The Surrender Of Love

The Surrender Of Love
Episode 17 - Is That You?



Rumah ini masih sepi seperti dulu. Dengan penghuni yang sama, dengan kebiasaan yang sama. Tak bertambah ramai hanya dengan kehadiranku kembali di sini sejak dua hari yang lalu.


Piring-piring sarapan telah tersedia rapi di atas meja, menanti hidangan yang aromanya tercium dari arah dapur. Sungguh khas, hingga aku bisa menebak seperti apa rasanya. Mengingatkanku kembali saat mesti duduk setiap pagi di meja ini, dibawah tatapan Bu Jati, harus menghabiskan sepiring sarapan dan segelas susu sebelum berangkat. Pak Ahmad tidak akan mengantarkanku ke sekolah jika sang istri belum memberi isyarat dari ruang makan.


Sepasang suami istri itu, aku lebih mengenal mereka sepanjang hidupku dibandingkan papa, apalagi mama. Tidak pernah mengecap pendidikan tinggi, namun keduanya mampu membesarkanku hingga sekarang dengan kekurangan dan kelebihan yang mereka miliki. Aku sudah dianggap seperti anak sendiri, bukan sebagai anak dari majikan. Dan aku pun sudah merasa mereka sebagai pengganti orang tua yang hanya hadir sesekali sepanjang hidupku.


"Non, rokoknya dimatikan dulu. Ibu ndak suka ada bau asap di ruangan." Bu Jati muncul dari arah dapur membawa semangkuk besar nasi goreng. Cepat kutekan batang rokok yang masih tersisa separuh bila tak ingin mendengar wanita itu mengomel. Kuikuti langkahnya saat kembali ke dapur, membantu membawakan beberapa lauk yang sudah beliau persiapkan.


Suara mesin beroda besi terdengar dari kamar depan. Papa sudah bangun. Sejak serangan stroke yang kedua awal tahun lalu, Papa harus dibantu kursi roda untuk bergerak. Miris memang. Lelaki yang biasanya selalu aktif itu kini mesti menyerah pada sebuah alat bantu.


Aku menyayangi papa, meski tidak sebesar rasa sayangku pada Bu Jati dan Pak Ahmad. Paling tidak aku lebih mengenal beliau dibanding mama yang sepanjang hidup hanya pernah aku temui tiga kali. Aku tidak membenci mama, hanya tidak menyukai pilihan hidupnya. Meninggalkan aku dan papa demi mengejar apa yang diimpikannya sejak lama. Aku hanya menyesali keputusan mama untuk menikahi papa dan menghadirkan diriku diantara mereka. Saat kusadari begitu kental jiwa yang diwariskan wanita itu, aku dengan berat hati menolak tawaran Bima untuk menikah. Agar tak ada Malia lain yang lahir dan terabaikan hanya karena obsesi ibunya yang belum tersampaikan.


Kupertimbangkan permintaan papa sejak beliau mulai sakit. Itu pula yang membuatku menyambut tawaran Gary untuk membuka cabang di Jakarta. Berat, justru di tengah karirku yang menanjak dan masih terlalu banyak angan yang ingin kuraih di dunia yang luas ini. Namun hanya aku yang papa miliki, dan aku tak ingin menjadi seegois mama dan mengabaikan papa di masa tuanya.


Bu Jati menghidangkan nasi goreng khusus untuk papa. Dimasak dengan minyak zaitun, jelasnya ketika kutanya apa bedanya. Berlanjut dengan omelannya agar aku mulai berhenti merokok bila tak ingin kesehatanku terganggu seperti papa. Aku hendak tertawa melihat Bu Jati mengomel di depan majikannya sendiri. Hubungan ini memang sudah seperti keluarga, bahkan papa pun kadang menurut jika diatur oleh wanita itu. Ia sudah mengurus kami selama bertahun menggantikan fungsi mama, yang entah mengapa tidak pernah dicarikan penggantinya oleh papa. Mungkin cinta itu begitu besar hingga sulit berlabuh pada yang lain.


Aku tak pernah memperdulikannya sebelum ini, sebelum kusadari betapa sakit kehilangan seseorang yang sangat dicintai. Ada, namun tak termiliki. Belasan pesan dan panggilan tak terjawab darinya tetap tak kusentuh. Biarlah aku menepi, untuk meredakan pedih ini. Pedih yang terbit atas ulahku sendiri.


