The Perfect Military Husband

The Perfect Military Husband
Chapter 21



Chapter 21


Satu hari sebelum pernikahan Glen dengan Sarah, Alin sudah diperbolehkan untuk pulang dan menjalani rawat jalan serta rutin setiap 3 kali dalam seminggu meakukan terapi. Kenzo mendorong kursi roda yang diduduki istrinya dengan antusias, walaupun belum pulih sepenuhnya namun Kenzo merasa senang dan bahagia akhirnya bisa pulang. Begitu juga dengan Alin, dia senang akhirnya bisa keluar dari kungkungan aroma khas rumah sakit. Kenzo membawa Alin untuk tinggal di villa pribadi kakaknya, akan lebih aman jika Alin berada di sekitar kakaknya ketika Kenzo sedang berada di markas militer. Kenzo tidak mau kejadian kemarin terulang kembali, sudah cukup, dia tidak ingin istrinya menderita untuk yang kesekian kalinya.


Apalagi berita musnahnya seluruh keluarga Hans pasti akan membuat geger keluarga-keluarga mafia yang berkaitan dengan keluarga Hans, termasuk keluarga Gu. Berita tentang Alin bersama dengan Kenzo pasti akan


terdengar sampai ke telinga kakeknya cepat atau lambat. Jadi keputusan untuk membawa Alin ke lingkungan Jonathan adalah keputusan yang tepat. Jonathan sangat senang karena secara otomatis Kenzo akan ikut tinggal dengannya, Jonathan menyambut pasangan itu di depan pintu dengan senyuman yang lebar. Dalam hati akan bertekad melindungi Alin yang merupakan nyawa asli dari adiknya, dia tidak akan sanggup melihat adiknya berada dalam kegelapan lagi, kosong, minim semangat hidup.


“Selamat datang adik-adikku, semoga betah ya di sini,” sambut Jonathan dengan suara lembut, yang membuat beberapa anak buahnya merinding. Ya siapa yang nggak merinding coba, orang sehari-harinya kalo ngomong nadanya selalu tegas, dingin, kadang kasar malah dan baru kali ini Jonathan berbicara selembut itu dengan orang.


“Apaan sih kak, jijik tau denger nada suara kakak yang dilembut-lembutin, hish,” sahut Kenzo dengan ekspresi mau muntah.


“Dasar adik badung, emang kenapa? Kakak hanya akan bicara seperti itu sama mama dan juga adik iparku ini,” kata Jonathan.


“Ih awas nanti naksir lagi sama istriku,” ucap Kenzo, yang membuat Alin mencubit lengan suaminya.


“Aww, sayang kok malah cubit aku sih?” tanya Kenzo dengan muka pura-pura sakit.


“Nggak usah lebay deh, kamu itu ya sama kakak sendiri yang sopan gitu,” ucap Alin sambil cemberut.


“Tuh dengerin istri bilang apa? Makanya kalo sama kakak harus sopan, hormat sedikit,” timpal Jonathan.


“Idih ogah,” kata Kenzo.


“Ya udah tidur di luar aja kalo gitu, sini biar kakak antar istri mu ke kamarnya, kamu tidur tu ke rumah belakang,” kata Jonathan.


“Hehehe ampun deh nggak berani lagi, mana kuat adik mu ini tidur tanpa istrinya,” kata Kenzo.


“Cih dasar bucin,”balas Jonathan.


“Yee biarin, makanya cepetan nikah masa mau jadi bujangan seumur hidup?” ejek Kenzo yang membuat kakaknya menempeleng kepala adiknya, sedangkan Alin tertawa pelan.


“Udah sana masuk, bawel banget,” ucap jonathan dan beranjak masuk ke dalam villa pribadinya.


Alin merasakan tubuhnya tidak nyaman dan lengket, dia ingin mandi dan berendam di bathup dengan air hangat. Dia menunggu suaminya selesai sambil sesekali menatap pintu kamar mandi yang masih tertutup. Sebelum suaminya keluar dari kamar mandi, Alin beranjak turun dari ranjang dengan perlahan. Ketika berdiri, dia merasakan punggungnya nyeri sesaat, Alin meringis menahan sakit. Setelah sakitnya mereda, Alin perlahan mulai berjalan ke arah lemari pakaian. Dia ingin mengambilkan baju untuk suaminya, ketika dia sampai di depan lemari, bertepatan dengan Kenzo yang keluar sambil mengusap rambutnya dengan handuk dan hanya mengenakan handuk kimono yang berantakan menampilkan dadanya yang bidang. Kenzo kaget bukan main meihat istrinya berdiri dan sedang memilih beberapa pakaian. Kenzo segera menggendong istrinya dan membawa Alin ke ranjang kembali, Alin sangat terkejut karena ulah suaminya.


“Arggh... sayang!” seru Alin.


“Siapa yang menyuruh mu untuk bangun dan mengambil pakaian?” tanya Kenzo sambil menatap tajam istrinya.


