
Hari-hari melesat begitu cepat, kehidupan dan kematian
datang silih berganti. Akeno yang menjadi gelandangan cacat akhirnya tak kuat
melawan kerasnya kehidupan. Kematian datang menyapanya yang kini sendirian dan
kesepian. Dia melepaskan hidup tanpa didampingi oleh keluarganya. Semuanya
pergi hingga nyawanya sendiri juga pergi, meninggalkan tubuhnya yang mulai
dingin di pinggiran kota yang kumuh. Dengan pakaian kumal, bau dan menjijikan,
tubuh kurus yang telah meninggal. Maka berakhirlah cerita hidup seorang tuan
muda bernama Akeno yang semasa hidupnya dia gunakan untuk menyakiti orang lain,
menggunakan masa mudanya untuk foya-foya tanpa membanggakan orang tuanya.
Kematiannya menjadi berita hangat di berita televisi seantero Jepang. Ibunya
menangis pilu mendapati kabar putranya telah meninggal dalam keadaan yang
mengenaskan, sebenci-bencinya seorang ibu, dia tidak akan pernah rela terjadi
sesuatu yang buruk kepada anaknya.
Tania? Dia masih menjalani perannya sebagai pelacur top di
Jepang. Tanpa bisa melepaskan diri dari jeratan bosnya yang kejam. Itu salahnya
sendiri, dia sendiri yang memutuskan menjadi pelacur dengan angan-angan akan
mendapat uang banyak dan kehidupan yang menyenangkan. Sekarang dia baru
merasakan bagaimana kerasnya kehidupan, apalagi dia berjalan di jalan yang
salah. Hari-harinya dia isi dengan air mata dan kesedihan, dia memang punya
uang banyak, tetapi kebebasannya menjadi harga untuk semua itu. Percuma bukan,
mempunyai uang banyak, fasilitas mewah, tetapi terkurung, buat apa? Hari-harinya
yang bagai neraka seperti tak berkesudahan, panjang dan lama sekali. Akankah
hatinya berubah? Tidak! Hatinya tetap sama, dia menyimpan dendam begitu dalam
kepada Kenzo dan Alin. Dia telah menekadkan hatinya jika Kenzo tidak bisa dia
miliki, Tania tidak akan pernah membiarkan siapapun memilikinya termasuk Alin.
Kebencian itu masih ada bahkan semakin besar di setiap harinya. Di dalam
sangkar neraka itu dia memupuk dendam terhadap Alin, bagaimanapn caranya Alin
harus mati begitu juga dengan anaknya. Dasar wanita berhati busuk, dia tidak
akan pernah mengerti dan sadar akan kesalahannya sampai nyawanya meninggalkan
tubuhnya.
***
Apa kabar dengan kakek Gu? Seperti biasa dia masih masih
marah-marah karena anak buahnya kembali gagal membawa cucunya kembali. Dia
semakin frustasi karena rasa dendamnya semakin besar setiap harinya sedangkan
alat penuntas dendamya belum juga ada di tangannya. Sebenarnya apa yang
terjadi? Dendam apa yang selama ini kakek Gu pendam? Dan kepada siapa? 40 tahun
yang lalu terjadilah peristiwa yang akan sangat diingat oleh kakek Gu. Istri tercintannya
harus merasakan kejadian pahit yang membuatnya mengakhiri hidupnya,
meninggalkan suami dan putranya yang berusia 10 tahun. Kakek Gu sendiri yang
menyaksikan kematian istrinya di tali gantungan. Dia sendiri yang menemukan
istrinya telah tergantung dengan tali di leher, begitu menyaksikan. Dia diam
membisu beberapa saat sebelum kesadarannya menguasai dirinya kembali.
Dengan tangan terkepal kuat, kakek Gu waktu itu bersumpah akan
membalas perbuatan orang yang telah membuat istrinya tiada. Akan tetapi karena
waktu itu keluarganya belum berpengaruh seperti sekarang dia tidak bisa
membalas dendam. Orang itu datang ke acara pemakaman istri kakek Gu dengan
senyum mengembang. Kakek Gu hanya bisa menahan amarahnya sambil menatap tajam
ke arah orang itu.
