The Surrender Of Love

The Surrender Of Love
Episode 20 - My Beautiful Bride



"Dekor checked, katering checked, kostum checked.... " Mentari bergumam seraya menggoreskan pena pada buku dalam genggamannya. Sesekali ia menelepon untuk memastikan bahwa segala hal telah tersusun dengan rapi di lokasi acara. Kondisi fisiknya yang sedang mengandung tak menyurutkan semangatnya untuk mempersiapkan acara resepsiku dan Bima.


"Apa yang bisa Kin bantu, Tari?" tanyaku saat berpindah duduk di sampingnya. Senyumnya seketika mengembang.


"Kak Kin dan Mas Bim tinggal duduk cantik besok pagi," jawabnya. "Semuanya sudah beres."


"Jangan terlalu letih," kusentuh perutnya yang masih terlihat rata. "Kasihan si dedek bayi."


"Non Kin, Non Tari itu kalo kata orang tua, hamil kebo." Mbok Yun yang sedang memijat kaki mama di sofa ruang tengah ikut menanggapi saat aku mengingatkan Mentari.


"Mana ada perempuan hamil yang nggak mual, nggak pusing, nggak hilang nafsu makan. Ya cuma Non Tari," tambah wanita yang sudah seperti anggota keluarga di rumah ini.


Mama yang sedang dipijat juga ikut tertawa mendengar celetukan Mbok Yun. Yang disinggung cuma tersenyum-senyum sambil terus memeriksa catatan panjangnya.


"Sing penting sehat-sehat yo, Nduk." Mbok Yun melanjutkan. "Mau makan opo wae tinggal bilang ke Mbok Yun. Biar dimasakin."


"Gulai belut, Mbok," celetuk Mentari. "Udah sebulan aku ngidam itu."


"Jangan, Mbok." Kali ini suara Bima yang terdengar menimpali. "Nanti lasak kayak dia."


Suara Bima dan Mentari yang saling bersahutan membuat rinduku akan rumah di Jambi kembali hadir. Sudah lebih dua minggu tepatnya aku meninggalkan kota itu, ayah, ibu, bang Khalif, bang Khatab, kak Fania, murid-murid di rumah kursus, semua kenangan itu sejenak berkelebat di kepala. Senang sekali rasanya hari ini mereka yang kurindukan akan datang.


"Bang Khalif barusan bilang mereka sudah boarding." Bima membuyarkan lamunan singkatku.


Aku mengangguk dan mengikuti langkah Bima yang akan berpamitan pada mama. Perjalanan ke bandara sangat memakan waktu. Bima memperkirakan kami akan tiba di sana sesaat sebelum pesawat mendarat.


"Kita langsung ketemu di Sentul aja ya, Mas." Mentari menegaskan kembali. "Aku, Kak Fariz, Mama, Mbok Yun, nanti sore bareng Pak Karya nyusul ke sana."


Bima mengisyaratkanku agar membawa saja koper pakaian kami sekaligus. Aku menyempatkan bertanya pada Mentari apakah masih ada yang perlu dibeli untuk perlengkapan acara. Ia cepat meyakinkan bahwa semuanya sudah dipersiapkan.


"Studio buka 'kan, Mas?"


"Calling Enggar aja. Kamu butuh apa?" tanya Bima sebelum kami berangkat.


"Hmm, ada deh." Mata Mentari mengerling jenaka.


"Jangan bikin yang norak dan aneh-aneh."


Tawa Mentari berderai saat melihat ekspresi Bima yang penuh selidik.


"Kamu pasti suka, Mas. Percayalah padaku," ucapnya dengan nada senandung sebuah lagu lawas.


Senang rasanya aku bisa menjadi bagian dari keluarga yang bahagia ini. Walaupun sering terlihat usil, Bima dan Mentari justru sangat dekat satu sama lain. Gaya bercanda mereka yang kadang to the point memberi warna berbeda akan jiwaku yang dekat dengan kebiasaan tertib khas ayah.


"Kita berangkat sekarang?" Bima menyentuh bahuku mengingatkan jadwal kami.


Ya, Bim. Tak sabar rasanya menumpahkan rinduku pada ibu. Walau terhitung sebentar, baru kali ini aku berpisah begitu jauh darinya. Dari wanita yang melahirkanku, untuk mengikutimu sepanjang hidupku.


