
Lift yang membawaku dan Bima turun terasa bergerak begitu lambat. Di dalam hanya ada aku dan dia, bersama seorang lagi remaja berusia sekitar tujuh belas tahun. Tanganku berada dalam genggamannya sejak awal melangkah masuk, dan sejak itu pula aku hanya menunduk tak punya keberanian untuk menatapnya. Lift berhenti hampir di setiap lantai untuk memuat penumpang lain. Kapasitas yang semakin memadat membuat Bima melepas jemariku, menggantinya dengan pelukan rapat ke tubuhnya. Sepertinya itu pemandangan yang biasa di sini, karena tak seorang pun memperdulikan kami. Atau mungkin aku yang terlalu terbawa perasaan setelah apa yang dilakukannya sebelum ini.
Ciuman itu, masih terbayang jelas seperti apa rasanya di bibirku. Membayangkannya pun sungguh membuatku malu. Malu yang bercampur candu, layaknya kafein yang dikenalkannya padaku. Sudah benar langkahku untuk memintanya menunggu, sembari mempersiapkan jantung ini untuk kejutan-kejutan seperti tadi. Pun hanya sebuah ciuman darinya mampu mengobrak-abrik hatiku, tak terbayangkan jika ia melanjutkan dengan turunan lain setelah itu.
Bima mengajakku mengisi perut terlebih dahulu di sebuah gerai roti, karena hanya mereka yang buka paling pagi. Ia memintaku membeli beberapa jenis dan menemani hingga selesai membayar di kasir. Supermarket yang akan kami tuju letaknya berdampingan dengan lokasi apartemen, dan menurut Bima baru akan buka setengah jam lagi. Masih cukup waktu untuk menghabiskan sarapan dan terlalu panjang jedanya bagiku untuk duduk di hadapannya seperti ini.
Untuk sesaat tidak ada yang saling bicara. Bima menikmati rotinya sambil memandangku, dan aku mengunyah sambil menatap piring di atas meja. Ia berdehem sesekali untuk memancingku mengobrol, namun entah mengapa aku terlalu malu untuk langsung menatap wajahnya.
Aku menikmati roti isi coklat yang kupilih, hanya saja tidak menyangka jika isinya terlalu cair dan meleleh ketika digigit. Sialnya tak ada tissue yang tersedia di atas meja. Dengan hati-hati kubasahi sudut bibir untuk menghilangkan segores coklat yang terasa melekat. Bima memandangiku sambil tersenyum, lalu mengulurkan ibu jarinya menyentuh bibirku.
"You left a chocolate spot here," ucapnya lembut, selembut jemarinya yang mengambil sebuah kesempatan. "Jika kita tidak di sini, mungkin akan lain ceritanya."
Akan lain ceritanya? What does he mean? Apakah maksudnya ia akan menciumku untuk menghilangkan noda lelehan coklat itu?
Bim, please slowly. Give me time to deal with my heartbeat. Karena jantungku tak pernah berdebar sekencang ini sebelum aku bertemu denganmu.
-------
Aku suka caranya merona. Dari semu merah di pipinya aku yakin ia berpikir hal yang sama. Yes, that was the first time for us, and it can't be easy to forget. Melihatnya membasahi sudut bibir membuat jemariku tak tahan untuk kembali menyentuh di sana. Seakan aku tak bisa melepaskan mata lelakiku darinya.
"Rotiku jadi lebih cepat habis karena kita makan tanpa mengobrol," aku menggodanya sambil menunjuk piring di depanku yang telah kosong. Kinara tersenyum malu. Ia memenuhi gelas dengan sebotol air mineral dan meneguk sekali.
"Aku bingung mau ngobrol apa," ungkapnya jujur sambil curi-curi menatapku.
"Ask me anything," tantangku dengan sedikit mencondongkan tubuhku ke arahnya dan wajah kami menjadi lebih dekat. Kinara buru-buru menyandarkan punggungnya pada kursi untuk memperluas jarak di antara kami.
