
Dia cantik pagi ini. Duduk menunggu di lobby hotel sambil sesekali melihat sekeliling. Aku sudah pesimis dia akan ikut, setelah pesan terakhir yang kukirim untuknya malam tadi hanya berstatus centang biru tanpa balasan apapun. Mungkin Khalif yang memaksanya serta, atau mungkin juga karena ia masih penasaran dengan rasa kesalnya padaku.
Aku hanya punya waktu sampai sore nanti sebelum pulang ke Jakarta. Mama ingin kembali bernostalgia berbelanja di Pasar Angso Duo, dan aku meminta Khalif untuk menemaniku berburu beberapa foto di sudut Kota Jambi yang mungkin menarik untuk diabadikan. Sebenarnya aku bisa pergi sendiri. Alasan utamaku mengajak Khalif agar hari ini bisa bertemu lagi dengan Kinara, dan sepertinya itu berhasil.
Dia melihatku datang. Mata indahnya beradu tatap denganku, dan langsung menunduk. Sebuah senyum menghiasi wajahnya saat mama menyapanya. Disisakan sedikit untukku saat ia mencuri pandang ke arahku.
“Kalian pergilah. Tak perlu kuatir,” ucap mama yang disambut anggukan Tante Khadijah ibunya Kinara. “Mama ingin beli beberapa makanan Khas Jambi di pasar.”
Letak Pasar Angso Duo hanya beberapa ratus meter dari hotel tempat kami menginap. Aku sudah mengeceknya malam tadi di Google Maps saat mama mengatakan kerinduannya belanja di sana.
“Ada Fania yang menemani kami.” Tante Khadijah menyakinkanku. “Khalif dan Kinara yang akan menemani Bima.”
Aku tersenyum dalam hati, terlebih saat melihat ekspresi polos Kinara yang mendadak kaget saat mendengar ternyata dirinya yang diminta untuk menemaniku.
“Kita bergerak sekarang?” Khalif menanyakan kesiapanku dan kubalas dengan anggukan. Kinara terlihat canggung, namun segera mengikuti langkah kami yang berjalan lebih dulu.
“Kemana kita?” Kutanyakan tujuan kami pada Khalif.
“Jambi Kota Seberang.”
--------
Jambi Kota Seberang adalah sebutan bagi wilayah pemukiman yang berlokasi di bagian utara Kota Jambi. Kawasan ini hanya berjarak beberapa ratus meter dari pusat kota, namun dipisahkan oleh Sungai Batang Hari. Di sinilah wajah asli melayu Jambi yang sesungguhnya. Tidak ada gedung tinggi, hanya terdapat rumah-rumah panggung yang menjadi tempat tinggal masyarakatnya.
Kami menuju Jambi Kota Seberang dengan menapaki Jembatan Gentala Arasy, yang dibangun khusus untuk pejalan kaki. Panjang jembatan ini berkisar 500 meter dan merupakan salah satu landmark Kota Jambi sejak tahun 2015. Tidak ada kenderaan apapun yang boleh melintas di jembatan ini untuk menjaga kenyamanan para wisatawan.
Aku berjalan di belakang, mengikuti Bang Khalif yang sejak tadi antusias menjelaskan banyak hal pada Bima. Pagi ini cukup cerah, memberiku perasaan bersemangat. Entah dia atau sinar mentari yang membawa kehangatan yang tidak biasa di hatiku. Pastinya ada sebuah getar indah saat ibu menunjukku ikut bersama Bang Khalif dan memilih Kak Fania yang menemani mereka berbelanja.
Bima memotret apa saja yang dianggapnya menarik. Tidak terlalu memperdulikanku, bahkan tidak berbincang apapun denganku. Hanya sesekali kami bertukar pandang, namun ia kembali asyik dengan kameranya. Aku suka caranya memotret, caranya mengendalikan kamera, bahkan gerak tubuhnya saat ia mencari komposisi yang tepat. Yang aku tidak suka adalah caranya mengacuhkanku. Hei, mengapa aku seperti mengharap diperhatikan olehnya. Bukankah aku masih kesal padanya?
------
“Kita sudah hampir sampai,” ujar Khalif saat kami tiba di ujung jembatan. “Di bawah menara itu ada sebuah museum tentang jejak masuknya Islam di Jambi.”
