The Perfect Military Husband

The Perfect Military Husband
Chapter 25



Waktu terus berjalan, tak terasa masa cuti Kenzo telah berakhir. Dia akan berangkat ke markas besar militer hari ini, Alin mengantar suaminya sampai ke mobilnya. Tampilan Kenzo yang membuat pelayan wanita di villa membicarakannya, dengan seragam tentara yang tampak sangat gagah dan keren menyelimuti tubuh kekar itu, di tambah wajah tampan nan bersih dihiasi senyum manis membuat Alin tak bosan menatap wajah itu. Kenzo sebenarnya belum rela pergi tetapi tugas dan kewajibannya sebagai tentara harus tetap dijalani, sumpah setianya belum saatnya terhenti. Dengan berat hati, Kenzo berangkat setelah mencium sekilas kening istrinya. Setelah mobil suaminya hilang dari pandangan matanya, Alin masuk kembali ke dalam villa. Dia berpapasan dengan kakak iparya yang akan ke kantor.


“Eh kak Jo, mau berangkat ke kantor?” tanya Alin basa basi.


“Iya dek, ada meeting pagi soalnya, kamu jangan kemana-mana ya, kalo butuh apa-apa hubungi kakak aja,” kata Jonathan.


“Em, sebenarnya aku ingin sesuatu sih kak, tapi karena kakak ada meeting ya sudahlah,” kata Alin.


“Memangnya apa yang kamu inginkan?” tanya Jonathan.


“Hehehe aku ingin makan tumis cumi pedas manis di restoran X kak,” kata Alin.


“Tumben mau makan cumi, biasanya nggak mau?” tanya Jonathan yang merasa heran, karena belakangan Jonathan tahu jika Alin tidak suka dengan cumi.


“Nggak tau kak, cuma aku lagi pengen banget makan itu,” kata Alin.


“Aneh deh kamu, ya udah nanti kakak suruh Feng belikan,” kata Jonathan.


“Nggak mau, harus kak Jo,” rengek Alin.


Para pelayan yang mendengar itu agak kesal sih, baru kali ini ada wanita yang berani memerintah bos mereka. Apalagi Jonathan ada meeting penting pagi ini, para pelayan yakin jika Jonathan akan marah. Tetapi di luar dugaan Jonathan malah memundurkan jadwal meetingnya dan lebih memprioritaskan Alin. Jonathan telah berjanji akan menjaga aik iparnya itu, karena Alin adalah hal yang paling penting bagi Kenzo, adik kesayangannya. Maka pagi itu, Jonathan berangkat ke restoran yang dimaksud, setelah tiba disana ternyata restorannya belum di buka. Jonathan harus menunggu sekitar satu jam untuk membeli tumis cumi yang diinginkan Alin. Feng yang sedari tadi menemani bosnya, hanya pasrah dan sesekali melirik jam tangannya. Setelah mendapatkan pesanan Alin, Feng langsung tancap gas kembali ke villa dengan kecepatan tinggi. Jonathan hanya terkekeh melihat tingkah asisten pribadinya itu. ternyata Alin masih menunggu di depan villa dengan tatapan senang tatkala melihat mobil kakak iparnya masuk dari gerbang villa. Jonthan tersenyum dan menyerahkan pesanan adik iparnya itu.


“Terima kasih kak,” ucap Alin senang.


“Sama-sama, sudah sana cepat dimakan nanti dingin, kakak mau ke kantor,” kata Jonathan.


Alin mengangguk dan langsung berlari ke dalam, Jonathan sekali lagi terkekeh melihat tingkah adik iparnya itu. Alin segera menyantap tumis cumi yang sangat dia inginkan itu, tetapi baru beberapa suap saja, Alin langsung mual dan segera berlari ke kamar mandi terdekat. Para pelayan yang menemani Alin terkejut dan panik, mereka segera menyusul nona mudanya ke kamar mandi dan salah satu dari mereka mengusap punggung Alin perlahan. Alin segera terduduk lemas dan wajahnya sangat pucat hingga dia tak sadarkan diri sekarang. Para pelayan itu semakin panik dan membawa Alin ke dalam kamar sementara itu kepala pelayan segera menghubungi dokter pribadi keluarga Xu ke villa pribadi Jonathan. Selang beberapa waktu dokter tersebut pun datang dan segera memeriksa kondisi Alin. Untuk beberapa saat sang dokter tertegun dan penasaran siapakah


wanita yang berada di dalam kamar itu.


Sang dokter terkejut dan menarik kepala pelayan ke belakang. Dia bertanya mengenai siapa wanita yang tidak sadarkan diri itu? kepala pelayan menjadi bingung dan panik bagaimana menjelaskannya. Dia baru teringat jika


identitas nona mudanya dirahasiakan dan tidak boleh diketahui oleh orang lain kecuali orang-orang di villa tersebut.


“Maaf dokter, saya tidak bisa memberitahukan perihal hal itu kepada anda, tuan muda pertama dan kedua melarang saya membeberkan identitasnya,” kata kepala pelayan dengan wajah gusar.