Kakek Gu berusaha keras membesarkan nama keluarganya, siang
malan dia bekerja dengan keras. Kerja kerasnya membuahkan hasil, keluarganya menjadi
keluarga mafia paling ditakuti dan disegani di negaranya. Akan tetapi sekali
lagi dia harus merasakan patah hati, putra satu-satunya yang dia besarkan
dengan segenap jiwa, lebih memilih menjadi tentara. Kakek Gu menentangnya
dengan keras, bahkan sempat mengurung putranya di mansion. Akan tetapi putranya
berhasil kabur, dia memilih hidup sendiri dengan tabungan yang selama ini dia
kumpulkan, tabungan itu cukup untuk biaya sekolah dan hidup sampai dia menjadi
tentara resmi dan digaji. Kakek Gu sedih bukan main, dia ingin putranya menjadi
penerus dirinya ketika dia tiada nanti,tetapi putranya tidak memiliki minat
sedikitpun meneruskan bisnis keluarga. Bahkan putranya pernah berteriak jika
dia membenci keluarga mafia, keluarga yang dibangun di atas darah orang lain
dan juga kejahatan-kejahatan lainnya. Maka sejak saat itu, kakek Gu juga sangat
membenci tentara dan semua yang berbau militer.
7 tahun kemudian, kakek Gu mendengar kabar tentang putranya
yang menikah dengan seorang wanita. Waktu itu putranya telah menjabat sebagai
jenderal, kakek Gu memerintahkan anak buahnya menyelidiki siapa wanita itu.
Betapa terkejutnya dia ketika mengetahui bahwa wanita itu adalah anak dari ‘pembunuh’
istrinya. Mengetahui hal itu, dia menjadi sangat marah, bayangan pria itu saat
acara pemakaman istrinya kembali, dia mengepalkan tangannya kuat. Kenapa
putranya harus menikah dengan anak dari pria itu? Maka kakek Gu menunggu waktu
seorang putri di rumah sakit, maka dimulailah rencana kakek Gu. Dia membunuh
istri putranya yang masih terbaring di rumah sakit dengan racun yang tidak akan
bisa dideteksi oleh dokter, mereka akan mengira jika dia meninggal karena
serangan jantung mendadak. Kakek Gu menatap ‘menantunya’ yang tengah sekarat
dengan senyum lebar, kemudian dia mendekati bayi yang tengah tertidur di box
bayi di dekat ranjang ibunya. Sekilas wajah bayi itu mirip dengan putranya,
hati kakek Gu sedikit bergetar, walau bagaimanapun dia adalah cucunya. Akan tetapi
sedetik kemudian dia membuang jauh-jauh semua pikiran itu. Tak berapa lama dia
keluar tanpa meninggalkan jejak sekalipun, bahkan kedatangannya di cctv telah
dihapus.
Wanita itu adalah ibunya Alin, dia meninggal setelah hanya
beberapa jam menciumi dan menimang bayinya. Ayah Alin yang mengetahui istrinya
tidak bergerak, segera meghubungi dokter, seolah tahu apa yang terjadi, Alin kecil
menangis dengan keras. Dia ikut meratapi kepergian ibunya, bahkan dia tidak
berhenti menangis setelah berada di gendongan ayahnya. Ayah Alin menangis dalam
diam, hanya air mata yang terus mengalir, tanpa suara. Dia berusaha menenangkan
putrinya, menatap tubuh kaku istrinya yang kini telah sempurna tertutup kain.
