The Perfect Military Husband

The Perfect Military Husband
Chapter 27



Dadanya berdenyut dengan cepat, matanya terus terpaku ke arah seorang wanita dengan wajah pucat, mata tertutup rapat namun bibirnya terus bergerak, bergumam. Dengan langkah gemetar Kenzo melangkah memasuki


kamarnya dan menghampiri istrinya, dia langsung terduduk di sebelah Alin dengan cemas. Baru sehari dia meninggalkan istrinya, kenapa malah terjadi hal yang menyebabkan istrinya seperti ini. Kenzo langsung menatap tajam ke arah kakaknya dan juga orang tuanya, menuntut penjelasan. Tuan Xu tertegun mendapati tatapan putra bungsunya yang terasa menusuk dan penuh amarah. Belum pernah Kenzo melayangkan tatapan seperti itu kepadanya. Pikiran tuan Xu melayang memikirkan kemungkinan yang sebenarnya terjadi. Melihat kemarahan Kenzo yang dia tunjukkan melalui tatapan tajamnya.


‘Astaga apakah wanita itu adalah...’ batin tuan Xu sambil membelalakkan matanya.


Tak berapa lama, Alin tersadar dan langsung memeluk suaminya engan erat. Tangannya bahkan gemetar ketika memeluk pinggang Kenzo. Alin juga menangis sejadi-jadinya dan terus menggumamkan kata ‘ayah’ dan ‘jangan pukul lagi’. Kenzo beralih lagi kepada kakaknya yang wajahnya babak belur dan juga darah yang telah mengering menghiasi bibir dan juga kemejanya. Kemudian dia beralih kembali kepada orang tuanya, Kenzo mulai mengerti apa yang terjadi. Sang dokter yang tahu jika keberadaannya sudah tidak diperlukan segera memberesi peralatannya dan pamit.


“Kenapa ayah melakukan ini?” tanya Kenzo dengan nada dingin.


Sang ayah masih terdiam begitu juga ibunya. “Sudahkah ayah puas? Apakah ayah tidak bertanya terlebih dahulu? Kebiasaan buruk ayah inilah yang paling Kenzo benci.”


“Dan kamu kakakku, apa kakak tidak mampu menjelaskan semua masalah ini dan malah berdiam diri ayah menghajar mu dan membiarkan Alin melihat hal ini, kakak pasti sudah tau jika Alin sangat takut melihat darah dan juga kekerasan, traumanya belum sembuh yang bahkan luka fisiknya saja belum pulih, sekarang kakak membiarkan dia teringat dengan traumanya melalui kejadian ini,” kata Kenzo dengan nada tinggi.


“Maafkan kami nak,” kata sang ibu yang merasa sangat bersalah karena tidak mendengarkan perkataan Alin untuk menghentikan suaminya.


“Apakah ayah sebegitu ingin tahu kenapa aku selalu menolak pertunangan dengan Tania Ou? Baiklah hari ini akan aku jelaskan alasan penolakanku, alasannya adalah karena aku telah memiliki seseorang yang menempati tempat spesial di hatiku ayah, dia adalah cinta pertamaku, Alin Gu, putri dari sahabat baik mu ketika kalian masih menjadi jenderal,” kata Kenzo dengan tatapan menusuk dan memeluk erat istrinya yang masih terisak.


Semua orang yang berada di sana terbelalak kecuali Jonathan, ayahnya sangat terkejut mendengar fakta yang terucap dari putra bungsunya. Sang ayah langsung lunglai tak mampu menahan rasa bersalah dan suka cita yang menyerangnya. Jadi wanita yang dia anggap wanita murahan adalah putri dari sahabat baiknya yang telah meninggal 10 tahun yang lalu. Wanita yang dulu ayahnya titipkan kepada dirinya untuk dijaga dan sekarang malah membuatnya ketakutan dan teringat dengan tragedi yang dia alami.


“Kenapa kamu tidak memberitahu ayah tentang Alin lebih awal?” tanya sang ayah.


“Ayah, situasi yang kami alami tidak memungkinkan untuk memberitahu kalian, posisi Alin sangat sulit saat itu, banyak yang mengejar dirinya, ingatan masa kecilnya hilang dan dia tidak mengenal siapapun di ibu kota, beruntung takdir membuat kami bertemu kembali, aku tidak bisa membayangkan jika yang menemukan dirinya bukan aku dan juga beberapa waktu kemarin dia mengalami penculikan dan penyiksaan yang melukai psikisnya lebih dalam, alu sebagai suaminya hanya bisa meminimalkan resiko terlebih dahulu dan merahasiakan keberadaan Alin,” jelas Kenzo dengan ekspresi tak berdaya.


“Memangnya siapa yang mengejar Alin nak?” tanya sang ibu.


“Banyak bu, dia dulu di selamatkan oleh kakeknya ketika detik-detik sebelum rumah dinas ayahnya meledak, dia hidup terkekang dan tidak memiliki kebebasan sama sekali, dia tidak di izinkan mempunyai teman selain yang kakeknya pilihkan, intinya semua tentang hidup Alin di atur oleh kakeknya bahkan pernikahannya, jadi Alin memilih untuk melarikan diri, hal itu membuat kakeknya murka dan berusaha keras untuk menemukan dan membawa Alin pergi,” kata Kenzo.