--------


Kinara baru saja mengantarkan ayah dan ibunya ke villa yang disediakan tante Olive untuk kami semua menginap. Sejak tiba di Sentul dari bandara, aku memberinya ruang untuk melepas rindunya sejenak. Kin terlihat lebih ceria dari biasanya, terutama ketika bertemu ibu. Apalagi seluruh anggota keluarga Kinara berkesempatan datang untuk acara resepsi esok.


"Indah ya, Bim." Kinara menghampiriku yang sejak tadi duduk di balkon kamar, memandangi Mentari yang masih berdiri mengawasi sentuhan akhir dari tim dekorasi yang ia pekerjakan.


"Tadi aku mau ke gazebo, tapi langsung diusir sama Tari," ujar Kin tertawa. "Disuruh duduk manis aja sama kamu."


Usaha Mentari untuk menyulap gazebo besar itu menjadi sebuah tempat laksana pelaminan, patut diberikan pujian khusus. Entah apa yang ia rahasiakan di sana, sedari tadi aku dan Kinara tak memiliki kesempatan untuk mendekat ke arah itu. Adikku itu memang tak bisa dibantah. Jika ia sudah bertekad, susah untuk dihalau.


Mendadak ponselku berdering, mengagetkan aku dan juga Kinara yang sedang melamun memandangi dekorasi yang begitu indah di bawah sana. Mentari yang memanggil.


"Ajakin Kak Kin bobok gih." Suaranya langsung terdengar sebelum aku sempat berkata apapun. "Aku nggak mau besok dia bawa mata panda sewaktu dirias."


Kuyakin Kinara juga bisa mendengar ocehan Mentari yang begitu nyaringnya menerobos speaker ponselku. Sebelum ia mengomel lebih lama, segera kuturuti maunya dan mengajak Kin beristirahat.


Kegiatan yang tiada putusnya sejak pagi tadi membuat tubuhku kian letih. Sepertinya begitu juga dengan Kinara. Mataku sudah tergoda untuk memejam saat melihatnya masih berbaring menatap langit-langit kamar tanpa bicara apapun.


"Lagi mikirin apa?" Kutarik tubuhnya mendekat. Ia hanya tersenyum malu dan menggeleng. Namun aku merasa ada sesuatu yang sedang ia simpan di hatinya.


"Ada apa, Kin?" kucoba bertanya kembali. "Something wrong?"


Kinara kembali menggeleng. Kukecup keningnya sekilas dan membawanya ke pelukku. Aku sudah terlalu letih untuk mengerjakan apapun. Yang terpikir saat ini hanya segera terbang ke alam mimpi.


"Bim, apa Malia besok akan datang?"


Pertanyaan itu sama sekali di luar dugaanku. Tak kusangka keresahannya kemarin masih berlanjut hingga hari ini. Ah, bila tahu akan begini, lebih baik aku tidak berkata jujur padanya. White lies are not forbidden, are they?


"Kita mengundangnya 'kan?"


Lebih tepatnya aku yang mengundang Malia, dan tak menyangka kecemburuan itu terus merasuki Kinara hingga kini. Ia masih bergeming dalam pelukku dengan tatapan sendu yang berarah entah kemana.


"Kin, look at me." Kubawa dagunya menengadah. "Tidak ada yang perlu dikuatirkan."


Mata indah itu memandang padaku dengan keraguan yang tergambar jelas di dalamnya. Membuat perasaanku juga perlahan ikut larut dalam galau hatinya.


"Malia doesn't love me." Sengaja kuberi penegasan pada ucapan itu. "And you know exactly how I feel for you."


"Tapi Bim, caranya memandangmu persis seperti ...," Kinara menunda kalimat itu. "Seperti aku saat memandangmu," lanjutnya dengan nada suara malu-malu.


"Penuh cinta?"


"Just sleep," bisikku sambil menciumi rambutnya. "And be my beautiful bride tomorrow."


Tidurlah, Kin. Jangan pernah ragukan rasa cintaku. Aku lelaki yang telah berucap janji untuk menjagamu, dan tak akan kulakukan setitik pun kesalahan yang akan membuatmu jauh dariku. Tak akan pernah.


-------


Beberapa orang yang berpapasan denganku menyuguhkan senyum asing dan tanda tanya. Ini hanya perayaan khusus untuk keluarga, wajar jika wajahku asing bagi mereka. Meski begitu tetap kulangkahkan kaki, mencari siapapun yang mengenalku.