“Aduh dokter, saya tidak berani menjelaskan, anda tau sendiri bagaimana tuan muda pertama, jika dia berkata dirahasiakan, maka jangan sampai rahasia itu terkuak dan tersebar sebelum tuan muda sendiri yang menguaknya, bisa-bisa kepala saya pisah dari badan kalo tuan muda tahu saya memebeberkan hal tersebut,” kata kepala pelayan sambil bergidik ngeri.


“Eh tunggu, anda bilang nona itu hamil 2 minggu?” tanya kepala pelayan.


“Hmm iya, kenapa?” tanya sang dokter.


Kepala pelayan menggelengkan kepalanya. “Tidak apa-apa kok.”


“Kalau begitu aku buatkan resep vitamin dan penguat kandungan, jangan biarkan dia mengangkat yang berat-berat, ditambah tubuhnya lemah harus dijaga pola makan dan juga bedrest selama 2 hari, baiklah aku permisi dulu,” kata sang dokter.


“Mari saya antar dan terima kasih,” ucap kepala pelayan.


Setelah kepergian sang dokter, kepala pelayan tersadar jika dirinya belum memperingatkan dokter itu untuk merahasiakan keberadaan nona mudanya di villa itu. Dengan panik dia menghubungi dokter itu kembali, namun


tidak diangkat. ‘habis sudah’ batin kepala pelayan. Dia pun memilih menghubungi Jonathan yang kala itu baru saja selesai meeting, wajahnya menyiratkan kemarahan karena ketidak becusan anak buahnya dalam bekerja. Dia menerima telepon itu dengan kesal. Mendengar perkataan kepala pelayannya, wajahnya tambah mengeras dan merah. ‘Ada apa dengan hari ini? Semua berjalan dengan buruk, eh tetapi apa yang kepala pelayanku tadi katakan? Alin hamil? Wah-wah ini berita menggembirakan, aku akan menjadi seorang paman, ah senangnya,’ batin Jonathan. Ekspresinya yang berubah-ubah ditangkap oleh pandangan mata asisten pribadinya.


“Kenapa kamu menatapku seperti itu? Apa yang kamu pikirkan?” tanya Jonathan yang mengagetkan Feng.


“T-tidak bos, aku tidak memikirkan apapun,” kata Feng tergagap.


Ketika dokter pribadi yang memeriksa Alin dihubungi oleh Jonathan, dirinya telah sampai di kediaman keluarga Xu. Karena tergesa-gesa, dia melupakan ponselnya yang tergeletak di kursi sebelahnya mengemudi begitu


saja. Jonathan sampai frustasi menerima kenyataan jika dirinya telah terlambat. Dokter itu pasti sudah berada di kediaman orang tuanya. Sementara itu, sang dokter bertemu dengan tuan Xu di ruang kerjanya. Dokter tersebut menjelaskan perihal seorang wanita hamil yang tinggal di villa pribadi putra sulungnya. Hal ini tentu berita yang mengejutkan bagi tuan Xu, dia mencengkram pegangan kursi yang didudukinya. Engan sorot mata marah, dia segera mengambil ponselnya yang berada di meja dan menghubungi Jonathan.


Ketika ponsel Jonathan berdering, dia tahu ayahnya pasti akan marah besar kepadanya. Dia memilih mengabaikan panggilan ayahnya dan melanjutkan pekerjaannya sambil memikirkan apa yang akan dia jelaskan kepada ayah ibunya nanti. Jonathan ingin menghubungi Kenzo, tetapi dia tahu di jam-jam segini dia tidak mengaktifkan ponselnya. Cepat atau lambat keberadaan dan juga identitas Alin akan terbongkar, tetapi ini terlalu cepat dari perkiraannya. Kalau bukan karena kepala pelayannya menghubungi dokter pribadi keluarga Xu, semua ini tidak akan cepat terbongkar.


“Sial!!!” teriak Jonathan.


Dia khawatir jika reaksi dari ayah dan ibunya mempengaruhi adik iparnya, apalagi dia baru saja mengalami kejadian mengerikan yang lukanya saja belum sepenuhnya sembuh, di tambah dirinya juga tengah mengandung. Masalahnya semakin rumit saja, andaikan situasi yang dialami Alin tidak sesulit itu, pasti dia akan diperkenalkan kepada keluarganya sedari awal. Memang kebohongan membawa kesulitan yang bahkan lebih besar dari situasi awal. Jonathan berdecak kesal karena memikirkan hal ini, belum lagi menghalangi daripada


kakeknya Alin untuk menemukan keberadaan cucunya. Laki-laki tua itu sangat licik, dia menggunakan segala cara untuk mencari penyebab musnahnya keluarga Hans dan juga keberadaan Alin saat ini. Jonathan di tekan dari berbagai sisi, belum lagi soal pernikahannya dimana ibunya terus mendesaknya agar memilih salah satu gadis yang dipilihkan untuknya. Semua masalah itu membuatnya tidak fokus memeriksa dokumen di mejanya dan memilih beranjak dari duduknya dan berdiri menghadap kaca yang menyuguhkan pemandangan kota dari ketinggian ratusan meter.


Bersambung.