"Hmm ... aku sedikit penasaran kenapa kamu mahir sekali mengenai kopi," ujarnya. Sebuah rasa ingin tahu terbersit dalam sorot matanya yang indah.
"Actually, It began three years ago. Di tahun terakhir kuliahku, seorang kenalan memintaku untuk memotret kedai kopi miliknya untuk keperluan promosi." Aku memulai cerita dengan mengingat kembali hari-hari yang kulalui di sana.
"Sewaktu mengambil gambar saat meracik, aku seketika jatuh cinta dengan aroma yang muncul dari proses penggilingan biji kopi," lanjutku. "It just happened, just like when I fall in love with you."
Kinara tak mampu menyembunyikan semburat merah di wajahnya saat kukatakan itu, seperti rasa cinta yang tak mampu ia sembunyikan lewat tatapan matanya. Ekspresinya membuatku gemas. Sudah sejak tadi aku berpikir apakah memang sanggup menunggu hingga saat yang ia janjikan tiba untukku.
"Proyek pemotretan yang seharusnya berbayar itu akhirnya aku gratiskan, dengan syarat ia harus mengajariku meracik kopi." Aku menjelaskan kilas balik itu sedikit padanya.
"Dan aku baru tahu bahwa ternyata kopi asal Indonesia terkenal di sana. Sejak itu aku rajin mencari info tentang kopi dan langsung membeli peralatan lengkap setelah menetap kembali di Jakarta."
"Jambi juga punya kopi," celetuknya tiba-tiba. "Kerinci tepatnya."
"Really? I don't know about it."
"Aku pernah baca artikel di sebuah situs wisata Jambi," jelas Kinara. "Di sana tertulis kopi Kerinci banyak peminatnya."
Aku tersenyum kagum. Untuk seorang yang tadinya bukan penggemar kopi, cara pandang Kinara termasuk luas. Perhatiannya akan potensi lokal daerahnya patut diacungkan jempol. Ternyata begitu banyak yang belum aku gali tentangnya. Ia cerdas tanpa harus meninggalkan kodrat kewanitaannya.
"Kerinci itu indah. Di sana juga ada perkebunan teh terluas di dunia setelah Himalaya, namanya Perkebunan Teh Kayu Aro," ia membuka sedikit wawasanku tentang daerah asalnya.
Jika ia katakan itu di hari pernikahan kami, pastilah segera kuatur jadwal liburan kami seketika itu juga. Namun biarlah. Aku masih punya cukup waktu merencanakan apapun dengannya. Saat ini yang kami perlukan adalah untuk saling mengenal pribadi satu sama lain.
"Kapan-kapan ajak aku ke Kerinci. Sekalian kita bulan madu ke sana," sambutku sumringah.
"I will be waiting, Bim. Aku penasaran seperti apa Kerinci sekarang. Terakhir ke sana waktu usiaku 10 tahun. Pernah saat liburan kuliah ada teman yang mengajak, namun ayah tak memberi ijin karena aku pergi tidak dengan mahrom." Kinara tersenyum indah sekali, dan kali ini tidak lagi malu-malu seperti tadi.
Baiklah, My Dear. Akan tiba waktunya kita menjelajahi keindahan Kerinci. Aku pun sungguh penasaran akan dahsyatnya sensasi kopi Kerinci saat dipadu dengan kecupan manis gadis Jambi yang sungguh menarik sepertimu. I think I can never get enough of you, Kin.
Never.
-------
It looks weird.
Itu yang terasa saat berjalan menelusuri deretan rak di supermarket ini. Biasanya aku hanya berfungsi sebagai pendorong kereta belanja, mengikuti langkah ibu yang berjalan di depan. Kini situasinya berbalik. Sudah ada Bima yang menggantikanku, dan aku berjalan di sisi rak masih dengan rasa bingung apa saja yang harus aku beli. Kulirik sebentar ke belakang. Ia mendorong dengan tangan kanan sementara tangan kirinya sesekali mengambil benda yang ia inginkan. Kereta belanja sudah terisi seperempat barang belanjanya, sementara aku belum memilih satu pun.
