
Alin terbangun ketika waktu menunjukkan jam
makan siang. Tenggorokannya kering, dia berusaha bangun untuk mengambil air
putih di atas nakas. Walau kepalanya masih terasa berat, dia paksakan untuk
bangun. Dengan susah payah akhirnya Alin berhasil menggapai air putih tersebut
dan meminumnya sampai habis. Tak berapa lama ada pelayan yang mengantarkan
bubur dan menyiapkan obat untuk Alin. Setelah memakan buburnya setengah, Alin
meminum obatnya dan memutuskan tidur kembali. Setelah memastikan nyonya mudanya
telah tertidur, pelayan itu membereskan mamngkuk dan gelas, dia bergegas menuju
ke bawah kembali. Nana juga tidur siang mengistirahatkan tubuhnya yang kurang
tidur karena merawat Alin. Ya dia semata-matajuga melaksanakan perintah
suaminya dan tidak ingin terkena hukuman.
Ternyata hari kepulangan Kenzo terjadwal
lebih awal. Misi mereka selesai lebih awal dari waktu perkiraan, semua tentara
di bawah komano kapten Kenzo bersorak gembira. Dia dan rekan-rekan
seperjuangannya tengah bersiap untuk pulang ke negara asal mereka. Rindu yang
meluap akan bertemu dengan muaranya, wajah-wajah berbinar walau tertutup debu
dan darah kering. Mereka tidak akan mandi di sana, mereka akan bersih-bersih
ketika sudah sampai markas komando pusat militer. Pesawat telah siap terbang, para
tentara tersebut dan juga kapten Kenzo berlarian memasuki pesawat militer itu
setelah upacara perpisahan dengan pasukan tentara negara lain.
Penerbangan memakan waktu 10 jam, hal ini
dimanfaatkan semua tentara untuk tidur sejenak setelah berhari-hari kurang
tidur. Kenzo sudah tidak sabar melihat wajah istrinya yang selalu tersenyum itu
dan juga calon anaknya. Glen yang duduk di sebelahnya mengernyit heran menatap
sahabatnya yang melamun sambil tersenyum sendiri. Dia pun menepuk bahu
sahabatnya dan menyadarkan Kenzo dari lamunannya. Karena suara bising mesin
pesawat mereka tidak jadi berbincang dan kenzo larut dalam lamunanya kembali.
Glen hanya bisa menduga jika Kenzo tengah menahan rindunya kepada sang istri
dan calon anaknya dan tebakannya memang benar. Glen jadi teringat kepada
istrinya, Sarah. Ada sedikit rindu di hatinya, memang sampai sekarang Glen
belum sepenuhnya mencintai gadis itu, entahlah sampai kapan. Sarahpun masih
dengan sabar menunggu suaminya untuk menerima dirinya. Perhatian kecil dari Glen
merupakan berkah terbesar untuk Sarah saat ini. Ya Glen memang mulai memberikan
perhatiannya kepada Sarah, tetapi itu hanya karena Glen merasa bersalah dan
kasihan. Sarah tahu itu, tetapi dia tidak mau menganggapnya demikian. Dia
mensugesti hatinya, jika itu adalah perhatian tulus dari Glen.
Kenzo sengaja tidak mengabari keluarganya
tentang kepulangannya. Dia ingin memberi surprise kepada istrinya, penerbangan
yang memakan waktu 10 jam terasa sangat lama. Dia tidak bisa memejamkan matanya
barang satu menit. Sedangkan semua rekan-rekannya telah terjatuh ke alam mimpi,
menyisakan dirinya yang masih terjaga. Dia masih tenggelam dalam lamunan
tentang istrinya. Wajah cantik yang selalu tersenyum, mata berbinar setiap
mereka bersama, semua itu memenuhi pikiran Kenzo. Istri kecilnya itu telah
menjadi seseorang yang sangat berarti baginya. Semua tentangnya selalu menjadi
prioritas untuk Kenzo.
Akhirnya Kenzo beserta rekan-rekannya sampai
juga di pangkalan udara militer. Mereka pun melanjutkan perjalanan menuju markas
komando militer pusat di ibu kota untuk melapor. Mereka semua disambut hangat
oleh jajaran pimpinan militer dan mendapat penghargaan. Setelah upacara
penyambutan selesai, mereka segera bergegas ke asrama masing-masing untuk
membersihkan diri. Sementara Kenzo menuju ke kantornya, dengan cepat dia mandi
dan memakai kaos militer dan bergegas menuju ke villa menemui istrinya. Waktu
menunjukkan jam makan malam sewaktu Kenzo kembali ke villa. Karena alin masih
sakit, dia makan di kamarnya dengan bubur. Jonathan dan Nana yang tengah makan
malam terkejut mlihat Kenzo dengan senyum lebarnya berjalan ke arah mereka.
Ketika dia melihat ke arah kursi yang sering di duduki oleh istrinya kosong,
keningnya mengeryit.
“Kemana istiku kak?” tanya Kenzo.
“Em Alin makan di kamarnya, dia sakit sejak
kemarin, kata dokter Sofie dia terkena flu,” kata Jonathan.
“Apa? Sakit? Kok kakak nggak ngabarin aku
sih?” tanya Kenzo agak emosi.
“Dengan watak Alin apakah aku bisa meghubungi
mu? Lagian di sini ada aku ada Nana yang merawatnya,” kata Jonathan.
