The Perfect Military Husband

The Perfect Military Husband
Chapter 42



Kenzo dan Alin tertidur hingga makan malam menjelang, mereka


bahkan melewatkan makan siang saking ngantuknya. Mereka terbangun karea ketukan


pintu berulang-ulang karena ulah kakaknya, Jonathan. Kenzo mengerjapkan matanya


beberapa kali dan memicingkan matanya melihat jam di atas nakas. Kenzo pun


membangunkan istrinya dengan lembut kemudian Alin terbangun. Kenzo segera


membuka pintu dan mengomeli kakaknya yang mengetuk pintu berulang-ulang dengan


keras. Sementara Ali segera menuju ke kamar mandi mencuci muka dan sekalian


memakai skincare. Alin juga mengganti bajunya dengan baju tidur berwarna hitam.


“Kalian mau makan malam di kamar atau ikut kita ke restoran?”


tanya Jonathan.


“Kita makan di sini saja kak, malas aku keluarnya,” kata


Kenzo sambil mengucek matanya.


“Kalian ini ya, tidur nggak inget waktu, kalian melewatkan


makan siang kan? Tadi dibangunin ibu nggak tapi nggak pada bangun, ingat istri


mu sedang mengandung Ken, dia butuh nutrisi yang banyak,” kata Jonathan.


“Iya-iya bawel banget deh kak,” kata Kenzo yang langsung


mendapat jitakan di keningnya.


“Aduh! Sakit tau,” kata Kenzo.


Jonathan meninggalkan kamar adiknya dan menyusul keluarganya


ke restoran yang berada di lantai bawah. Sementara Kenzo memesan makanan lewat


layanan hotel dan tak lama berselang, makanan telah diantarkan ke kamar Kenzo.


Mereka berdua makan dengan lahap sekali karena keduanya memang tidak makan


siang, setelah makan, Kenzo membuatkan susu  kehamilan untuk Alin. Karena malam hari suhunya sangat dingin, Kenzo


tidak mengizinkan istrinya untuk jalan-jalan ke luar, sebenarnya rencana Alin


malam harinya dia ingin berburu street


food. Akan tetapi karena suaminya tidak mengizinkan, Alin hanya bisa


menuruti.


Akhirnya Alin memilih ikut berkumpul dengan Nana dan ibu mertuanya.


Sedangkan Kenzo bergabung dengan ayahnya untuk bermain catur. Jonathan sejak


selesi makan malam dia pergi keluar, katanya ingin menemui seseorang. Malam itu


mereka menghabiskan waktu dengan bercengkrama satu sama lain. Para wanita


membahas tentang kehamilan Alin dan juga perkembangan hubungan antara Jonathan


dan Nana. Alin belum memberitahukan perihal bayi kembarnya kepada keluarga yang


lain. Belum saatnya. Kegiatan mereka berakhir ketika hari menjelang tengah


malam. Mereka semua masuk ke kamar masing-masing dan bergelung di bawah selimut


dengan pemanas ruangan yang menyala. Jonathan kembali ke kamarnya ketika jam


menunjukkan pukul 03.00 dini hari, dia bersih-bersih dan ikut berbaring di


samping istrinya yang telah tertidur pulas.


Keluarga Xu hanya menginap di hotel selama 3 hari 2 malam,


setelah cukup istirahat, mereka semua berangkat menuju destinasi wisata yang


telah mereka rencanakan. Karena hari itu bertepatan dengan festival musim ingin


atau Furusato Matsuri Tokyo. Mereka


keluar dari hotel sejak pukul 08.30 pagi waktu Jepang dan segera berangkat


menuju ke 1 Chome-3-61 Koraku, Bunkyo-ku, Tokyo-to 112-0004 menggunakan mobil


pribadi. Perjalanan membutuhkan waktu sekitar 30 menit dari hotel. Sesampainya


di sana, festival telah dimulai. Alin sangat antusias melihat-lihat festival


yang sangat meriah itu dan bergegas menuju ke stan-stan makanan untuk memilih.


Kenzo berlari mengikuti kemanapun istrinya pergi sambil tangannya menggenggam


erat tangan Alin, takut istrinya menghilang di lautan manusia itu. Mereka


berpisah dengan kedua orangtua dan juga Jonathan serta Nana. Alin memakan


makanannya sambil menikmati pertunjukan tarian rakyat tradisional Jepang.


Setelah kenyang, Alin mengajak suaminya untuk berganti pakaian dengan


mengenakan kimono,  pakaian traisional Jepang. Sepanjang festival


mereka mengenakan kimono couple dan


beberapa kali mengambil foto di bantu oleh bodyguard yang mengawal mereka.


Alin sangat bahagia merasakan atmosfer keramaian yang belum


pernah dia rasakan sebelumnya. Akhirnya impian Alin satu-satu persatu terwujud


walau masih banyak yang belum terwujud. Akan tetapi ini lebih dari cukup


daripada tidak sama sekali bagi Alin. Dia mengelus perutnya dari balik kain


tebal kimono  yang dia pakai. Alin berharap kedua calon


anaknya akan lahir dengan selamat dan sehat.


“Kau senang sayang?” tanya Kenzo ketika mereka beristirahat


di salah satu bangku untuk istirahat.