Aku berhenti sebentar untuk mengambil gambar puncak menara. Kinara tetap melanjutkan langkahnya mendahuluiku hingga bisa kulihat geraknya dari view-finder kamera. Mungkin aku terlihat sedikit acuh padanya, aku memang sengaja melakukan itu. Meskipun tampilannya pagi ini sanggup membuatku menahan nafas, terlebih ujung hijabnya yang berkibar diterpa semilir angin membuatku berkali-kali menahan degupan di dada. Aku harus berterima kasih pada lensa tele-ku karena berkat benda itu aku berhasil menikmati indah wajah Kinara tanpa sepengetahuannya.
Khalif bercerita sedikit tentang sejarah Kota Seberang yang dulunya merupakan tempat berlindung rakyat Jambi saat pusat kota menjadi medan perperangan melawan Belanda. Perkembangan Islam pun tumbuh di sini. Beberapa pesantren tua bahkan telah menelurkan banyak pemuda-pemuda berkualitas yang ikut berperan dalam pemerintahan Jambi.
“Kau harus datang lagi saat air naik. Kita bisa bersampan dari pinggir jalan aspal ini menuju rumah penduduk.” Khalif bercerita di sela langkah kaki kami.
“Maksud Abang, ada banjir?” Anggukan Khalif membuatku mengerti mengapa setiap rumah di sini berdesain panggung dengan tiang kayu yang cukup tinggi dibanding rumah melayu lain.
“Sudah menjadi agenda rutin. Bahkan anak-anak bersuka-cita berenang di bawah rumah mereka.”
Aku membayangkan betapa seru memotret wajah riang bocah-bocah penduduk lokal saat bermain air di kala banjir. Malia pasti juga suka. Meskipun pernikahan masih jauh dari pikirannya, sejatinya Mal adalah pencinta anak-anak. Nilainya adalah yang terbaik saat Ben menugasi kami membidik ekspresi anak-anak di kelas Children Portrait. Bahkan Ben menyarankan Malia untuk berprofesi khusus di bidang fotografi anak yang saat ini semakin komersial. Namun ternyata Fashion lebih menarik perhatian Mal, juga mampu mewujudkan salah satu mimpinya untuk bisa terbang ke berbagai penjuru dunia. Yang membawanya semakin jauh dariku.
“Aku mau mengajakmu ke sanggar batik.” Khalif membuyarkan lamunanku tentang Malia. “Sekitar 100 meter dari sini. Tak apa ya kita jalan sedikit lagi.”
“Jambi juga memproduksi batik?”
“Ya. Sudah banyak kain batik Jambi yang dipinang oleh perancang busana nasional,” jelas Khalif.
“Tentang batik kau bisa tanyakan pada Kinara. Kin sering menjuarai lomba desain batik Jambi saat masih sekolah dulu.”
Kinara yang berjalan di depan kami menoleh ke belakang saat mendengar namanya disebut. Kulempar sebuah senyuman, namun ia segera memalingkan wajahnya. Meninggalkan sekelebat penasaran di dadaku.
Sanggar Batik yang disebutkan Khalif merupakan sebuah rumah panggung yang cukup besar dengan desain melayu yang kental. Sanggar ini mengayomi para pembatik yang umumnya merupakan ibu rumah tangga yang mengisi waktu luang mereka dengan membatik. Beruntung kunjunganku kali ini bertepatan dengan jadwal pelatihan batik. Sekitar sepuluh orang perempuan sedang berkumpul melatih jemari mereka menggoreskan pewarna melalui ujung canting.
Seorang wanita pengelola sanggar bernama Ibu Soraya menerima kedatangan kami dan mengajak berkeliling. Dengan sangat ramah beliau menceritakan secara singkat sejarah Batik Jambi beserta filosofi desainnya. Yang paling digemari adalah motif Angso Duo yang diadaptasi dari cerita sejarah terbentuknya negeri Jambi. Dengan bantuan Ibu Soraya, aku memilih sebuah kain batik untuk Mbok Yun dan sebuah kemeja untuk Enggar untuk menebus salahku tidak menemaninya rapat dengan Pandana pagi tadi, terlebih juga karena tidak memberitahunya tentang kepergianku ke Jambi.
“Ini apa namanya, Bu?” tunjukku pada sebuah benda berbentuk ikat kepala dengan desain unik.
