
Mansion kakek Gu.
Semua aktivitas di mansion maupun di markas
besar kakek Gu berjalan sebagaimana mestinya. Masih dengan pertarungan,
kecurangan, ilegalisme, pembunuhan dan hal kejam lainnya. Mereka yang bekerja
di bawah kuasa kakek Gu, tangan mereka berlumuran darah. Setiap hari diliputi
hal-hal tidak baik dan kesadisan tanpa akhir. Rencana balas dendam yang ingin
kakek Gu lakukan masih bersarang di otaknya. Siapa yang mengira alat yang dia
besarkan selama 10 tahun terakhir malah berbalik menentangnya. Hal itu
membuatnya merasa sedikit putus asa dan juga frustasi. Penjagaan yang sangat
ketat, membuatnya tidak bisa mendekati ataupun membawa kembali cucunya. Apalagi
melihat kehidupan musuh bebuyutannya yang semakin meningkat. Melihat bagaimana
senyum dan tawanya yang seakan mengejek dirinya yang telah kalah dan tak mampu
balas dendam. Kakek Gu masih berusaha mencari celah lain sebelum Alin bisa dia
dapatkan kembali. Sungguh satu dendam ini telah membutakan dan menggelapkan
hatinya. Hingga tak ada lagi sinar kebaikan dan kasih sayang yang mampu
menembus kegelapan mutlak di hatinya. Malang sekali nasib Alin mempunyai
seorang kakek yang hanya mementingkan dirinya sendiri.
Beralih ke villa pribadi Jonathan.
Hari ini adalah hari ke 25 Kenzo pergi
melaksanakan tugas ke luar negara. Selama itu juga Alin harus menahan rindu
yang memang sangat berat untuk ditanggung oleh wanita manapun. Apalagi Alin
sedang mengandung hampir memasuki bulan ke 2. Mual-mual di pagi hari sudah
tidak sering kambuh, tetapi kalau soal ngidam, Jonathan dan Feng yang kelabakan
kesana kemari memenuhi apa yang diminta Alin. Jonathan berharap adiknya segera
pulang dan mengendalikan Alin. Biasanya kalau Kenzo di rumah, Alin lebih anteng
dan jarang minta ini itu. Terkadang Nana sampai geleng-geleng kepala melihat
suaminya yang berlarian bersama asistennya. Bos besar mafia itu hanya tunduk
kepada Alin seorang saat ini, mereka tidak akan menyangka dengan seorang
laki-laki yang datang ke restoran tengah malam dan masih menggunakan piyamanya
adalah seorang yang ditakuti di lingkungan mafia dan beberapa aparatur hukum.
Kadang-kadang Nana sedikit iri karena Jonathan lebih perhatian dengan Alin
dibandingkan dirinya. Akan tetapi Nana lebih beruntung jika dibandingkan dengan
Alin. Joanthan selalu ada di dekat Nana dan Nana juga sering diajak keluar
ketika Joanthan ada meeting atau makan malam bersama klien. Sedangkan Alin
harus selalu jauh dari suaminya, selalu was-was setiap Kenzo berangkat
menjalankan misi ketentaraan dan juga pengalaman pahit yang dialami Alin lebih
banyak dibandingkan Nana.
Ngomong-ngomong soal kisah cinta antara
Jonathan dengan Nana sangatlah rumit. Mereka terlihat dekat tetapi sebenarnya
mereka belum benar-benar saling mencintai dan menyayangi satu sama lain.
Dihubungan mereka masih ada dinding yang menghalangi. Usia pernikahan mereka
yang hampir satu bulan tak membuat mereka langsung percaya dan dekat satu sama
lain. Masih ada kecanggungan diantara mereka berdua dan Alin tau itu. Bahkan
mereka belum menyempurnakan pernikahan mereka. Ya kalian tahulah apa itu. Aih,
hubungan mereka dulu sebagai bos dan anak buah sepertinya masih digunakan. Tapi
biarlah, semua hal ada prosesnya, biar waktu yang menyatukan mereka. Memang
serba bingung sih dengan hubungan mereka berdua, mungkin Nana belum bisa
menghilangkan rasa segannya yang bertahun-tahun selalu dia genggam ketika dia
berada dekat dengan Jonathan atau ketidakpekaan dan juga sikap dingin Jonathan
yang membuat hubungan mereka tampak ambigu.
Sore hari, Nana dan jonathan pergi ke acara
pertunangan teman bisnisnya. Alin hanya ditemani oleh para pelayan di villa
itu. Jadi dari sore sampai larut malam, Alin tidak ada teman ngobrol. Yang
biasanya Nana selalu menemaninya duduk di balkon, kini tidak ada. Sunyi, sepi,
sendiri, Alin menghela nafas. Dia malah teringat dengan sosok ibunya, betapa
menderitanya kehidupan ibunya dulu. Di musuhi banyak orang, bahkan dibuang oleh
keluarganya sendiri. Hampir sama dengan kehidupan yang Alin jalani. Tetapi sang
ibu dan juga Alin beruntung mempunyai teman hidup dan seorang suami yang sangat
mencintai dan penuh kasih. Bahkan sama-sama seorang tentara, dulu ayahnya
selalu menceritakan semua tentang ibunya. Jadi Alin sedikit mengenal dan
mengerti seperti apa ibunya semasa hidup. Tak terasa air mata telah membasahi
pipi mulusnya. Teringat dengan orang-orang yang sangat dia cintai dan telah
tiada, memang sangat menyakitkan. Berkali-kali Alin meneguhkan hatinya agar
tidak menangis, tetapi apalah daya, air mata itu tetap tumpah ruah di wajahnya.