“Apa kamu tahu identitas kakeknya? Sehingga kamu memilih menyembunyikan Alin dengan sebegitunya?” tanya ayahnya.


“Baiklah ayah tahu apa yang harus dilakukan, maafkan ayah dan ibu mu yang telah salah paham dan membuat Alin menderita karena hal ini,” kata ayahnya sambil menepuk pundak putranya.


“Jadi akhirnya putraku telah menemukan pelabuhan terakhirnya, akhirnya ibu mu ini bisa melepas satu beban yang terus menindih hatiku ini dan sekarang giliran mu Jo, kapan kamu juga akan mengangkat beban ibu yang satunya lagi?” tanya sang ibu sambil menatap tajam putra sulungnya.


“Eh-emm aku janji ibu dalam waktu satu bulan dari sekarang aku akan membawa calon menantu untuk mu bu, jadi bersabarlah,” ucap Jonathan sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


“Baiklah-baiklah, ayo ibu akan mengobati luka mu, mari kita tinggalkan pasangan sejoli ini saling melepas rindu,” kata sang ibu sambil menarik lengan Jonathan dan diikuti oleh ayahnya.


Kenzo beralih ke arah Alin yang masih bersembunyi di balik dada bidangnya. Dia mengusap kepala istrinya dengan lembut. Akhirnya Alin mendongakkan kepalanya dan menatap suaminya. Rasa tenang dan aman seketika langsung menyadarkannya dari trauma dan ingatan-ingatan buruk yang berputar-putar di kepalanya. Wajah tampan nan teduh itu mampu membuat hati Alin langsung lega dan tenang. Dengan perlahan Alin membimbing tangan Kenzo untuk mengelus perutnya. Memberi pertanda. Kenzo menatap istrinya untuk beberapa lama dan akhirnya dia mengerti, sebentar lagi dia akan menjadi seorang ayah. Betapa bahagianya Kenzo yang akan menjadi seorang ayah, dia mengusap pelan perut sang istri dan tak henti-hentinya Kenzo tersenyum. Kenzo merebahkan Alin kembali dan mencium kening serta perut istrinya.


“Ayah akan mandi dulu ya sayang,” ucap Kenzo di perut Alin.


Alin hanya tersenyum dan mengusap rambut Kenzo. Suaminya itu beranjak menuju kamar mandi sementara Alin menunggu dengan setia di ranjangnya. Kenzo mandi dengan tergesa-gesa seakan istrinya dan calon anaknya akan lari. Setelah selesai, dia memakai piyamanya dan segera berbaring di sisi Alin sambil tangannya tak henti berada di perut istrinya. Sore itu Kenzo menemani istinya untuk tidur sampai makan malam tiba. Alin juga menjadi tambah manja dan membenamkan wajahnya ke dada bidang suaminya dan sesekali berada di ceruk leher sang suami. Aroma tubuh Kenzo yang harum dan menyegarkan seakan menjadi candu bagi Alin.


Ketika waktu makan malam tiba, pasangan suami istri itu dibangunkan oleh suara lembut ibunya Kenzo. Setelah membasuh wajah, mereka berdua turun ke bawah. Alin berjalan di belakang suaminya ketika tatapan matanya bertemu dengan ayahnya Kenzo. Alin masih takut dengan kejadian beberapa waktu yang lalu yang membuatnya mencengkram piyama belakang suaminya. Kenzo pun meraih tangan istrinya dan menenangkannya. Semua akan baik-baik saja. Alin dibimbing Kenzo untuk duduk sementara pandangannya terus saja menunduk. Sang ayah mertua, memaklumi sikap Alin terhadapnya dan berusaha mengulas senyum untuk memecah kecanggungan.


“Anakku, maafkan ayah mu ini yang membuat mu takut, ayah salah paham tadi, apa kamu mau memaafkan ayah?” tanya ayah mertua kepada Alin.


“Ini bukan salah ayah kok, Alin tahu jika ini akan terjadi, maafkan Alin yang tidak mengontrol emosi,” kata Alin.


“Tidak nak, ini adalah kesalahan ayah dan ibu yang telah menuduh mu dan tidak mengenali mu, mulai sekarang jangan lagi takut dengan ayah, aku juga adalah ayah mu, dulu sebelum ayah mu pergi dia mempercayakan diri mu padaku dan sudah sepantasnya aku memegang tanggung jawab ini sekarang dan sampai kapan pun,” kata sang ayah.


Hati Alin berdesir, hatinya kembali mengenal cinta seorang ayah terhadap dirinya. Sosok ayahnya seperti muncul di diri ayah mertuanya. Wajah mereka berdua yang sangat teduh membuat Alin merasakan bahwa ayahnya juga berada di dekatnya.Tak terasa air mata telah lolos dari tanggulnya. Perasaan suka cita membuncah menghiasi makan malam keluarga saat itu. Alin tak lagi merasa takut terhadap ayah mertuanya sekarang, dia menatap wajah yang sudah menunjukkan guratan –guratan tanda umurnya telah menua. Sosok laki-laki paruh baya itu kini tampak mirip dengan ayahnya jika dia masih hidup.


“Ayah,” ucapnya.


Bersambung.