“Itu Lacak Jambi, Mas. Ikat kepala khas untuk para pemuda.” Beliau menjelaskan dengan rinci sambil memilih beberapa desain untukku. Aku suka bentuknya, maskulin namun tetap bercirikan tradisional. Pilihanku jatuh pada sebuah Lacak bermotif Sungai Batang Hari berwarna coklat keemasan.
“Lacak ini khusus saya hadiahkan untuk Mas Bima,” ucap Ibu Soraya.
“Wah, terima kasih, Bu. Saya jadi sungkan.”
“Tukeran dengan fotonya aja Mas, sekalian bantu promosikan Batik Jambi di dunia maya.” Beliau tersenyum sekaligus berpamitan untuk melayani pengunjung lain.
Aku kembali membawa mataku berkeliling, dan kali ini perhatianku beralih pada Kinara yang ternyata sudah ikut duduk membatik bersama beberapa perempuan di lantai kayu sanggar ini. Melihatnya berbincang akrab dengan mereka seraya sesekali bertukar tawa, menggelitik naluriku untuk menekan tombol kamera. Aku bukan penggemar foto model, kadang pun hasil jepretan Enggar yang aku kumpulkan untuk tugas kelas di kampus dulu. Landscape dan Human Interest lebih menantang bagiku. Tapi khusus objek yang satu ini, entah mengapa aku begitu tergoda untuk memotretnya. Adrenalinku begitu terpacu ketika harus mencuri satu atau dua petikan pada paras cantiknya.
Ia menangkap basahku di jepretan ketiga, memandang lama ke arahku, lalu bangkit setelah berpamitan pada para pembatik. Aku menyandang kameraku dan berjalan mengikutinya. Sepertinya sekarang saatnya aku mengajaknya bicara. Tentang aku, dan dia dan perjodohan ini.
-----
Ia kembali memotretku. Tidak menyapa sepatah katapun, namun mencuri bidikan ke arahku. Menyebalkan sekali lelaki ini, sekaligus memancing penasaran. Perasaan asing tiba-tiba hadir dalam hatiku saat mengetahuinya memperhatikanku ketika aku pura-pura tidak mengacuhkannya. Lucunya, kala ia tak melihat ke arahku, justru aku yang ganti mencuri pandang padanya.
Seperti sekarang ini, ia seperti sedang mendiskusikan sesuatu dengan Bang Khalif. Keduanya berdiri di pinggir dermaga yang berada di seberang sanggar. Aku duduk sendiri di bangku taman yang pagi ini terlihat sepi pengunjung. Memperhatikannya dari jauh dengan leluasa. Terkadang ia yang menoleh padaku, terkadang Bang Khalif. Sampai aku melihat Bang Khalif berjalan mendekat ke arahku.
“Kin.” Bang Khalif lalu duduk sejenak di sampingku. “Bima minta waktu untuk berbincang denganmu.”
Aku memandang Bang Khalif sedikit ragu. “Berdua saja?” tanyaku.
“Jangan kuatir. Abang tetap ada di sekitar sini.” Bang Khalif membaca kecemasan di mataku. “Bima lelaki yang sopan. Abang percaya dia.”
Aku tidak memikirkan perihal miring, yang aku kuatirkan adalah bagaimana harus memulai percakapan dengannya setelah isi pesan ketusku malam tadi.
“Bima pulang ke Jakarta sore nanti. Mungkin ada hal yang ingin disampaikannya padamu sebelum berangkat.” Bang Khalif memegang kepalaku, kemudian beranjak menjauh. Walau umurku sudah 22 tahun, Bang Khalif masih tetap memperlakukanku bagai si kecil Kinara. Sikapnya selalu penuh perlindungan, dan tak ada satupun lelaki yang bebas mendekatiku. Hanya pada Bima ia memberikan pengecualian yang berbeda.
Mataku beralih pada Bima yang masih berdiri memotret ke arah dermaga. Lelaki itu tiga hari lalu bahkan tak ada di hidupku. Aku duduk resah menunggu, memilah kata-kata yang akan kuucapkan padanya saat berbincang nanti. Mewanti-wanti bibirku agar jangan terlalu galak dan bisa sedikit bersikap manis.
Kin, please be nice and don’t say anything stupid.