Just stay away from me, Bim. Leave me alone. I need room to forget, and forgive myself for being so selfish about this feeling. The feeling that I realize that it only goes with you.


Only you.


-------


Ini terlalu. Bagai mematikan seluruh kemampuan nalarku.


Harum cologne maskulin berpadu dengan wangi bilasan sampo dari rambutnya, serta aroma samar peppermint berhembus dari nafasnya yang hangat, semuanya membiusku bersamaan dengan lembut kecupannya. Kecupan yang perlahan berubah menjadi sebuah ciuman yang dipenuhi gairah. Kubiarkan ia menjelajah tanpa berani membalas, hingga akhirnya wajah itu menjauh dan jemarinya terasa mengusap lembut bibirku.


Ketika mataku terbuka, ia sedang tersenyum, memandangiku seperti biasa seolah mencari tahu yang kurasakan atas apa yang dilakukannya. Dan tentu saja sorot mataku tak pintar berbohong, bahwa aku juga menyukai semua tindakannya pada diriku.


Bima kelihatan tampan sekali pagi ini. Santai, namun tetap rapi. Kaus tanpa kerah yang dikenakannya dipadukan dengan jaket berbahan jeans yang tak terlalu tebal. Ia bahkan sudah menyandang ransel saat mencuri kecupan itu dariku.


"Jangan lupa yang aku pesankan tadi malam," Bima kembali mengingatkanku akan perbincangan kami sebelum tidur.


Ya, ini adalah hari pertama ia meninggalkanku sendirian di apartemen. Bima harus kembali hadir di studio untuk menyelesaikan beragam pekerjaan yang telah menanti. Berkali ia mengulang agar aku tak melupakan hal yang dikuatirkannya, dan selalu mengikuti petunjuk yang ia sampaikan sebelumnya. Ingin sekali kukatakan bahwa aku seorang wanita dewasa yang mampu berpikir logis, dan ia tak perlu secemas itu meninggalkan aku sendirian. Namun kuhargai semua itu sebagai bentuk tanggung jawabnya atas diriku.


"I'm gonna miss you today," bisiknya seraya meraih jemariku dan melekatkan di rahangnya yang mulai terasa kasar. Menciumnya sesekali sebelum kecupan itu kembali berakhir di bibirku.


"Akh, Kin ... I can never get enough of you," gumamnya di sela-sela hembusan nafas yang berpadu. Jika terus seperti ini, dia tak akan jadi berangkat.


"I am okay, you can go," kutundukkan wajah agar tautan itu terlepas. Sekaligus menyadarkannya bahwa yang terjadi saat ini bisa berakhir lebih dari sebuah kecupan.


"Take care," ucapnya sebelum wajahnya menghilang dari balik pintu.


"Fii amanillah," balasku, menyelipkan sebuah doa untuknya. Dan untuk pertama kalinya sejak resmi menjadi istrinya aku memiliki waktu untuk sejenak terbebas dari godaannya yang memabukkan.


Namun ternyata dugaanku salah besar. Walaupun ia tak di sisiku, pesonanya tetap tinggal. Kurasakan desir halus di dadaku saat membenahi ranjang kami dan mendapati aroma bekas tidurnya masih melekat di sana. Kurapikan seprainya cepat saat pikiranku mengembara pada dua malam terakhir yang kuhabiskan berbaring bersamanya. Ia begitu sopan dan lembut. Selalu bertanya tanpa memaksa, meskipun yang dilakukannya padaku hanya sebatas ciuman yang semakin penuh desakan. Dan ia kian berani, layaknya pagi tadi sebelum berangkat, berkali ia lakukan seakan tak ada kata cukup.


Kupandangi wajahku di cermin. Paras yang ia katakan sangat dikagumi dan membuatnya cemburu jika lelaki lain menatapku. Seumur hidup, aku tak pernah merasa begitu cantik. Sejak bersama dengannya aku merasa begitu tersanjung, dan berjanji pada diri sendiri akan mempersembahkan anugerah yang kumiliki hanya untuknya. Ia yang juga sangat aku kagumi dan tak percaya betapa lelaki segagah dirinya mampu jatuh cinta begitu hebatnya padaku.


Kusentuh bibir yang dua hari ini sangat menarik perhatiannya, tak kuasa dan terpejam saat mengingat kelembutan itu saat pertama kali ia kenalkan dengan miliknya. Ah, Bim. Apa yang sedang kau lakukan padaku?


