The Surrender Of Love

The Surrender Of Love
Episode 12 - I Want to Kiss You



“Congratulations!”


Ucapan selamat kesekian yang terlontar untukku, di hari terakhir aku berkantor di lantai dua puluh gedung ini. Tak putus jabat tangan dan pelukan dihadiahkan bergantian oleh seluruh karyawan. Sebuah tumpeng sederhana terhidang di meja, beserta donat aneka warna yang disusun bagai piramida, khusus untuk merayakan hari ini. Entah di mana Michelle memesan tumpengnya, gadis chinesse itu memang serba bisa. Mungkin dia yang akan paling kurindukan, selain indahnya Raffles Place di saat malam.


Kutarik diri sesaat dari riuhnya gelak tawa, bersandar pada tiang kokoh yang menopang dinding kaca, menatap satu persatu mereka yang telah setahun ini mengisi hari-hariku di Singapura. Saniyah, sang sekretaris, sudah memesan tiketku untuk penerbangan dua hari ke depan. Kembali ke Jakarta, melanjutkan pembukaan cabang di Ibukota serta merintis sebuah perwakilan kecil di Bali. Gary, si Bos Besar, mulai melirik pasar fotografi pernikahan, dan bukan rahasia lagi bahwa orang Indonesia gemar menghambur uang untuk perayaan satu ini.


“You’re gonna miss this.”


Gary menghampiriku, ikut bersandar di sampingku memandang keriuhan beraneka gerakan di tengah ruangan yang bersatu dengan alunan musik yang menghentak. Ia menyodorkanku segelas minuman beralkohol.


“I don’t drink tonight, Gaz,” tolakku halus. “I have to stay concious until the party’s over.”


Aku tak mau meninggalkan situasi apapun yang terjadi selepas pesta ini hanya karena aku mabuk. Meskipun jika menelusuri ke relung terdalam, ingin kutegak bergelas-gelas apapun yang terhidang untuk melupakan sejenak kekosongan hati yang kurasakan selama sebulan terakhir. Kehampaan yang kurasakan sejak menyadari bahwa ia telah memberikan tempat di hatinya bagi seorang perempuan. Tempat yang seharusnya bisa diisi olehku.  Membuat kepulanganku ke Jakarta menjadi beban terberat yang harus aku jalani. Namun semua sudah terlambat. Aku tak mungkin membuatnya meninggalkan perempuan itu, dan mustahil pula aku menolak tawaran promosi yang sudah berbulan-bulan aku dan Gary bicarakan sebelum hari ini.


“What are you gonna do in Jakarta?” Gary menaikkan volume suaranya mengimbangi suara musik yang semakin meriah.


“I don’t know, Gaz. Feeding my appetite for street food, maybe.” Kulepas sebuah tawa meski sebenarnya aku tahu kemana arah pembicaraannya. Pria bule yang sepuluh tahun lebih tua dariku itu pernah bertanya padaku pertanyaan yang sama, seperti yang pernah dilontarkan seseorang. Seseorang yang telah menjadi milik orang lain.


Gary menatapku dengan sebuah sorot yang tak pernah kulihat sebelumnya. Bercampur antara rasa kehilangan dan keinginannya untuk tetap menjaga profesionalisme. Sebesar apapun tercermin cinta dalam tatapannya, ia tetaplah atasanku dan ia harus menjaga jarak untuk itu.


“Settle down, Mal.” Lama aku dan Gary saling diam hingga ia mengucapkan itu. “Find someone to take care of you.”


Alunan musik berganti dengan hentakan yang lebih lembut. Orang-orang mulai mencari tempat duduk untuk berbincang, mengosongkan tengah ruangan. Aku tak menyahut, pikiranku berpindah pada satu per satu bingkaian kenangan sepuluh tahun terakhir saat ia selalu ada untuk menjagaku.


“I have you, Guys. You’re all more than someone,” kilahku. Gary langsung menertawai. Sepertinya aku tak bisa mengelak kali ini.


“Get married,” ujarnya, meskipun lebih terdengar seperti sebuah perintah. “Have some kids”.


Aku dan Gary kerap terlibat dalam banyak diskusi dengan situasi sesengit apapun. Tapi tak pernah sekalipun kudengar sarannya yang seperti ini. Pun di saat ia mengutarakan isi hatinya padaku. Menikah adalah hal yang paling akhir terpikirkan oleh orang-orang penuh kebebasan seperti kami.


“Marriage will stop me from making money for your business,” gumamku.


Gary kembali tertawa, dengan nada sedikit mengejek kali ini.  “I don’t care, Mal. You have made enough money for me already.”