Sementara itu, kakek Gu dimansionnya tertawa gila, dia telah
berhasil membunuh putri dari pria itu. Dia pun telah menekadkan hatinya untuk
membunuh putranya yang memilih keluar dari mansion dan menikah dengan wanita
itu. Balas dendam ini baru saja dimulai, satu telah dia lenyapkan. Yang kedua
adalah putranya sendiri, kakek Gu membuat skenario putranya diserang oleh
sekelompok mafia di rumah dinasnya, mereka sangat pintar dalam hal menyamar. Maka
ketika usia Alin 10 tahun, penyerangan itu terjadi, kakek Gu membunuh putranya
sendiri dengan kejam, menyelamatkan cucu perempuannya untuk alat balas dendam
selanjutnya. Akan tetapi sekali lagi takdir mempermainkannya. Alin yang telah
berusia 20 tahun yang kala itu ingin dia nikahkan dengan Hans, malah memilih
kabur. Kejadian yang sama terulang kembali, Alin membenci kakeknya dan kabur
dari mansion.
Tanpa di duga, takdir mempertemukan Alin dengan teman masa
kecilnya dulu. Alin memang kehilangan ingatan masa kecilnya, tetapi hatinya
tidak akan pernah lupa. Hati Alin mengenali Kenzo, lambat laun Alin menerima
Kenzo di hidupnya sekaligus mengembalikan ingatan masa kecilnya satu demi satu.
Kakek Gu berusaha keras mencari cucunya yang kabur, Kenzo yang seolah tahu apa
yang terjadi segera memblokir informasi apapun tentang Alin dengan bantuan
Jonathan. Setelah 2 tahun akhirnya kakek Gu mengetahui keberadaan cucunya, dia
sangat marah mengetahui Alin telah menikah dengan seorang tentara. Alin
mengikuti jejak ayahnya, maka saat itu pula kakek Gu membuladkan tekad, Alin
harus dia dapatkan bagaimanapun caranya. Sebelum keluarga dari pihak ibunya
Alin mengetahuinya, kakek Gu harus lebih dulu mendapatkan Alin. Dialah
satu-satunya yang tersisa untuk membalaskan dendam, dia adalah orang terakhir dalam
daftar rencana balas dendam kakeknya.
Hari ini kakek Gu mendapat kabar jika keluarga ibunya Alin
telah semakin mendekat, mereka hampir mengetahui keberadaan Alin. Hal itu tidak
boleh sampai terjadi, jika Alin sampai jatuh ke tangan keluarga ibunya, maka
berakhirlah sudah. Kakek Gu tidak akan pernah mendapat kesempatan membalaskan
dendam. Mengurus keluarga Xu saja dia sangat kerepotan apalagi menghadapi dua
kelarga sekaligus, tentu saja dia akan kalah telak.
Kebenaran mengenai kematian kedua orang tuanya, tentu saja
Alin belum mengetahui semua itu. Hanya kakeknya dan beberapa orang yang dulu
terlibat yang tahu. Bahkan jika Alin mengetahui kebenarannya dia akan sangat
terkejut, Alin juga tidak akan menyangka jika dia telah di besarkan oleh
pembunuh orangtuanya. Kakeknya sendiri yang telah dibutakan oleh dendam tidak
memandang ayahnya Alin sebagai putranya apalagi Alin? Mungkin hanya sesaat Alin
merasakan jika kakeknya sayang kepadanya, tetapi itu hanyalah topeng.
Hidup Alin semakin rumit dan berbahaya, nyawanya bisa saja
melayang kapan saja. Kakeknya tak pernah lelah menganggunya, meski dia aman
bersama dengan suaminya, tetapi tak bisa dipungkiri jika hatinya merasakan
kegelisahan. Alin tidak tahu menahu soal balas dendam tersebut, bahkan keluarga
dari ibunya saja dia tidak tahu. Alin tak habis pikir kenapa kakeknya masih
ingin membawanya, bukankah Hans dan keluarganya telah tewas dan musnah? Lalu alasan
apa lagi yang digunakan oleh kakeknya? Demi meredam semua pikiran itu, Alin
terus menyibukkan diri. Dia harus fokus pada kandngannya yang semakin membesar,
sebentar lagi dia akan menjadi seorang ibu. Kekhawatirannya memang semakin
bertambah, akan tetapi dengan Kenzo di sisinya, Alin merasa aman dan
terlindungi.
Bersambung.