Bunyi notifikasi yang tak asing dari ponsel yang bergetar membuat khayalanku buyar. Sebuah pesan, dari Bima. Belum lama ia berangkat dan ia telah mengirimiku pesan, memaksaku tersenyum betapa ia sedang benar-benar terobsesi padaku.


Dan senyumku sirna berganti kerutan di dahi saat membaca pesannya.


[Kenapa bibirnya, Kin?]


Pertanyaan itu membuatku seketika bingung. Kudekatkan kembali wajah pada cermin untuk melihat ada apa dengan bibirku. Rasanya tidak ada yang salah. Mengapa ia bertanya begitu? Kusentuh lagi sudut bibir untuk memeriksa, lalu pesan kedua masuk.


[Belum hilangkah rasa yang tadi?]


Apa maksudnya? Bagaimana ia bisa mengetahui aku sedang memandangi diriku sendiri di cermin? Spontan kutoleh sekeliling kamar. Dan saat memandang ke atas, aku menemukan benda bulat yang berkamuflase dengan warna yang sama seperti langit-langit kamar. Sebuah CCTV.


[Kamu sedang memata-mataiku?] kuketik pesan itu. Menunggu sebentar, dan tak sampai beberapa detik kuterima balasan darinya.


[Just checking, Darling]


Kutinggalkan kamar menuju ruang tengah, melihat ke atas ke setiap sudut langit-langit. Dan dugaanku benar, benda bulat itu tergantung di setiap sudutnya. Seketika wajahku memanas, hatiku penuh dengan rasa malu dan sedikit kesal. Berarti sejak ia meninggalkanku sendiri di apartemen, matanya tetap mengawasiku lewat kamera pengintai itu dari layar ponselnya.


[Don't get angry, Kin.]


[Aku sudah memasangnya jauh sebelum kamu datang.]


Aku menarik nafas untuk meredakan emosi yang hampir muncul. Baiklah, aku tidak marah. Hanya sedikit terkejut bahwa aku masih tetap dalam pantauannya meskipun ia tak di sisiku. Ini Jakarta. Jika itu membuatnya merasa nyaman, aku akan mengikuti semua prosedur yang ia atur untukku.


[Don't type while driving.] kuingatkan sedikit agar perhatiannya tetap pada jalan raya.


[I'm stuck in here.] balasnya.


Sebuah foto padatnya antrian mobil di depan gerbang tol kota menyusul masuk setelah pesan tadi. Seperti inikah yang harus dihadapinya setiap hari?


[Everyday? Like this?] tanyaku.


[No, Kin. Aku telat lima belas menit hari ini.]


[Adegan di balik pintu tadi, membuatku terjebak macet seperti ini.]


Maksudnya ciuman itu?


[Besok pagi ingatkan aku untuk bersiap lebih cepat.]


[So we have longer time to ... ehm, you know ...]  ia menyisipkan sebuah emoticon senyuman.


Berarti benar, cuma hal itulah yang sekarang sedang merasuk di kepalanya.


[Just drive safely, okay.]


Kuakhiri percakapan itu dengan mengiriminya tanda ciuman jauh. Baiknya kuabaikan dulu ia untuk saat ini. Banyak yang harus aku kerjakan, dan hari ini juga kali pertama aku akan memasak untuknya. Menjauhlah sebentar, Bim. Karena sulit bagiku mengacuhkanmu dari pikiranku. Beri aku waktu sendiri hingga sore nanti menyambutmu pulang. Dan pada saat itu, lakukanlah apa yang seharian memenuhi anganmu tentangku. Aku tak menghindar, hanya butuh sedikit jarak agar bisa mengendalikan hatiku dari saratnya pesonamu.


------


Hampir separuh hari kuhabiskan untuk memantau kegiatan Kinara. Ia memasak, membersihkan rumah, dan setelah selesai melakukan seluruh pekerjaan, ia tidur siang di sofa ruang tengah. Beruntung aplikasi kamera pengintai ini mampu di-zoom berkali lipat sehingga masih bisa kulihat raut wajahnya meski sedikit kurang jelas.


