The Surrender Of Love

The Surrender Of Love
Episode 10 - She Belongs to me



“Bawa saja seperlunya, Kin. Sisanya nanti Ibu yang akan bantu susun dan kirim.” Ibu membantuku membenahi perlengkapan yang akan kubawa saat berangkat bersama Bima esok. Para tamu sudah berpulangan dan hanya tersisa beberapa kerabat dekat yang masih saling bersilaturahim. Bima tetap menginap di hotel, karena malam ini ia berencana berkeliling kota Jambi bersama rekan-rekan studionya.. Ia memberiku kesempatan untuk menyusulnya minggu depan, namun ayah dan ibu tetap menyuruhku berangkat bersamanya, karena mulai hari ini padanyalah aku wajib mengabdi.


Aku hanya akan membawa dua buah tas. Sedapatnya kususun rapi agar bisa memuat banyak. Kupilih beberapa benda yang memiliki kenangan lebih untuk dibawa serta. Selebihnya hanya laptop dan hard disk eksternal serta buku-buku bacaan yang kufavoritkan.


Kuedarkan mata berkeliling seisi kamar.  Sudah hampir 20 tahun ruangan ini aku tempati. Banyak kenangan yang tersimpan di sini. Tawa dan tangis sejak aku masih kanak-kanak hingga beranjak dewasa, seluruhnya tertumpah di kamar ini. Dan esok aku akan meninggalkannya untuk waktu yang lama.


“Kamar kamu nanti ibu rapikan ulang ya. Akan jadi kamar kalian berdua setiap pulang ke Jambi,” ucap Ibu menyadarkan lamunanku.


Ada sorot haru dalam pandangan beliau, lebih tepatnya sedih. Dengan keberangkatanku esok, artinya hanya tinggal ibu dan ayah yang akan menempati rumah ini. Meskipun masih ada Bang Khalif dan Bang Khatab yang kerap datang berkunjung, tetap saja rasanya sepi. Sontak kupeluk tubuh ibu dan menumpahkan air mata dekapan sayang beliau. Ibu yang telah merawatku dua puluh dua tahun, kini aku harus pergi jauh darinya. Dulu aku kerap berdoa bisa menikah dengan lelaki yang tinggal sekota, agar jika ayah dan ibu menua aku tetap dapat mengurus dan menjenguk mereka kapan saja. Namun jodoh adalah rahasia Allah, dan aku yakin ini adalah jalan hidup terbaik untukku.  Satu yang amat membuatku lega adalah kehadiran Kak Fania dalam keluarga besar kami. Rasa sayangnya pada ibu bahkan mungkin melebihi kami anak kandungnya.


“Menangislah sekarang, Kin.” Ibu mengusap lembut rambutku. “Jangan perlihatkan air matamu saat akan berpamitan dengan ayah dan ibu esok. Itu akan menghadirkan rasa bersalah di hati Bima bila melihatmu bersedih.”


Ibu menghapus sisa-sisa air mata yang masih menetes di pipiku. Ibu tidak menangis sedikit pun. Senyum hangat beliau membuatku merasa lebih ringan. Kucoba ikut tersenyum meskipun sulit. Aku harus bisa setegar ibu.


“Surgamu sekarang sudah berpindah,” lanjut ibu. “Mengabdilah sebaik-baiknya pada Bima.”


Aku mengangguk sedapat mungkin karena isakku masih membuatku sulit berkata-kata.


“Awal berumah tangga tidak akan mudah. Ibu harap kamu bisa menyimpan semua masalah yang akan dihadapi nantinya. Bila butuh bercerita, ceritakan semuanya dalam doamu pada Allah.”


“Iya, Bu. Kin ngerti.” Kugenggam jemari ibu yang masih menangkup wajahku. Aku akan sangat merindukan tangan ini, yang selalu menuntunku saat berjalan, pun di umurku yang sekarang.


“Jika ada sikap Bima yang membuat kamu sedih, jangan pernah ceritakan pada Ibu. Bicarakanlah berdua dengan Bima. Namun bila tidak menemukan jalan keluar dan kamu memang butuh teman bercerita, bicaralah pada mama mertua kamu. Beliaulah yang berhak menasehati anaknya.” Ibu memberiku sedikit wejangan tentang rumah tangga yang akan kujalani mulai esok.


