggungiku. Sangat berbeda dari kebiasaannya yang senang mengunciku dengan pandangannya yang tajam.
Mengapa ia bersikap dingin? Seingatku juga ketika berdua di mobil saat menuju kemari Bima tak banyak bicara. Hanya suara radio yang mendominasi diantara kami. Apakah ia marah padaku karena keinginannya untuk mencumbuku terhalangi? Jika memang begitu, berarti aku sedang berada dalam kesalahan yang sangat besar.
Kuhampiri Bima saat perbincangan dengan mama dan Mentari sudah selesai. Ia tak menyadari langkahku datang, suara headphone-nya yang keras terdengar hingga ke luar. Kutepuk bahunya lembut ketika ia tak juga bereaksi saat kupanggil. Bima langsung menoleh, kemudian segera melepas benda yang melekat di kepalanya tersebut.
"Kalian sudah selesai?" Bima bergeser sedikit dan mempersilahkanku duduk. Kursi besi yang agak sempit itu membuat tubuhku dan Bima sangat berdekatan.
"Ya," sahutku, seraya memberitahunya resepsi tersebut akan diadakan sepuluh hari mendatang.
"Are you okay with the plan?" ia menanyakan kesediaanku.
"Ya, sure. Kata Mentari lusa kita fitting baju pengantin."
Bima hanya mengangguk tanda setuju. Memandangiku sedikit lebih lama tanpa berkata apapun. Lalu sebuah senyum tipis terbit dari bibirnya.
"You will look so beautiful in that wedding dress," gumamnya pelan.
"Meskipun sebenarnya aku benci harus berbagi kecantikanmu dengan orang lain." Bima mengibaskan tangannya di depan wajah. "Jika bukan untuk membahagiakan mama ...., no, just forget it."
Kali ini aku yang tersenyum. Kecemburuannya yang terang-terangan tersampaikan apa adanya. Pantaslah tadi Bima tidak terlihat antusias saat akan memperbincangkan rencana resepsi tersebut. Kusentuh punggung tangannya untuk menenangkannya. Ia menoleh padaku dari layar laptop yang ia tekuni kembali.
"Kamu boleh memintaku memakai niqab jika tidak ingin ada yang melihat wajahku," aku menawarkan jalan keluar untuk meredam cemburunya. Ia menggeleng sedikit sungkan.
"It's okay, Kin. I can handle it," Bima menjawab untuk meyakinkanku.
Kami berpandangan dan sejenak bertukar senyum. Bima kembali beralih perhatian dengan pekerjaannya dan aku berusaha menyibukkan diri dengan melihat koleksi tanaman milik mama di area teras. Aku telah membeli beberapa pot kecil berdesain minimalis untuk diletakkan di beberapa sudut apartemen ketika berbelanja tadi. Kudapati aneka tanaman sansevieria dan aglaonema beliau ada yang beranak-tunas, mungkin boleh aku minta saat kami pulang esok.
Kulirik Bima sesekali dari balik rimbunnya tanaman milik mama, ia masih bergeming. Biarlah dulu seperti ini, mungkin pekerjaan itu terlalu menyita pikirannya dibanding aku.
Maybe sometimes we need to be 'away' for a while to give time for ourselves.
------
Andai bukan mama yang meminta, mungkin aku sudah menolaknya. Membayangkan harus berbagi Kinara-ku dengan orang lain yang memandangnya, teringat saat dulu harus berbagi mainan kesayanganku dengan anak kecil lainnya. Melihat Enggar memotretnya saat hari pernikahan kami di Jambi kemarin, sungguh aku tersulut cemburu. Kinara hanya milikku, dan selamanya akan seperti itu.
Entah bagaimana Tuhan menciptakannya begitu indah. Mengamati langkahnya yang anggun di antara tanaman-tanaman hias milik mama, aku seketika membayangkan Kinara bagaikan gadis cantik yang berlarian diantara ilalang di beberapa tayangan film romantis. You are so addicitive, Kin. Even more than caffein that I could never resist.
"Nggak usah pake sembunyi di balik laptop juga 'kali, biar nggak ketahuan lagi ngeliatin do'i," celetuk Mentari yang tiba-tiba sudah berdiri di sampingku.
