
Kenzo dan Alin tertidur hingga makan malam menjelang, mereka
bahkan melewatkan makan siang saking ngantuknya. Mereka terbangun karea ketukan
pintu berulang-ulang karena ulah kakaknya, Jonathan. Kenzo mengerjapkan matanya
beberapa kali dan memicingkan matanya melihat jam di atas nakas. Kenzo pun
membangunkan istrinya dengan lembut kemudian Alin terbangun. Kenzo segera
membuka pintu dan mengomeli kakaknya yang mengetuk pintu berulang-ulang dengan
keras. Sementara Ali segera menuju ke kamar mandi mencuci muka dan sekalian
memakai skincare. Alin juga mengganti bajunya dengan baju tidur berwarna hitam.
“Kalian mau makan malam di kamar atau ikut kita ke restoran?”
tanya Jonathan.
“Kita makan di sini saja kak, malas aku keluarnya,” kata
Kenzo sambil mengucek matanya.
“Kalian ini ya, tidur nggak inget waktu, kalian melewatkan
makan siang kan? Tadi dibangunin ibu nggak tapi nggak pada bangun, ingat istri
mu sedang mengandung Ken, dia butuh nutrisi yang banyak,” kata Jonathan.
“Iya-iya bawel banget deh kak,” kata Kenzo yang langsung
mendapat jitakan di keningnya.
“Aduh! Sakit tau,” kata Kenzo.
Jonathan meninggalkan kamar adiknya dan menyusul keluarganya
ke restoran yang berada di lantai bawah. Sementara Kenzo memesan makanan lewat
layanan hotel dan tak lama berselang, makanan telah diantarkan ke kamar Kenzo.
Mereka berdua makan dengan lahap sekali karena keduanya memang tidak makan
siang, setelah makan, Kenzo membuatkan susu kehamilan untuk Alin. Karena malam hari suhunya sangat dingin, Kenzo
tidak mengizinkan istrinya untuk jalan-jalan ke luar, sebenarnya rencana Alin
malam harinya dia ingin berburu street
food. Akan tetapi karena suaminya tidak mengizinkan, Alin hanya bisa
menuruti.
Akhirnya Alin memilih ikut berkumpul dengan Nana dan ibu mertuanya.
Sedangkan Kenzo bergabung dengan ayahnya untuk bermain catur. Jonathan sejak
selesi makan malam dia pergi keluar, katanya ingin menemui seseorang. Malam itu
mereka menghabiskan waktu dengan bercengkrama satu sama lain. Para wanita
membahas tentang kehamilan Alin dan juga perkembangan hubungan antara Jonathan
dan Nana. Alin belum memberitahukan perihal bayi kembarnya kepada keluarga yang
lain. Belum saatnya. Kegiatan mereka berakhir ketika hari menjelang tengah
malam. Mereka semua masuk ke kamar masing-masing dan bergelung di bawah selimut
dengan pemanas ruangan yang menyala. Jonathan kembali ke kamarnya ketika jam
menunjukkan pukul 03.00 dini hari, dia bersih-bersih dan ikut berbaring di
samping istrinya yang telah tertidur pulas.
Keluarga Xu hanya menginap di hotel selama 3 hari 2 malam,
setelah cukup istirahat, mereka semua berangkat menuju destinasi wisata yang
telah mereka rencanakan. Karena hari itu bertepatan dengan festival musim ingin
atau Furusato Matsuri Tokyo. Mereka
keluar dari hotel sejak pukul 08.30 pagi waktu Jepang dan segera berangkat
menuju ke 1 Chome-3-61 Koraku, Bunkyo-ku, Tokyo-to 112-0004 menggunakan mobil
pribadi. Perjalanan membutuhkan waktu sekitar 30 menit dari hotel. Sesampainya
di sana, festival telah dimulai. Alin sangat antusias melihat-lihat festival
yang sangat meriah itu dan bergegas menuju ke stan-stan makanan untuk memilih.
Kenzo berlari mengikuti kemanapun istrinya pergi sambil tangannya menggenggam
erat tangan Alin, takut istrinya menghilang di lautan manusia itu. Mereka
berpisah dengan kedua orangtua dan juga Jonathan serta Nana. Alin memakan
makanannya sambil menikmati pertunjukan tarian rakyat tradisional Jepang.
Setelah kenyang, Alin mengajak suaminya untuk berganti pakaian dengan
mengenakan kimono, pakaian traisional Jepang. Sepanjang festival
mereka mengenakan kimono couple dan
beberapa kali mengambil foto di bantu oleh bodyguard yang mengawal mereka.
Alin sangat bahagia merasakan atmosfer keramaian yang belum
pernah dia rasakan sebelumnya. Akhirnya impian Alin satu-satu persatu terwujud
walau masih banyak yang belum terwujud. Akan tetapi ini lebih dari cukup
daripada tidak sama sekali bagi Alin. Dia mengelus perutnya dari balik kain
tebal kimono yang dia pakai. Alin berharap kedua calon
anaknya akan lahir dengan selamat dan sehat.
“Kau senang sayang?” tanya Kenzo ketika mereka beristirahat
di salah satu bangku untuk istirahat.