Situasi ini mengingatkan saat ayah membawaku yang ke sebuah toko makanan dan membebaskan membeli apa saja sebagai hadiah juara kelas saat usiaku mungkin sekitar delapan tahun. Salah satu momen terindah dalam hidupku bersama ayah yang kerap teringat kembali.
Bima adalah pembeli yang teliti. Kuperhatikan ia selalu memeriksa tanda halal dan waktu berlaku setiap barang sebelum memasukkan ke dalam keranjang. Ia memilih beberapa bahan makanan yang asing bagiku, bagaimana mungkin aku bisa memasaknya, mencicipinya saja belum pernah.
"I'll cook," jawabnya saat kuutarakan kegusaranku.
Kupandangi ia sejenak. Benarkah ia juga bisa memasak? Apakah Bima yang terlalu sempurna sebagai seorang suami, atau aku yang terlalu beruntung sebagai istri? Entahlah, yang pasti sebulan terakhir dalam hidupku begitu penuh kejutan sejak bertemu dengannya.
Kami berpapasan dengan salah satu penghuni apartemen saat mengantri di kasir. Bima menyebutnya Oma Anis, perempuan berusia sekitar 50-an tahun yang juga sedang berbelanja dengan sang cucu. Beliau menegur ramah saat Bima mengenalkanku padanya, dan dengan antusias mengajakku untuk mampir ke unitnya jika merasa bosan saat sendiri.
"Oma juga setiap hari sendiri. Rangga cucu Oma sekolah hingga jam empat sore," ucap beliau. "Kami hanya berdua di sini. Papanya Rangga bekerja di timur tengah, dan hanya pulang tiga bulan sekali."
Sejenak beliau mengingatkanku pada ibu. Alangkah sepinya jika hanya berdua saja. Beruntung ibu masih didampingi ayah, dan ada kedua abangku yang kerap berkunjung. Kadang hidup memang serumit ini, namun tetap harus tegar dijalani.
"Unit Oma di lantai yang sama, hanya berjarak dua tempat dari kita. Nanti aku tunjukkan," sambung Bima saat mereka akan berpamitan.
"Oma tunggu kedatangan Kinara ya," balas beliau. "Siapa tahu kita sesekali bisa masak-masak bersama."
Kusambut jabatan tangan Oma Anis. Beliau orang ketiga yang aku kenal di lingkungan ini setelah Bima dan sekuriti lobby. Membayangkan dua hari ke depan mungkin aku mulai menjalani hari-hariku sendiri di apartemen. Aku berharap bisa berteman baik dan menyesuaikan diri secepatnya.
Kereta belanja dari supermarket ternyata dapat dibawa hingga lobby apartemen. Melihat kantungan tas yang terlalu banyak, Bima meminta ijin untuk mengambil sebentar troly miliknya. Setelah memindahkan semua barang, Bima mengajakku naik. Kali ini hanya ada kami berdua di dalam lift hingga tiba di lantai sepuluh.
Bima tertawa saat menyadari barang yang dibeli terlampau banyak dan telah mengisi setiap celah lemari yang ada di bagian dapur apartemen. Sisa yang tak tersusun masih terletak hampir memenuhi permukaan meja makan. Saat itu juga ia menelepon seseorang untuk datang dan mengukur dinding dapur yang tersisa untuk membuat rak di sana. Sedikit demi sedikit mulai kupahami sifatnya. Ia jenis lelaki yang spontan. Mungkin karena ia sudah terbiasa hidup mandiri, sehingga cepat mengambil keputusan.
"Are you okay, Kin?"
