The Perfect Military Husband

The Perfect Military Husband
Chapter 49



Hari-hari melesat begitu cepat, kehidupan dan kematian


datang silih berganti. Akeno yang menjadi gelandangan cacat akhirnya tak kuat


melawan kerasnya kehidupan. Kematian datang menyapanya yang kini sendirian dan


kesepian. Dia melepaskan hidup tanpa didampingi oleh keluarganya. Semuanya


pergi hingga nyawanya sendiri juga pergi, meninggalkan tubuhnya yang mulai


dingin di pinggiran kota yang kumuh. Dengan pakaian kumal, bau dan menjijikan,


tubuh kurus yang telah meninggal. Maka berakhirlah cerita hidup seorang tuan


muda bernama Akeno yang semasa hidupnya dia gunakan untuk menyakiti orang lain,


menggunakan masa mudanya untuk foya-foya tanpa membanggakan orang tuanya.


Kematiannya menjadi berita hangat di berita televisi seantero Jepang. Ibunya


menangis pilu mendapati kabar putranya telah meninggal dalam keadaan yang


mengenaskan, sebenci-bencinya seorang ibu, dia tidak akan pernah rela terjadi


sesuatu yang buruk kepada anaknya.


Tania? Dia masih menjalani perannya sebagai pelacur top di


Jepang. Tanpa bisa melepaskan diri dari jeratan bosnya yang kejam. Itu salahnya


sendiri, dia sendiri yang memutuskan menjadi pelacur dengan angan-angan akan


mendapat uang banyak dan kehidupan yang menyenangkan. Sekarang dia baru


merasakan bagaimana kerasnya kehidupan, apalagi dia berjalan di jalan yang


salah. Hari-harinya dia isi dengan air mata dan kesedihan, dia memang punya


uang banyak, tetapi kebebasannya menjadi harga untuk semua itu. Percuma bukan,


mempunyai uang banyak, fasilitas mewah, tetapi terkurung, buat apa? Hari-harinya


yang bagai neraka seperti tak berkesudahan, panjang dan lama sekali. Akankah


hatinya berubah? Tidak! Hatinya tetap sama, dia menyimpan dendam begitu dalam


kepada Kenzo dan Alin. Dia telah menekadkan hatinya jika Kenzo tidak bisa dia


miliki, Tania tidak akan pernah membiarkan siapapun memilikinya termasuk Alin.


Kebencian itu masih ada bahkan semakin besar di setiap harinya. Di dalam


sangkar neraka itu dia memupuk dendam terhadap Alin, bagaimanapn caranya Alin


harus mati begitu juga dengan anaknya. Dasar wanita berhati busuk, dia tidak


akan pernah mengerti dan sadar akan kesalahannya sampai nyawanya meninggalkan


tubuhnya.


***


Apa kabar dengan kakek Gu? Seperti biasa dia masih masih


marah-marah karena anak buahnya kembali gagal membawa cucunya kembali. Dia


semakin frustasi karena rasa dendamnya semakin besar setiap harinya sedangkan


alat penuntas dendamya belum juga ada di tangannya. Sebenarnya apa yang


terjadi? Dendam apa yang selama ini kakek Gu pendam? Dan kepada siapa? 40 tahun


yang lalu terjadilah peristiwa yang akan sangat diingat oleh kakek Gu. Istri tercintannya


harus merasakan kejadian pahit yang membuatnya mengakhiri hidupnya,


meninggalkan suami dan putranya yang berusia 10 tahun. Kakek Gu sendiri yang


menyaksikan kematian istrinya di tali gantungan. Dia sendiri yang menemukan


istrinya telah tergantung dengan tali di leher, begitu menyaksikan. Dia diam


membisu beberapa saat sebelum kesadarannya menguasai dirinya kembali.


Dengan tangan terkepal kuat, kakek Gu waktu itu bersumpah akan


membalas perbuatan orang yang telah membuat istrinya tiada. Akan tetapi karena


waktu itu keluarganya belum berpengaruh seperti sekarang dia tidak bisa


membalas dendam. Orang itu datang ke acara pemakaman istri kakek Gu dengan


senyum mengembang. Kakek Gu hanya bisa menahan amarahnya sambil menatap tajam


ke arah orang itu.