Mendapat tatapan tajam seperti itu tentu saja membuat Alin menciut, dia tidak berani menatap langsung mata suaminya. “A-aku hanya ingin mengambilkan pakaian untuk mu, kenapa kamu marah?”


“Sayang, kamu itu baru sembuh, istrirahat saja, aku masih bisa mengurus diriku sendiri, aku tidak mau kamu kelelahan dan malah sakit lagi,” kata Kenzo.


“Aku tahu, aku cuma berjalan dan melatih kakiku agar lebih kuat, itu saja, kenapa kamu malah marah-marah,” kata Alin kesal.


Alin beranjak lagi dari ranjang tetapi ditahan oleh suaminya, Alin mendorong pelan tangan Kenzo. “Aku mau mandi, minggir,” ketus Alin. Kenzo pun melepaskan pegangannya di tangan istrinya, dia tahu jika Alin sedang marah jangan sekali-kali dilarang ini itu. Kebiasaannya ketika kecil masih bertahan hingga sekarang.Alin berjalan pelan menuju kamar mandi sementara Kenzo memakai pakaian yang tadi dipilihkan istrinya kemudian menunggu istrinya selesai. Bunyi gemericik air memenuhi indra pendengaran Kenzo. Dia juga tak lupa mengambilkan pakaian lengkap kepada istrinya. Tak berapa lama pintu kamar mandi terbuka, menampilkan sosok wanita cantik dengan handuk kimono. Pemandangan itu membuat Kenzo harus menelan ludah menahan hasratnya, sungguh penampilan Alin saat ini sangat seksi dengan rambut panjangnya yang basah. Kenzo memalingkan wajahnya, dia tidak ingin pertahananya runtuh dengan melihat lebih lama istrinya. Alin langsung memakain pakaian yang dipilihkan suaminya dengan cepat, kemudian duduk di depan meja riasnya hendak mengeringkan rambutnya dengan hairdryer. Kenzo segera meraih benda itu dengan cepat dan membantu mengeringkan rambut istrinya, Alin pun tersenyum tipis. Alin pun mendongak menatap wajah suaminya yang sedang serius dengan rambut panjangnya. Tiba-tiba Kenzo menatapnya dan mencium bibir Alin dengan lembut. Seketika wajah Alin menjadi merona dan agak panas, jantungnya berdegup kencang. Kenzo hanya terkekeh karena berhasil mengerjai istrinya.


Aktivitas mereka terhenti setelah rambut Alin kering dan sudah tersisir rapi. Kepala pelayan memanggil mereka berdua untuk makan siang bersama Jonathan yang sudah lebih dulu berada di ruang makan. Mereka berdua segera beranjak turun ke lantai 1, kali ini Alin tidak mau memakai kursi rodanya lagi. Mereka berdua sampai di ruang makan dan langsung disambut oleh bau harum masakan yang tersaji. Tak menunggu lama, mereka bertiga segera menyantap makanan dengan lahap. Sesekali Kenzo menyuapi Alin di depan kakaknya yang membuat Jonathan gemas sekali. Apakah keputusan untuk membiarkan pasangan itu tinggal di villa bersamanya adalah keputusan yang tepat? Jonathan harus melihat kemesraan adiknya itu setiap hari, dimana untuk jomblo ngenes seperti dirinya itu pasti akan sangat menyiksa.


“Ehem-ehem, tolong dikondisikan! Disini ada jomblo, masa kalian tega banget sih?” tanya Jonathan setelah menyelesaikan makannya dengan cepat.


“Salah sendiri jomblo, makanya cepetan nikah!” jawab Kenzo tanpa menatap kakaknya, dia masih memakan makanannya yag tinggal sedikit.


“Sayang nggak boleh gitu dong, kak Jo pasti ada alasan menjomblo hingga sekarang,” tegur Alin mendengar jawaban blak-blakan dari suaminya.


“Memang Cuma adik iparku yang pengertian, hahahah,” kata Jonathan.


“Oh iya kak, aku penasaran dimana kak Nana sekarang? Sejak aku di rumah sakit, aku belum melihatnya sama sekali,” kata Alin.


“Em, sebenarnya ketika dia menyelamatkan mu waktu itu, dia kecelakaan dan masuk jurang, dia selamat sih tetapi dokter menyatakan jika Nana mengalami koma, kakak memindahkan dia ke rumah sakit di Inggris, tadi malam kakak dapat kabar jika dia sudah sadar dan dia menanyakan diri mu, nanti kalo udah sembuh dia akan kembali ke sini kok, tapi untuk sementara ini dia akan berada di sana untuk pemulihan,” jelas Jonathan.


Alin menutup mulutnya karena kaget, dia tidak menyangka jika Nana Lin mengalami kecelakaan karena ingin menolong dirinya, apalagi sampai harus mengalami koma. Tangannya menengkram lengan suaminya, dadanya bergemuruh, tak terasa air matanya mengalir begitu saja. Kenzo langsung menenangkan istrinya, Nana sekarang baik-baik saja, tidak ada yang perlu dikhawatirkan.


Bersambung.