“Ibu yakin kamu bisa. Jangan khawatirkan ibu dan ayah, masih ada si kembar yang akan menemani di sini.”


“Kin akan sangat rindu sama ibu …,” tak dapat kulanjutkan kalimatku karena tiba-tiba air mata menetes lagi.


“Masih bisa telepon ibu kan tiap hari.” Ibu menghiburku dengan seutas senyum.


“Iya, nanti Kin telepon ibu tiap hari buat nanya resep,” candaku, berusaha menghadirkan tawa diantara haru yang menguasai hatiku.


Aku merasakan gamang yang teramat sangat. Di saat mulai berumah tangga dan butuh tempat belajar, di saat itu pula aku harus jauh dari ibu. Keyakinan seorang ibu memberikanku semangat untuk tegar menjalani semua ini.


Bima, cintailah aku sebagaimana ayah dan ibu menyayangiku. Jagalah aku seperti ayah dan ibu merawatku. Aku akan mengabdi dengan ikhlas. Karena mulai hari ini surgaku berpindah padamu.


------


[Ketemu di bandara aja. Gue udah online check-in]


Kubalas pesan Enggar yang masih berkeliaran di area Candi Muaro Jambi, salah satu situs cagar budaya yang terletak lebih kurang 18 km dari pusat kota. Aku sendiri belum pernah ke sana. Sesuai informasi yang tertera di website Pariwisata Jambi, candi ini terdiri dari 80 situs yang tersebar di sepanjang kanal kuno, dan baru sekitar 9 candi yang telah direstorasi.  Candi Muaro Jambi adalah candi umat Budha yang kerap dijadikan lokasi perayaan Waisak berbarengan dengan Candi Borobudur.


Tadinya aku tergoda mengikuti ajakan Enggar untuk photo-hunting di sana, akan tetapi masih banyak yang harus dilakukan di kediaman Kinara. Juga celotehan Mentari yang sibuk ingin mencari oleh-oleh membuatku harus mengalah kali ini. Toh masih banyak kesempatan lain untuk menyusuri Jambi saat aku menemani Kinara mudik saat-saat ke depan.


Aku masih duduk menunggunya di halaman belakang. Mama dan Mentari asyik berbincang dengan ayah dan ibu Kinara di ruang tengah. Fariz sudah berangkat lebih dulu dengan penerbangan paling pagi. Dan karena Khalif tidak bisa bolos bekerja hari ini, salah seorang kerabat Kinara yang akan mengantarkan kami ke bandara. Pesawat yang akan membawaku kembali ke Jakarta terjadwal pukul 19.00 WIB. Ada perasaan aneh yang menggelitik saat menyadari bahwa kali ini aku akan pulang ke apartemen tidak sendirian, namun berdua dengan Kinara. Beragam hayalan menghampiri, membuat simpul otakku mengirim seutas senyum di bibir.


“Bim,” sebuah suara lembut memanggilku kembali dari lamunan. Kinara telah berdiri di samping kursiku entah sejak kapan. Mungkin ia juga melihatku saat tersenyum-senyum sendiri.  Aku seketika bangkit dan kami berdiri berhadapan. Baru terperhatikan bahwa ternyata Kinara cukup tinggi. Aku bisa mengukur dahinya yang sebatas daguku. Mata indahnya mengikuti gerakanku yang berakhir dengan menengadah menatapku. Ah, lagi-lagi hayalan itu datang tanpa bisa dicegah. Biarlah, bukankah menghayal akan istri sendiri tidak dilarang agama?


“Kamu sudah siap?” tanyaku, yang disambut anggukannya. Ia menunduk ketika kutatap lama, menggengam jemarinya sendiri yang  masih menyisakan goresan inai. Cincin pernikahan kami telihat indah melingkar di jari manisnya. Aku pun melirik cincinku sendiri.  Masih tak percaya bahwa sepasang cincin itu adalah simbol yang mengikat kami sebagai suami istri.


“Kalau semua sudah siap, kita berangkat sekarang,” lanjutku. “Mama dan Mentari mau belanja oleh-oleh dulu sebelum ke bandara.”


Kinara menatapku ragu-ragu seperti ada yang ingin diutarakannya.