Kakek Gu berusaha keras membesarkan nama keluarganya, siang


malan dia bekerja dengan keras. Kerja kerasnya membuahkan hasil, keluarganya menjadi


keluarga mafia paling ditakuti dan disegani di negaranya. Akan tetapi sekali


lagi dia harus merasakan patah hati, putra satu-satunya yang dia besarkan


dengan segenap jiwa, lebih memilih menjadi tentara. Kakek Gu menentangnya


dengan keras, bahkan sempat mengurung putranya di mansion. Akan tetapi putranya


berhasil kabur, dia memilih hidup sendiri dengan tabungan yang selama ini dia


kumpulkan, tabungan itu cukup untuk biaya sekolah dan hidup sampai dia menjadi


tentara resmi dan digaji. Kakek Gu sedih bukan main, dia ingin putranya menjadi


penerus dirinya ketika dia tiada nanti,tetapi putranya tidak memiliki minat


sedikitpun meneruskan bisnis keluarga. Bahkan putranya pernah berteriak jika


dia membenci keluarga mafia, keluarga yang dibangun di atas darah orang lain


dan juga kejahatan-kejahatan lainnya. Maka sejak saat itu, kakek Gu juga sangat


membenci tentara dan semua yang berbau militer.


7 tahun kemudian, kakek Gu mendengar kabar tentang putranya


yang menikah dengan seorang wanita. Waktu itu putranya telah menjabat sebagai


jenderal, kakek Gu memerintahkan anak buahnya menyelidiki siapa wanita itu.


Betapa terkejutnya dia ketika mengetahui bahwa wanita itu adalah anak dari ‘pembunuh’


istrinya. Mengetahui hal itu, dia menjadi sangat marah, bayangan pria itu saat


acara pemakaman istrinya kembali, dia mengepalkan tangannya kuat. Kenapa


putranya harus menikah dengan anak dari pria itu? Maka kakek Gu menunggu waktu


seorang putri di rumah sakit, maka dimulailah rencana kakek Gu. Dia membunuh


istri putranya yang masih terbaring di rumah sakit dengan racun yang tidak akan


bisa dideteksi oleh dokter, mereka akan mengira jika dia meninggal karena


serangan jantung mendadak. Kakek Gu menatap ‘menantunya’ yang tengah sekarat


dengan senyum lebar, kemudian dia mendekati bayi yang tengah tertidur di box


bayi di dekat ranjang ibunya. Sekilas wajah bayi itu mirip dengan putranya,


hati kakek Gu sedikit bergetar, walau bagaimanapun dia adalah cucunya. Akan tetapi


sedetik kemudian dia membuang jauh-jauh semua pikiran itu. Tak berapa lama dia


keluar tanpa meninggalkan jejak sekalipun, bahkan kedatangannya di cctv telah


dihapus.


Wanita itu adalah ibunya Alin, dia meninggal setelah hanya


beberapa jam menciumi dan menimang bayinya. Ayah Alin yang mengetahui istrinya


tidak bergerak, segera meghubungi dokter, seolah tahu apa yang terjadi, Alin kecil


menangis dengan keras. Dia ikut meratapi kepergian ibunya, bahkan dia tidak


berhenti menangis setelah berada di gendongan ayahnya. Ayah Alin menangis dalam


diam, hanya air mata yang terus mengalir, tanpa suara. Dia berusaha menenangkan


putrinya, menatap tubuh kaku istrinya yang kini telah sempurna tertutup kain.