“Hm ya sudah aku ke atas dulu ya kak,” kata
Kenzo.
“Makan dulu! Kamu baru sampai dan kakak yakin
kamu belum makan,” kata Jonathan.
“Aku makan di atas saja kak, suruh pelayan
untuk membawakan makanan ke kamarku ya kak!” kata Kenzo sambil berlari menuju
lift.
“Oh iya pelayan, tolong bawakan makanan untuk
Kenzo ke atas ya, segera!” perintah Jonathan kepada pelayan.
Kenzo berlari ketika keluar dari lift.
Hatinya tak tenang sebelum dia melihat Alin. Apalagi istrinya itu sedang sakit.
Ketika dia membuka pinru terlihatlah Alin yan seang meneguk segelas air putih
selepas meminum obatnya. Alin beralih menatap ke arah pintu karena mendengar
pintu yang terbuka agak kasar. Matanya membulat melihat suaminya telah kembali lebih
awal. Kenzo meletakkan ranselnya ke sofa dan segera memeluk istri kecilnya.
Pelayan segera membereskan mangkuk dan gelas serta langsung buru-buru keluar.
Takut menganggu pasangan yang tengah saling menumpahkan rindu.
“Sayang, kenapa bisa sakit sih?” tanya Kenzo.
“Namanya juga manusia,” jawab Alin sekenanya,
dia masih larut dalam haru bertemu dengan suaminya.
Kenzo hanya bisa terkekeh-kekeh mendengar
jawaban istrinya. “Makanya kalo dibilangin nggak usah bandel, nakal lagi, nurut
sama suami dan kakak mu!”
“Iya-iya suami bawelku, lagian udah hampir
sembuh kok, demamnya udah turun, cuma pusing dan bersinnya yang masih
menyerang,” kata Alin sambil megusap hidugnyayan masih merah.
“Ya udah banyak-banyak istirahat biar cepet
sembuh,” kata Kenzo sambil mengusap kepala Alin.
Tok,tok,tok.
Kenzo membuka pintu dan terlihatlah kepala
pelayan membawa makanan. Kenzo mempersilahkan kepala pelayan untuk masuk dan
menata makanannya ke meja. Setelah selesai, kepala pelayan pamit untuk ke
bawah. Kenzo pun mulai memakan makanannya dengan ditatap oleh istrinya. Sudah 2
hari Alin hanya makan bubur asi saja dan beberapa potong buah, melihat suaminya
makan makanan yang lezat, membuatnya menelan ludah.
“Makanya jangan bandel, jadi nggak bisa makan
semua ini kan? Salah sendiri,” kata Kenzo sambil menikmati makanannya sementara
Alin hanya bisa cemberut.
“Jadi kamu pulang cuma mau bully aku?” tanya
Alin kesal.
“Enggak kok, aku cuma mau kasih pelajaran
penting buat istri nakalku,” kata Kenzo santai.
“Ish nggak perhatian banget jadi suami, istri
lagi sakit, bukannya di perhatiin malah dibuat kesal,” omel Alin.
Kenzo tidak menyahuti omelan istrinya, dia
menyelesaikan makannya dengan cepat. Kemudian Kenzo beranjak ke ranjang dan
memeluk Alin yang masih mengomel. Alinpun terdiam dan dia membalas pelukan dari
suaminya. Rasa kesal dan jengkelnya seketika tergantikan dengan perasaan
nyaman. Harum tubuh Kenzo memenuhi indra penciuman Alin. Rasa rindu yang
tertahankan selama ini telah terbayar. Kenzo membelai kepala istrinya dengan
lembut dan mengusap perut Alin yang mulai buncit.
“Udah marahnya? Besok kita jalan-jalan ya?”
tanya Kenzo kepada istrinya.
“Hm, mau jalan kemana?” tanya Alin.
“Terserah kamu sayang, kemanapun kamu mau
pergi,” kata Kenzo sambil mencium pucuk kepala Alin.
“Em, ke gunung enak kali ya? Suasananya pasti
sejuk, sudah lama aku merindukan suasana pegunungan,” kata Alin.
“Kamu kan lagi hamil sayang, bahaya dong kalo
main ke gunung, gimana kalo kita liburan keluarga ke Jepang?” tanya Kenzo.
“Boleh juga, apalagi rame-rame, tambah seru,
ya sudah ke sana saja,” kata Alin.
“Tapi tunggu kamu sembuh dulu ya, nanti kita
konsultasi sama dokter Sofie dulu, oh iya bukankah minggu depan kamu ada jadwal
periksa kan?” tanya Kenzo.
“Iya, aku udah buat janji dengan dokter
Sofie,” kata Alin.
“Baiklah kita akan berangkat setelah
pemeriksaan kamu saja sayang, sekarang udah malam ayo kita tidur, nggak baik
ibu hamil tidur larut malam,” kata Kenzo sambil merebahkan tubuhnya.
Bahu Kenzo menjadi sandaran untuk Ali tidur.
Tak butuh waktu lama, Alin telah jatuh ke alam mimpi. Pelukan hangat suaminya
sukses membuat tidur Alin sangat nyenyak. Dengan kasih sayang Kenzo membelai
pipi istriya kemudian menaikkan selimut hingga batas dada. Mereka berdua
terlelap dibuai oleh mimpi indah masing-masing. Hingga sinar sang mentari
membangunkan mereka berdua.
Bersambung.