Bima melirikku yang masih larut dalam lamunanku tentangnya. Kubalas tatapannya. Dengan sedikit ragu kuungkapkan sedikit resahku.
"Aku nggak mau kamu terlalu boros karena ada aku."
Terbayang betapa besar pengeluarannya sejak ia mulai merencanakan pernikahan denganku. Mulai dari cincin kami yang aku yakin harganya tidak sedikit, tiket pesawat Jakarta-Jambi, hingga membeli peralatan kamar yang baru untuk menyambut kedatanganku. Sampai tadi, aku menahan nafas saat melihat struk belanja kami di supermarket. Apa semua orang di Jakarta seroyal ini?
"Nggak usah mikirin itu," Bima ikut duduk di sampingku. "Uang bisa dicari," lanjutnya.
"Akan lebih baik jika kita bisa berhemat," saranku padanya, sebagaimana ayah dan ibu mengajariku sejak kecil. "Jika ada sisanya bisa kita sedekahkan."
Bima tersenyum mendengar nasehatku. Ia menarik kursinya merapat, hingga lututnya menyentuh kakiku. Jantungku mulai bedetak kencang bila melihat sikapnya yang mendadak agresif seperti ini. Lagi-lagi aku menghindar dari tatapannya dengan wajah tertunduk.
"Money can buy everything," ucapnya lembut. "But you."
Aku menunggu ia melanjutkan dengan perasaan jengah. Saat ini bukan hanya lututnya, jemariku pun sudah masuk dalam genggamannya. "Mulai hari ini, kuserahkan padamu pengaturan keuanganku. Aku percaya kamu lebih paham."
"Bim ...."
"Kamu benar. Sudah saatnya aku berhemat," tuturnya. Kali ini wajahnya yang semakin mendekat. "Sebentar lagi saat kita punya anak, pasti akan butuh biaya banyak." Ia telah meletakkan bibirnya di dahiku. Napasnya yang hangat mulai terasa berhembus di kulit wajahku.
Ah, lagi-lagi Bima mulai teralihkan. Pembicaraan yang seharusnya serius, mengapa berubah menjadi penuh gairah begini. Aku menduga ini akan berakhir seperti pagi tadi.
"Bim," cepat kualihkan perhatiannya. "Bukankah kita sudah janji akan ke rumah mama hari ini?"
Seperti teringat akan sesuatu, Bima membuka matanya yang saat itu sudah terpejam, menarik wajahnya menjauh dariku. Ia tetap tersenyum meski kutahu sungguh sulit baginya menahan desakan itu.
"Bawa pakaian ganti, Kin. Kemungkinan mama meminta kita menginap."
Bima bangkit meninggalkanku menuju meja kerjanya, menyalakan laptop dan memakai headphone di kepala. Kupandangi punggungnya yang terlihat dari arahku, menghadirkan rasa bersalah melihatnya seperti itu. Bima berhak atasku, namun ada sesuatu dalam diriku yang mengatakan bahwa aku belum siap untuk terlibat dalam hubungan yang begitu intim dengannya.
Please understand me, Bim. Pengalamanku berhadapan dengan lelaki hanya dengan ayah dan kedua abangku. Kau lah pria 'asing' pertama yang pernah menggenggam jemariku, memeluk tubuhku, hingga mengecup bibirku. Segalanya begitu baru untukku.
Bukan aku tak menginginkanmu. Desakan yang sama juga bersarang di dadaku. Tapi biarlah, berikan beberapa kesempatan lagi bagi kita untuk saling mengenal lebih jauh. Hingga rasa yang merajai adalah cinta, bukan semata gairah.
Bersabarlah, meski kutahu sulit bagimu menghalau rasa itu. Tunggulah sedikit lagi, hingga aku siap untukmu. Dan bila saat itu tiba, aku akan menyerahkan hatiku sepenuhnya untukmu. Memasrahkan semuanya padamu. Karena aku lah yang ditakdirkan untuk melengkapi tulang rusukmu.