Setelah berpikir ulang berkali-kali, kuputuskan untuk hadir dengan tidak didampingi siapapun. Sempat terbersit untuk mengajak Andika, lelaki yang kukenal sekejap di night club kemarin, namun entahlah, aku justru tak mau ia malah akan menambah berat bebanku hari ini.


"Mal!"


Suara itu membuatku mencari arahnya di tengah kerumunan tamu yang mulai ramai memenuhi lokasi acara. Senyum pemiliknya langsung merekah saat jemarinya menggapai lenganku.


"Kemana yang lain?" tanyaku saat ia menarikku tanpa minta persetujuan.


"Enggar lagi sama Mas Bim. Pesannya begitu kamu datang langsung ke Kak Kinara."


Dengan berat hati kuikuti langkah Mentari. Sungguh rasanya aku ingin menghindar jika tadi tidak bertemu muka dengannya. Aku tak mau harus berlama-lama dengan wanita yang telah mengambil hati Bima dariku. Aku datang hanya untuk memberinya selamat, sebatas itu.


Mataku segera bertemu dengan tatapan Kinara saat Mentari membuka pintu. She's so damn beautiful, lelaki manapun akan berpikiran sama. Bahkan hanya dengan riasan tipis mampu membuat wajahnya sungguh menarik saat dipandang.


Aku berusaha bersikap professional dan mengabaikan beragam rasa pedih yang menjalar di dada. Kuambil jepretan demi jepretan saat penata rias membubuhkan polesan akhir. Sakit memang, tapi aku semata mata melakukannya untuk Bima. Untuk memenuhi permintaan lelaki yang amat aku cintai. Permintaan konyol untuk memotret istrinya tercinta. Dan aku lebih konyol lagi mengapa terpikir untuk menyetujuinya.


Kinara. Mengapa kamu begitu cantik dan membuatku sungguh cemburu. Wajar Bima tak mau Enggar yang memotretmu. Aku sungguh iri padamu. Sekaligus menyesali mengapa membiarkan Bima berkesempatan mengenalmu. Harusnya, jika semua tidak berjalan seperti ini, aku yang hari ini duduk di kursi rias itu, menunggu lengannya menggandengku berjalan di antara para tetamu yang turut berbahagia.


Kuselesaikan jepretan terakhir dan sedikit berbasa-basi dengannya. Kinara mengucapkan terima kasih dan mengatakan sangat senang atas kehadiranku. Lalu pintu itu terbuka, membawa Bima hadir di sana. Seumur hidup, aku tak pernah melihatnya segagah ini. Kami beradu tatap, dan dapat kuyakini sorot matanya padaku jauh berbeda saat ini. Membuatku sadar, cintanya sudah beralih, dan Kinara yang telah membuatnya berpaling.


Cepat kumohon ijin meninggalkan ruangan itu. Harus kucari tempat menjauh, untuk mengijinkan sedikit nikotin mengendurkan saraf otak ini. Berkali kusesali mengapa memutuskan untuk hadir di sini. Berat sekali menyaksikan kemesraan keduanya. Tapi sungguh rindu itu tak mampu kutahan. Aku rindu padanya. Rindu yang mungkin bisa terobati hanya dengan memandangnya dari jauh, meski kutahu tak akan mungkin lagi memilki hatinya seperti dulu. Sebelum Kinara merebutnya dariku.


-------


Sudah kuduga ia akan secantik ini, padahal telah berkali kupesan pada Mentari agar membuat Kinara terlihat biasa saja. Hatiku berperang, sisi yang satu sangat bergairah melihat tampilan indahnya, dan sisi lainnya berteriak cemburu bila ada lelaki lain yang ikut menikmati parasnya.


"Emang dasarnya cantik, diapain juga tetep cantik aja deh, Mas." Mentari tertawa geli saat kubisikkan protes itu padanya.


Kinara mencuri dengar pembicaraanku dan tersenyum dari tempat duduknya. Teteh Dina sedang memasang sebuah hiasan di atas hijabnya, membuat ia terlihat seperti bidadari yang digambarkan di buku-buku dongeng.


"Kami tunggu di luar ya, Mas." Mentari menggamit lengan Teh Dina saat beliau sudah selesai bertugas. Meninggalkanku dan Kinara berdua saja.


