
Setelah mendapatkan ancaman dari Kenzo pasangan tua itu
segera bergegas pergi. Mereka sebenarnya juga takut melihat kemarahan Kenzo,
tetapi mereka menguatkan diri mereka agar tidak gemetar. Keangkuhan dan harga
diri lebih penting. Mereka segera pergi dari sana dengan hati dongkol, kenapa
tidak sejak tadi saja mereka berteriak dan malah lebih memilih kelaparan dan
kehausan. Sungguh konyol. Alin beringsut kembali ke dalam, menuju ruang makan,
diikuti oleh suaminya dan juga Jonathan serta Nana. Mereka menghela nafas
panjang, tidak habis pikir dengan kelakuan mereka. Alin kembali meraih sendok
puding dan mulai menghabiskan pudingnya sambil melamun. Setelah ini ada hal apa
lagi yang akan terjadi?
Setelah kejadian itu, keluarga Ou tidak lagi menganggu
keluarga Xu. Mereka telah memutus pertemanan dan kerja sama dengan keluarga Xu,
Jonathan malah senang setelah kontrak kerja sama di batalkan. Keluarga Ou juga
perlahan-lahan mengalami krisis hingga akhirnya gulung tikar. Keluarga itu pindah
ke pinggiran kota, rumah besar mereka telah di sita dan juga beberapa aset
lainnya. Musnah sudah nama besar Ou dalam lingkaran bisnis negara sekaligus
terungkapnya semua hal busuk yang dilakukan keluarga itu di balik layar. Bisnis
bangkrut, reputasi hancur serta dikejar-kejar wartawan hingga polisi membuat
keluarga itu memilih pindah ke perkampungan dengan identitas baru. Tania Ou
sejak kejadian di Jepang juga tidak pernah kembali lagi ke negara asalnya. Dia juga
tidak tahu menahu tentang hancurnya bisnis keluarga, semenjak ayahnya
menghubungi Tania dan memutuskan hubungan kekeluargaan dengannya.
Akeno juga telah mendapatkan hukumannya, tangan dan kakinya
dipatahkan oleh ayahnya kemudian dia diusir dari rumah. Menjadi tunawisma cacat
dan luntang-lantung di jalanan Jepang. Awalnya Akeno bersama dengan Tania,
tetapi karena gadis itu tidak tahan lagi dengan keadaan Akeno yang cacat, Tania
memilih meninggalkan Akeno. Tania yang kebingungan mau tinggal di mana akhirnya
memutuskan untuk menjadi gadis bar dengan bayaran yang lumayan. Karena
kecantikannya, lambat laun dia di kenal oleh para pengusaha Jepang yang ingin
mencari kepuasan hasrat birahinya. Tania Ou berakhir menjadi pelacur dan
melayani para pengusaha kaya yang rata-rata berumur 50 tahunan, bertubuh gendut
dengan orientasi seksual yang berbeda-beda. Tania mulai menderita menjalani
lakon barunya itu, berulang kali dia berusaha kabur, tetapi bosnya selalu
mempunyai cara untuk menangkap Tania kembali. Pekerjaan itu terpaksa Tania
lakoni selama kurang lebih 5 tahun, pekerjaan yang awalnya dia bayangkan akan
menapatkan uang banyak dan juga bersenang-senang, semua khayalan itu musnah
sudah. Dia dipaksa bosnya melayani para pemesan itu sampai 5-7 kali sehari,
badannya serasa remuk redam tanpa memperoleh jam istirahat yang cukup.
Semuanya berjalan normal kembali, Alin juga berusaha melupakan
kejadian itu dengan menyibukkan diri. Sekarang selain menonton film di balkon,
Alin mempunyai rutinitas baru. Sudah 2 minggu Alin belajar merajut dengan
seorang pelayan senior. Kegiatan baru itu berhasil membuat Alin lambat laun
melupakan peristiwa saat di Jepang dan juga mengusir kebosanan karena tidak
diperbolehkan keluar oleh suaminya. Nana pun tidak ketinggalan, dia juga bosan
tidak kemana-mana dan tidak melakukan apapun. Dulu sebelum Nana menjadi
istrinya Jonathan, setiap seminggu sekali atau sebulan sekali dia pasti akan
terbang ke beberapa negara menjalankan misi berbahaya, pistol, perkelahian, dan
juga darah menjadi teman setianya dulu. Sekarang karena statusnya telah
berbeda, Nana merasakan hidupnya kosong dan hambar, jonathan telah melarangnya
untuk masuk dan terjun kembali ke pekerjaannya sebelumnya. Itu adalah perintah
mutlak. Nana kini tidak berani lagi walau hanya menyentuh pistol suaminya. Kini
dia berada di balkon bersama Alin merajut benang wol dan berlatih membuat kaus
kaki. Awalnya dia tampak kesulitan karena seumur-umur dia baru kali ini melihat
alat jahit dan alat merajut serta benang.
Sesekali Nana dan Alin tertawa tatkala rajutan mereka salah
arah atau salah merangkainya. Pelayan senior tersebut dengan sabar mengajari
kedua nyonya mudanya merajut. Setidaknya dengan melatih kedua nyonya muda,
pelayan senior itu bisa sekalian istirahat dari tugasnya sehari-hari.