“Ya, aku sangat senang dan bahagia sekali, akhirnya aku bisa
merasakan apa yang selama ini selalu menjadi mimpi,” kata Alin.
yang dulu maupun yang akan datang,” kata Kenzo.
“Terima kasih suamiku tersayang.”
Mereka berkeliling seharian hingga Alin merasa puas, mereka
baru kembali setelah Alin mengeluh kakinya sakit karena terlalu lama berjalan.
Kenzo segera menghubungi keluarganya jika dia dan istrinya kembali ke hotel
terlebih dahulu. Sekembalinya mereka ke hotel, Alin segera mandi da berganti
pakaian begitu juga dengan Kenzo. Setelah selesai, Alin segera berbaring untuk
meregangkan kakinya yang ternyata bengkak. Melihat hal itu, Kenzo segera
mengambil minyak kayu putih dan membalurnya ke kaki sang istri sambil memijat pelan.
Alin sangat nyaman dengan pijatan dari suaminya, rasa sakit di kaki lumayan
agak reda. Kenzo beralih ke perut Alin, dia juga membaluri perut istrinya
dengan minyak kayu putih agar hangat. Dia takut istrinya kembung setelah
seharian berada di suhu minus.
Tak berapa lama keluarga kenzo kembali ke hotel, setelah
bersih-bersih mereka segera ke kamar kenzo untuk memastikan Alin baik-baik
saja. Ketika mereka masuk, Kenzo tengah membaluri perut Alin dengan minyak kayu
putih dan mengelusnya sambil berbicara dengan nada seperti anak kecil. Nyonya
Xu yang melihat perut Alin agak megernyitkan kening.
“Nak!” panggil nyonya Xu yang sukses membuat Kenzo dan Alin
terkejut.
“Astaga ibu, bikin kaget aja,” kata Kenzo sambil mengelus
dadanya.
“Kamu ini, begitu aja kaget,” sahut nyonya Xu.
“Nak, perut istri mu kok besar banget di usia kandungan 4
bulan, apa dokter salah memperkirakan bulannya?” tanya nyonya Xu.
“Enggak mungkin dokter salah, ya lagian isinya aja ada dua
bu, ya pasti besarnya perut Alin nggak sama dengan ibu hamil yang isinya cuma
satu bayi.... Ups!” kata Kenzo keceplosan, dia mendapat pelototan dari
istrinya.
Seharusnya ini belum saatnya untuk keluarga Xu tahu perihal
bayi kembar ini. Tetapi karena Kenzo terlanjur keceplosan, maka sekalian aja di
teruskan penjelasannya.
“Maksud mu?” tanya Jonathan.
“Hehehe keceplosan aku kak, yah nggak jadi bikin surprise deh,” sahut Kenzo.
“Ini beneran kalian akan punya anak kembar?” tanya nyonya
Xu.
“Iya bener mana, 2 hari sebelum kita ke Jepang kan kami
periksa ke dokter Sofie, baru ketahuan pas itu, awalnya nggak tedeteksi karena
posisinya berada di belakang janin pertama dan belum ada detak jantungnya, baru
ketahuan pas sudah usia kandungan 4 bulan lebih,” ucap Alin yang kemudian
mengambil foto cetak USG di dompetnya dan menunjukan foto itu kepada
keluarganya.
Nyonya Xu menangis haru melihat foto USG yang menampilkan 2 janin itu. Tuan Xu memeluk istrinya dan
merasakan perasaan yang sangat bahagia. Impiannya menjadi seorang kakek
akhirnya terwujud bahkan tuhan memberinya 2 cucu sekaligus. Nana juga menangis
haru dan megusap pelan foto kedua janin yang hampir sempurna betuknya. Ada rasa
iri di hatinya, dia juga ingin memiliki bayi juga walaupun hanya satu, Jonathan
menangkap perubahan ekspresi dari istrinya. Hatinya sangat sakit, dia bisa
melihat jika Nana tengah terluka saat ini. Dambaan akan seorang anak muncul di
mata Nana yang tak lepas dari foto kedua janin itu. Jonathan mempekuat tekadnya
untuk belajar keras mencintai Nana, dia juga ingin memiliki anak dengan Nana.
Nyonya Xu memeluk menantunya, gadis kecil yang dulu sering
dia suapi makan kini telah dewasa dan akan memberikan cucu untuknya. Gadis
kecil yang dulu selalu berlarian bersama putranya, kini menjadi pasangan yang
saling mencintai. Waktu telah berjalan begitu cepat, semua berubah dengan cepat
an tanpa disadari. Takdir kelam masa lalu berubah dalam sekejap menjadi takdir
baik, tuhan memang adil setelah memberikan kehidupan yang begitu tragis dan
sulit bagi Alin, kini dia akhirnya menemukan kebahagiaanya dengan cinta masa
kecilnya. Sepasang bayi kembar diberikan tuhan untuk melengkapi kebahagiaanya,
semua itu sudah cukup bagi Alin. Malam itu menjadi malam terindah bagi keluarga
Xu yang akan menyambut kelahiran bayi kembar itu dan menantinya dengan segenap
rasa bahagia dan juga antusias.
Bersambung.