“Bolehkah kita singgah sebentar ke tempatku mengajar? Aku belum sempat berpamitan dengan anak-anak.” Ia mengatakannya hati-hati sekali. Raut wajahnya yang penuh harap membuat hatiku terharu. Bisa kupahami apa yang dirasakan Kinara sekarang. Harus berpisah dengan ayah ibu, dengan saudara kandung, dengan murid-muridnya, bahkan dengan kota yang telah dikenalnya sejak lahir. Hanya untuk menemaniku seumur hidupnya.


“Apa sih yang nggak boleh buat kamu, Kin?” ujarku menggodanya, berharap terbit semburat merah di pipinya yang putih. Dan ketika wajah cantiknya bersemu, hayalan itu muncul kembali di otakku. Buru-buru kutepis apapun yang hadir dan mengajaknya menemui yang lain di dalam ruangan.


Stay focus, Bim. She’s yours now, and you have a lifetime to do whatever you wanna do with her.


------


Aku sudah berjanji tidak menangis. Ketika pelukan ibu sampai pada giliranku, sekuat tenaga kutahan agar bulir-bulir itu tidak jatuh. Aku sudah menuntaskan air mataku malam tadi dalam dekapan beliau. Namun saat akan menyalami ayah, entah mengapa mata ini terasa panas. Ayah yang dulu sering mengajakku bermain ketika kecil, namun lebih menjaga jaraknya setelah aku beranjak dewasa, lebih sering mewakilkan pada Bang Khalif atau ibu. Mungkin ayah punya alasan tersendiri, atau mungkin beliau juga sulit menghadapi saat-saat harus melepaskan putrinya untuk dimiliki lelaki lain. Ayah memeluk Bima erat sekali, menepuk-nepuk bahunya dengan mata berkaca-kaca. Tidak mengucapkan apapun, namun apa yang tergambar dalam tatapannya cukup menjelaskan semuanya.


Bima ikut turun menemaniku saat mobil yang mengantar kami berhenti di depan rumah kursus. Untuk menghemat waktu, Mentari dan mama akan berbelanja oleh-oleh sembari menungguku berpamitan. Suasana perpisahan di rumah yang begitu haru membuatku sedikit teralihkan, sehingga baru kusadari betapa gagah penampilannya hari ini. Aku mendapati ia telah mengubah sedikit potongan rambutnya. Tak terlihat olehku kemarin, karena seharian ia mengenakan ikat kepala tradisional Jambi di acara pernikahan kami.


“Kamu boleh tunggu di sini,” ujarku sambil menunjukkan sebuah kursi kosong di ruang depan rumah kursus. “Aku ke kelas sebentar.”


Perasaan berat menghampiri saat akan mengetuk pintu kelas. Berpisah dengan anak-anak cerdas yang telah kudidik tiga tahun terakhir akan membuatku amat kehilangan. Pintu terbuka. Indy yang menggantikan posisiku mempersilahkan masuk seolah tahu maksud kedatanganku kemari. Sambutan riuh murid-murid membuatku terharu.


“Kak Kin! We miss you,” teriak Samuel dari kursi paling belakang. Muridku yang paling bandel saat di kelas, namun cerdas setiap berdiskusi.


Kuberi isyarat agar kelas kembali tertib. Aku telah memilah kata-kata perpisahan yang cocok untuk bocah-bocah usia 12 tahun ini, dan telah kulatih juga semalaman supaya tegar saat mengucapkannya. Kutarik napas panjang dan mulai berbicara, namun tertahan saat mendengar suara langkah mendekat. Pandangan seisi kelas yang tadinya terfokus padaku, sekarang beralih pada seseorang di belakang.


Ya ampun, Bima?


Entah bagaimana caranya ia meminta ijin pada Indy yang berdiri di depan pintu. Lidahku mendadak kaku saat  mengetahui Bima ikut hadir di sini. Aku turut memandanginya hingga ia dengan santai duduk di kursi guru di depan kelas. Bima memberi tanda agar aku melanjutkan bicaraku dan tidak usah memperdulikan kehadirannya.


