
Kamarku tetap seperti dulu. Meskipun telah berkali-kali aku meninggalkan kamar ini, Mama tetap membiarkannya tanpa merubah apapun. Salah satu sisi dinding yang kutempeli dengan foto-foto hasil jepretanku semasa SMA pun masih tetap utuh. Ditambah beberapa foto yang aku sertakan saat di bangku kuliah, bersama Enggar dan Malia.
Malia.
Dialah perempuan yang membuatku selalu bersemangat menyelesaikan studiku di Perth di saat-saat Papa didera sakit dan konsentrasiku mulai terbagi. Berdua Enggar, ia membantu apapun yang bisa membuatku lulus lebih dulu agar bisa segera pulang ke Jakarta.
It's kind of weird. Aku dan Mal tidak pernah saling menyatakan cinta. Namun aku begitu yakin apa yang tergambar dalam sorot matanya mewakili perasaannya kepadaku. Tatapan yang sama sejak awal aku melihatnya di barisan Ospek SMA. Aku sudah jatuh cinta padanya, saat ketika ia masih mengenakan sepatu kets dan seragam putih abu, sampai Malia menjelma menjadi seorang perempuan dewasa yang menawan. Dan ketika itu, aku pun yakin ia juga jatuh cinta padaku.
Semua tentang Mal tak lagi sama. Hanya potongan rambutnya dan senyumnya yang tak pernah berubah di mataku. Masih dengan helai ikal kecil sebatas leher, yang terkadang aku selipkan kembali di balik telinga mungilnya saat angin bertiup terlalu kencang.
Mal, mengapa terlalu sulit bagiku untuk berpaling darimu? Sementara aku tak bisa meyakini apakah masih ada diriku di hatimu. Maaf jika aku harus memberimu kabar ini. Aku pun harus memastikan semuanya tentang kita.
[Mal, Mama memintaku menikah.]
-------
Jatuh cinta.
Sejujurnya aku belum pernah merasakan jatuh cinta yang sesungguhnya. Hanya satu dua kali di saat SMA dan kuliah ada beberapa sosok lelaki yang kebetulan menarik hati. Tapi hanya sebatas itu. Banyak pula yang mencoba mendekati, lalu mereka mundur teratur saat melihat Bang Khalif begitu garang berdiri di depan pintu menyambut siapapun yang datang.
Dan padanya, apakah aku bisa jatuh cinta padanya? Dia. Lelaki pemilik senyum indah yang sekarang sedang kupandangi fotonya di layar smartphone-ku. Dia yang tiba-tiba mendapat restu dari Ayah, Ibu, serta Bang Khalif yang biasanya begitu protektif padaku. Andai saja memang dia yang ditakdirkan untuk menjadi pasangan hidupku, aku lebih suka menemukannya dengan usahaku sendiri. Karena dijodohkan tidak pernah ada di dalam pikiranku. Apakah setelah bertemu nantinya dia bisa mencintaiku?
Tapi kali ini sepertinya aku harus mengalah. Demi Ayah. Demi Ibu. Demi Bang Khalif. Demi semua pertanyaan 'kapan nikah' yang kerap ditujukan untukku. Baiklah. Mungkin aku harus bertemu dengannya.
[Bang Khalif, Kin setuju.]
------
"Enak, Mas?" Mbok Yun bertanya saat kuletakkan piring kosong bekas makan siang di washtafel dapur. Beliau sudah tinggal bersama kami sejak usiaku mampu mengingat dengan jelas. Racikan masakannya bisa dipastikan sudah selaras dengan lidah seisi rumah.
"Belum pernah dalam sejarah masakan Mbok Yun nggak enak," pujiku. Perempuan tua itu tersipu malu.
"Sambalnya nggak terlalu pedas kan, Mas?" ia masih bertanya.
"Semuanya pas," tukasku. "Nanti kalo aku udah punya istri, tak suruh belajar masak sama Mbok Yun deh."
"Mas Bima udah mau nikah?" Kali ini senyum Mbok Yun yang merekah. Aku pun ikut tersenyum serba salah.
"Belum, Mbok. Jodohnya belum keliatan." Aku menjawab sekenanya.
"Atau mungkin Mas Bima yang nggak mau ngelihat?" Mbok Yun sedikit menyindirku. Aku ikut merasakan kekuatiran beliau tentang itu. Perempuan ini sudah seperti ibu kedua bagiku. Ia sudah menganggap aku dan Mentari bagai anak kandungnya sendiri. Tahun lalu saat Tari menikah melangkahiku, Mbok Yun yang menangis sambil memelukku.
