The Perfect Military Husband

The Perfect Military Husband
Chapter 26



Karena tak kunjung mendapat respon dari putra sulungnya, tuan Xu semakin murka. Sang dokter bahkan sampai ketakutan melihat ekspresi gelap dari sang mantan jenderal besar itu. Dokter tersebut memilih untuk pamit undur diri meninggakan tuan Xu yang sedang diliputi rasa amarah. Sekalipun tuan Xu membiarkan putra-putranya memilih jalan yang akan mereka lalui, tetapi tidak untuk masalah membawa wanita tanpa adanya status bahkan sampai hamil. Tuan Xu tidak mengajarkan anaknya untuk main perempuan. Karena hal itu, begitu dia mendengar kabar itu, dia tidak bisa mengendalikan emosinya. Kemudian tuan Xu mendatangi istrinya dengan tergesa-gesa, yang tengah berada di taman belakang mengurus bunga-bunga yang ditanamnya. Nyonya Xu sangat terkejut mendapati suaminya yang datang dengan ekspresi marah dan kesal.


“Sayang, ada apa?” tanya sang istri.


“Kalau kamu mendengar kelakuan putra sulung mu aku yakin kau akan menghajarnya detik ini juga,” jawab tuan Xu.


“Memangnya apa yang telah dilakukan Jonathan sehingga diri mu sangat marah seperti ini?”


“Putra mu itu membawa pulang seorang wanita ke villa pribadinya dan sekarang wanita itu hamil,” ujar tuan Xu dengan nada tinggi.


“A-apa?” nyonya Xu syok mendengar perkataan suaminya, tempat air yang dia genggam terlepas begitu saja.


“Ya putra kita telah melanggar salah satu larangan keras di keluarga Xu, aku masih menerima dia yang menjadi bagian dari kelompok shadow economy selama dia tidak menyakiti pihak yang tidak bersalah aku masih mentoleransi, tetapi untuk hal satu ini aku tidak akan pernah mengampuninya,” kata tuan Xu.


“B-bagaimana mungkin? Apakah ini alasan dirinya selalu menolak untuk di jodohkan? Apa hal ini juga terjadi dengan Kenzo juga?” tanya nyonya Xu bertubi-tubi dengan pandangan kosong.


“Entahlah, aih kelakuan kedua bocah busuk itu sungguh membuatku sangat marah, nanti sore kita ke villa Jonathan,” kata tuan Xu sambil memijit pelipisnya yang berkedut.


Sementara itu.


Jonathan yang tidak fokus bekerja memilih untuk pulang ke villa pribadinya. Dia ingin merehatkan tubuh dan pikirannya . Terlalu banyak hal yang harus dia urus belakangan ini. Jonathan juga yakin jika ayahnya pasti


akan datang ke villanya yang mungkin akan langsung menghajarnya. Tetapi bukan itu yang dia khawatirkan, melainkan Alin, kandungannya masih rawan begitu juga dengan psikisnya. Sedari tadi adiknya juga tidak bisa dihubungi, dia mengacak-acak rambutnya dengan kasar. Sebentar lagi keributan akan pecah di kediamannya, dia takut jika nanti Alin dipaksa untuk menikah dengannya. Ayah dan ibunya pasti tidak akan percaya jika Jonathan mengatakan bahwa Alin adalah istri Kenzo tanpa Kenzo sendiri yang mengatakannya. Apalagi ayahnya yang mantan jenderal yang sedari kecil di didik dengan keras tidak akan semudah itu melepaskan masalah ini. Pasti ayahnya akan berteriak-teriak dengan suara baritonnya itu dan tidak menutup kemungkinan Alin akan tekena hinaan dan cacian ayahnya. Menganggap Alin adalah wanita murahan yang menjual harga dirinya dan mau menjadi simpanan Jonathan.


Ketika Jonathan tengah memikirkan semua kemungkinan itu, dia mendengar jika pintu depan villanya terbanting dengan suara keras. Bahkan Alin yang tengah berada di balkon kamarnya terlonjak kaget sampai menumpahkan segelas susu yang baru di antar oleh pelayan. Alin mengelus dadanya yang terasa nyeri dan berdebar-debar. Jonathan langsung turun dari lantai 2 untuk melihat siapa yang berani mendobrak villa pribadinya. Jonathan terkesiap mendapati ayahnya kini tengah menghampiri dirinya dengan ekspresi marah. Tanpa tedeng aling-aling, sang ayah langsung menonjok wajah putra sulungnya. Jonathan tidak melawan dan hanya diam menerima semua amarah ayahnya. Bibir Jonathan berkedut karena sakit dan ngilu, sehingga dia kesulitan untuk berbicara dan juga ayahnya tidak memberi kesempatan untuknya menjelaskan kejadian yang sebenarnya terjadi. Sudut bibirnya telah mengalir darah segar karena robek tetapi ayahnya belum puas, tepat ketika tendangan sang ayah di perut Jonathan, Alin berteriak ketakutan di depan lift.


