The Perfect Military Husband

The Perfect Military Husband
Chapter 48



Setelah mendapatkan ancaman dari Kenzo pasangan tua itu


segera bergegas pergi. Mereka sebenarnya juga takut melihat kemarahan Kenzo,


tetapi mereka menguatkan diri mereka agar tidak gemetar. Keangkuhan dan harga


diri lebih penting. Mereka segera pergi dari sana dengan hati dongkol, kenapa


tidak sejak tadi saja mereka berteriak dan malah lebih memilih kelaparan dan


kehausan. Sungguh konyol. Alin beringsut kembali ke dalam, menuju ruang makan,


diikuti oleh suaminya dan juga Jonathan serta Nana. Mereka menghela nafas


panjang, tidak habis pikir dengan kelakuan mereka. Alin kembali meraih sendok


puding dan mulai menghabiskan pudingnya sambil melamun. Setelah ini ada hal apa


lagi yang akan terjadi?


Setelah kejadian itu, keluarga Ou tidak lagi menganggu


keluarga Xu. Mereka telah memutus pertemanan dan kerja sama dengan keluarga Xu,


Jonathan malah senang setelah kontrak kerja sama di batalkan. Keluarga Ou juga


perlahan-lahan mengalami krisis hingga akhirnya gulung tikar. Keluarga itu pindah


ke pinggiran kota, rumah besar mereka telah di sita dan juga beberapa aset


lainnya. Musnah sudah nama besar Ou dalam lingkaran bisnis negara sekaligus


terungkapnya semua hal busuk yang dilakukan keluarga itu di balik layar. Bisnis


bangkrut, reputasi hancur serta dikejar-kejar wartawan hingga polisi membuat


keluarga itu memilih pindah ke perkampungan dengan identitas baru. Tania Ou


sejak kejadian di Jepang juga tidak pernah kembali lagi ke negara asalnya. Dia juga


tidak tahu menahu tentang hancurnya bisnis keluarga, semenjak ayahnya


menghubungi Tania dan memutuskan hubungan kekeluargaan dengannya.


Akeno juga telah mendapatkan hukumannya, tangan dan kakinya


dipatahkan oleh ayahnya kemudian dia diusir dari rumah. Menjadi tunawisma cacat


dan luntang-lantung di jalanan Jepang. Awalnya Akeno bersama dengan Tania,


tetapi karena gadis itu tidak tahan lagi dengan keadaan Akeno yang cacat, Tania


memilih meninggalkan Akeno. Tania yang kebingungan mau tinggal di mana akhirnya


memutuskan untuk menjadi gadis bar dengan bayaran yang lumayan. Karena


kecantikannya, lambat laun dia di kenal oleh para pengusaha Jepang yang ingin


mencari kepuasan hasrat birahinya. Tania Ou berakhir menjadi pelacur dan


melayani para pengusaha kaya yang rata-rata berumur 50 tahunan, bertubuh gendut


dengan orientasi seksual yang berbeda-beda. Tania mulai menderita menjalani


lakon barunya itu, berulang kali dia berusaha kabur, tetapi bosnya selalu


mempunyai cara untuk menangkap Tania kembali. Pekerjaan itu terpaksa Tania


lakoni selama kurang lebih 5 tahun, pekerjaan yang awalnya dia bayangkan akan


menapatkan uang banyak dan juga bersenang-senang, semua khayalan itu musnah


sudah. Dia dipaksa bosnya melayani para pemesan itu sampai 5-7 kali sehari,


badannya serasa remuk redam tanpa memperoleh jam istirahat yang cukup.


Semuanya berjalan normal kembali, Alin juga berusaha melupakan


kejadian itu dengan menyibukkan diri. Sekarang selain menonton film di balkon,


Alin mempunyai rutinitas baru. Sudah 2 minggu Alin belajar merajut dengan


seorang pelayan senior. Kegiatan baru itu berhasil membuat Alin lambat laun


melupakan peristiwa saat di Jepang dan juga mengusir kebosanan karena tidak


diperbolehkan keluar oleh suaminya. Nana pun tidak ketinggalan, dia juga bosan


tidak kemana-mana dan tidak melakukan apapun. Dulu sebelum Nana menjadi


istrinya Jonathan, setiap seminggu sekali atau sebulan sekali dia pasti akan


terbang ke beberapa negara menjalankan misi berbahaya, pistol, perkelahian, dan


juga darah menjadi teman setianya dulu. Sekarang karena statusnya telah


berbeda, Nana merasakan hidupnya kosong dan hambar, jonathan telah melarangnya


untuk masuk dan terjun kembali ke pekerjaannya sebelumnya. Itu adalah perintah


mutlak. Nana kini tidak berani lagi walau hanya menyentuh pistol suaminya. Kini


dia berada di balkon bersama Alin merajut benang wol dan berlatih membuat kaus


kaki. Awalnya dia tampak kesulitan karena seumur-umur dia baru kali ini melihat


alat jahit dan alat merajut serta benang.


Sesekali Nana dan Alin tertawa tatkala rajutan mereka salah


arah atau salah merangkainya. Pelayan senior tersebut dengan sabar mengajari


kedua nyonya mudanya merajut. Setidaknya dengan melatih kedua nyonya muda,


pelayan senior itu bisa sekalian istirahat dari tugasnya sehari-hari.