"Mbok selalu doakan semoga Mas Bima dapat istri yang baik, cantik, dan sholeha." Mbok Yun menepuk bahuku sebelum beliau berlalu.
Andai Mbok Yun tahu, sebenarnya aku masih menunggu seseorang, yang sampai sekarang masih belum membalas pesan yang kukirim untuknya. Yang jawaban darinya akan menentukan hidupku selanjutnya.
Berbagai bunyi notifikasi pesan masuk terdengar nyaring, namun tak satupun yang berasal darinya. Untuknya aku sengaja membedakan nada, agar selalu tahu jika ia yang mengirim untukku. Kuperiksa lagi riwayat percakapanku dengannya. Terakhir kali ia online di chat-ku dua hari yang lalu. Aku mulai berpikir untuk meneleponnya saja dan menanyakan langsung. Tapi aku dan Mal tidak pernah begini. Aku biasa mengirim pesan, dan dia langsung akan menelepon jika tidak sedang ada kesibukan. Mal, mengapa kamu tidak membaca pesanku?
Layar smartphone yang kupandangi tiba-tiba menyala dan sebuah nama muncul di sana. Malia menelepon. Kuseret icon hijau dan suaranya yang jernih langsung terdengar.
"Good Morning, Bim."Malia menyapa dengan nada ceria.
"Where are you calling from?" Aku penasaran dengan sapaannya, karena sekarang sudah pukul 13.00 WIB di Jakarta. Seharusnya dengan Singapura hanya berselisih satu jam.
"London,"ucap Mal. "Photoshoot."
Aku mendadak merasa ragu. Seketika terpikirkan apakah sekarang adalah waktu yang tepat untuk bertanya hal itu padanya.
"Anything serious, Bim?" Kudengar ia bertanya ketika aku diam sejenak.
"Have you got my message?" Kuberanikan mengutarakannya. Mal menghela nafas.
"Bim, We've talked about this many times," ujarnya. Ya, Mal. Ini adalah kali terakhir aku bertanya.
"Mama akan menjodohkanku dengan seseorang." Akhirnya kuutarakan situasi yang sebenarnya. "Aku sangat menunggu jawaban darimu."
Sesaat hanya sunyi yang hadir diantara jarak yang membentang antara aku dan Malia. Ia tidak berkata apapun. Tidak menjawab apapun. Aku menanti penuh harap andai saja tiba-tiba wanita ini berubah pikiran mendengar pernyataanku itu.
"Mal..."
"I'm sorry, Bim." Akhirnya Mal menjawab dengan suara pelan. "You know I can't."
Aku memejamkan mataku berusaha meredam kecewa. Jawaban yang seharusnya bisa tertebak. Mal sejak dulu sudah menentukan pilihannya. Tapi aku harus benar-benar memastikan agar tidak terus bertanya-tanya.
"Can I ask you a question?" Aku bertanya ragu.
"Don't you love me, Mal?" Aku mendengar kepedihan dalam suaraku sendiri.
"I don't know. I mean,..." Mal berhenti sebentar, "Bim, aku belum siap terjebak dalam sebuah pernikahan untuk saat ini. Masih banyak yang ingin aku raih."
"Aku bisa menunggu sampai kamu siap." Aku menawarkan sebuah kesepakatan. Asalkan kamu mau memastikannya, Mal. Bahwa waktuku tidak akan sia-sia menantikanmu.
"Don't wait for me, Bim. Maybe you should see her." Mal menjawab setelah hampir beberapa detik ia diam. Aku tidak memungkiri bahwa hatiku hancur lebur saat mendengarnya. Saat itu juga aku tahu bahwa cinta Malia bukan untukku.
Malia mengakhiri panggilannya setelah berkali-kali mengucapkan maaf padaku. Kata-kata yang seharusnya tak perlu ia sampaikan, karena sesungguhnya Malia tidak bersalah apapun padaku. Mungkin aku lah yang menggantungkan cinta dan harapanku terlalu tinggi. Maafkan aku, Mal. Aku juga tak akan memaksakan ikatan itu diantara kita. Terima kasih atas kejujuran yang kamu ungkapkan untuk menentukan langkahku selanjutnya.
Kutemui Mama yang sedang menekuni rajutannya di teras belakang. Wajah teduh itu menengadah saat mengetahui kehadiranku. Aku segera menyadari, mungkin ini saatnya aku membahagiakan beliau seperti pesan terakhir Papa padaku. Kurangkul bahunya yang sekarang mulai terlihat kurus.