Aku menatapnya tidak percaya. Membuatku memikirkan ulang puluhan diskusi bisnis kami sebelum membuat keputusan besar ini. Gary membalas tatapanku, sedikit serius kali ini.


“Is that why you send me back to Jakarta?” tanyaku mencari kebenaran dalam ucapannya barusan.


“Yes, Mal.” Gary mengarahkan matanya kembali ke tengah ruangan. “I want you to be happy.”


“I am happy, Gaz.” Aku berusaha membela diri dari tuduhannya atas perasaanku.


“No. You’re not,” sahut Gary kemudian, seolah ia bisa melihat ke sisi hatiku yang terdalam.


“You left your heart in Jakarta. Now, it’s time for you to take it back.”


Bahkan seorang Gary mampu melihat begitu jauh ke dalam diriku. Namun aku, entah apa yang ada dalam pikiranku, mengapa begitu terlambat menyadari bahwa padanyalah selama ini hatiku tertaut. Perlahan wajahku tertunduk, meresapi tusukan bertubi yang demikian sakit tak terobati. Jabatan tangan Gary kusambut dengan lemah, terlebih kalimat terakhir yang kudengar darinya sebelum ia beranjak menjauh.


“Good luck, Mal. Find your love.”


You should’ve told me a month ago, Gaz. Saat semuanya belum terlambat. Saat aku masih punya kesempatan untuk mencerna kembali helai demi helai perhatian yang selalu ia hadirkan untukku. Saat tak ada yang lain di hatinya melainkan diriku. Saat aku terlalu picik untuk mengakui bahwa itu cinta yang kurasakan untuknya.


Bima, jarak akan semakin dekat di antara kita. Namun kau justru semakin jauh dari jangkauanku. Aku rindu saat-saat di mana kau menanyakan menu sarapanku, mengingatkanku untuk selalu mengeluarkan kamera dari dalam tas dan meletakkannya dalam dry-box, bahkan saat mengirimiku pesan poster untuk berhenti merokok.


Kuputar arah kaki kali ini menghadap dinding kaca. Menatap kerlip lampu yang demikian indah, berlomba menghadirkan gemerlap suasana malam di Singapura. Diantara hingar bingar suara musik yang kembali melaju, aku merasa pandanganku semakin buram. Titik-titik cahaya berubah memudar. Hingga kusadari sebutir air mata kembali menetes, diikuti belasan tetes lainnya yang membuatku harus menahan bahuku yang berguncang.


Bima, I’m missing you so. And it hurts me that much to know, that to someone else now where you belong.


-------


Angin di Cottesloe Beach seingatku tidak pernah sekencang ini. Entah dari mana mulanya saat menyadari aku sudah berada di sini. Kulihat sekeliling dan mendapati tak ada seorang lain pun kecuali aku. Hanya suara debur ombak yang terdengar menghantam hamparan pasir yang berwarna kuning muda. Lalu sebuah genggaman lembut meraih jemariku, memaksaku menoleh. Kinara telah berdiri di sampingku, menatapku dengan senyuman. Kuraih tubuhnya, hingga merapat padaku, hingga wajahnya menyatu dengan hembusan napasku. Gairahku melaju. Pada saat yang sama sudut mataku menangkap sebuah bayangan, seseorang yang berdiri di belakang Kinara. Kuangkat wajah dari indahnya Kinara, beralih pada bayangan itu. Seorang perempuan. Aku mengenalinya. Dia, Malia, menatapku dengan tetesan air mata yang membasahi wajahnya.


Lalu kudengar sebuah suara memanggilku. Semakin dekat. Semakin jelas. Kinara memandangku, namun ia melepas genggamannya kali ini. Kutahan sebisaku, agar ia jangan pergi. Kinara berjalan ke arah Mal. Lalu keduanya melangkah menjauh. Tak menghiraukan meski kupanggil namanya berulang kali.


“Bim,”


Kali ini samar kulihat siapa yang memanggil. Pandanganku kabur, membuatku sulit mengenali. Aku mengerjap berkali, hingga perlahan sosoknya terlihat semakin jelas. Kinara duduk di sisiku, dengan wajah yang terlihat sangat kuatir.


“Kamu mengigau,” bisiknya resah. “Sudah hampir subuh. Maaf kalau aku bangunkan kamu.”


Syukurlah, ternyata semua cuma mimpi.  Kuraih jemari Kinara, membawanya ke sisi wajahku. Masih tersisa resah saat kelebat mimpi tadi terputar ulang.


“Apa yang aku katakan saat mengigau?” Kupastikan tidak mengatakan hal-hal aneh yang membuatnya semakin resah.


“Kamu memanggilku berulang kali,” jawab Kinara. Ah syukurlah. Aku takut terucap nama Malia karena ia juga hadir di mimpiku.