Perlahan kuucapkan kata-kata perpisahan yang telah kupersiapkan, sambil mataku sesekali melirik ke arah Bima yang sedang sibuk membongkar isi ranselnya seperti mencari sesuatu. Beberapa pasang mata tetap memperhatikanku, namun lebih banyak yang tidak. Murid-murid perempuan terlihat berbinar menatap Bima yang tak kupungkiri sangat menarik. Murid-murid lelaki bahkan memperhatikan dengan seksama gerakan tangan Bima yang sedang memasang smarphone-nya pada benda seperti tongkat yang bisa bergerak ke kanan kiri. Aku sendiri pun tak tahu benda apa itu.


Saat aku selesai berbicara, Bima berdiri menghampiri.


“May I?” ia meminta ijin padaku untuk melakukan sesuatu. Aku tak punya pilihan selain mengangguk.  Bima berdiri di depan kelas dengan percaya diri layaknya seorang pengajar.


Bima memperkenalkan dirinya dengan Bahasa Inggris yang mengalir bagai air, membuat seisi kelas merasa sedang kedatangan native-speaker sebagai guru tamu.


“Speak slowly,” bisikku padanya. “They are still beginner.” Kujelaskan pada Bima bahwa kelas ini masih pemula, dan ia harus berbicara lebih pelan. Seolah memahami, Bima mulai mencampur ucapannya dengan Bahasa Indonesia. Ia menjelaskan bahwa akan merekam satu per satu saat mereka memberikan kesan dan pesan untuk melepas kepergianku.


“Supaya kamu juga punya kenangan tentang kelas ini,” ujar Bima padaku.


Aku hanya bisa memandanginya saat Bima mulai berjalan menghampiri bocah-bocah menjelang remaja tersebut. Dengan sabar ia merekam satu demi satu pendapat mereka tentang diriku. Tiga tahun mendidik mereka bukan waktu yang sebentar. Banyak kenangan manis dan indah yang telah kulewati bersama mereka.


“What do you think about Kak Kinara?” tanya Bima pada Tasya, murid yang paling cantik di kelas. Tatapan malu-malu gadis cilik itu saat memandang Bima membuatku sadar bahwa lelaki ini mudah disukai.


“She is kind, smart, and nice. I like Kak Kinara.” Tasya mengutarakan pendapatnya.


Lalu Bima berpindah dari meja ke meja hingga tiba ke sudut ruangan.


“What’s this?” Samuel rupanya lebih tertarik pada benda di tangan Bima.


“This is gimbal.” Bima menjelaskan dengan sabar. “You can make good video with it.”


“Can I try?” pinta Samuel berharap, dan langsung bersorak saat melihat anggukan Bima.


“Go a head. Sekalian lanjutkan merekam video yang tersisa. Can you?”


Samuel mulai menggantikan Bima berjalan dari meja ke meja merekam teman sekelasnya. Saat tiba di meja Kevin, aku harus menahan napas karena pernyataan lelaki kecil itu membuatku sungguh tersipu.


“I love Kak Kinara. She is really beautiful.”


Oh, no. You don’t have to say that, batinku. Aku memang sudah lama merasa Kevin sering berusaha menarik perhatianku di saat apapun. But you are just a boy, Kevin.


Bima yang sudah kembali duduk di kursi guru, beranjak bangkit menghampiriku. Aku yakin ia juga mendengar dengan jelas pernyataan Kevin tentang diriku.


“You have a secret admirer,” godanya saat berdiri dekat denganku. “I must be very careful.”


Kevin tetap melanjutkan isi pesan dan kesannya tentangku, dan saat itu juga Bima meletakkan tangannya di pinggangku menarikku rapat ke tubuhnya. Sorot matanya mengisyaratkan sesuatu yang terasa membuncah. Mungkinkah sebuah cemburu?


“You are too late, Kevin. She belongs to me now.” Bima berbisik lembut sekali di telingaku.


Bisikannya menghadirkan desir darah yang tak pernah kurasakan sebelumnya. Kami bertatapan di antara suara celoteh bocah-bocah seolah tak ada siapapun di ruangan ini. Waktu seakan berhenti, seolah cuma ada aku dan Bima di sini. Ini bukan hanya sebuah cinta. Tetapi sebuah gairah yang kutemukan di matanya. Yang mungkin juga terpancar sama hebatnya di mataku.