"Bagaimana kalau hari ini kita pesan tiket ke Jambi?" ujarku. Sepasang mata indah itu membulat saat mendengar ucapanku.
"Kamu sudah memikirkannya matang-matang kan?" Mama bertanya seolah memastikan. Ia berhenti merajut dan memandangiku. Sebuah senyum merekah di bibirnya saat melihat aku mengangguk.
"Mama akan beritahu mereka bahwa kita akan datang."
------
"Kue pukisnya disusun di wadah yang hijau ya, Kin. Biar cantik ketika dihidang nanti." Ibu menyodorkan sepiring kue pukis hangat yang baru selesai beliau masak. Kue ini beserta tiga jenis lainnya adalah pesanan Tante Mila untuk acara arisan keluarga di rumahnya sore nanti. Sejak pagi tadi kegiatanku hanya membantu Ibu menyiapkan pesanan ini. Ibu sangat gemar memasak kue, dan tak terlihat lelah di usia beliau bila menyangkut aktivitas yang satu ini.
Bang Khalif sudah menyampaikan pada Ayah mengenai keputusanku akan perjodohan itu. Ia mengusap kepalaku sebelum beranjak pulang pagi tadi. Tidak mengatakan apapun. Namun dari tatapan Bang Khalif aku menyimpulkan bahwa Ayah sangat senang akan jawabanku.
Telepon genggam Ibu berdering. Mungkin Tante Mila. Ibu menyuruhku menerima saja panggilannya karena beliau sedang memeriksa panggangan kue di dapur belakang. Aku memandangi tulisan yang tertera di layar itu. Sebuah nama yang tak kukenal. Lalu suara seorang wanita terdengar.
"Ayuk Dijah?"
"Bukan, Tante. Ini Kinara, anak Ibu Khadijah," ralatku saat wanita itu salah menebak.
"Kin?" nada suaranya terdengar antusias, "Sudah lama sekali Tante tidak bertemu kamu."
Aku sejenak diam mendengarkan. Dari aksen bicaranya aku tahu ia bukan berasal Jambi. Aku berusaha mengingat sosok teman-teman Ibu yang kerap menelepon, namun tak terbit gambaran apapun tentang suara ini.
"Sebentar Kin panggilkan Ibu, ya."
Kucari Ibu di dapur dan menyerahkan telepon itu pada beliau. Samar-samar terdengar suara tawa ceria Ibu di sela percakapan mereka. Aku tetap menyusun kue-kue sambil sesekali mendengarkan. Mungkin hanya seorang kawan lama. Ibu memang terkenal banyak temannya, sifat beliau yang selalu rendah hati sangat disenangi semua orang.
"Sudah semua, Kin?" Ibu ternyata sudah disampingku. Aku menunjuk pada tumpukan wadah berisi aneka kue yang sudah tersusun rapi.
"Tadi siapa, Bu. Kok kenal sama Kin?" kutanyakan penasaranku. Ibu langsung sumringah.
"Tante Arini," jawab beliau. Aku menatapnya bingung. Seingatku diriku belum pernah bertemu dengan teman Ibu yang bernama Arini.
"Mamanya Bima." Ibu lanjut menjelaskan. Kata-kata Ibu membuat dadaku berdebar tak beraturan. Pantaslah wanita itu kenal denganku.
"Beliau bilang, besok siang mereka tiba di Jambi."
Aku tercekat. Ingin rasanya melayangkan protes, namun kuurungkan niat itu saat terbayang tatapan Bang Khalif pagi tadi. Aku tak mau membuat Ayah kecewa.
"Bu..."
"Kenapa, Kin?"
Aku hendak bertanya lagi, namun segera menggeleng.
"Nggak apa-apa kok." Kucoba tersenyum untuk menutupi kegugupanku. Sebaiknya aku tak perlu terlalu banyak bertanya dan membebani pikiran Ibu.
"Kamu segera siap-siap ya, sebentar lagi kita ke rumah Tante Mila. Abis ashar arisannya dimulai." Ibu meninggalkanku yang masih duduk termenung di meja makan.
Kupejamkan mata untuk mengusir semua kecemasan. Sungguh aku tak menyangka akan secepat ini. Besok siang aku akan bertemu dengannya. Dia yang telah mencuri sebuah genggaman tangan di saat lelaki lain bahkan tidak punya kesempatan duduk berdua denganku.
Kinara, kau hanya punya waktu 24 jam mempersiapkan hatimu untuk sebuah rasa yang dinamakan Cinta.