-----
Aku menoleh ke arah Kinara. Khalif sudah beranjak dan meninggalkannya duduk sendirian di kursi taman. Aku sengaja mohon ijin pada Khalif untuk berbicara berdua saja dengan adiknya itu, untunglah ia setuju. Kusampaikan ucapan terima kasih pada bapak penjaga dermaga yang sudah bercerita sedikit tentang aktivitas penduduk lokal di sela-sela kegiatanku memotret mereka. Aku membawa langkahku mendekati Kinara.
Ia menoleh sejenak saat aku menghampiri. Kuletakkan kamera di antara posisi duduk kami agar membuat sedikit jarak. Aku mencoba melepas senyum, yang dibalas tipis sekali olehnya. Ia hanya diam, berarti aku yang harus memulai.
“Sudah dimaafkan,” ia menjawab pelan dengan suaranya yang terdengar lebih ramah.
‘Kamu suka fotonya?” kuberanikan bertanya. Ia mengangguk.
“Fotonya bagus,” sahutnya. “Sudah berapa gadis yang kamu jepret diam-diam seperti itu?”
Aku tertawa dalam hati mendengar selidiknya. Andai kamu tahu, Kin. Sebenarnya aku bukan tipe fotografer yang suka memotret wanita. Alam lebih menarik perhatianku ketimbang lekuk indah seorang perempuan. Entah mengapa ketika denganmu semua terasa berbeda.
“Aku baru uji coba sama kamu,” kuungkapkan saja apa adanya. “Melihat kamu semarah kemarin, aku sudah jera tak akan mencoba lagi dengan yang lain.”
Kinara menyembunyikan simpul senyumnya saat mendengar kata-kataku barusan. Ada yang tersurat dalam kalimatku, semoga ia cukup peka untuk menyadari.
“Kamu memotret untuk hobi atau pekerjaan?” Ia mulai berani menatapku.
“Aku buka studio foto di Jakarta.” Kubalas tatapannya yang terlihat bersahabat, meskipun masih tergurat canggung di wajahnya.
“Kamu suka melukis? Tadi Bang Khalif bilang kamu juga mendesain motif batik.”
“Dulu sekali saat masih sekolah. Sekarang sudah jarang,” ia sedikit menerawang. Aku langsung teringat sebuah lukisan indah yang tergantung di ruang tamu rumahnya saat berkunjung kemarin.
“Lukisan krisan putih itu hasil karya kamu?” Aku mencoba menebak. Ia mengangkat alis indahnya, sebagai reaksi kagum atas keahlianku memperhatikan secara detail.
“Aku lukis itu saat kelas satu SMA. Ibu yang membingkainya dan menggantungnya di sana.” Ia menjawab malu-malu.
“Painting and Photography are like something in common.” Aku menimpali. “We are both playing with light.”
Kuutarakan pendapatku tentang dua bidang itu. Seingatku dulu teman-teman di jurusan melukis tetap mendapat mata kuliah fotografi dasar tentang pencahayaan. Kinara tersenyum menanggapi penjelasanku. Paling tidak aku berhasil menemukan satu kecocokan di antara kami.
“I know nothing about Lighting,” gumamnya pelan. “Aku hanya melukis secara otodidak berdasarkan imajinasi.”
“Aku akan ajari kamu,” sahutku. “Nanti kalau kita sudah bersama.”
Kinara melirikku sedikit terkejut. Aku sendiri tak percaya atas ucapanku barusan, entah dari mana aku temukan kalimat itu. Tercetus begitu saja dari dalam. Kulihat Kinara malah tertunduk malu. Diam tidak menjawab. Aku juga diam, menatap sampan-sampan kecil yang menanti penumpang di pinggir dermaga.
“Kin,” kusebut namanya setelah benar-benar meyakini apa yang akan aku ucapkan. Ia mengangkat wajahnya.
“Apa pendapatmu tentang aku?” tanyaku padanya.
Gadis itu memandangku lama, lalu matanya beralih ke arah lain.
“Kamu baik, cukup menarik,” ungkapnya hati-hati. “Aku senang bisa berkenalan lagi dengan kamu.”
Sebuah perasaan lega menyesap ke relung dadaku. Aku bisa menduga, namun mendengar sendiri dari bibirnya sungguh telah menghadirkan getar bahagia.