“Kamu tidur nyenyak tadi malam?” sengaja kualihkan pembicaraan dengan bertanya padanya.


Kinara mengangguk. Masih menatapku dengan sorot kuatir.


“Apa aku mendengkur, Kin?” tanyaku lagi. Ia membalas dengan senyuman.


“Sedikit,” sahutnya. “Tapi tidak sampai menggangguku,” lanjut Kinara kemudian membawa tatapannya ke arah lain.


“Beritahu aku jika ada cara tidurku yang tidak nyaman untukmu.” Kuajak tubuh untuk duduk tegak di sampingnya. “Kita akan jadi teman sekamar bertahun-tahun.”


Kinara menatapku lama. Mungkin masih menggantung tanda tanya akan mimpiku barusan. Ia memberikan padaku segelas air putih hangat yang langsung keteguk habis.


“Berwudhulah, sebentar lagi adzan,” ucapnya untuk kemudian bangkit meninggalkanku.


Kupandangi sudut kamar masih dengan rasa tak nyaman . Aku tak pernah bermimpi seaneh itu. Mengapa keduanya hadir di dalamnya. Apakah memang di alam bawah sadarku masih melekat Mal di sana? Apakah masih tersimpan kuatir akan terakhir kali panggilan teleponku yang tak di jawab olehnya?


Mal, pasti ada sesuatu yang terjadi padamu. Beritahu aku kabarmu.


[Mal, call me as soon as you read my message.]


--------


Tidak banyak bahan makanan yang tersimpan di lemari pendingin. Aku menemukan dua buah apel dan sebungkus plastik pir yang belum dibuka, serta beberapa bungkus sosis dan kentang goreng instan di freezer. Di lemari dapur masih ada beberapa butir telur, sayang tidak ada sayuran apapun untuk meraciknya menjadi omelet.


Pikiranku masih teralihkan akan kejadian subuh tadi. Bima mengigau cukup jelas untuk kudengar  ia juga menyebutkan nama seseorang selain diriku. Malia. Pasti ia pernah menjadi seseorang yang sangat berarti bagi Bima. Ingin rasanya kutanyakan, namun perkataan Kak Fania masih tetap teringat. Aku tak berhak mencampuri masa lalunya bila tidak mengganggu rumah tanggaku.


Suara pintu terbuka membuyarkan lamunan. Bima telah kembali dari masjid. Sebuah peci bulat berwarna putih masih melekat di kepalanya. Melihatnya seperti itu mengingatkanku pada Bang Khalif, menghadirkan rasa tenang dalam hatiku yang sejak tadi dirundung resah. Bima meneguk teh hangat yang kusiapkan. Satu per satu potongan apel yang dikupas berpindah ke mulutnya. Ia mengunyah sambil memandangiku.


“Masjidnya jauh dari sini?” tanyaku agar kami tidak hanya diam.


“Lokasinya di basement. Lebih mirip sebuah ruang kosong yang difungsikan sebagai masjid,” jawab Bima. Kali ini potongan pir yang diambilnya setelah seluruh apel habis dilahap.


“Aku bingung mau masak apa, bahannya nggak ada,” jelasku saat memperhatikan nafsu makannya. Jelas ia kelaparan saat ini.


“It’s okay. Nanti kita belanja ke bawah.” Bima membawa piring buah ke ruang tengah dan menyalakan televisi. Sesaat kemudian terdengar suara siaran berita, membawa ingatanku pada kebiasaan Ayah setiap paginya sepulang dari masjid. Ia selalu mencari saluran setiap iklan ditayangkan.


Kentang instan dan beberapa potong sosis telah selesai digoreng, kusajikan dengan saus dan mayonaisse yang kebetulan ada di kulkas. Bima segera menyambut piringnya saat aku mendekat, mengunyah sama lahap seperti potongan buah sebelumnya. Aku ikut menikmati kentang goreng itu, namun lebih menyukai ekspresi wajahnya saat dengan serius menonton berita. Versi lain dari seorang Bima yang baru kukenal pagi ini, di mana sepiring makanan dan saluran berita lebih menarik perhatiannya ketimbang diriku.


“Mandilah lebih dulu, Kin. Aku akan ajak kamu berkeliling hari ini.” Bima menoleh ke arahku sebentar, kemudian beralih kembali pada siaran televisi. Aku menuruti dan beranjak meninggalkannya. Apakah sikap dinginnya berhubungan dengan kejadian subuh tadi. Ingin rasanya kutanyakan apa yang ada dalam mimpinya.


Malia, apa sebenarnya bagianmu dalam hidup Bima? Sungguh dadaku terbakar cemburu saat  ia menggumam namamu dalam tidurnya.