Mentari mengirim pesan untuk ketiga kalinya agar aku dan Kinara tidak terlambat hadir di galeri untuk pengepasan kostum yang akan dipakai pada hari resepsi. Lokasi vendor tersebut bertempat di salah satu mal yang dekat dengan apartemenku. Aku berniat pulang lebih cepat dan menjemput Kinara terlebih dahulu.


Tak kupungkiri hilangnya kabar Malia masing mengganjal di pikiranku. Aku masih perduli padanya, dengan versi yang berbeda. Bukan dalam bentuk cinta, namun lebih kepada saudara atau sahabat yang dulu berjuang bersama. Enggar belum sempat mengunjungi rumah ayah Mal dan berniat akan menyempatkan waktunya sore nanti. Aku berharap segera mendapat kabar tentang Mal. Untuk sementara ini baiknya kufokuskan diri pada Kinara dan rencana resepsi kami.


[Masak apa hari ini?]


Kukirim sebuah pesan setelah melihatnya bangun dan kembali beraktivitas di dalam rumah.


[Simple cook. You want to see the picture?]


Sebuah foto hidangan di meja makan terunduh otomatis sebelum aku sempat membalas. Kinara memasak ayam goreng saus kecap kesukaanku. Pasti mama atau Mbok Yun yang memberitahunya. Selera makanku langsung timbul melihat hasil masakannya.


[Your favorite?] Kinara mengirim sebuah pesan lagi.


[Exactly. Aku tak sabar ingin mencicip.]


[Pulanglah lebih cepat.] ia membalas.


Aku mengira pasti ia merasa asing hanya sendiri di apartemen. Mungkin aku harus memikirkan alternatif kegiatan lain untuk Kin agar ia tak merasa bosan.


[Pulang cepat? Miss me already?] sengaja kugoda wanita cantikku untuk menghilangkan sepinya hari ini.


Kinara mengirimkan emoticon wajah dengan lidah terjulur sebagai balasannya. Membangkitkan rasa gemasku dan langsung menekan tombol hijau untuk memanggilnya.


"Rindu?" cecarku saat ia mengangkat.


"A bit," ia mengaku malu-malu.


"Ingin aku pulang sekarang?"


"Ya, Mentari sudah tiga kali mengingatkan agar kita datang ke galeri hari ini."


Adikku itu memang super cerewet. Kuharap Kinara tak keberatan dan bisa memahami sifat Mentari dengan rasa keperduliannya yang terkadang menurutku berlebihan.


"Aku ingin makan dengan ayam goreng saus kecap sebelum ke sana." Aku merayunya secara halus dengan memuji masakannya.


"Masih ada waktu nanti malam."


"Baiklah, aku pulang sekarang kalau begitu."


Kuminta Kinara bersiap agar kami bisa mengunjungi galeri tersebut. Ia bersikeras akan menunggu saja di lobby hingga aku tak perlu menjemputnya ke atas. Berulang ia sampaikan bahwa aku tak perlu terlalu kuatir, karena hari ini sudah dua kali ia turun ke lantai dasar. Bagaimana ia bisa luput padahal seharian ini ia tetap dalam pantauan CCTV-ku. Entahlah, mungkin aku yang terlalu ketat menjaganya, dan lupa ia juga seorang wanita dewasa.


Kinara berdiri anggun di lobby menoleh ke kanan dan kiri memastikan kedatanganku. Aku tahu ia belum menghapal plat mobilku sehingga terlihat bingung karena begitu banyak kenderaan dengan jenis dan warna yang sama di apartemen ini. Sesekali ia melihat ponselnya, namun kemudian mengantongi kembali. Mungkin ia resah mengapa aku belum juga sampai sedari tadi.


[Mobil putih di antrian ketiga, Kin.]


Ia segera mengedarkan pandangan ke arahku saat menerima pesan itu. Dan tak lagi menunggu, ia berjalan menghampiri. Kuulurkan tangan untuk membantunya naik saat ia terlihat kesulitan dengan gamisnya yang panjang.


"Kita harus ganti mobil saat kamu hamil nanti. Tukeran sama sedan milik mama."


Wajah Kinara merona saat mendengar itu. Pastilah di kepalanya berkelebat pikiran yang sama denganku.


"Aku bawakan ini untuk kamu," ia mengalihkan pembicaraan, menunjukkan padaku kentang goreng dalam sebuah wadah kecil. Dengan sengaja kuminta ia menyuapiku beralasan jalanan terlalu padat dan harus menyetir penuh konsentrasi. Memiliki seorang istri ternyata seindah ini. Tak lagi hanya ditemani suara penyiar radio bila berhadapan dengan jalanan yang macet, kini ada perempuan bersuara lembut yang setia mendampingiku menyetir.