Mentari memamerkan senyum usilnya. Menangkap basah diriku yang sedang memandangi istri sendiri. Mengapa seketika aku merasa wajahku menghangat. Buru-buru kuatur ekspresi agar terlihat biasa saja. Bisa panjang urusannya kalau adik bungsuku itu mendapati aku bersemu hanya karena menatap Kinara. Ia sanggup menggodaku habis-habisan di depan Kin.
"Dia cantik banget ya, Mas. Aku aja suka lihatnya, apalagi kamu ya?" Mentari tak berhenti menggoda.
Aku berusaha terlihat tak perduli, meskipun dalam hati aku mengakui perkataan Mentari. Kinara memang seindah itu untuk diabaikan.
"Kalau bayiku perempuan, mudah-mudahan bisa jadi anak yang cantik dan sholeha seperti Kak Kin," ujarnya lagi.
Kali ini aku mengikuti Mentari menatap Kinara yang sedang asyik membersihkan rerumputan kecil di beberapa pot bunga milik mama. Kadang melihatnya yang begitu indah membuatku merasa tak pantas bersanding dengannya. Ia bagaikan benda berharga yang harus kusimpan dan kujaga selalu. Betapa hari-hariku terasa berubah sejak ia hadir dan menjadi bagian dari hidupku.
"Jangan terburu-buru, Mas. Kasih dia waktu untuk menyesuaikan diri terlebih dulu," ujar Mentari di sela tatapan kami pada Kinara.
"Sok tahu." Kusentil hidungnya, adik kecilku yang mendadak memberi nasehat layaknya orang yang lebih tua.
"Hei, aku kan lebih dulu mengalami. Dan aku perempuan, Mas," kilahnya sambil tertawa.
Benar juga. Kisah cinta Mentari dan Fariz juga tak jauh beda denganku. Mereka saling mengenal setelah akad nikah. Tak ada salahnya aku ikuti apa yang dikatakan Mentari.
"Jadi, apa saranmu untukku?"
"Slowly but sure," jawabnya yakin. "She will truly be yours. It's just a matter of time."
Berarti langkahku sudah benar. Hanya perlu menunggu sedikit lagi sampai ia membuka lebar hatinya untukku. Kuharap aku mampu menahan diri sampai waktu yang dijanjikannya dan meredam semua gejolak yang muncul setiap berdekatan dengannya.
"Untuk resepsi kalian nanti, ada permintaan khusus kah?" Mentari bertanya sebelum beranjak meninggalkanku.
"Ya. Jangan bikin dia terlalu cantik. Nanti aku bisa mati karena cemburu."
Mentari tak menjawab, hanya berlalu dengan tawanya yang terdengar sungguh geli mendengar perkataanku.
Kin, andai bisa kusimpan saja kamu tanpa bisa terlihat orang lain, pasti sudah kulakukan. Konyol memang, namun itulah perasaanku saat ini. Aku ingin agar matamu hanya memandangku dan jatuh cinta cuma padaku.
Love me, Kin. And I will love you back million more.
-------
"Apanya yang lucu?"
Mendengarnya bertanya itu malah membuat senyumku semakin mengembang. Ini sudah menjelang tidur dan ia berbaring di sisiku sambil sama-sama menatap sekeliling kamar. Mungkin ia bisa mengira apa yang ada dalam pikiranku, dan bertanya hanya sekedar meyakinkan dugaannya.
"Serasa ada di kamar Bang Khalif dan Bang Khatab saat mereka SMA," jawabku hampir tertawa. Bima malah tergelak, seolah ia kembali terbawa ke masa remajanya dahulu.
"Sengaja kubiarkan begini. Untuk mengingat bahwa aku juga pernah dalam fase seperti ini."
Dinding kamarnya dipenuhi poster lambang klub bola pujaannya dan beberapa goresan yang aku mengira itu mungkin logo komunitas ekstrakurikuler di sekolah yang dulu ia ikuti. Masih ada meja belajarnya dengan tumpukan beberapa buku, dan juga deretan piala yang mungkin ia menangkan di beberapa kompetisi.
