The Perfect Military Husband

The Perfect Military Husband
Chapter 35



Alin terbangun ketika waktu menunjukkan jam


makan siang. Tenggorokannya kering, dia berusaha bangun untuk mengambil air


putih di atas nakas. Walau kepalanya masih terasa berat, dia paksakan untuk


bangun. Dengan susah payah akhirnya Alin berhasil menggapai air putih tersebut


dan meminumnya sampai habis. Tak berapa lama ada pelayan yang mengantarkan


bubur dan menyiapkan obat untuk Alin. Setelah memakan buburnya setengah, Alin


meminum obatnya dan memutuskan tidur kembali. Setelah memastikan nyonya mudanya


telah tertidur, pelayan itu membereskan mamngkuk dan gelas, dia bergegas menuju


ke bawah kembali. Nana juga tidur siang mengistirahatkan tubuhnya yang kurang


tidur karena merawat Alin. Ya dia semata-matajuga melaksanakan perintah


suaminya dan tidak ingin terkena hukuman.


Ternyata hari kepulangan Kenzo terjadwal


lebih awal. Misi mereka selesai lebih awal dari waktu perkiraan, semua tentara


di bawah komano kapten Kenzo bersorak gembira. Dia dan rekan-rekan


seperjuangannya tengah bersiap untuk pulang ke negara asal mereka. Rindu yang


meluap akan bertemu dengan muaranya, wajah-wajah berbinar walau tertutup debu


dan darah kering. Mereka tidak akan mandi di sana, mereka akan bersih-bersih


ketika sudah sampai markas komando pusat militer. Pesawat telah siap terbang, para


tentara tersebut dan juga kapten Kenzo berlarian memasuki pesawat militer itu


setelah upacara perpisahan dengan pasukan tentara negara lain.


Penerbangan memakan waktu 10 jam, hal ini


dimanfaatkan semua tentara untuk tidur sejenak setelah berhari-hari kurang


tidur. Kenzo sudah tidak sabar melihat wajah istrinya yang selalu tersenyum itu


dan juga calon anaknya. Glen yang duduk di sebelahnya mengernyit heran menatap


sahabatnya yang melamun sambil tersenyum sendiri. Dia pun menepuk bahu


sahabatnya dan menyadarkan Kenzo dari lamunannya. Karena suara bising mesin


pesawat mereka tidak jadi berbincang dan kenzo larut dalam lamunanya kembali.


Glen hanya bisa menduga jika Kenzo tengah menahan rindunya kepada sang istri


dan calon anaknya dan tebakannya memang benar. Glen jadi teringat kepada


istrinya, Sarah. Ada sedikit rindu di hatinya, memang sampai sekarang Glen


belum sepenuhnya mencintai gadis itu, entahlah sampai kapan. Sarahpun masih


dengan sabar menunggu suaminya untuk menerima dirinya. Perhatian kecil dari Glen


merupakan berkah terbesar untuk Sarah saat ini. Ya Glen memang mulai memberikan


perhatiannya kepada Sarah, tetapi itu hanya karena Glen merasa bersalah dan


kasihan. Sarah tahu itu, tetapi dia tidak mau menganggapnya demikian. Dia


mensugesti hatinya, jika itu adalah perhatian tulus dari Glen.


Kenzo sengaja tidak mengabari keluarganya


tentang kepulangannya. Dia ingin memberi surprise kepada istrinya, penerbangan


yang memakan waktu 10 jam terasa sangat lama. Dia tidak bisa memejamkan matanya


barang satu menit. Sedangkan semua rekan-rekannya telah terjatuh ke alam mimpi,


menyisakan dirinya yang masih terjaga. Dia masih tenggelam dalam lamunan


tentang istrinya. Wajah cantik yang selalu tersenyum, mata berbinar setiap


mereka bersama, semua itu memenuhi pikiran Kenzo. Istri kecilnya itu telah


menjadi seseorang yang sangat berarti baginya. Semua tentangnya selalu menjadi


prioritas untuk Kenzo.


Akhirnya Kenzo beserta rekan-rekannya sampai


juga di pangkalan udara militer. Mereka pun melanjutkan perjalanan menuju markas


komando militer pusat di ibu kota untuk melapor. Mereka semua disambut hangat


oleh jajaran pimpinan militer dan mendapat penghargaan. Setelah upacara


penyambutan selesai, mereka segera bergegas ke asrama masing-masing untuk


membersihkan diri. Sementara Kenzo menuju ke kantornya, dengan cepat dia mandi


dan memakai kaos militer dan bergegas menuju ke villa menemui istrinya. Waktu


menunjukkan jam makan malam sewaktu Kenzo kembali ke villa. Karena alin masih


sakit, dia makan di kamarnya dengan bubur. Jonathan dan Nana yang tengah makan


malam terkejut mlihat Kenzo dengan senyum lebarnya berjalan ke arah mereka.


Ketika dia melihat ke arah kursi yang sering di duduki oleh istrinya kosong,


keningnya mengeryit.


“Kemana istiku kak?” tanya Kenzo.


“Em Alin makan di kamarnya, dia sakit sejak


kemarin, kata dokter Sofie dia terkena flu,” kata Jonathan.


“Apa? Sakit? Kok kakak nggak ngabarin aku


sih?” tanya Kenzo agak emosi.


“Dengan watak Alin apakah aku bisa meghubungi


mu? Lagian di sini ada aku ada Nana yang merawatnya,” kata Jonathan.