Sementara itu, kakek Gu dimansionnya tertawa gila, dia telah


berhasil membunuh putri dari pria itu. Dia pun telah menekadkan hatinya untuk


membunuh putranya yang memilih keluar dari mansion dan menikah dengan wanita


itu. Balas dendam ini baru saja dimulai, satu telah dia lenyapkan. Yang kedua


adalah putranya sendiri, kakek Gu membuat skenario putranya diserang oleh


sekelompok mafia di rumah dinasnya, mereka sangat pintar dalam hal menyamar. Maka


ketika usia Alin 10 tahun, penyerangan itu terjadi, kakek Gu membunuh putranya


sendiri dengan kejam, menyelamatkan cucu perempuannya untuk alat balas dendam


selanjutnya. Akan tetapi sekali lagi takdir mempermainkannya. Alin yang telah


berusia 20 tahun yang kala itu ingin dia nikahkan dengan Hans, malah memilih


kabur. Kejadian yang sama terulang kembali, Alin membenci kakeknya dan kabur


dari mansion.


Tanpa di duga, takdir mempertemukan Alin dengan teman masa


kecilnya dulu. Alin memang kehilangan ingatan masa kecilnya, tetapi hatinya


tidak akan pernah lupa. Hati Alin mengenali Kenzo, lambat laun Alin menerima


Kenzo di hidupnya sekaligus mengembalikan ingatan masa kecilnya satu demi satu.


Kakek Gu berusaha keras mencari cucunya yang kabur, Kenzo yang seolah tahu apa


yang terjadi segera memblokir informasi apapun tentang Alin dengan bantuan


Jonathan. Setelah 2 tahun akhirnya kakek Gu mengetahui keberadaan cucunya, dia


sangat marah mengetahui Alin telah menikah dengan seorang tentara. Alin


mengikuti jejak ayahnya, maka saat itu pula kakek Gu membuladkan tekad, Alin


harus dia dapatkan bagaimanapun caranya. Sebelum keluarga dari pihak ibunya


Alin mengetahuinya, kakek Gu harus lebih dulu mendapatkan Alin. Dialah


satu-satunya yang tersisa untuk membalaskan dendam, dia adalah orang terakhir dalam


daftar rencana balas dendam kakeknya.


Hari ini kakek Gu mendapat kabar jika keluarga ibunya Alin


telah semakin mendekat, mereka hampir mengetahui keberadaan Alin. Hal itu tidak


boleh sampai terjadi, jika Alin sampai jatuh ke tangan keluarga ibunya, maka


berakhirlah sudah. Kakek Gu tidak akan pernah mendapat kesempatan membalaskan


dendam. Mengurus keluarga Xu saja dia sangat kerepotan apalagi menghadapi dua


kelarga sekaligus, tentu saja dia akan kalah telak.


Kebenaran mengenai kematian kedua orang tuanya, tentu saja


Alin belum mengetahui semua itu. Hanya kakeknya dan beberapa orang yang dulu


terlibat yang tahu. Bahkan jika Alin mengetahui kebenarannya dia akan sangat


terkejut, Alin juga tidak akan menyangka jika dia telah di besarkan oleh


pembunuh orangtuanya. Kakeknya sendiri yang telah dibutakan oleh dendam tidak


memandang ayahnya Alin sebagai putranya apalagi Alin? Mungkin hanya sesaat Alin


merasakan jika kakeknya sayang kepadanya, tetapi itu hanyalah topeng.


Hidup Alin semakin rumit dan berbahaya, nyawanya bisa saja


melayang kapan saja. Kakeknya tak pernah lelah menganggunya, meski dia aman


bersama dengan suaminya, tetapi tak bisa dipungkiri jika hatinya merasakan


kegelisahan. Alin tidak tahu menahu soal balas dendam tersebut, bahkan keluarga


dari ibunya saja dia tidak tahu. Alin tak habis pikir kenapa kakeknya masih


ingin membawanya, bukankah Hans dan keluarganya telah tewas dan musnah? Lalu alasan


apa lagi yang digunakan oleh kakeknya? Demi meredam semua pikiran itu, Alin


terus menyibukkan diri. Dia harus fokus pada kandngannya yang semakin membesar,


sebentar lagi dia akan menjadi seorang ibu. Kekhawatirannya memang semakin


bertambah, akan tetapi dengan Kenzo di sisinya, Alin merasa aman dan


terlindungi.


Bersambung.