Sebuah tulisan yang dibingkai di salah satu sisi dinding menarik perhatianku. Tertulis dalam tatanan kalimat yang kuduga bahasa Perancis.
"Itu ungkapan dari Papa," jawab Bima saat kutanya artinya. "Dalam bahasa Inggris artinya mungkin seperti ini, Surrender to Win."
Aku mengubah posisiku berbaring menghadapnya agar bisa leluasa memandang wajahnya saat bercerita.
"Ada beberapa tahapan dalam hidupku, di mana saat aku benar-benar menyerah, justru Allah memberikan jalan keluar padaku." Ia ikut berbaring menghadapku. Sesaat mata kami bertemu dan lagi-lagi bisa kurasakan rasa sayang yang begitu besar terpancar dari tatapan lembutnya.
"Suatu saat akan kuceritakan setiap kisah itu padamu, Kin." Bima meraih tanganku dan membungkus dalam genggamannya. "Karena dari kisah itu juga ada yang menyangkut dirimu."
Aku menahan napas saat Bima membawa wajahnya mendekat. Cukup dekat namun masih memberikan ruang untukku menatap matanya. Meskipun tidak sedekat pagi tadi saat ia memberiku kecupan pertamanya, namun tetap saja membuatku berdebar.
Ia tak mengatakan apapun untuk sesaat. Hanya matanya yang membuka dan menutup sesekali dan hembusan nafasnya yang terdengar bergantian dengan nafasku. Mungkin ini saat yang tepat untukku memberitahukan hal yang seharian tadi menggantung di pikiranku.
"Bim, aku ...."
Ucapanku terputus. Sesaat kami tertawa karena ia juga memanggil namaku di saat yang sama.
"You first," ia mempersilahkanku berbicara lebih dulu. Kutarik nafas sebentar karena ini bukan hal yang mudah untuk dikatakan.
"Tentang 'menunggu' yang kita bicarakan kemarin ...," aku berhenti sejenak untuk memilah kalimat yang tepat untuk mengungkapkannya. "Jika itu berat untukmu ...,"
Ah, mengapa seperti ini. Lagi-lagi terasa sulit membicarakan hal seintim ini dengannya. Terlebih di bawah tatapan matanya yang membuatku serasa kehilangan kemampuanku merangkai kata.
"No. Kin. I want you to want me, because you want me. Not because you have to." Ia langsung menjawab tegas.
"But I ...,"
"It's okay, Kin. Take your time," bisiknya pelan padaku. "I will always be here waiting,"
Bima menarikku lembut dalam peluknya. Begitu dekat hingga bisa tercium olehku wangi tubuhnya yang membius sampai ke dasar jiwa. Perlahan kunikmati hingga sensasi aroma itu membawaku menghayal jauh. Namun segera tersadar saat ia justru melonggarkan pelukannya.
"Nggak pengen tahu tadi aku mau ngomong apa?"
Cepat aku menggangguk untuk menyenangkan hatinya.
"Cuma mau bilang, kamu cantik hari ini," ia kembali menggodaku.
Kemudian aku kembali tenggelam dalam peluknya, kali ini dengan sepasang dahi yang bersentuhan. Sesekali terasa bibirnya menyapu lembut saat ia mencari posisi kepalanya yang merebah. Hanya sebatas itu. Tanpa kecupan seperti pagi tadi. Aku diam menunggu. Meskipun terasa aneh, entah mengapa aku menginginkan rasa itu lagi. Rasa saat pertama kali ciumannya menguasai dan aku hanya bisa menyerah tanpa tahu berbuat apa.
Aku masih menunggu, hingga terdengar nafasnya yang halus berhembus teratur. Ia terlelap dan membiarkanku mengambang dalam hayalanku akan kecupan itu. Malam ini akan sangat panjang bagiku. Bima meninggalkanku tertidur dengan pikiranku masih tertaut padanya. Caranya mempersiapkanku, membuatku justru semakin mendamba akan semua hal baru itu. Meskipun saat ini aku hanya bisa menikmatinya dengan menatap lembut parasnya yang begitu polos dalam lelap.
Bima, maybe I can't wait that long either. Because you are too irresistible.