Kepingan-kepingan bayangan kejadian saat detik-detik kematian ayahnya terulang
di memori kepalanya. Wajah sendu yang kotor karena debu dan darah serta air
mata muncul. Tangis Alin semakin menjadi, ada ketakutan besar tengah mendera
hatinya. Refleks seorang ibu, Alin langsung memeluk perutnya. Anaknya harus
Jonathan dan Nana kembali ketika tengah
malam. Jonathan mengeryit menyadari lampu kamar Alin mash menyala. Apa adik
iparnya itu menunggu dirinya dan nana? Jangan-jangan Alin ngidam lagi. Jonathan
dan Nana buru-buru menghampiri kamar Alin di lantai 3 dan menemukan jika kamar
itu kosong. Detak jantung Jonathan meningkat cepat, ada desir ketakutan di
hatinya. Dengan cepat, Jonathan dan Nana menyisirseluruh bagian kamar itu
dengan hati berebar-debar. Hingga mereka menemukan Alin tertidur di kursi
gantung di balkon dan matanya tampak agak bengak dengan hidung merah. Nana dan
Jonathan saling pandang, Jonathan segera membawa Alin ke kamar dan menyelimuti
tubuh mungil itu. Nana menyentuh kening Alin dan merasakan jika suhu dibawah
tangannya agak tinggi. Dia segera memerintahkan pelayan untuk mengambil air
hangat dan kain. Malam itu Nana merawat Alin hingga pagi, sementara Jonathan
memilih ke ruang kerjanya.
Alin terbangun karena merasakan tangannya
kram dan kepalanya sakit. Ketika membuka matanya, Alin terkejut karena ada Nana
yang tertidur dengan posisi duduk dan tangannya mengenggam tangan Alin. Dia
bertanya-tanya apa yang terjadi dan ketika Alin berusaha untuk bangun.
Kepalanya terasa sangat sakit dan berat, tenggorokannya kering dan badannya
sangat lemas. Nana terbangun karena pergerakan Alin.
“Ada apa? Jangan bangun dulu, kamu masih
sakit!” ucap Nana.
“Aku nggak papa kok kak Nana, hanya pusing
saja,” kata Alin dengan tersenyum.
“Tidak apa-apa apanya? Orang tadi malam kamu
itu demam, kamu ini ya kenapa malah tidur di balkon sih? Nggak baik tau buat
kesehatan mu dan bayi mu,” omel Nana.
“Iya-iya maaf, aku ketiduran kemarin,” ucap
Alin sambil terkekeh.
“Ya ampun bandel banget ibu hamil satu ini
kalo dibilangin,” kata Nana sambil menyentil pelan kening Alin.
“Ish kan udah minta maaf, habisnya bosen,
sepi, nungguin telefon Kenzo nggak manggil-manggil, kalian nggak pulang-pulang,
ketiduran deh,” kata Alin sambil mengusap keningnya.
“Kenapa nggak telefon kami, biar cepet
pulangnya?” tanya Nana.
“Nggak mau, jarang-jarang kalian pergi
bareng, gimana? aku ini orangnya perhatian kan?” tanya Alin sambil bergaya
sombong.
“Perhatian kepala mu, udah aku mau ke bawah
buatin bubur, kamu di sini, nanti dokter Sofie akan ke sini, jangan aneh-aneh
oke?” kata Nana dan melenggang pergi menuju dapur.
Sepeninggal Nana, Alin kembali berbaring,
menunggu. Tak berapa lama dokter Sofie datang bersama seorang perawat. Dokter
Sofie langsung memeriksa Alin engan telit kemudian memberikan diagnosa. Alin
mengalami flu karena terlalu lama terpapar angin malam. Nana yang baru tiba
membawa semangkuk bubur, sekali lagi mengomeli Alin. Dokter sofie hanya
tersenyum melihat hal itu, setelah memberikan beberapa obat dan juga vitamin,
dokter sofie bersama perawat pamit kembali ke rumah sakit. Nana menyuapi Alin
bubur hangat yang baru dia buat dengan sabar dan membantu Alin minum obat.
Setelah selesai, Nana membawa air hangat dan kain untuk membersihkan wajah Alin
setelah itu, dia tertidur karena efek obat yang dia minum.
Nana membereskan mangkuk bubur yang telah
kosong dan juga tempat air, membawanya ke dapur. Nana tidak mengizinkan satu
pelayanpun membantunya. Dia bisa sendiri dan juga dia belum terbiasa apa-apa
dilayani. Setelah memastikan Alin tertidur dengan benar, Nana menuju ke
kamarnya dan mendapati suaminya masih di kamar mencari sesuatu. Nana pun
bertanya apa yang dicari oleh Jonathan, ternyata suaminya itu mencari sebuah
dokumen penting yang kemarin ditaruhnya di meja. Nana pun berjalan menuju lemari
kecil dan mebawakan dokumen yang dicari Jonathan. Ternyata Nanalah yang
menyimpan dan merapikan semua dokumen yang tercecer di meja yang berada di
kamar. Setelah mendapat dokumen yang dicari, Jonathan bergegas pergi, tetapi
sebelum dia menghilang di balik pintu.
“Kau istirahatlah! jangan sampai kelelahan
dan ikut jatuh sakit, jika melanggar perintahku awas saja, ada hukuman menanti
mu,” ucap Jonathan yang membuat Nana memerah untuk sesaat.
Bersambung.