THE QUEEN OF MAFIA

THE QUEEN OF MAFIA
23



Dikediaman Anderson


Bibi sedang membersihkan kamar Azka


Saat Bibi sedang membersihkannya tiba tiba Anadia masuk kedalam kamar Azka


"Eh Nyonya kenapa? Ada yang bisa saya bantu?" tawar Bibi


"Nggak, Bibi keluar aja biar saya yang bersihkan" suruh Anadia


"Tapi Nyah nanti Nona Azka marah" ucap Bibi. Karna Bibi tau tidak ada yang boleh memasuki kamar Azka kecuali dirinya, itupun hanya untuk membersihkan kamarnya


"Sudah sana keluar" usir Anadia


"Tapi Nyah" ucap Bibi yang hendak keluar namun ragu


"Keluar atau saya pecat" ancam Anadia, mau tak mau Bibi keluar dari kamar Azka


Anadia mencari barang berharga dan surat aset yang diberikan Abraham pada Azka, namun ia tidak menemukan apapun


Saat membuka laci meja Azka, ia melihat kalung berbandul bunga mawar yang merupakan pemberian Momy Azka



"Wah bagus sekali" takjub Anadia melihat kalung pemberian Momy Azka


Tanpa berfikir akibatnya ia langsung memakai kalung tersebut lalu turun kebawah


Malam hari Azka pulang kemansion


Saat masuk keladam mansion ia melihat semua anggota keluarga sedang mengobrol


"Dek, udah pulang, gimana keadaan kamu?" tanya Danu


"Azka kamu udah pulang sayang, gimana keadaan kamu? Kamu nggak papa kan?" tanya Anadia yang menunjukkan wajah yang dibuat sekhawatir mungkin


Tapi pandangan Azka tertuju pada leher Anadia yang telah memakai kalung pemberian Farah


"Lepas kalung itu" ucap Azka dingin nan datar dengan aura yang sudah menghitam


"Apa Sayang?" tanya Anadia yang dibuat bego


"BIBI" teriak Azka memanggil Bibi


"I...iya Non" jawab Bibi


"Siapa yang masuk kedalam kamar ku?" tanya Azka menatap Bibi


"Ta... tadi Nyonya masuk kekamar Non" jawab Bibi takut


"SUDAH BERAPA KALI KU BILANG JANGAN ADA YANG MASUK KEDALAM KAMARKU" bentak Azka marah


Semua orang yang ada dalam mansion merinding mendengar bentakan Azka


"Ma...maaf Non, tadi Bibi sudah melarang" ucap Bibi takut


"LEPASKAN KALUNG ITU" bentak Azka pada Anadia, sontak Anadia menjadi takut dan menciut namun enggan melepas kalungnya


"Azka bisa kau sopan sedikit pada Momy, itu hanya kalung, Dady bisa membelikannya lagi" bela Abraham


"Apa kau bilang hanya kalung? Itu adalah kalung pemberian Momy" jawab Azka dingin dengan aura mencekam membuat Abraham merinding seketika


"Kau lepaskan kalung itu atau aku yang akan melepaskannya secara paksa" ucap Azka menyeringai mengeluarkan pisau lipat yang selalu ia bawa dan mendekatkannya pada leher Anadia


"Dek jangan gitu dia Momy kita" bujuk Danu


"Momy mu bukan Momy ku" ucap Azka ketus tanpa memandang Danu


"Lapaskan" ucap Azka menekan pisau lipatnya pada leher Anadia yang membuat leher Andia sedit tergores dan mengeluarkan darah


"I...iya" jawab Anadia melepas kalungnya dan memberikannya pada Azka


"Bagus" ucap Azka menarik pisau lipatnya kembali, Anadia dapat bernafas lega


"Mom, Momy nggak papa?" tanya Sasa


"Nggak Momy nggak papa" jawab Anadia


"Itu leher Momy berdarah, kekamar ya Sasa obatin" ucap Sasa membawa Anadia kekamarnya


Kini tinggalah Azaka, Abraham dan Danu


Tapi Azka menyadari sesuatu didinding mansionnya ia mengeluarkan pistol yang selalu ia bawa dibalik jaket hitamnya dan menembak tepat didinding


DOR


DOR


Ia menembak 2 kamera CCTV yang hampir tak terlihat


Semua orang kaget dengan apa yang dilakukan Azka


Azka lalu medekati kepingan yang jatuh dilantai dan mengambilnya


"Dek apa itu?" tanya Danu yang tidak mengerti


"CCTV" jawab Azka datar


"Hah bagaimana bisa? Dady tidak pernah memasangnya" ucap Abraham


"Apa aku bertanya padamu Tuan?" tanya Azka pada Abraham yang membuat Abraham sedikit geram


"Bagaimana ada CCTV didalam mansion ku tanpa aku ketahui, dan bagaimana Azka bisa menyadarinya, aku sendiri yang setiap hari dirumah tidak menyadarinya, sedangkan Azka yang hanya malam hari dirumah dapat menyadarinya" batin Abraham menatap Azka yang mengambil kepingan kepingan CCTV


Anadia dan Sasa tidak melihat kejadian tadi, karna mereka sudah masuk kekamar


Azka mengambil kepingan dalam CCTV dan membawanya kekamar