The Perfect Military Husband

The Perfect Military Husband
Chapter 34



Mansion kakek Gu.


Semua aktivitas di mansion maupun di markas


besar kakek Gu berjalan sebagaimana mestinya. Masih dengan pertarungan,


kecurangan, ilegalisme, pembunuhan dan hal kejam lainnya. Mereka yang bekerja


di bawah kuasa kakek Gu, tangan mereka berlumuran darah. Setiap hari diliputi


hal-hal tidak baik dan kesadisan tanpa akhir. Rencana balas dendam yang ingin


kakek Gu lakukan masih bersarang di otaknya. Siapa yang mengira alat yang dia


besarkan selama 10 tahun terakhir malah berbalik menentangnya. Hal itu


membuatnya merasa sedikit putus asa dan juga frustasi. Penjagaan yang sangat


ketat, membuatnya tidak bisa mendekati ataupun membawa kembali cucunya. Apalagi


melihat kehidupan musuh bebuyutannya yang semakin meningkat. Melihat bagaimana


senyum dan tawanya yang seakan mengejek dirinya yang telah kalah dan tak mampu


balas dendam. Kakek Gu masih berusaha mencari celah lain sebelum Alin bisa dia


dapatkan kembali. Sungguh satu dendam ini telah membutakan dan menggelapkan


hatinya. Hingga tak ada lagi sinar kebaikan dan kasih sayang yang mampu


menembus kegelapan mutlak di hatinya. Malang sekali nasib Alin mempunyai


seorang kakek yang hanya mementingkan dirinya sendiri.


Beralih ke villa pribadi Jonathan.


Hari ini adalah hari ke 25 Kenzo pergi


melaksanakan tugas ke luar negara. Selama itu juga Alin harus menahan rindu


yang memang sangat berat untuk ditanggung oleh wanita manapun. Apalagi Alin


sedang mengandung hampir memasuki bulan ke 2. Mual-mual di pagi hari sudah


tidak sering kambuh, tetapi kalau soal ngidam, Jonathan dan Feng yang kelabakan


kesana kemari memenuhi apa yang diminta Alin. Jonathan berharap adiknya segera


pulang dan mengendalikan Alin. Biasanya kalau Kenzo di rumah, Alin lebih anteng


dan jarang minta ini itu. Terkadang Nana sampai geleng-geleng kepala melihat


suaminya yang berlarian bersama asistennya. Bos besar mafia itu hanya tunduk


kepada Alin seorang saat ini, mereka tidak akan menyangka dengan seorang


laki-laki yang datang ke restoran tengah malam dan masih menggunakan piyamanya


adalah seorang yang ditakuti di lingkungan mafia dan beberapa aparatur hukum.


Kadang-kadang Nana sedikit iri karena Jonathan lebih perhatian dengan Alin


dibandingkan dirinya. Akan tetapi Nana lebih beruntung jika dibandingkan dengan


Alin. Joanthan selalu ada di dekat Nana dan Nana juga sering diajak keluar


ketika Joanthan ada meeting atau makan malam bersama klien. Sedangkan Alin


harus selalu jauh dari suaminya, selalu was-was setiap Kenzo berangkat


menjalankan misi ketentaraan dan juga pengalaman pahit yang dialami Alin lebih


banyak dibandingkan Nana.


Ngomong-ngomong soal kisah cinta antara


Jonathan dengan Nana sangatlah rumit. Mereka terlihat dekat tetapi sebenarnya


mereka belum benar-benar saling mencintai dan menyayangi satu sama lain.


Dihubungan mereka masih ada dinding yang menghalangi. Usia pernikahan mereka


yang hampir satu bulan tak membuat mereka langsung percaya dan dekat satu sama


lain. Masih ada kecanggungan diantara mereka berdua dan Alin tau itu. Bahkan


mereka belum menyempurnakan pernikahan mereka. Ya kalian tahulah apa itu. Aih,


hubungan mereka dulu sebagai bos dan anak buah sepertinya masih digunakan. Tapi


biarlah, semua hal ada prosesnya, biar waktu yang menyatukan mereka. Memang


serba bingung sih dengan hubungan mereka berdua, mungkin Nana belum bisa


menghilangkan rasa segannya yang bertahun-tahun selalu dia genggam ketika dia


berada dekat dengan Jonathan atau ketidakpekaan dan juga sikap dingin Jonathan


yang membuat hubungan mereka tampak ambigu.


Sore hari, Nana dan jonathan pergi ke acara


pertunangan teman bisnisnya. Alin hanya ditemani oleh para pelayan di villa


itu. Jadi dari sore sampai larut malam, Alin tidak ada teman ngobrol. Yang


biasanya Nana selalu menemaninya duduk di balkon, kini tidak ada. Sunyi, sepi,


sendiri, Alin menghela nafas. Dia malah teringat dengan sosok ibunya, betapa


menderitanya kehidupan ibunya dulu. Di musuhi banyak orang, bahkan dibuang oleh


keluarganya sendiri. Hampir sama dengan kehidupan yang Alin jalani. Tetapi sang


ibu dan juga Alin beruntung mempunyai teman hidup dan seorang suami yang sangat


mencintai dan penuh kasih. Bahkan sama-sama seorang tentara, dulu ayahnya


selalu menceritakan semua tentang ibunya. Jadi Alin sedikit mengenal dan


mengerti seperti apa ibunya semasa hidup. Tak terasa air mata telah membasahi


pipi mulusnya. Teringat dengan orang-orang yang sangat dia cintai dan telah


tiada, memang sangat menyakitkan. Berkali-kali Alin meneguhkan hatinya agar


tidak menangis, tetapi apalah daya, air mata itu tetap tumpah ruah di wajahnya.