------


Meskipun sedikit asing, namun aku menyukai kehadiran beberapa perlengkapan mandi milik Kinara yang begitu feminim. Ia menyusun dengan rapi berdampingan dengan botol body foam dan shaving foam-ku yang berwarna maskulin. Sikat gigiku pun mungkin menyambut riang kedatangan pasangannya. Ia tak lagi merajut sepi yang dilakoninya sejak menjadi penghuni kamar mandi ini.


Kuraba rahang yang mulai kasar. Ragu apakah harus bercukur atau membiarkannya seperti ini. Sebagian wanita kabarnya menyukai lelaki dengan brewok tipis, dan aku belum tahu seperti apa selera Kinara. Kuputuskan untuk membiarkan saja, jika ia tidak suka pasti akan bicara.


Kin sedang berdiri di depan cermin saat aku keluar dari kamar mandi, menyisir perlahan rambutnya yang tergerai. Ia menoleh ke arahku sejenak saat menyadari kehadiranku, namun segera berpaling ke arah lain ketika mendapati aku hanya bertelanjang dada meski telah mengenakan jeans di bawahnya. Sesuatu yang bukan disengaja sebenarnya, meskipun mungkin hal-hal kecil seperti ini bisa menumbuhkan getar yang tidak biasa di antara aku dan Kin.


Kucari sebuah baju kaus tanpa kerah dari lemari, kemudian ikut berdiri di sampingnya yang masih bersisir. Kukeringkan sekali lagi kepala yang basah dengan handuk sambil sesekali bertukar pandang dengannya lewat pantulan cermin. Kuamati caranya menggelung rambut hingga lehernya yang ramping terlihat jelas. Kinara terlihat sangat menarik, hingga harus kucerna berkali-kali apakah aku memang harus menunggu atau tidak.  Kurapikan sedikit rambutku dengan jari tangan di bawah tatapan curi-curi sudut matanya. Saat dua pasang mata kembali beradu, kuputuskan untuk melakukan apa yang telah terpikirkan sejak tadi.


“Kin,” kutarik rapat sehingga tubuhnya melekat denganku. Ia sedikit terkejut namun tak menghindar saat kuarahkan tatapan langsung menuju bening matanya. Ia memejam sebentar, tapi tetap membuka kembali matanya, dan tidak memandang ke arah lain. Sesaat hanya hembusan nafasku dan nafasnya yang terdengar bergantian.


“I want to kiss you,” bisikku, membawa wajahku semakin dekat hingga hampir menyentuh kulitnya. “May I kiss you, Kin?”


Kinara tak menjawab dan juga tak berpaling. Kuartikan bahasa tubuhnya sebagai sebuah persetujuan. Ia terpejam saat bibirku mulai menyentuh pelipisnya, beradu dengan deretan alisnya yang berjajar rapi. Kemudian kecupanku turun pada kelopak matanya yang indah. Nafasku mulai terdengar berat saat hidungku menyatu dengannya dan bibirku merasakan ada sesuatu yang lembut menyatu di permukaan. Aku berhenti sebentar, membuka mata, memastikan Kinara juga menikmati apa yang kurasakan saat ini. Harum hembusan nafasnya bagai aroma pembius yang sanggup membuatku hilang akal.


Kubiarkan sesaat bibirku melekat dengan bibirnya, menunggu keputusan syaraf otak apakah harus berhenti atau melaju. Kutarik perlahan wajahku menjauh, setelah berpikir ulang,. Aku tak ingin Kinara justru menjadi takut karena ketergesaan yang tak mampu kulawan. Kupandangi wajah cantiknya yang masih terpejam, dan pelan matanya membuka. Memancarkan desakan yang sama, membuatku lega bahwa rasaku berbalas.


“I’m afraid I can’t stop,” ucapku lembut saat matanya memandangku. Pandangan yang belum mampu kuartikan apakah ia justru kecewa karena aku berhenti begitu cepat.


“Bersiaplah. Aku tunggu di luar.” Kulepas dekapan dan beranjak keluar dari kamar. Kinara masih berdiri menatapku hingga pintu kamar menutup. Ia pasti butuh waktu untuk menetralkan perasaannya yang baru saja kuaduk. Kulangkahkan kaki menuju balkon berharap sinar mentari mampu meredam apa yang timbul dari ulahku. Tak mampu kutahan sebersit senyum saat mengingat betapa indah jika saat berharga itu tiba bagiku dan Kinara.


Maaf membuatmu terkejut, Kin. Ini memang caraku. Biarkan aku memperkenalkan gairah ini perlahan padamu. Perlahan, hingga beragam denyut indah itu akan mempersiapkanmu untuk melebur denganku.


--------- Bersambung -------------