Lumayanlah bisa duduk-duduk barang 3 jam melepas penat. Di minggu ke 4 akhirnya
kaus kaki yang di rajut oleh Alin dan Nana selesai, mereka dengan bangga
menunjukkan kaus kaki itu kepada suami masing-masing ketika pulang kerja.
Bahkan Kenzo sampai memakai kaus kaki itu saat ke markas militer, untung tidak
kelihatan karena dia memakai sepatu bot militer. Tetapi karena bahan kaus kaki
dia memantau latihan tentara. Sersan Glen yang melihat Kaptennya seperti tidak
nyaman dengan sepatunya bertanya.
“Kenapa kapt?” tanya sersan Glen.
“Nggak papa, hanya kakiku sedikit panas saja,” kata Kenzo
sambil masih awas memantau.
“Aku lihat kaki mu sepertinya tidak nyaman, apakah ada
sesuatu di dalam sepatu mu?” tanya sersan Glen lagi.
“Aku rasa tidak, hanya saja kaus kakiku hari ini sedikit
tebal,” ucap Kenzo.
“Ha? Sedikit tebal? Aku tidak mengerti maksud mu kapt,” ucap
sersan Glen kebingungan, bukankah semua tentara memakai kaus kaki dengan bahan
yang sama?
“Sudah diamlah, perhatikan ke depan, kita harus pastikan
latihan hari ini berjalan lancar dan tidak ada yang melakukan kesalahan.”
Sersan Glen pun akhirnya menutp mulutnya rapat-rapat,
kembali memantau para tentara yang sedang berlatih. Hari-hari beriktnya
berjalan seperti biasa, kapten Kenzo belum menerima misi untuk bulan ini dan
beberapa bulan ke depan. Dia kini sedang fokus melath para tentara yang baru
bergabung ke pasukannya. Jenderal telah memberikan hak penuh atas
tentara-tentara baru itu kepada kapten Kenzo
untuk dilatih lagi dengan peraturan dan cara kapten Kenzo sendiri.
Usia kandungan Alin telah memasuki bulan ke 5. Perutnya
telah terlihat membuncit, badanya lebih berisi bahkan di beberapa bagian lebih
menonjol. Kenzo semakin gemas melihat perubahan istrinya, karena Alin
mengandung anak kembar, jadi perutnya terlihat lebih besar dibandingkan dengan
ibu hamil yang hanya mengandung 1 bayi. Kebiasaanya ngidam saat tengah malam
ternyata belum sembuh, Kenzo setiap jam 1-2 dini hari harus berkeliling kota
mencari apapun yang istrinya mau, Jonathan pun tidak ketinggalan. Jika Jonathan
tidak ikut kenzo, Alin akan marah dan ngambek. Jonathan hanya bisa pasrah dan
ikut adiknya berkeliling di pagi buta bahkan sampai tertidur lagi di dalam
mobil.
Pagi itu, kabar bahagia menghampiri villa pribadi Jonathan.
Nana yang sejak pagi mual-mual dan pingsan, setelah di periksa oleh dokter
ternyata Nana sedang hamil 3 minggu. Demi mendengar berita itu langsung dari
Jonathan, ayah dan ibunya segera memacu mobil dengan kecepatan tinggi menuju
villa putra mereka. Nyonya Xu menangis terharu, lengkap sudah kebahagiaan
mereka, mereka akan mendapat 3 cucu sekaligus. Sungguh tidak ada hal yang lebih
membahagiakan daripada kabar kehamilan Nana. Alin juga menangis mendengar kabar
itu, dia langsung memeluk kakak iparnya. Villa pagi itu dipenuhi tangis haru
dan bahagia, para pelayan juga turut senang dan mendoakan yang terbaik untuk
kedua nyonya mudanya yang tengah mengandung.
Maka dimulailah peran Jonathan sebagai suami dan calon ayah
siaga, bersama Kenzo dia belajar. Nana ternyata juga punya kebiasaan ngidam
sama dengan Alin. Maka Jonathan yang biasanya hanya menemani Kenzo berkeliling
dengan malas-malasan, kini dia menjadi semangat bahkan terkadang dia yang
menyetir mobil menggantikan Kenzo.
“Kakak, apa kau menyesal telah mengeluh ketika menemaniku
mencari apapun untuk Alin ketika dia ngidam?” tanya Kenzo.
“Ya kau benar, akhirnya aku merasakan apa yang kamu rasakan
selama ini, alih-alih membuatku kesal ternyata perasaan ini membuatku bahagia,
kau benar adikku, kini aku menyesali perkataan dulu,” kata Jonathan sambil
nyengir, dia mengebut di jalanan sepi karena memang masih tengah malam.
“Jadi mulai sekarang berhentilah mengolok-olokku soal ini
lagi,” kata Kenzo sambil memejamkan matanya.
Jonathan tidak menyahuti
perkataan adiknya. Dia masih fokus memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi,
menelusuri jalanan ibu kota yang lengang namun masih menampilkan nadi-nadi
kehidupan. Matanya
awas menatap setiap restoran, apakah masih buka atau sudah tutup. Dia juga
menatap ke beberapa pedagang kaki lima yang masih mangkal, berharap menemukan
apa yang dia cari.
Bersambung.