Alin terkesiap mendapati pandangan itu yang tertuju kepadanya. Akan tetapi Alin segera beralih kepada Jonathan yang tidak berdaya di bawah cengkraman ayahnya. Melihat darah yang berceceran di wajah dan baju kakak iparnya, ingatannya terlempar ketika dirinya melihat sang ayah yang dulu juga dihajar sebelum menjemput kematian. Ingatan itu beralih ketika dirinya menyaksikan betapa kejamnya kakek Gu yang membunuh nyawa manusia tanpa berkedip, kemudian berlanjut ketika dirinya diculik dan menderita dibawah cengkraman Hans. Air


matanya meleleh tak tertahan, kepalanya pusing serta dadanya sangat sesak dan nyeri. Nafasnya tersengal-sengal dan wajahnya memucat dengan cepat, dari bibirnya dia terus menggumamkan kata ‘ayah’ dan juga nama suaminya. Dia menekan dadanya yang terasa sakit dan sekarang diikuti dengan rasa sakit di perutnya. Alin mengerang cukup keras yang membuat tuan Xu dan nyonya Xu menoleh ke arah Alin.


Jonathan yang melihat Alin kesakitan langsung menghampirinya. Jonathan menepuk pelan pipi adik iparnya berharap Alin sadar dan membuka matanya. Alin terus saja bergumam memanggil ayahnya dan juga Kenzo. Dadanya naik turun dengan cepat karena rasa sesak dan juga nyeri yang menyerangnya. Kepala dan perutnya terasa sangat sakit, ingatan-ingatan buruk itu terus berputar di kepalanya. Jonathan segera menghubungi dokter pribadi untuk segera menangani Alin. Dia takut terjadi apa-apa dengannya, Jonathan tidak peduli dengan tatapan ayah dan ibunya dan segera menggendong Alin menuju kamarnya di lantai tiga. Tuan dan nyonya Xu mengikuti perginya sang putra sulung. Tak berapa lama, dokter pun datang, dokter tersebut sempat terkejut melihat tuan dan nyonya besar berada di sana. Dokter tersebut tambah terkejut lagi mendapati kondisi Jonathan yang babak belur tetapi ekspresinya sangat khawatir dan gelisah. Sang dokter pun langsung memeriksa keadaan Alin yang semakin memburuk.


“Apakah nona ini pernah mengalami kejadian buruk yang membuatnya trauma tuan muda?” tanya sang dokter.


“Iya belum lama ini, dia diculik oleh seorang mafia dan dia di siksa, luka luarnya juga baru sembuh, dia juga dulu ketika kecil menyaksikan dengan kepala matanya sendiri kematian ayahnya yang mengenaskan, bahkan ingatan masa kecilnya sampai hilang,” jawab Jonathan, ayah dan ibunya hanya menyimak interaksi dokter dan jonathan.


“Pantas saja, nona ini mengalami syok berat dan juga ingatan-ingatan buruk itu kini kembali dan berputar-putar di kepalanya yang membuat tubuhnya merespon dengan rasa sakit dan juga tertekan, hal ini juga mempengaruhi  kandungannya yang masih terbilang muda, jika hal ini dibiarkan terus menerus bisa menyebabkan keguguran dan juga gagal jantung,” jelas sang dokter.


“Lalu apa yang harus dilakukan dok?” tanya Jonathan yang semakin cemas.


“Saya akan memberinya obat penenang dan juga obat penguat jantung serta vitamin untuk ibu hamil, tetapi saya tidak bisa menjamin keadaannya ketika sudah sadar nanti, ada kemungkinan jika kondisi ini bisa berlanjut ketika dia tersadar, oh iya saya mendengar nona ini memanggil ayahnya dan juga... tuan muda kedua,” kata sang dokter sambil mengeryitkan keningnya, terkejut.


“Baiklah, saya akan menghubungi adik saya karena memang hanya dia yang mampu menenangkannya,” ucapnya sambil melirik orang tuanya yang kini terbelalak karena kaget.


Sekali lagi Jonathan berusaha menghubungi Kenzo, tetapi tetap sama. Tidak diangkat. Jonathan memeriksa jam berapa saat itu, seharusnya adiknya sudah akan pulang. Dia terus berusaha menghubungi adiknya, sama, dia menyisir rambutnya dengan kasar menggunakan tangannya. Wajahnya semakin gelisah dan cemas, tetapi dia tetap berpikiran positif, mungkin adiknya sedang di jalan arah pulang. Ayah an ibunya belum merespon ataupun berbicara setelah mendengar perkataan Jonathan yang terakhir kali. Keduanya masih terpaku di tempatnya dengan tatapan lurus menatap Alin yang telah tertidur efek dari dari obat penenang yang diberikan. Tak berapa lama, Jonathan mendengar klakson mobil yang sangat dia kenali. Kenzo akhirnya telah pulang.


Masih mengenakan seragam tentaranya, Kenzo dengan tidak sabar masuk ke dalam villa dan langsung menuju ke kamarnya. Dia sempat heran dengan ekspresi para pelayan yang terlihat takut dan panik. Akan tetapi kerinduan yang amat sangat kepada istrinya, membuat Kenzo tidak mengubris mereka. Betapa terkejutnya Kenzo mendapati kamarnya yang ramai, lebih kaget lagi ketika melihat orang tuanya berada di kamar itu. Kenzo mematung di depan pintu  sambil menatap ayah dan ibunya yang juga menatap dirinya. Tatapan beralih ke sosok wanita yang terbaring dan tengah di tangani seorang dokter. Seketika itu juga tas yang dia jinjing terjatuh berdebam.


Bersambung.