“Ya, aku sangat senang dan bahagia sekali, akhirnya aku bisa


merasakan apa yang selama ini selalu menjadi mimpi,” kata Alin.


yang dulu maupun yang akan datang,” kata Kenzo.


“Terima kasih suamiku tersayang.”


Mereka berkeliling seharian hingga Alin merasa puas, mereka


baru kembali setelah Alin mengeluh kakinya sakit karena terlalu lama berjalan.


Kenzo segera menghubungi keluarganya jika dia dan istrinya kembali ke hotel


terlebih dahulu. Sekembalinya mereka ke hotel, Alin segera mandi da berganti


pakaian begitu juga dengan Kenzo. Setelah selesai, Alin segera berbaring untuk


meregangkan kakinya yang ternyata bengkak. Melihat hal itu, Kenzo segera


mengambil minyak kayu putih dan membalurnya ke kaki sang istri sambil memijat pelan.


Alin sangat nyaman dengan pijatan dari suaminya, rasa sakit di kaki lumayan


agak reda. Kenzo beralih ke perut Alin, dia juga membaluri perut istrinya


dengan minyak kayu putih agar hangat. Dia takut istrinya kembung setelah


seharian berada di suhu minus.


Tak berapa lama keluarga kenzo kembali ke hotel, setelah


bersih-bersih mereka segera ke kamar kenzo untuk memastikan Alin baik-baik


saja. Ketika mereka masuk, Kenzo tengah membaluri perut Alin dengan minyak kayu


putih dan mengelusnya sambil berbicara dengan nada seperti anak kecil. Nyonya


Xu yang melihat perut Alin agak megernyitkan kening.


“Nak!” panggil nyonya Xu yang sukses membuat Kenzo dan Alin


terkejut.


“Astaga ibu, bikin kaget aja,” kata Kenzo sambil mengelus


dadanya.


“Kamu ini, begitu aja kaget,” sahut nyonya Xu.


“Nak, perut istri mu kok besar banget di usia kandungan 4


bulan, apa dokter salah memperkirakan bulannya?” tanya nyonya Xu.


“Enggak mungkin dokter salah, ya lagian isinya aja ada dua


bu, ya pasti besarnya perut Alin nggak sama dengan ibu hamil yang isinya cuma


satu bayi.... Ups!” kata Kenzo keceplosan, dia mendapat pelototan dari


istrinya.


Seharusnya ini belum saatnya untuk keluarga Xu tahu perihal


bayi kembar ini. Tetapi karena Kenzo terlanjur keceplosan, maka sekalian aja di


teruskan penjelasannya.


“Maksud mu?” tanya Jonathan.


“Hehehe keceplosan aku kak, yah nggak jadi bikin surprise deh,” sahut Kenzo.


“Ini beneran kalian akan punya anak kembar?” tanya nyonya


Xu.


“Iya bener mana, 2 hari sebelum kita ke Jepang kan kami


periksa ke dokter Sofie, baru ketahuan pas itu, awalnya nggak tedeteksi karena


posisinya berada di belakang janin pertama dan belum ada detak jantungnya, baru


ketahuan pas sudah usia kandungan 4 bulan lebih,” ucap Alin yang kemudian


mengambil foto cetak USG di dompetnya dan menunjukan foto itu kepada


keluarganya.


Nyonya Xu menangis haru melihat foto USG yang menampilkan 2  janin itu. Tuan Xu memeluk istrinya dan


merasakan perasaan yang sangat bahagia. Impiannya menjadi seorang kakek


akhirnya terwujud bahkan tuhan memberinya 2 cucu sekaligus. Nana juga menangis


haru dan megusap pelan foto kedua janin yang hampir sempurna betuknya. Ada rasa


iri di hatinya, dia juga ingin memiliki bayi juga walaupun hanya satu, Jonathan


menangkap perubahan ekspresi dari istrinya. Hatinya sangat sakit, dia bisa


melihat jika Nana tengah terluka saat ini. Dambaan akan seorang anak muncul di


mata Nana yang tak lepas dari foto kedua janin itu. Jonathan mempekuat tekadnya


untuk belajar keras mencintai Nana, dia juga ingin memiliki anak dengan Nana.


Nyonya Xu memeluk menantunya, gadis kecil yang dulu sering


dia suapi makan kini telah dewasa dan akan memberikan cucu untuknya. Gadis


kecil yang dulu selalu berlarian bersama putranya, kini menjadi pasangan yang


saling mencintai. Waktu telah berjalan begitu cepat, semua berubah dengan cepat


an tanpa disadari. Takdir kelam masa lalu berubah dalam sekejap menjadi takdir


baik, tuhan memang adil setelah memberikan kehidupan yang begitu tragis dan


sulit bagi Alin, kini dia akhirnya menemukan kebahagiaanya dengan cinta masa


kecilnya. Sepasang bayi kembar diberikan tuhan untuk melengkapi kebahagiaanya,


semua itu sudah cukup bagi Alin. Malam itu menjadi malam terindah bagi keluarga


Xu yang akan menyambut kelahiran bayi kembar itu dan menantinya dengan segenap


rasa bahagia dan juga antusias.


Bersambung.