Sesaat ia hanya memandangi wajahnya di cermin, lalu saat matanya beralih padaku, Kinara bangkit dan beranjak menghampiri. Gaunnya yang panjang menjuntai membuat langkahnya melambat, namun sungguh telihat lebih indah. Jika menuruti kata hati, ingin rasanya kukunci saja ia berdua denganku di ruangan ini dan menuntaskan semua rasa yang sudah lama kusimpan untuknya.


"Jangan lepasin tangan Kin ya, Bim," ucapnya saat kusambut jemarinya. "Kin takut jatuh kalau gaunnya terinjak." Ia memandangku penuh harap


"Kalau jatuh nanti langsung aku gendong sampai ke gazebo," candaku sambil menarik pinggangnya merapat.


Kunikmati detail wajahnya satu per satu, dan terpaksa mengakui pernyataan Mentari. Kinara hanya dirias tipis, bahkan bulu matanya yang lentik hanya perlu ditebalkan sedikit dengan maskara. Bibirnya pun hanya dipoles lipstik dengan warna lembut. Kinara memang sudah cantik dari asalnya, aku lah yang harus mampu menata hatiku agar tak boleh terlalu egois dan terbakar cemburu.


"Kamu gagah sekali."


Pujian itu terdengar saat pikiranku masih berkhayal tentangnya. Mataku sampai terpejam saat jemarinya mengusap pipiku dan berakhir dengan membelai lembut deretan rambut halus di belakang leher.


"Jangan menggodaku begini," bisikku dengan nada serius. "Aku bisa nekat dan menguncimu di sini."


Kinara malah tertawa dan membawa wajahnya mendekat hingga hidungnya menyentuh bibirku. Terbersit tanya sejenak, apakah karena kehadiran Mal yang membuatnya mendadak bersikap seperti ini? Atau memang penampilanku yang sungguh menarik hati sehingga turut memicu gairahnya.


"Kamu masih menyimpan lipstiknya?"


Kinara memberi jarak saat mendengarku berkata itu. Wajah bingungnya membuatku semakin gemas.


"Untuk apa?" polos ia bertanya.


"Untuk memoles ulang jika nanti luntur terkena bibirku."


"Jangan!" Kinara tertawa geli kali ini. "Nanti Mentari bisa marah besar." Ia membawa wajahnya kian menjauh walau pinggang rampingnya masih tetap dalam genggamanku.


"Ayolah, satu kali saja tidak akan membuat warnanya hilang," kudekati kembali wajahnya dengan sengaja. Sedikit rayuan akan membuat kami berdua tidak terlalu tegang menghadapi tatapan para tamu saat keluar nanti. Kinara berusaha mengelak saat kutarik tubuhnya kian merapat. Ia menyerah dengan menutup matanya. Senyumku mengembang. Aku hanya ingin menggodamu, Kin. Hanya ingin melihatmu merona.


Mata indah yang sudah tertutup rapat itu mendadak terbuka akan suara pintu yang juga mengejutkanku. Mentari sudah di sana, memandangiku dengan kedua tangan terlipat di dada.


"Jangan coba-coba merusak riasan Kak Kin, Mas Bim Sayang." Ia melotot dengan jenaka. "Sudah banyak yang menunggu kalian di luar."


"Kasih satu menit lagi," pintaku dan Mentari kembali meninggalkan kami.


Kuraih rangkaian bunga krisan putih yang sudah terikat rapi di atas meja, menyelipkannya di genggaman Kinara. Ikut kugenggam jemarinya dan menatapnya lama saat ia menunduk memandangi hand bouquet itu.


"Jangan jauh-jauh dariku sampai acara selesai." Kupesankan lagi saat meletakkan tangan kanannya di lengan kiriku. "Kita akan keluar saat kamu siap."


Sengaja kupastikan itu, karena wanitaku ini bukanlah penyuka keramaian. Ia pasti gugup saat melihat begitu banyak mata yang akan memandangnya. Kinara menarik nafasnya sesaat, lalu mengangguk padaku.


Kubimbing langkahnya perlahan menelusuri koridor. Rasa bahagia menyelimuti dadaku saat ini. Kupanjatkan doa dalam hati agar rasa ini tetap hidup dalam hatiku dan hatinya hingga kami menua.


Kinara, jangan pernah berpikir aku akan berpaling darimu, dan rasa bahagia ini terlalu berharga untuk kupertaruhkan dengan yang lain. Kau hanya milikku. Dan tetap akan jadi milikku sampai kapanpun.


I will always love you, My Beautiful Bride.