The Perfect Military Husband

The Perfect Military Husband
Chapter 24



Setelah acara pernikahan selesai, Glen dan juga Sarah digiring ke kamar presientsuit untuk melakukan malam pertama. Tetapi Glen belum ada perasaan terhadap Sarah, dia tidak ingin melakukan hal itu tanpa cinta di hatinya. Dia tidak ingin menyakiti wanita itu lebih dalam, jika ritual itu harus terjadi, Glen berharap hatinya telah siap dan ada cinta untuk Sarah. Maka malam itu mereka hanya tertidur setelah selesai bersih-bersih, walau satu ranjang tetapi mereka tidur saling membelakangi. Sebenarnya Sarah sangat terluka dengan keputusan suaminya, tetapi dia menutupi segala kesedihannya dan tidak ingin menekan perasaan Glen. Mungkin saat ini belum ada cinta yang hadir di hati laki-laki yang sudah menyandang status suami itu, tetapi Sarah yakin jika suatu saat Glen akan melihatnya dan mencintainya, dia hanya akan menunggu sang waktu memainkan bagiannya. Sarah juga tidak ingin malam pertamanya berdasarkan paksaan dan tidak ada cinta didalamnya, dia akan menunggu dengan sabar, dia yakin jika tuhan akan berbaik hati membalikkan hati suaminya. Malam yang panjang itu berlalu dengan hambar, tanpa rasa, Sarah terbangun ketika matahari bahkan belum muncul. Dia beranjak bangun dan mendapati suaminya yang masih tertidur menghadap dirinya.


“Sangat tampan, tapi sayang dia belum mencintaiku,” gumam Sarah.


Dia berjalan ke arah teras yang terhubung dengan kamarnya, kemudian dia duduk di salah satu kursi memandang jauh kedepan. Menatap pekatnya langit hitam yang perlahan membiru dan diselimuti lembayung pagi. Udara dingin menusuk kulit menerpa tubuh Sarah yang mengenakan piyama tipis. Perlahan airmatanya keluar diiringi isakan pelan, dinginnya udara tidak terasa, hanya sakit, perih, sesak. Maish dengan posisi itu selama beberapa jam hingga mentari menampakkan sinarnya yang lembut. Sarah mengusap airmatanya, saatnya untuk semangat dan berjuang untuk mendapatkan cinta sang suami. Dia beranjak masuk kembali dan mandi air hangat, udara dingin tadi sedikit membuat tubuh Sarah melemah. Setelah selesai dan berpakaian, Sarah memilihkan baju untuk suaminya, tugas pertamanya sebagai seorang istri. Dengan riang Sarah melakukan tugasnya, dia tahu jika hari ini Glen dan dirinya akan langsung pulang ke ruamh kediaman keluarga suaminya. Selagi menunggu Glen bangun, Sarah memilih untuk duduk di teras kembali menikmati cahaya mentari pagi sambil membaca majalah.


Terlihat Glen mulai membuka matanya, angin sepoi-sepoi akibat pintu penghubung teras terbuka menerpa wajahnya. Dia mendapati istrinya sudah tidak ada di sampingnya. Dia kemudian bangun dan berjalan ke kamar mandi untuk segera mandi, dia tertegun melihat satu set pakaian lengkap yang sudah disediakan Sarah. Untuk sesaat hatinya seperti tergelitik, inikah rasanya dilayani seorang istri, tetapi sedetik kemudian hatinya merasakan nyeri dan sesak karena telah menyakiti gadis itu, tetapi mau bagaimana lagi dirinya juga tidak berdaya karena cinta belum hadir di hatinya untuk gadis itu. Hatinya masih ada bayang-bayang Diana, cinta pertamanya, walau bagaimanapun dirinya masib belum lepas dari jeratan cinta Diana yang jelas-jelas telah menghianatinya. Setelah memakai pakaiannya dia menyusul istrinya ke teras dan menemukan gadis itu tengah melamun, entah memikirkan apa. Yang jelas sorot matanya menyiratkan keseduhan dan kepahitan yang menadalam. Memang orang yang memutuskan untuk mencintai tanpa dicintai sangatlah susah, apalagi mereka terikat pernikahan yang di daalamnya terapat janji dan sumpah suci. Sangat berat, membayangkan saja akan terasa sakitnya apalagi yang menjalaninya.


Glen menatap istrinya untuk waktu yang lama, dia tahu gadis itu terluka tetapi memangnya apa yang bisa Glen lakukan sekarang? Bukankah cinta tidak bisa dipaksakan? Tetapi terkadang sang waktu dan takdir bisa berubah,


begitu juga dengan perasaan. Mereka berdua seperti orang asing hari ini, tetapi siapa yang tahu di masa depan akan seperti apa, bisa saja kan mereka akan berakhir bahagia, saling mencintai dan dikelilingi oleh keturunan mereka di hari tua nanti. Glen berjanji di dalam hati jika dia akan berusaha dan belajar keras untuk mencintai dan menerima Sarah di hidupnya dan menjadi pelabuhan terakhir untuknya bersandar. Baiklah saatnya melupakan masa lalu.