Pemilik galeri pengantin yang dituju telah menunggu saat kami tiba. Beliau senang sekali karena setelah mengurus pernikahan Mentari dua tahun lalu, kali ini ia masih berkesempatan untuk menangani acara resepsiku. Teh Dina, begitu ia minta kami menyebut namanya, sangat antusias memilihkan gaun untuk Kinara. Beberapa kali mengepas dan menunjukkan padaku, akhirnya pilihanku jatuh pada sepasang pakaian pengantin berwarna hijau pupus berpadu dengan nuansa perak. Terlihat mewah namun tidak mencolok. Sangat serasi dengan warna kulit Kinara yang terang.


"Beruntung sekali Mas Bima, Kinara postur tubuhnya ideal. Jadi gampang dapat gaun yang sesuai," tutur Teh Dina bergantian memandangku dan Kinara.


"Kin mau Teteh bikinin head piece dari bahan apa?"


Yang ditanya malah melirik minta pendapatku. Aku mengangkat bahu, tak mengerti apapun tentang aksesoris wanita. Harusnya tadi Mentari ikut serta.


"Yang sederhana aja, Teh. Kin nggak mau terlalu menarik perhatian."


Teh Dina menggangguk seraya membubuhkan beberapa catatan di buku agendanya.


"Hand Bouquet?"


"Kin suka bunga warna putih," jawabnya malu-malu. "White Chrysant."


"Baiklah, Teteh akan atur agar acara kalian nanti akan terlihat indah untuk semua orang," beliau tersenyum bersemangat. "Mas Bim, ada permintaan lain?"


"Ya. Saat merias Kinara nanti, biarkan wajahnya tetap seperti ini. Saya sudah terlanjur jatuh cinta, jangan ubah dia jadi orang lain," kuraih jemari Kinara dan menatapnya lekat. Teteh Dina berdehem melihat gayaku saat menggombal.


"Udah deh, cepetan pulang sono," tawa Teh Dina langsung berderai. "Ada yang lagi madly in love kayaknya."


Kinara segera berpamitan dengan memeluk hangat wanita itu. Bertukar nomor ponsel sejenak, lalu saling melambai sebelum meninggalkan galeri.


"Ada yang mau dicari di sini sebelum kita pulang?"


Kinara menggeleng dan aku pun membawa langkah kami menuju lokasi parkir. Aku hanya ingin cepat tiba di apartemen dan berduaan dengannya. Melihatnya begitu cantik saat mencoba beragam gaun tadi sungguh membangkitkan naluri lelakiku.


"Kamu cantik sekali," pujiku saat sudah duduk berdua dengannya di dalam kendaraan. Petugas parkir sedang mengatur pengunjung yang baru datang, baru kemudian mobilku mendapat giliran. Suasana sore yang hampir gelap membuat perasaanku mulai menebal. Ingin rasanya kucuri sebuah kecupan di bibirnya. Bisa dipastikan tak 'kan ada yang melihat, karena kaca jendela pun cukup gelap.


"Kin ..." 


Ia telah menutup matanya ketika melihat wajahku mendekat. Namun batal kulakukan demi melihat ekspresinya yang harap cemas. Genggaman tangannya yang kian erat memastikan bahwa ia kurang nyaman jika kucumbu di tempat umum seperti ini. Sejujurnya pun aku hanya ingin menggodanya, karena begitu menyenangkan bagiku melihat ekpresi wajahnya yang kerap merona saat kami berdekatan.


Suara petugas parkir yang memintaku mundur mengagetkan aku dan Kinara. Segera kuatur persneling dan menekan pedal gas. Namun perhatianku teralihkan pada seorang pengendara yang baru saja memarkirkan mobilnya. Seorang wanita, berdiri membelakangiku saat hendak mengaktifkan alarm kunci. Meski tak melihat wajahnya, aku hapal gerak tubuhnya. Rambut ikalnya, juga cara berpakaiannya. Tak kuhiraukan sang petugas parkir yang terus mengarahkanku. Mataku hanya terpaut padanya. Aku yakin, namun kemudian sedikit ragu bahwa ia wanita yang kukenal.


Mal, is that you?