“Perlukah aku ungkapkan tentangmu?” aku bertanya padanya, namun nadanya justru seperti sedang bertanya pada diriku sendiri. Kinara tertawa mendengarnya. Kali pertama aku melihatnya tertawa begitu lepas. Pemandangan indah itu membuyarkan kata-kata yang telah tersusun rapi di kepala.
“Kin, aku pulang ke Jakarta sore nanti. Aku ingin menanyakan langsung padamu.” Kuatur napas agar debar-debar dadaku jangan sampai terdengar olehnya.
“Aku yakin kamu sama terkejutnya denganku atas ide perjodohan ini. Aku ingin kita sama-sama memberi ruang untuk berpikir matang dan memutuskan.” Kulihat Kinara mengangguk atas pernyataanku, menunjukkan bahwa ia setuju.
“Berapa lama sampai aku bisa bertanya lagi padamu, Kin?”
Ia memandangku lalu menunduk dan diam sejenak. “Entahlah, mungkin satu bulan?” gumamnya.
Satu bulan cukup panjang untuk membuat mata indahnya tertarik dengan pemuda lain. Dan aku pun meragukan perasaanku yang mungkin akan beralih lagi pada Mal jika tidak mengikat diriku secepatnya pada Kinara.
“How about one week?” Kucoba bernegosiasi. “Too fast, Kin?”
Ia menggeleng sambil tersenyum malu. Aku membalasnya dengan senyuman lebar. Aku tahu ia juga merasakan getaran indah seperti yang sedang aku rasakan.
“Aku akan menghubungi kamu lagi minggu depan.” Aku berjanji padanya. “But, please do not block my number,” kucoba bercanda untuk memecah kecanggungan di antara kami.
Kinara membalasnya dengan tawa. Satu hal lagi yang kudapati tentangnya. Selera humornya sepadan denganku.
“Tapi aku boleh kan mengganti namamu di kontakku?” ia melirik jenaka padaku. Aku jadi ingat keusilanku menyimpan sendiri nomor ponselku dengan nama ‘My Bima’ di telepon genggamnya.
“Silahkan, Kin,” jawabku. “Gantilah dengan nama yang kemungkinan tak bisa kutebak,” ujarku mengimbangi candaannya.
“You will find out about it,” sahutnya riang.
Kinara menebar senyum indahnya padaku yang sungguh mampu membuatku berat untuk pulang ke Jakarta sore ini.
I am so sure we will miss each other, Kin.
------
Cuma tersisa waktu beberapa menit dari perjumpaan ini. Bima harus kembali terbang ke Jakarta. Ia menghampiriku setelah selesai berpamitan dengan Ibu dan Bang Khalif. Kami berdiri berhadapan, hanya berjarak dua langkah kaki. Ia hanya memandangku dengan senyumnya, tanpa mengucapkan apapun. Tatapannya membuatku jengah. Menunduk adalah cara paling aman untuk menghindar dari tajam sorot mata itu.
“Kin,” ia memanggil namaku. “You are mine until next week. Don’t fall for someone else.”
Bima mengatakannya sambil beranjak menjauh melewati tiang antrian ruang keberangkatan. Tidak memberiku kesempatan menanggapi apapun, karena mungkin ia sengaja melakukan itu. Tante Arini melambai penuh haru padaku dan Ibu.
Aku memandangnya hingga menghilang di balik pintu kaca. Seketika aku menyadari bahkan sudah merindukannya sebelum kepergiannya. Kuyakin seminggu ini akan terasa begitu lama untukku.
Di tengah kegalauanku melepasnya pulang, sebuah pesan pop-up masuk ke layar smartphone-ku.
[can I save you as BEAUTIFUL?]
Ia mengirimiku pesan beserta tangkapan layar nama kontakku di menu WhatsApp-nya.
Aditya Bimasakti.
Bagaimana bisa kau membuatku merindu begitu cepat? Ataukah mungkin rasa ini sudah ada sejak dulu, sejak kita berdua bahkan belum mengerti apa artinya? Saat kau letakkan jemariku dalam genggaman kecilmu, mungkin sejak itu telah lahir sebuah rasa yang disebut cinta. Kau hanya perlu datang dan mengingatkanku bagaimana indah ia terasa.
Until next week, My Bima.