“Sarah izinkan aku untuk belajar mencintai mu, aku harap kamu sanggup menunggu, maafkan aku! Aku belum bisa membuat mu menjadi seorang istri yang sesungguhnya, aku tidak mau melakukan itu tanpa cinta yang hanya akan semakin melukai mu, aku harap diri mu mengerti,” kata Glen yang membuat Sarah terkejut.


“Aku tahu dan aku tidak akan menyalahkan mu, aku akan menunggu selama apapun waktu yang kamu gunakan untuk belajar menerima diriku ini,mencintai mu adalah keputusanku dan sudah seharusnya aku menanggung resiko untuk mencintai mu,” ucap Sarah sambil tersenyum.


“Kamu memang gadis yang sangat baik dan pengertian,” puji Glen.


“Sudah saatnya sarapan, ayo turun ke bawah seluruh keluarga kita pasti sedang menunggu,” ajak Sarah sambil terus tersenyum.


Sementara itu.


Jonathan selalu membawa adiknya untuk ikut bersamanya ke kantor selama masa cuti Kenzo berlangsung. Dia ingin Kenzo juga mencicipi dunia bisnis yang beberapa tahun lalu dia pelajari di bangku kuliah. Dia ingin ketika Kenzo memutuskan untuk mundur dari militer, adiknya bisa langsung terjun ke bisnis bersama dengan dirinya. Jonathan yakin jika suatu saat adiknya akan memilih mundur dari jabatannya, entahlah Jonathan memiliki keyakinan ini begitu saja. Toh dia juga khawatir dengan keselamatan adiknya ketika bertugas, apalagi sekarang dia memiliki seseorang yang harus dijaga dan tidak menutup kemungkinan dia akan segera mempunyai anak. Menjadi tentara memang tidak salah, bahkan itu adalah pekerjaan yang mulia, Jonathan juga bangga mempunyai adik seorang tentara. Tetapi hatinya selalu khawatir tentang nyawa laki-laki itu, setiap adiknya berangkat menjalankan misi, jantungnya akan berdetak lebih cepat dan kegelisahan akan terus menganggunya sebelum adiknya pulang. Jonathan lebih senang adiknya menjadi pebisnis seperti dirinya, dia hanya takut. Ketakutan seorang kakak terhaap adiknya sama seperti ketakutan seorang ayah untuk anaknya, dia hanya ingin yang terbaik untuk adiknya itu.


Tetapi Kenzo belum akan menyerah akan pekerjaannya menjadi abdi negara. Kenzo masih ingin membuat dirinya berjasa dan bermanfaat untuk orang banyak, menyelamatkan orang adalah kebanggan dan kesenangan tersendiri bagi Kenzo. Dia masih menjunjung tinggi ajaran ayahnya yang seorang jenderal besar, apalagi dia belum menemukan titik terang mengenai siapa pembunuh ayahnya Alin, itulah alasan utama dia belum bisa melepas seragamnya. Dia tahu tentang kekhawatiran kakaknya, dia juga tahu maksud dari kakaknya yang selalu memaksa dirinya untuk ikut ke kantor. Kenzo sangat berterima kasih dengan niat baik kakaknya, tetapi untuk saat ini dia belum ingin melepas segala sesuatu di kemiliteran. Belum saatnya.


Kini Alin telah terbiasa berada di lingkungan yang sama seperti ketika dia bersama kakeknya. Alin tahu jika Jonathan adalah seorang pemimpin mafia, tetapi karena sikap Jonathan yang sangat baik padanya membuat


Alin tenang dan juga tidak takut berada di kediamannya. Jonathan memperketat penjagaan di villa pribainya semenjak Alin pindah ke sana. Alin sangat bersyukur bertemu dengan orang-orang yang sangat menyayanginya dan menjaganya. Dia juga sangat bersyukur dipertemukan oleh suami yang sangat perhatian dan


juga mencintainya terlebih lagi dia adalah teman masa kecilnya ketika dia masih berada di bawah pengawasan ayahnya. Semua pertemuan dan perpisahan memiliki berkah maupun malapetakanya sendiri. Ingatannya melayang ketika peristiwa pertemuan pertama antara dirinya dengan Kenzo saat dirinya terjatuh dari tebing


curam itu dan ditemukan oleh laki-laki yang kini menjadi suaminya. Dia juga membayangkan apa yang akan terjadi jika orang lain yang menemukan dirinya, sungguh bayangannya malah menjadi mengerikan.


Bersambung.