Kepingan-kepingan bayangan kejadian saat detik-detik kematian ayahnya terulang


di memori kepalanya. Wajah sendu yang kotor karena debu dan darah serta air


mata muncul. Tangis Alin semakin menjadi, ada ketakutan besar tengah mendera


hatinya. Refleks seorang ibu, Alin langsung memeluk perutnya. Anaknya harus


Jonathan dan Nana kembali ketika tengah


malam. Jonathan mengeryit menyadari lampu kamar Alin mash menyala. Apa adik


iparnya itu menunggu dirinya dan nana? Jangan-jangan Alin ngidam lagi. Jonathan


dan Nana buru-buru menghampiri kamar Alin di lantai 3 dan menemukan jika kamar


itu kosong. Detak jantung Jonathan meningkat cepat, ada desir ketakutan di


hatinya. Dengan cepat, Jonathan dan Nana menyisirseluruh bagian kamar itu


dengan hati berebar-debar. Hingga mereka menemukan Alin tertidur di kursi


gantung di balkon dan matanya tampak agak bengak dengan hidung merah. Nana dan


Jonathan saling pandang, Jonathan segera membawa Alin ke kamar dan menyelimuti


tubuh mungil itu. Nana menyentuh kening Alin dan merasakan jika suhu dibawah


tangannya agak tinggi. Dia segera memerintahkan pelayan untuk mengambil air


hangat dan kain. Malam itu Nana merawat Alin hingga pagi, sementara Jonathan


memilih ke ruang kerjanya.


Alin terbangun karena merasakan tangannya


kram dan kepalanya sakit. Ketika membuka matanya, Alin terkejut karena ada Nana


yang tertidur dengan posisi duduk dan tangannya mengenggam tangan Alin. Dia


bertanya-tanya apa yang terjadi dan ketika Alin berusaha untuk bangun.


Kepalanya terasa sangat sakit dan berat, tenggorokannya kering dan badannya


sangat lemas. Nana terbangun karena pergerakan Alin.


“Ada apa? Jangan bangun dulu, kamu masih


sakit!” ucap Nana.


“Aku nggak papa kok kak Nana, hanya pusing


saja,” kata Alin dengan tersenyum.


“Tidak apa-apa apanya? Orang tadi malam kamu


itu demam, kamu ini ya kenapa malah tidur di balkon sih? Nggak baik tau buat


kesehatan mu dan bayi mu,” omel Nana.


“Iya-iya maaf, aku ketiduran kemarin,” ucap


Alin sambil terkekeh.


“Ya ampun bandel banget ibu hamil satu ini


kalo dibilangin,” kata Nana sambil menyentil pelan kening Alin.


“Ish kan udah minta maaf, habisnya bosen,


sepi, nungguin telefon Kenzo nggak manggil-manggil, kalian nggak pulang-pulang,


ketiduran deh,” kata Alin sambil mengusap keningnya.


“Kenapa nggak telefon kami, biar cepet


pulangnya?” tanya Nana.


“Nggak mau, jarang-jarang kalian pergi


bareng, gimana? aku ini orangnya perhatian kan?” tanya Alin sambil bergaya


sombong.


“Perhatian kepala mu, udah aku mau ke bawah


buatin bubur, kamu di sini, nanti dokter Sofie akan ke sini, jangan aneh-aneh


oke?” kata Nana dan melenggang pergi menuju dapur.


Sepeninggal Nana, Alin kembali berbaring,


menunggu. Tak berapa lama dokter Sofie datang bersama seorang perawat. Dokter


Sofie langsung memeriksa Alin engan telit kemudian memberikan diagnosa. Alin


mengalami flu karena terlalu lama terpapar angin malam. Nana yang baru tiba


membawa semangkuk bubur, sekali lagi mengomeli Alin. Dokter sofie hanya


tersenyum melihat hal itu, setelah memberikan beberapa obat dan juga vitamin,


dokter sofie bersama perawat pamit kembali ke rumah sakit. Nana menyuapi Alin


bubur hangat yang baru dia buat dengan sabar dan membantu Alin minum obat.


Setelah selesai, Nana membawa air hangat dan kain untuk membersihkan wajah Alin


setelah itu, dia tertidur karena efek obat yang dia minum.


Nana membereskan mangkuk bubur yang telah


kosong dan juga tempat air, membawanya ke dapur. Nana tidak mengizinkan satu


pelayanpun membantunya. Dia bisa sendiri dan juga dia belum terbiasa apa-apa


dilayani. Setelah memastikan Alin tertidur dengan benar, Nana menuju ke


kamarnya dan mendapati suaminya masih di kamar mencari sesuatu. Nana pun


bertanya apa yang dicari oleh Jonathan, ternyata suaminya itu mencari sebuah


dokumen penting yang kemarin ditaruhnya di meja. Nana pun berjalan menuju lemari


kecil dan mebawakan dokumen yang dicari Jonathan. Ternyata Nanalah yang


menyimpan dan merapikan semua dokumen yang tercecer di meja yang berada di


kamar. Setelah mendapat dokumen yang dicari, Jonathan bergegas pergi, tetapi


sebelum dia menghilang di balik pintu.


“Kau istirahatlah! jangan sampai kelelahan


dan ikut jatuh sakit, jika melanggar perintahku awas saja, ada hukuman menanti


mu,” ucap Jonathan yang membuat Nana memerah untuk sesaat.


Bersambung.