“Hm ya sudah aku ke atas dulu ya kak,” kata


Kenzo.


“Makan dulu! Kamu baru sampai dan kakak yakin


kamu belum makan,” kata Jonathan.


“Aku makan di atas saja kak, suruh pelayan


untuk membawakan makanan ke kamarku ya kak!” kata Kenzo sambil berlari menuju


lift.


“Oh iya pelayan, tolong bawakan makanan untuk


Kenzo ke atas ya, segera!” perintah Jonathan kepada pelayan.


Kenzo berlari ketika keluar dari lift.


Hatinya tak tenang sebelum dia melihat Alin. Apalagi istrinya itu sedang sakit.


Ketika dia membuka pinru terlihatlah Alin yan seang meneguk segelas air putih


selepas meminum obatnya. Alin beralih menatap ke arah pintu karena mendengar


pintu yang terbuka agak kasar. Matanya membulat melihat suaminya telah kembali lebih


awal. Kenzo meletakkan ranselnya ke sofa dan segera memeluk istri kecilnya.


Pelayan segera membereskan mangkuk dan gelas serta langsung buru-buru keluar.


Takut menganggu pasangan yang tengah saling menumpahkan rindu.


“Sayang, kenapa bisa sakit sih?” tanya Kenzo.


“Namanya juga manusia,” jawab Alin sekenanya,


dia masih larut dalam haru bertemu dengan suaminya.


Kenzo hanya bisa terkekeh-kekeh mendengar


jawaban istrinya. “Makanya kalo dibilangin nggak usah bandel, nakal lagi, nurut


sama suami dan kakak mu!”


“Iya-iya suami bawelku, lagian udah hampir


sembuh kok, demamnya udah turun, cuma pusing dan bersinnya yang masih


menyerang,” kata Alin sambil megusap hidugnyayan masih merah.


“Ya udah banyak-banyak istirahat biar cepet


sembuh,” kata Kenzo sambil mengusap kepala Alin.


Tok,tok,tok.


Kenzo membuka pintu dan terlihatlah kepala


pelayan membawa makanan. Kenzo mempersilahkan kepala pelayan untuk masuk dan


menata makanannya ke meja. Setelah selesai, kepala pelayan pamit untuk ke


bawah. Kenzo pun mulai memakan makanannya dengan ditatap oleh istrinya. Sudah 2


hari Alin hanya makan bubur asi saja dan beberapa potong buah, melihat suaminya


makan makanan yang lezat, membuatnya menelan ludah.


“Makanya jangan bandel, jadi nggak bisa makan


semua ini kan? Salah sendiri,” kata Kenzo sambil menikmati makanannya sementara


Alin hanya bisa cemberut.


“Jadi kamu pulang cuma mau bully aku?” tanya


Alin kesal.


“Enggak kok, aku cuma mau kasih pelajaran


penting buat istri nakalku,” kata Kenzo santai.


“Ish nggak perhatian banget jadi suami, istri


lagi sakit, bukannya di perhatiin malah dibuat kesal,” omel Alin.


Kenzo tidak menyahuti omelan istrinya, dia


menyelesaikan makannya dengan cepat. Kemudian Kenzo beranjak ke ranjang dan


memeluk Alin yang masih mengomel. Alinpun terdiam dan dia membalas pelukan dari


suaminya. Rasa kesal dan jengkelnya seketika tergantikan dengan perasaan


nyaman. Harum tubuh Kenzo memenuhi indra penciuman Alin. Rasa rindu yang


tertahankan selama ini telah terbayar. Kenzo membelai kepala istrinya dengan


lembut dan mengusap perut Alin yang mulai buncit.


“Udah marahnya? Besok kita jalan-jalan ya?”


tanya Kenzo kepada istrinya.


“Hm, mau jalan kemana?” tanya Alin.


“Terserah kamu sayang, kemanapun kamu mau


pergi,” kata Kenzo sambil mencium pucuk kepala Alin.


“Em, ke gunung enak kali ya? Suasananya pasti


sejuk, sudah lama aku merindukan suasana pegunungan,” kata Alin.


“Kamu kan lagi hamil sayang, bahaya dong kalo


main ke gunung, gimana kalo kita liburan keluarga ke Jepang?” tanya Kenzo.


“Boleh juga, apalagi rame-rame, tambah seru,


ya sudah ke sana saja,” kata Alin.


“Tapi tunggu kamu sembuh dulu ya, nanti kita


konsultasi sama dokter Sofie dulu, oh iya bukankah minggu depan kamu ada jadwal


periksa kan?” tanya Kenzo.


“Iya, aku udah buat janji dengan dokter


Sofie,” kata Alin.


“Baiklah kita akan berangkat setelah


pemeriksaan kamu saja sayang, sekarang udah malam ayo kita tidur, nggak baik


ibu hamil tidur larut malam,” kata Kenzo sambil merebahkan tubuhnya.


Bahu Kenzo menjadi sandaran untuk Ali tidur.


Tak butuh waktu lama, Alin telah jatuh ke alam mimpi. Pelukan hangat suaminya


sukses membuat tidur Alin sangat nyenyak. Dengan kasih sayang Kenzo membelai


pipi istriya kemudian menaikkan selimut hingga batas dada. Mereka berdua


terlelap dibuai oleh mimpi indah masing-masing. Hingga sinar sang mentari


membangunkan mereka berdua.


Bersambung.