Lumayanlah bisa duduk-duduk barang 3 jam melepas penat. Di minggu ke 4 akhirnya


kaus kaki yang di rajut oleh Alin dan Nana selesai, mereka dengan bangga


menunjukkan kaus kaki itu kepada suami masing-masing ketika pulang kerja.


Bahkan Kenzo sampai memakai kaus kaki itu saat ke markas militer, untung tidak


kelihatan karena dia memakai sepatu bot militer. Tetapi karena bahan kaus kaki


dia memantau latihan tentara. Sersan Glen yang melihat Kaptennya seperti tidak


nyaman dengan sepatunya bertanya.


“Kenapa kapt?” tanya sersan Glen.


“Nggak papa, hanya kakiku sedikit panas saja,” kata Kenzo


sambil masih awas memantau.


“Aku lihat kaki mu sepertinya tidak nyaman, apakah ada


sesuatu di dalam sepatu mu?” tanya sersan Glen lagi.


“Aku rasa tidak, hanya saja kaus kakiku hari ini sedikit


tebal,” ucap Kenzo.


“Ha? Sedikit tebal? Aku tidak mengerti maksud mu kapt,” ucap


sersan Glen kebingungan, bukankah semua tentara memakai kaus kaki dengan bahan


yang sama?


“Sudah diamlah, perhatikan ke depan, kita harus pastikan


latihan hari ini berjalan lancar dan tidak ada yang melakukan kesalahan.”


Sersan Glen pun akhirnya menutp mulutnya rapat-rapat,


kembali memantau para tentara yang sedang berlatih. Hari-hari beriktnya


berjalan seperti biasa, kapten Kenzo belum menerima misi untuk bulan ini dan


beberapa bulan ke depan. Dia kini sedang fokus melath para tentara yang baru


bergabung ke pasukannya. Jenderal telah memberikan hak penuh atas


tentara-tentara baru itu kepada  kapten Kenzo


untuk dilatih lagi dengan peraturan dan cara kapten Kenzo sendiri.


Usia kandungan Alin telah memasuki bulan ke 5. Perutnya


telah terlihat membuncit, badanya lebih berisi bahkan di beberapa bagian lebih


menonjol. Kenzo semakin gemas melihat perubahan istrinya, karena Alin


mengandung anak kembar, jadi perutnya terlihat lebih besar dibandingkan dengan


ibu hamil yang hanya mengandung 1 bayi. Kebiasaanya ngidam saat tengah malam


ternyata belum sembuh, Kenzo setiap jam 1-2 dini hari harus berkeliling kota


mencari apapun yang istrinya mau, Jonathan pun tidak ketinggalan. Jika Jonathan


tidak ikut kenzo, Alin akan marah dan ngambek. Jonathan hanya bisa pasrah dan


ikut adiknya berkeliling di pagi buta bahkan sampai tertidur lagi di dalam


mobil.


Pagi itu, kabar bahagia menghampiri villa pribadi Jonathan.


Nana yang sejak pagi mual-mual dan pingsan, setelah di periksa oleh dokter


ternyata Nana sedang hamil 3 minggu. Demi mendengar berita itu langsung dari


Jonathan, ayah dan ibunya segera memacu mobil dengan kecepatan tinggi menuju


villa putra mereka. Nyonya Xu menangis terharu, lengkap sudah kebahagiaan


mereka, mereka akan mendapat 3 cucu sekaligus. Sungguh tidak ada hal yang lebih


membahagiakan daripada kabar kehamilan Nana. Alin juga menangis mendengar kabar


itu, dia langsung memeluk kakak iparnya. Villa pagi itu dipenuhi tangis haru


dan bahagia, para pelayan juga turut senang dan mendoakan yang terbaik untuk


kedua nyonya mudanya yang tengah mengandung.


Maka dimulailah peran Jonathan sebagai suami dan calon ayah


siaga, bersama Kenzo dia belajar. Nana ternyata juga punya kebiasaan ngidam


sama dengan Alin. Maka Jonathan yang biasanya hanya menemani Kenzo berkeliling


dengan malas-malasan, kini dia menjadi semangat bahkan terkadang dia yang


menyetir mobil menggantikan Kenzo.


“Kakak, apa kau menyesal telah mengeluh ketika menemaniku


mencari apapun untuk Alin ketika dia ngidam?” tanya Kenzo.


“Ya kau benar, akhirnya aku merasakan apa yang kamu rasakan


selama ini, alih-alih membuatku kesal ternyata perasaan ini membuatku bahagia,


kau benar adikku, kini aku menyesali perkataan dulu,” kata Jonathan sambil


nyengir, dia mengebut di jalanan sepi karena memang masih tengah malam.


“Jadi mulai sekarang berhentilah mengolok-olokku soal ini


lagi,” kata Kenzo sambil memejamkan matanya.


Jonathan tidak menyahuti


perkataan adiknya. Dia masih fokus memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi,


menelusuri jalanan ibu kota yang lengang namun masih menampilkan nadi-nadi


kehidupan. Matanya


awas menatap setiap restoran, apakah masih buka atau sudah tutup. Dia juga


menatap ke beberapa pedagang kaki lima yang masih mangkal, berharap menemukan


apa yang dia cari.


Bersambung.